At The Ogatzh Statzh Castle
Sarapan pagi telah usai, bahkan mereka sudah menyantap hidangan pencuci mulut. Seorang pria muda berambut pirang, dengan hidung mancung, ditambah sepasang mata biru mempesona, bersama sang istri yang memiliki suari panjang brunette, bermata hijau, masih berada di sana, karena belum dipersilakan oleh sang pemilik kastil, Ogatzh Statzh.
Tak ada percakapan sama sekali, sehingga yang terasa hanyalah keheningan, kecanggungan, dan kehampaan. Tatapan tuan dan nyonya rumah, masih ke arah pasangan muda, termasuk ke cucu perempuan yang masih berusia tiga bulan, Ostara.
Aku penasaran, apakah keturunan dari Gretzh memiliki kondisi fisik sempurna? Semoga saja, semua baik-baik, sehingga tidak menjadi bahan gunjingan semua orang. Menjadi salah satu keluarga berpengaruh di masyarakat, sangat rawan dengan gosip. Jika tak menjaga jarak, atau memiliki kesempurnaan, maka mereka dengan mudah bersikap kurang ajar dan ini sangat dihindari, batin pria paruh baya berkumis itu.
Sementara, ibu mortal dari sang fairy prince, masih merasa dongkol, karena kejadian sebelum sarapan dimulai. Sepasang mata berwarna hijau itu masih tak lepas dalam mengamati keduanya. Wanita bertubuh berisi enggan menatap ke arah sang cucu, karena merasa kecewa.
Aku heran dengan selera anak sulung, kenapa mau menikah dengan putri tunggal keluarga Lutzh? Memang, perawakannya langsing, cantik, tapi lemah, karena tak bisa memberikan keturunan laki-laki. Begitu banyak keluarga bangsawan yang setara, tak sedikit putri mereka lebih menarik dari perempuan itu. Untung saja, ayah dan ibu menantu bukan rakyat jelata, sehingga tidak perlu merasa malu. Semoga saja, nanti mereka memiliki anak lagi, atau habislah sudah generasi Statzh, pikir Bathz.
Pasangan muda itu merasakan betul tatapan dari orang tua, akan tetapi si lelaki bersikap acuh tak acuh, namun tidak demikian dengan pasangan hidup. Dia sangat sensitif, apalagi mengetahui jika mertua perempuan menatap dengan sinis dan dingin, seakan perempuan lemah lembut tersebut tak pantas menjadi istri dari putra sulung kebanggaan keluarga.
Aku sungguh merasa canggung, karena kedua mertua tidak lepas mengawasi kami. Apalagi, tatapan Nyonya Bathz, seakan sudah melakukan kejahatan kepada keluarga yang ada di sini. Apakah mood mereka sedang buruk, karena kejadian tadi? Mudah-mudahan, suasana kembali membaik, terutama suasana hati mereka, harap Rhean, yang merasa gundah.
“Gretzh.” Suara sang tuan rumah terdengar. Semua menatap ke arah sang pemilik kastil. Si pemilik nama juga langsung menoleh, ketika namanya disebutkan.
“Ya, Ayah?” sahut si lelaki, sopan.
“Bawa ke mari cucuku. Aku belum melihatnya dari dekat,” pinta Ogatzh.
“Baik, Ayah.” Pria berambut pirang itu bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan ke arah special chair sang putri. Ostara yang memperhatikan, bahwa ada sesosok manusia yang setiap hari dilihat dan telah ia kenal, langsung mengangkat kedua tangan, meminta untuk digendong.
Senyum tipis terulas di bibir sang ayah kandung. Pria tampan nan cerdas tersebut, langsung menyambut, lalu membawa buah hati tercinta ke dalam pelukan. Ia pun bergerak ke arah lelaki paruh baya dengan sepasang mata berwarna sama, supaya bisa melihat cucu perempuan pertama dalam garis keluarga bangsawan Statzh.
Ostara, inilah saatnya kau akan dilihat secara langsung oleh grandma dan grandpa. Mereka memang belum melihat seperti kami, karena sangat jarang ke sini. Apa yang terjadi jika salah satu orang tua mortal melihat, terutama warna mata bayi cantik nan menggemaskan ini? Semoga semua berjalan lancar, harap Gretzh.
Pria bertubuh tinggi besar itu telah sampai di depan Ogath dan sang istri, Bathz. Bayi perempuan itu hanya menatap ke arah keduanya dengan tatapan lucu. Suasana masih tetap hening, karena menunggu tindakan dari Ogatzh
Tanpa diduga, sepasang tangan nan mungil malah menggapai-gapai ke arah sang grandpa, sehingga membuat pemilik kastil menjadi terkejut. Wanita bertubuh berisi yang duduk di dekatnya pun merasakan hal yang sama.
“Oh, dia memilihku,” ucap lelaki paruh baya dengan setelan resmi, terkejut.
“Gendonglah anak kami, Ayah. Dia juga cucumu,” ucap fairy male, lembut.
Tubuh pemilik kastil tiba-tiba berdiri tanpa bisa dicegah. Saat ia menatap wajah bayi berusia tiga bulan itu, pikiran seolah terhipnotis, sehingga gerakan yang dilakukan di luar kendali. Fairy prince yang melihat, hanya tertawa di dalam hati, karena mengetahui mengapa semua itu bisa terjadi kepada orang tua mortal, khususnya Ogatzh Statz.
Pria berkumis langsung mendekati putra sulung yang tengah membawa Ostara, kemudian kedua tangan terbuka, siap menyambut sang cucu pertama. Fairy male memberikan dengan hati-hati, sehingga tubuh kecil itu sudah berpindah dalam sekejap.
“Ostara,” ucap sang grandpa. Bayi perempuan cantik itu menatap, lalu mengerjap-ngerjapkan mata dengan lucu. Sepasang mata berwarna biru tersebut, kini meneliti raut sang cucu dengan serius, hingga ...
“Matanya ... berbeda warna. Bagaimana bisa?” tanya Ogatzh, bingung. Sontak saja, suami-istri pemilik kastil yang masih keluarga bangsawan itu menoleh kepada orang tua si anak, terutama ke arah Gretzh.
Pria bertubuh tinggi tegap hanya tersenyum, karena sudah menduga pertanyaan itu akan terlontar, cepat atau lambat. Sementara, wajah sang ibu muda sedikit memucat, karena mendapat pandangan demikian menusuk dari mertua.
“Kenapa kalau berbeda warna?” Fairy prince bertanya kembali.
“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semua keturunan Statzh, selalu memiliki sepasang mata berwarna sama, baik laki-laki maupun perempuan. Tak perlu jauh-jauh, kau sama sepertiku. Mengapa Ostara mengalami hal berbeda?” tuntut sang grandpa, seraya memberikan kode kepada Bathz untuk datang ke situ.
Wanita berambut pirang keriting melihat hal tersebut, sehingga langsung bangkit berdiri dari tempat duduk, kemudian bergerak menuju ke suami. Sesampainya di sana, betapa terkejut hati, ketika melihat sesuatu yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah keluarga.
“Rhean! Apa yang kau lakukan, sehingga cucuku jadi begini?” ketus Batzh, seraya menatap menantu dengan garang.
Sebelum perempuan berambut panjang brunette membuka mulut, kepala keluarga sudah terlebih dahulu menjawab, “Itu semua bukan salah Rhean. Kami berdua pun tak tahu mengapa bisa begitu. Jangan kasar pada istriku, Bu. Semua hal aneh bisa terjadi di dunia ini. Sebagai orang tua, sudah tentu berdoa, serta mengharapkan yang terbaik bagi anak, termasuk Ostara.”
“Dia cacat!” sembur Batzh.
“Cacat? Anakku memiliki anggota tubuh lengkap! Satu kepala, dua mata, telinga, tangan, kaki dan semua tidak ada luka atau bermasalah sejak lahir! Ostara memiliki keistimewaan di bagian warna area penglihatan dan itu bagus—”
“Apa bagusnya? Bagaimana jika anak kalian masuk sekolah saat besar? Semua orang pasti akan menggosipkan! Apakah hal itu tak pernah terlintas di dalam benak kalian sebagai orang tua? Kita ini keluarga terhormat, silsilah jelas, berdarah murni! Apa dosa kami, sehingga mendapatkan cucu pertama perempuan, bahkan warna mata pun tak normal?” Cara bicara sang ibu mortal teramat sedih, seolah meratapi kematian seseorang.
“Ibu, tidak cukupkah penghinaanmu kepada anak kami? Kalau dia cacat, sudah pasti tak bisa melihat sama sekali. Bahkan ketika melihat Ayah, langsung sadar, dan meminta agar digendong! Itu sudah lebih cukup membuktikan, bahwa Ostara anak normal, dengan keistimewaan tersendiri!” tegas Gretzh. Dia berusaha untuk tetap sopan, meskipun di dalam hati sangat panas.
Ogatzh tak menjawab, namun tetap mengamati bayi mungil yang masih dalam dekapan. Tak ada tangisan atau hal-hal aneh. Suasana menjadi sunyi, karena tangan kiri pria pemilik kastil terangkat, pertanda agar mereka berhenti berdebat.
Aku kasihan dengan cucu perempuan, padahal tak ada yang salah dari wajah dan tubuh. Hanya saja, mengapa sampai ada dua warna berbeda di mata? Apakah ini berarti semacam gabungan aku dan istri? Atau karena kami kurang mendoakan, saat kau di dalam kandungan? batin pria berpakain resmi itu.
Perempuan bertubuh berisi merasa kesal, karena dilarang berbicara, padahal dia sudah ingin menyerang orang tua sang cucu, terutama Rhean, menantu perempuan. Rasa benci bertambah, ketika mengetahui kejanggalan pada diri bayi mungil nan ceria tersebut.
“Sudah cukup. Jangan berdebat lagi. Hari masih pagi.”
***