Goddess Aletzhia's Blessings

1315 Words
“Ada apa memanggilku, Truantz?” Suatu suara terdengar begitu jelas.   Pria bertubuh tinggi kekar itu mengubah wujud menjadi fairy, lalu menyembah dengan muka sampai ke lantai . Ia melihat, seorang perempuan telah datang, namun tidak masuk ke dalam kamar. Perempuan yang memiliki wajah, dan tubuh tiga itu berdiri mengambang. Aura kewibawaan sangat jelas terpancar di sana.   “Terima kasih, Dewi berkenan hadir di sini,” ucap Truantz, sopan.   “Bangunlah!” Dewi Aletzhia memberi perintah.   “Baik, Dewi.” Fairy prince langsung beranjak dari posisi semula dan bangkit berdiri.   “Katakan padaku, mengapa kau tiba-tiba memanggil? Ada perlu apa?” Sang Dewi bertanya to the point.   “Dewi, mohon kiranya memberkati putri saya, Ostara Statzh, supaya bisa bertahan di dunia mortal, maupun fairy,” jawab Truantz, setengah memohon.   “Statzh? Itu nama manusia biasa. Kau sudah memiliki keturunan?” Salah satu alis naik, pertanda heran, karena hal demikian bisa terjadi.   “Betul, itu nama keluarga di mana saya menjadi putra mereka. Selain itu, memang benar kalau sudah memiliki anak, hasil perkawinan dengan wanita manusia.”   Mata di bagian tubuh sebelah kiri tubuh Dewi Aletzhia melihat, ada tempat tidur bayi. Sehingga ia sudah bisa mengetahui, jika itulah tempat sang anak dibaringkan. Hm, menarik. Lelaki itu malah menikah dengan mortal, lalu sekarang meminta agar memberikan blessing bagi putrinya. Ini memang sesuatu yang tak lazim, namun nyata terjadi. Aku harus tahu, kenapa fairy prince nekat melakukan tindakan tak masuk akal   Apakah Dewi mau berbelas kasihan? Aku akui, tak semua immortal god’s and goddess mau menganugerahkan berkat ke atas anak berdarah campuran, karena belum pernah ada sejarah, seorang fairy sepertiku, lari dari kehidupan ‘normal’, bahkan memutuskan meninggalkan keabadian, karena memang berbeda kasus, pikir Truantz. . Keheningan terasa di malam yang semakin larut. Sinar rembulan begitu terang benderang, seakan mengukuhkan posisi keberadaan sang penguasa yang sedang dalam posisi tertinggi. “Kenapa kau malah melakukan tindakan nekat? Ini melanggar hukum alam, karena fairy dan mortal tidak boleh bersatu, apalagi sampai menikah. Keturunan berdarah campuran, akan sangat terlihat jelas perbedaannya dari anak-anak biasa.”   Suami Rhean Lutzh tidak berani menjawab, karena ia ingin mendengarkan perkataan sampai tuntas. Ia siap dengan segala konsekuensi, termasuk dipertanyakan tindakan yang diambil, pada saat meminta bantuan Dewa atau Dewi.   “Kelak, dia akan menanggung banyak derita, akibat keegoisan dan kebodohan orang tua, dalam hal ini kau. Hidup sebagai anak berdarah campuran, apalagi di dunia mortal nan kejam, bukan hal mudah. Aku bukan Dewi yang suka ikut campur apa pun masalah, kecuali dimintai pertolongan. Namun, tetap harus adil, seimbang, serta melihat dari semua sisi. Katakan secara jujur, atau tidak ada blessing sama sekali.”   Raut dingin diberikan, sehingga membuat hati sang pangeran di dunia fairy menjadi salah tingkah. Ia mengakui, bisa lolos ke dunia manusia, berkat pertolongan Dewi Aletzhia, ketika sedang dikejar oleh Ratu Eliatz.   “Bolehkah saya menjawab, wahai Dewi Yang Agung?” tanya Truantz, sopan.   Sang Dewi hanya menatap ke arah ayah kandung Ostara sebagai jawaban, karena ia tak ingin berbicara lebih banyak lagi. Sadar bahwa tak mendapatkan jawaban yang diinginkan, pria bermata biru cemerlang itu berinisiatif menjelaskan.   “Saya akan menjawab secara jujur, mohon kiranya Dewi jangan marah.” Pria tampan itu mengawali ucapan. Tiga pasang mata menatap ke arahnya secara langsung, sehingga membuat suami Rhean Lutzh menjadi kecut.   “Apa yang telah dilakukan, termasuk menikah dengan perempuan dari golongan mortal, berkaitan erat dengan saat Anda menolong di sungai, ketika dikejar oleh Ratu Eliatz. Memang, sebelum mengambil keputusan, sudah mempertimbangkan masak-masak, karena segala tindakan selalu ada konsekuensi.”   Dewi Aletzhia tidak menyahut, atau menyela, karena ingin mendengarkan secara langsung alasan dari Truantz. Ia dikenal sebagai penguasa bulan tak banyak bicara, namun lebih banyak ke tindakan, oleh karena itu, semua dewa-dewi menjadi segan, serta hormat.   “Sejujurnya, saya telah memiliki rencana untuk keturunan, dalam hal ini Ostara, putri yang baru tiga hari lahir di dunia fana. Mohon maaf, jika tidak bisa dijelaskan apa saja agenda tersebut, karena ini khusus. Fairy dan mortal memang tidak boleh bersatu, itu memang benar, namun apa yang menimpa saya, terutama di kerjaan bukanlah hal biasa, tidak semua mengalami, sehingga jalan ini terpaksa ditempuh.”   “Saya, Truantz Loitzh, memohon dengan sangat, agar Dewi Aletzhia sudi memberikan berkat kepada bayi kecil, Ostara Statzh bila di dunia manusia atau Ostara Loitzh nama di dunia fairy, agar bisa hidup di dua alam, tanpa terkena celaka sedikit pun.” Pria bertubuh kekar, langsung menyembah dengan kepala mencium lantai.   Tak ada jawaban dari wanita penguasa bulan, namun sang ayah tidak menyerah, karena ingin sang putri bisa hidup di dunia alam, salah satunya dengan mengiba di hadapan beliau. Satu pasang mata, kini fokus ke tempat tidur anak, karena ada gerakan kecil di situ, seolah tahu tengah dibicarakan.   Suasana begitu hening, sunyi, dan tak terdengar apa pun, kecuali angin malam yang masuk melalui jendela. Rhean sama sekali tak terganggu tidurnya, malah semakin nyenyak. Namun, sang suami tengah berjuang mendapatkan belas kasihan, agar permohonan dikabulkan oleh Dewi Aletzhia.   “Avreht gnuitg grebtux qorvux vaght!”   Truantz merasa terkejut. Ia sungguh tak menyangka, jika dewi yang pernah menyelamatkan saat di sungai, malah memanggil si bayi untuk mendekat. Sang pangeran langsung berdiri, lalu melihat bahwa si kecil telah melayang di udara, melintasi kepala, dan mengambang di hadapan Dewi Aletzhia.   “Dengarlah, Truantz. Tidak ada berkat bagi kau dan istri, karena permintaan awal hanya untuk Ostara. Sekali ini, aku mengabulkan permintaan, namun lain kali, jangan harap, karena tindakanmu telah melanggar ketentuan. Keseimbangan alam terganggu, karena magickal world akan diketahui oleh manusia biasa. Semua makhluk ada dunia masing-masing, tak terkecuali fairy. If you cross the line, you have to know what are the consequences.”   Ostara masih tampak nyaman, seakan tak ada gangguan sama sekali. Family man itu tak mampu berkata-kata, karena mengerti maksud peringatan tersebut. Ostara, kami sebagai orang tua, rela berkorban. Maafkan Ayah, yang membuatmu kesulitan, baik saat kau sudah lahir, maupun ketika tumbuh dewasa nanti.   Tiga pasang mata kini terpusat ke bayi yang ada di hadapan. Tak ketinggalan, keenam tangan terarah ke putri tunggal pasangan Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh. Tergerak oleh belas kasihan, Dewi Aletzhia mau memberikan blessing.   “Ostara Statzh, ketika berada di dunia mortal, masalah akan banyak menghampiri, karena kecantikan, kecerdasan, kebijaksaan, serta hal-hal yang diturunkan dari darah Ayah, akan muncul dengan signifikan. Namun, jangan takut apalagi gentar, karena kau akan selalu lolos, walau hal tersebut mustahil. Suatu saat, ketika pulang ke dunia asal, maka namamu adalah Ostara Loitzh, selesaikan apa pun misi yang diberikan oleh Truantz, dan jangan pernah kembali kembali ke alam fana, demi keselamatan sendiri.”   Ketika mengucapkan berkat, tiba-tiba saja, keenam pasang tangan mengeluarkan cahaya, lalu mengenai tubuh bayi mungil nan menggemaskan tersebut. Tak ada kata terucap dari bibir pria yang menanggalkan hidup abadi, demi tujuan tersendiri. Ia ingin menangis, namun tertahan.   “Kembalilah ke tempatmu,” ucap Dewi Aletzhia, kepada Ostara.   Buah perkawinan Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh, melayang kembali, lalu bergerak ke arah tempat tidur khusus, dan si cantik sudah berbaring di sana. Truantz merasa kebahagiaan membuncah, lalu menyembah kembali.   “Terima kasih, Dewi,” ucap pria itu berulang-ulang, penuh syukur.   Tak ada sahutan, atau jawaban. Hanya angin sepoi-sepoi terasa. Pria bermata biru itu berdiri dari posisi semula, lalu mengedarkan mata ke sekeliling. Sosok wanita penguasa bulan telah pergi dari hadapan. Ia pun mengubah wujud, supaya sama dengan manusia normal.   Lelaki bertubuh tegap tersebut, lalu berjalan ke jendela, kemudian menatap langit, di mana ada bulan purnama. “Terima kasih banyak atas pertolongan dan berkat bagi anakku, Dewi,” gumam Truantz, pelan.   Suami Rhean pun mengucap spell, agar jendela tertutup dengan sendirinya, maka hal itu terjadi. Tak lupa, mantra penghilang perisai dirapalkan, supaya keberadaan ayah dan anak dapat terlihat. Sebelum beranjak ke ranjang, Gretzh melangkah ke tempat Ostara, lalu membungkuk untuk mengecup pipi sang putri.   “Selamat tidur, Sayang. Ayah menyayangimu.”   *** Istilah bahasa asing:   1. Avreht gnuitg, grebtux qorvux vaght! = Mendekatlah ke mari, wahai bayi perempuan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD