Why Did You Do That?

1261 Words
At Hintz House   Seorang fairy male terbaring lemah di atas tempat tidur. Di sebelah kanan, terlihat seorang perempuan berambut hitam, tengah mengompres luka di area wajah dengan hati-hati. Si lelaki berjengit, seraya menahan diri untuk tidak menjerit. Lebam akibat serangan balik spell kuno masih terlihat jelas.   “Ouch ... pelan-pelan, Sayang,” ucap Hitzh, meringis.   “Salah sendiri, kenapa harus nekat melakukan apa yang tidak seharusnya! Untung saja, aku dan anak-anak segera tiba, kalalu terlambat sedikit, bisa celaka jiwamu!” omel Vathzga.   Wanita yang ahli dalam ramuan itu kesal, karena akibat perbuatan bodoh oleh fairy husband. Dia tak habis pikir, apakah yang tengah dipikirkan oleh pria bertubuh kurus tersebut, sampai bisa terjadi peristiwa seperti beberapa jam lalu?   “Aku ... jujur ... tidak ... tahu.” Pria berambut pirang berusaha menjawab, meskipun terbata-bata.   “Apa maksudmu?” Sepasang alis hitam itu bertautan.   Hitzh tak langsung menjawab. Dia berusaha untuk berbicara, akan tetapi rasa nyeri di sekujur tubuh, telah menghalangi untuk berbicara. Sementara itu. sang istri mengerti, pasti ada sesuatu yang sangat urgent, akan tetapi tetap penasaran dengan jawaban suami tercinta. “Kau ... tahu ..., ‘kan. Bahwa ... semua pasukan ... tengah mencari ... dia.” Fairy male menjawab dengan susah payah.   Ketika mendengar ‘dia’ disebut dari bibir teman hidup, wanita berambut hitam itu pias sesaat, kemudian dengan cepat menguasai. “Ya, aku tahu akan hal itu. Semua berlomba mencari. Apalagi, ada sayembara berhadiah dengan jumlah besar, sehingga membuat semua rakyat semakin bersemangat.”   Pria bermata hijau itu mengangguk pelan. Ia tak bisa banyak bicara, karena efek spell kuno ketika mencoba melihat keadaan sang pangeran di fairy world. Truantz, mengapa kau memasang proteksi? Apakah sudah ada utusan dari negeri ini yang telah muncul di mortal world? Jika benar ada, maka tak heran bila terkena serangan balik begitu parah, seakan penyusup telah tertangkap, sehingga dipukuli hingga nyaris mati. Sekarat, tepatnya.   Vathzga masih menunggu kelanjutan dari cerita ayah dari dua anak-anak mereka. Sebagai pasangan suami-istri, tak ada yang tersembunyi satu sama lain, karena sudah merupakan komitmen sejak awal bersama.   “Apakah kau telah mengetahui di mana keberadaan dia, Sayang? Tak perlu dikatakan di mana letak detailnya, karena ucapan sekecil apa pun, bisa ada yang mencuri dengar.” Dia memaklumi, jika Hitzh tak mau melanjutkan.   “Bagaimana ... perisai perlindungan ... yang kita buat di sekeliling ... rumah?” tanya lelaki bertubuh kurus dengan rambut pirang tersebut. Nada terbata-bata, masih terjadi, karena ia belum sembuh benar.   “Masih ada. Setiap satu bulan sekali, apalagi saat full moon atau new moon, aku selalu menambahkan jumlah lapisan di perisai, sehingga siapa pun fairy atau magickal creature penyusup mencoba untuk menembus, maka akan kena serangan balik maha dahsyat. I choose the ancient spell, because they are powerful,” jawab wanita ahli ramuan.   “Bagus ... aku jadi ... tenang.” Perasaan lega luar biasa, timbul di dalam sanubari. Dia bersyukur, memiliki pasangan yang teliti, keras kepala, dan rajin, sehingga rumah menjadi aman, terutama ketika datang serangan tak terduga.   “Sayang, sungguh hati ini menjadi khawatir, karena kau tiba-tiba menghilang. Aku sampai mengingat jadwal pekerjaanmu, namun tiba-tiba ingat, bahwa kau tidak mungkin sedang bertugas, karena hari ini mendapatkan tugas pagi. Kalau terjadi sesuatu—” Suara sang istri tercekat. Dia hampir menangis, karena takut hal buruk terjadi.   Tangan kanan Hitzh menyentuh pipi wanita yang telah memberikan dua orang keturunan. Lelaki itu menyadari, betapa cemas fairy female yang berada di hadapannya. “Jangan ... menangis. Aku baik-baik ... saja.”   “Katakan kepadaku, apakah kau sudah tahu, kalau dia memasang perisai kuno? Kau dan semua fairy mengetahui, betapa berbahaya, bodoh, dan to*lol jika masih nekat untuk mencoba menembus pertahanan. Hidup abadi akan tercabut, berganti kematian. Apakah ketika melakukan hal tersebut tidak ingat keluarga?” Vathzga tak tahan, lalu memberondong dengan pertanyaan bertubi-tubi, karena merasa kesal dengan perkataan pasangan barusan.   Pria berkulit putih pucat itu berusaha keras untuk tersenyum, namun tak dapat, karena rasa nyeri masih menjalar di sekujur tubuh. Dia tidak menyalahkan semua perkataan dari fairy female yang menjadi ratu rumah tangga di hidup, sebab itu semua tercipta karena rasa sayang dan perduli begitu besar.   “Sayang, aku sebenarnya tidak tahu, kalau dia memasang perisai kuno. Tadi, sempat mencoba mantra penglihat sekaligus pemanggil dari jarak jauh, karena selama ini Truantz tidak menyahut ketika di summon.” Hitzh mencoba berbicara normal, meskipun sempat beberapa kali terjadi saat mengatakan.   “Kenapa kau melakukan itu? Mungkin saja dia memang tak mau dipanggil, sehingga berpura-pura tidak mendengar.”   “Sayang, kami memiliki rencana, dan kau tahu apa itu. Aku melakukan, untuk memberitahu, agar berhati-hati, karena ada kemungkinan, mereka akan masuk ke the forbidden world.”   Wajah wanita cantik itu berubah, menjadi sedikit takut. Ia tak menyangka, jika pasukan dari fairy kingdom, akan masuk ke area terlarang, di mana banyak pelarian dari magickal world masuk ke sana, lalu berbaur dengan mortal dengan cara berubah wujud yang sama atau menjadi binatang.   “Jangan katakan, kalau dia masuk ke mortal world! Kau tidak pernah memberitahuku ke mana pangeran pergi dan hanya bungkam saat itu. Sekarang, mengakulah!” sentak Vathzga, kesal.   “Maaf, Sayang. Aku sendiri berpikir, kalau fairy prince tidak akan berani ke sana, meskipun sudah memberitahu. Semua magickal creature mengetahui, bahwa the mortal world is the most dangerous yet the safest place to hide. Jika memasuki tempat itu tanpa persiapan matang, sudah pasti akan terkena celaka, bahkan bukan tidak mungkin akan mati. Namun, dia tetap keras kepala, sehingga mengatakan tetap pergi apa pun resiko di depan sana.” Suasana di dalam kamar menjadi hening, karena wanita berambut pirang itu seolah kehabisan kata-kata. Dia sungguh tak mengerti, jika ada immortal creature mengorbankan hidup sendiri, demi melarikan diri ke dunia biadab.   “Astaga ... demi Dewi Aletzhia yang mengaruniakan magick kepada kita semua, termasuk hidup abadi. Kenapa ada magickal creature, dalam hal ini fairy prince, berpindah ke tempat paling terkutuk? Makhluk mortal di sana, suka menyakiti sesama, membunuh hewan untuk dimakan, bahkan ada demi kesenangan sesaat, merampok, membunuh, mencuri, memperkosa, bahkan tega menjual anak sendiri demi membayar hutang! Kita, kaum fairy, tidak pernah melakukan hal hina semacam itu. Apa sudah habis tempat di magickal world, sampai menyebrang ke sana?” Suara fairy female menjadi bergetar, karena menahan amarah.   “Itulah yang aku katakan kepada dia, tapi tetap membantah, dan bersikeras pergi ke sana.” Hitzh menjawab, dengan susah payah.   “Mulai dari sekarang, jangan kau cari lagi dia. Jika memang fairy army mencari sampai ke sana, lalu berhasil membawanya, itu sudah menjadi resiko yang harus pangeran tanggung. Kita tak perlu ikut campur.”   “Truatz tidak akan pernah tertangkap. Kalau nyaris tertangkap, sudah pasti. Dia pernah mengalami hal demikian, saat akan menuju portal, ketika peristiwa itu terjadi, namun lolos berkat campur tangan Dewi Aletzhia. Tapi, jika dibawa oleh para pasukan, aku meragukan hal itu akan terjadi.”   “Kenapa kau mengatakan begitu?”   “Truantz adalah ahli bersembunyi. Jika sudah memilih satu tempat, maka itu sudah melewati pertimbangan matang. Selain itu dia mahir menyamar, dalam hal ini berubah wujud. Sangat sedikit fairy memiliki kedua hal tersebut secara bersamaan, namun fairy prince memiliki semua yang kusebutkan. Ditambah lagi, penguasaan di bidang the ancient spell. Semakin tua usia dari mantra, maka hampir mustahil dipatahkan. Semua bisa dilenyapkan dengan mudah, hanya melalui tangan Dewi Aletzhia, dan bukan another God’s and Goddess.”   Kesunyian kembali melanda di ruangan tersebut. Hitzh berhasil bercerita, meskipun berjuang di tengah rasa sakit nan mendera di sekujur tubuh. Sementara, sang istri masih tak habis pikir dengan suami yang bersikeras mencari, meskipun target menolak untuk dikontak dengan cara apa pun.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD