A Fight In The Dining Room

1337 Words
  At The Dining Room   Seorang fairy prince yang menyamar menjadi manusia, telah tiba di sana dengan istri, Rhean Lutzh, dan buah hati mereka, Ostara Statzh. Mereka sudah disambut oleh orang tua mortal, dengan tatapan datar, seakan semua terasa biasa saja.   Hati perempuan muda namun sudah menjadi seorang ibu menjadi kecut, akan tetapi menunjukkan raut datar seperti mertua. Astaga, aku gugup, karena mereka sama sekali tidak tersenyum. Beginikah rasanya tinggal di keluarga bangsawan? Semua serba kaku, tiada kehangatan, bahkan percakapan basa-basi absen total. Bukan berarti membandingkan, my parent sis not better than them, but I prefer to live in our house than in this cold spooky castle. I felt that my parent in law is heartless.   Seorang pria paruh baya, dengan kumis, jenggot, serta cambang rapi, bermata biru, mengenakan setelan resmi, berdiri di samping wanita bertubuh berisi, memakai dress resmi, rambut pirang dikeriting ditata rapi, dan memiliki sepasang mata berwarna hijau, sudah terlebih dahulu duduk di kursi. Sebagai tamu, suami-istri tersebut tidak bisa seenaknya langsung duduk, tanpa terlebih dahulu dipersilakan oleh tuan rumah. Tatapan sang mertua, begitu menusuk hati, ketika mereka menatapa Rhean dan ini disadari oleh keduanya.   “Selamat pagi Putraku, Gretzh, Menantu, dan Cucu. Silakan duduk,” ucap tuan rumah. Raut pria paruh baya, tetap tanpa ekspresi, tetap bertahan, sehingga membuat suasana menjadi dingin, kaku, dan formal.   “Terima kasih,” sahut suami Rhean, dengan nada suara datar.   Perempuan berambut panjang brunette tertata rapi, megikuti suami. Ia tidak berani berjalan terlebih dahulu, karena istri hanya boleh bergerak, setelah kepala keluarga melakukan pertama kali atau diminta oleh pasangan.   Gretzh sudah mengambil posisi, sementara Rhean pun duduk di sebelah. Tiba-tiba, Ogatzh Statzh melihat, jika sang menantu memilih duduk di sebelah putra sulung, seakan mereka setara, sehingga ia menegur, “Rhean, duduklah di depan Gretzh, jangan di sebelah.”   Fairy prince yang sudah menduga hal itu akan terjadi, hanya terdiam, karena dia ingin melihat, apakah pasangan berani mengikuti instruksi ataukah memilih mengikuti perkataan mertua? Ibu kandung Ostara terdiam sesaat, karena terkejut, namun dengan cepat menguasai diri. “Maaf, Tuan Ogatzh, a married woman belongs to her husband and so do I. I choose to sit beside him unless he himself ordered me.”   Raut pria berkumis itu menegang, karena tak menduga jika wanita yang dipandang lemah, berani menjawab, bahkan tidak mau menuruti perkataannya. Sementara, Truantz menahan rasa geli di dalam hati. Andai mereka tidak berani di kastil milik orang tua mortal, maka bisa dipastikan, tawa membahana akan pecah memenuhi ruangan. Bathz Sturzx merasa tidak senang, namun wanita bertubuh berisi tetap diam, sampai suami meminta.   “Berani kau melawan?” Ogatzh berkata tajam.   “Ayah, Istriku mengatakan hal yang benar. She belongs to me because she is my wife, not my mistress. I do not want her to sit in front of me. I want her to be beside me. Is it clear enough?” Gretzh menjawab dengan nada berwibawa.   “Beraninya kau menentang Ayahmu!” Sang Ibu kelepasan bicara, karena merasa jengkel. “Ma, Rhean is my wife and she deserves to sit beside me. If you sit in front of Dad, that’s your part right, and do not dare to humiliate her, or we will back to our house now!” tegas Gretzh.   Pria berambut pirang itu tidak menyukai segala peraturan konyol di kediaman tersebut, walaupun bukan anak kandung mereka. Gretzh merasa, tak adil bila meminta pasangan hidup duduk terpisah di saat makan, sedangkan ia sendiri tidak keberatan.   Ogatzh menaikkan tangan, pertanda menyuruh sang istri diam, serta tidak ikut campur urusan antara dia dan sang putra. Tak ada percakapan tercipta, karena menunggu apa yang akan dikatakan oleh tuan rumah.   Pria paruh baya sangat jengkel, karena dilawan oleh menantu, bahkan anak sulung membela. Dia tidak menyukai Rhean, karena wanita tersebut hanya memberikan seorang cucu perempuan, bukannya laki-laki, sehingga nama keluarga Statzh tidak bisa berlanjut, kecuali di masa depan dia mau melahirkan kembali.   Perempuan berambut brunette itu tak berani mengatakan apa pun. Anak sulung keluarga Lutzh, merasakan hawa aneh keluar dari tubuh sang suami. Hal tersebut tidak bisa dijabarkan, namun semua orang yang hadir, baik mertua, para maid, dan dirinya sebagai pasangan, menjadi segan, hormat, bahkan tak berani membantah.   “Baik, Rhean bisa duduk di sebelahmu. Sekarang, duduklah kalian berdua. Cucuku boleh diberikan kepada maid, agar diberikan special chair.” Ogatzh berkata, memecah kesunyian.   Gretzh dan sang istri bersebelahan. Sementara itu, seorang maid maju, lalu berdiri di sebelah kanan fairy male, menunggu agar anak dari pemilik kastil menoleh ke arahnya. Lelaki bermata biru menyadari hal tersebut, lalu memberikan Ostara yang kini terbangun, kepada pelayan. “Jangan sampai anakku jatuh,” pesan fairy prince, serius.   “Baik, Tuan Muda,” sahut maid, patuh. Ia menerima bayi cantik dari tangan Gretzh, lalu menggendong dengan hati-hati. Ostara yang baru bangun, menjadi bingung, karena dibawa pergi, namun belum menangis. Sepasang tangan mungil menggapai-gapai ke arah Gretzh, sementara sang ayah tersenyum tipis.   Aku senang, karena Rhean melakukan tepat seperti yang disuruh, bahkan berani menambahkan sendiri kalimat yang diucapkan. Sungguh menjengkelkan, karena kebiasaan kuno, kaku, merendahkan orang lain, masih tetap dilakukan. Benar-benar bangga dengan perkataan istri, dan sudah sepantasnya demikian, batin Truantz.   Satu kepala pelayan laki-laki maju ke sebelah Ogatzh, setelah mendapatkan kode dari sang tuan yang berkuasa di kastil besar tersebut. “Hidangkan makanannya, sekarang.”   “Yes, My Lord,” sahutnya patuh.   Kepala pelayan lalu mundur dari sana, kemudian memberitahu kepada para maid untuk segera menghidangkan makanan dan minuman yang telah dibuat. Mereka pun mengerti, lalu beranjak dari sana. Keheningan masih terjadi di dining room, karena pria paruh baya tak membuka percakapan sama sekali.   Kecanggungan menguar di antara mereka berempat, akan tetapi keadaan tersebut tidak diperdulikan oleh sang fairy prince. Aku tahu, ayah mortal sangat kesal atas insiden itu, akan tetapi I do not care at all. They should respect my wife even though she gave birth to a daughter. Male or female babies, they are still our own children and of course become their grandchildren too. Poor Rhean, I promise to fight back, if anyone from my family is trying to humiliate you, batin Gretzh, waspada.   Tak lama kemudian, dua orang maid maju ke arah tempat duduk putra sulung Ogatzh. Satu membawa sang bayi, yang lain membawa special chair untuk Ostara. Perempuan muda bermata hijau menyadari, jika sang putri menatap ayah dan ibu secara bergantian, bahkan sepasang tangan mungil yang ada, menggapai ke arahnya, seakan meminta untuk segera didekap.   Seorang maid berada di sebelah kanan fairy prince, namun dalam jarak tidak terlalu dekat, lalu bertanya sopan, “Maaf, Tuan Muda. Nona Ostara akan ditempatkan di mana?”   “Tempatkan dia di sebelah istriku, Nyonya Rhean,” jawab lelaki tampan dari bangsa peri.   “Baik, Tuan Muda,” sahut si pelayan, lalu mundur dari situ. Ia tampak memberitahu rekan yang membantu, lalu menggeser kursi, supaya special chair bisa masuk ke sana.   Ostara tampak berusaha untuk berbicara, namun belum bisa melakukan hal tersebut. Sepasang mata berbeda warna, tampak menatap terus-menerus ke arah orang tua, seolah tidak ingin kehilangan mereka sama sekali.   Tak lama kemudian, datanglah banyak maid ke dining room, lalu mulai bergerak ke arah table. Satu per satu makanan dihidangkan, mulai dari tuan rumah. Ogatzh Statzh, lalu sang istri, Bathz Sturzx, kemudian ke Gretzh Statzh selaku putra tertua, dan terakhir Rhean Lutzh.   Ketika sang bayi telah didudukkan di special chair, maka sang ibu menoleh ke arahnya. Ia menggenggam salah satu telapak tangan mungil, seraya tersenyum manis. Ostara yang cantik, meskipun memiliki warna mata berbeda Aku tidak mau kau terkena celaka. Memang, dunia tidak adil, karena Ibu diperlakukan buruk oleh grandma dan grandpa, hanya karena melahirkan anak perempuan. Tapi, jika tidak ada kaum wanita, bagaimana bisa ada kelangsungan regenerasi manusia? Setelah menyantap hidangan di sini, kita akan kembali ke kamar, supaya bisa memberikan su*su, agar nanti tumbuh sehat, kuat, dan pintar.   Bayi berusia tiga bulan itu terlihat senang, karena orang tua yang telah dikenal sejak lahir, berada di sisinya. Sepasang mata bulat nan menggemaskan berbinar-binar, sehingga membuat senyum Rhean semakin terkembang.   “Sayang, waktunya sarapan.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD