Conversation Between Ogatzh and Batzh

1115 Words
Insiden di dining room, membuat hubungan sang fairy prince dangan mortal parent menjadi sedikit renggang. Mereka masing-masing mempertahankan pendapat, sehingga tak ada kata sepakat. Karena belum ada titik temu, maka sang pemilik kastil, memperbolehkan putra sulung beserta pasangan, dan cucu untuk kembali ke kamar.   Setelah mereka bertiga pergi, maka pria paruh baya yang memiliki sepasang mata berwarna biru memberikan kode kepada istri, agar pergi ke kamar. Wanita yang menikah dengan si laki-laki karena dijodohkan, hanya bisa patuh. Ia masih kesal, namun sebagai pasangan, tetap tak bisa berbuat apa-apa, karena semua tergantung oleh suami.   Ogath dan Batzh berjalan tanpa ada percakapan sama sekali. Suasana kastil yang sepi, membuat sepasang suami-istri itu tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Hingga tanpa sadar, keduanya sudah sampai di depan pintu kamar.   Tangan kanan si lelaki mendorong pintu, sehingga ruangan terbuka. Ia masuk terlebih dahulu, baru diikuti oleh pasangan, dan tak lupa menutup sebelum melangkah lebih dalam. Pria bersetelan resmi itu, sudah duduk di atas kursi panjang yang ada di dalam kamar.   Raut terlihat gelisah, akan tetapi belum mengatakan secara terus-terang, sampai ibu dari kedua anak tersebut ikut duduk di sebelah. Saat dia mengetahui, bahwa teman hidup telah berada di situ, lelaki bermata biru mulai membuka suara, “Aku ingin bicara denganmu.”   “Ya, Sayang. Aku siap mendengarkan,” sahut Batzh.   “Kau tadi melihat, bagaimana rupa cucu kita, saat dia digendong?” tanya sang suami. Perempuan bermata hijau tersebut langsung mengangguk. “Ya, aku melihat.”   “Bagaimana keadaan tubuh secara garis besar, dalam pemikiranmu? Adakah sesuatu yang kurang?” pancing Ogatzh.   “Tubuh normal, hanya satu saja kurang, di bagian mata,” ungkap wanita berambut keriting pirang.   “Hanya mata saja? Sementara anggota lain seperti kepala, hidung, mulut, telinga, leher, tangan, dan kaki normal?”   “Betul, Sayang. All is normal unless in the eye area.”   “Apakah hanya karena warna mata berbeda menyebabkan harga diri kita, sebagai keluarga Statzh, mendapatkan malu?”   Wanita yang masih memakai dress resmi tersebut, tanpa sadar langsung mengangguk. “Di seluruh negeri, tidak pernah ada seseorang dengan sepasang mata berwarna berbeda. Semua memiliki indra penglihatan normal seperti kau dan aku.”   Ogatzh terdiam sesaat, seakan berpikir. “Ketika Rhean tengah mengandung. Apakah kau ada mendoakan dia, supaya dikaruniakan cucu ‘normal’?”   Pasangan resmi dari pria paruh baya langsung terdiam. Aku harus bagaimana? Pernikahan anak sulung dengan perempuan kelas dua memang kurang berkenan di dalam hati. Namun, mau tak mau setuju, karena Gretzh dan suami tak keberatan. Bahkan, putra kesayangan nan pemberontak terlihat menyukai gadis sederhana. Ketika dia mengandung cucu kami, jujur saja, tidak ada doa untuk Rhean.   Lelaki pemilik kastil melihat perubahan wajah sang istri yang tampak berbeda, bahkan tidak berani menjawab pertanyaan secara langsung, seperti ketik ia mengajak berdiskusi tentang keadaan fisik keturunan di keluarga besar Statzh.   “Jawablah, Batzh. Apakah kau pernah mendoakan menantu perempuan, Rhean Lutzh, ketika dia mengandung Ostara?” ulang Ogatzh, sehingga membuat wanita itu salah tingkah.   “Aku tidak pernah mendoakan sama sekali.” Sang grandma dengan berat hati mengatakan isi hati.   “Kenapa kau lakukan itu?” tanya sang suami, seraya mengerutkan dahi.   “Karena ....” Dia merasa ragu untuk melanjutkan perkataan, karena takut pasangan hidup menjadi marah, bahkan murka.   Apakah yang harus kukatakan? Jika jujur, pasti akan kena marah, karena memang sejak semula anak kami menikah, tidak ada memberikan restu, meskipun di dalam hati. Tapi, bila berbohong, pasti ada kalimat lain lagi dari bibir suami, pikir Batzh bingung.   “Jawab atau aku akan memukulmu! Siapa yang memberikan izin untuk diam?” sentak Ogatzh, keras.   “A-ah. I-iya.” Wanita itu terkejut, sehingga tanpa sadar berbicara di luar kendali. “Alasan kenapa aku tidak mendoakan menantu saat dia mengandung adalah tidak suka dia menikah dengan Gretzh. Putra kita pantas mendapatkan gadis lebih layak.”   Wajah pria yang sudah memiliki cucu itu berubah menjadi merah. Dia kelihatan tidak senang, bahkan sudah bersiap untuk memukul, namun masih ditahan, karena ingin mendapatkan alasan logis di balik tindakan tersebut. Sementara, sang istri merasa ketakutan, karena melihat perubahan raut kepala keluarga.   “Beraninya kau menentang keputusan yang diambil, apalagi saat putra kita menikah. Selama anak-anak memakai nama Statzh, maka semua tindakan, termasuk memilih pasangan hidup resmi, harus melalui persetujuanku. Pantas saja Rhean melahirkan bayi perempuan, bahkan sang anak memiliki warna mata berbeda, ternyata semua itu terjadi, akibat karena kesalahan istri sendiri! Ostara masih teramat kecil, harus menanggung kesalahan grandma tak tahu diri. Hukuman apa yang pantas untukmu?” hardik Ogatzh, dengan amarah membara.   Di negara Avregth, ada kepercayaan beredar di kalangan masyarakat, jika mertua dari pihak suami, khususnya sang ibu, tidak menyukai menantu perempuan, bahkan tidak berdoa demi kebaikan, serta keselamatan jabang bayi di dalam kandungan, maka calon grandma dan grandpa, akan dikaruniai cucu dengan jenis kelamin female, di mana itu sangat tidak diharapkan. Bahkan bisa ada cacat bawaan.   Wanita berambut pirang dikeriting itu memucat, ketika mendengar pernyataan suami. Sungguh, dia merasa takut, karena lelaki tersebut selalu serius dengan apa yang diucapkan, termasuk dalam memberi punishment, bagi siapa saja penentang di dalam area kekuasaan.   Batzh tidak berani menjawab atau pun menyahut, karena keadaan akan semakin memburuk, jika berani melakukan hal tersebut. Ia hanya bisa diam, bahkan menunggu apa yang akan dilakukan oleh suami.   “Karena ini semua akibat kesalahanmu, sehingga keluarga Statzh mendapat malu, maka aku akan menyuruh pencatat sejarah keluarga, untuk menuliskan kejadian tak masuk akal ke dalam buku, di mana istri dari Ogatzh Statzh membuat cucu pertama berubah menjadi perempuan, bahkan memiliki warna mata berbeda. Nama Ostara akan masuk ke dalam pohon keluarga. Jika kau tidak melakukan tindakan konyol, maka semua ini pasti tak terjadi.” Pria berkumis itu memberikan keputusan, dengan menahan murka.   Wanita bermata hijau itu langsung bersimpuh di kaki suami. Ia tidak mau, jika nama sendiri mendapatkan malu seperti yang disebutkan oleh kepala keluarga. “Ja-jangan. A-aku mohon,” pinta Batzh, memelas.   Ogatzh menendang tubuh istri, karena sudah sangat marah dengan tindakan bodoh yang dilakukan di masa lalu. Ibu mortal dari Gretzh itu terpental cukup jauh, akibat sepakan pasangan hidup. Dia berusaha keras untuk menahan air mata, namun gagal. Rasa sakit teramat dalam, sangat terasa, bukan hanya secara fisik, namun batin.   “Sudah bagus kau tidak dibunuh, karena perbuatan to*lol! Ingat, Batzh, saat semua catatan sejarah selesai dilakukan, maka keluargamu, Sturzx, pasti mengetahui, begitu juga kerajaan. Semua harus tahu, jika apa yang terjadi pada cucu pertama, bukanlah kesalahanku,” ucap pria paruh baya itu. “Satu lagi, namamu akan dihapus dalam daftar hak waris, karena menyebabkan satu garis keturunan terancam musnah.”   Lelaki bermata biru itu langsung mebalikkan badan, kemudian membuka pintu, dan keluar dari ruangan. Di sana, Batzh menangis sejadi-jadinya, karena mendengar keputusan suami yang teramat menyakiti hati, serta harga diri sebagai keluarga bangsawan.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD