Tiga Bulan Kemudian
Tampak seorang pria bertubuh tinggi besar nan kekar, tengah menggendong bayi berusia tiga bulan. Mereka kini berada di dalam rumah, tepatnya di ruang depan. Mereka tidak bisa ke luar, karena sudah musim dingin di negara itu.
“Ostara, lihat! Itu ada salju.” Suara khas dari pria dewasa terdengar, seraya menunjuk ke luar jendela, di mana terdapat benda berwarna putih turun.
Bayi tiga bulan itu mengerjap-ngerjap matanya dengan lucu. Ia belum bisa berkata-kata, namun seakan mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki tampan bermata biru tersebut. “Kalau kamu sudah lebih besar, Ayah dan Ibu akan membawamu untuk main di luar. Kita akan membuat boneka dari salju,” ucapnya.
Tak lama kemudian, terlihat seorang perempuan muda, tampak datang menghampiri. Di belakang, ada seorang pelayan mengikuti, namun membawa nampan. Ia tersenyum, ketika melihat pemandangan yang ada di hadapan: sang suami tengah menunjuk ke arah luar dari jendela, seolah tengah memperkenalkan tentang dunia luar.
“Hubby,” panggil wanita berambut panjang brunette itu.
Suara itu mampu membuat pria penyayang keluarga mengalihkan perhatian, kemudian membalikkan tubuh. Ternyata, pasangan yang dicintai setulus hati, telah berdiri di belakang. Tak lupa, ada seorang maid dengan membawa tray berisi makanan dan minuman.
“Ya, Wifey?” sahut sang suami, lembut.
“Sudah saatnya anak kita makan. Aku membuat coklat panas untukmu.” Rhean menjelaskan, seraya tersenyum.
“Kau mau membuat anak kita makan makanan padat?” Kening Gretzh berkerut, karena kurang mengerti.
Perempuan yang memiliki sepasang mata hijau mempesona itu menggeleng. Dia hampir tertawa, karena mendapatkan pertanyaan lucu tersebut. “Tidak, Hubby. Ostara baru berusia tiga bulan. jadi tidak mungkin membuat dia melakukan hal itu, karena pencernaan belum lancar. Dia akan minum ASI dan aku harus makan lebih banyak, supaya anak kita mendapatkan gizi cukup.”
Pria tampan nan setia langsung mengangguk. “Kau mau kita makan di sini, Wifey? Karena kulihat ada maid ikut.”
“Ya, tapi bukan makan malam, karena yang itu tetap di dining room. Ini hanya camilan tambahan, tapi tetap bergizi. Oh, ya, aku juga sudah membuat cookies dan hot chocolate untukmu, Hubby. Ayo, dicicipi,” ajak Rhean, lembut.
Sementara, sepasang mata berbeda warna milik sang putri, sudah menatap ke arah ibu kandung, lalu kedua tangan mungil itu menggapai-gapai ke arahnya, seakan minta digendong. Terdengar gumaman tak jelas dari bibir mungil, sehingga membuat Rhean mengerti, jika Ostara ingin bersama.
Pria berhidung mancung menyadari hal tersebut, sehingga dia langsung berjalan, mendekat ke arah istri. Sesampai di sana, wanita bertubuh mungil langsung mengambil bayi cantik dari dekapan sang suami.
“Tolong letakkan tray di atas meja,” ucap Rhean, kepada pelayan itu. Tak jauh dari tempat perempuan itu berdiri, terlihat suatu table persegi panjang, di mana bisa meletakkan makanan untuk porsi empat orang dewasa. Kursi pun ada di situ, sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk menyantap hidangan, jika sedang malas ke dining room.
“Baik, Nyonya,” sahutnya.
Asisten rumah tangga pun melakukan, tepat sesuai yang diminta oleh sang majikan. Tak lupa menyajikan dengan apik. Setelah selesai, ia langsung kembali menghadap Rhean, selaku Nyonya di kediaman itu.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya maid, sopan.
“Itu saja. Jangan lupa nanti siapkan makan malam, dengan menu yang sudah saya susun,” jawab pasangan resmi Gretzh Statzh.
“Ya, Nyonya.” Tak lama kemudian, wanita itu berlalu dari sana. Pria bertubuh tinggi besar itu, hanya memperhatikan anak dan pasangan saja, sehingga ketika ada yang lain, tidak mendapatkan perhatian darinya.
Rhean mengalihkan pandang ke arah suami. Sepasang mata hijau dan biru itu saling menatap. Raut sang ibu muda menjadi merona, karena merasa malu. Ia masih sungkan, meskipun sudah jadi pasangan sah.
“Hm, Hubby. Mari duduk di sana,” ucap sang istri, seraya menunjuk ke kursi.
“Ya, Sayang. Ayo!” Fairy prince menyetujui ide tersebut.
Sepasang suami-istri itu lalu duduk di sana. Ostara diletakkan di dalam pangkuan. Makanan yang dihidangkan juga bukan termasuk hidangan ringan, karena di sana ada empat potong kue, di mana ada taburan keju, daging, wortel, dan brokoli. Minuman yang disediakan memang coklat panas, namun tidak hanya dihidangkan di cangkir, namun di teko berukuran sedang. Cutlery pun tersedia, supaya memudahkan mereka dalam menyantap.
Gretzh mengerjap beberapa kali, seakan tak percaya. “Banyak sekali. Ini pasti berasal dari resep keluarga dan kau yang membuat, right?”
Putri tunggal keluarga Lutzh mengangguk. Ia memang diwajibkan bisa memasak, meskipun tidak terlalu menyukai. “Betul. Saat di dapur, aku ingin membuat ini, jadi meminta bantuan dari pelayan. Entah bagaimana rasanya.”
Jika aku mencium wangi dari makanan, sudah pasti enak. Jujur saja, selama menikah, tidak menuntut istri supaya bisa memasak setiap hari, karena anak kami sedang butuh perhatian total, jadi lebih baik fokus dengan Ostara, batin lelaki itu.
“Pasti lezat. Aku tak sabar ingin mencicipi,” timpal Gretzh, yang membuat pasangan tersenyum.
“Mari disantap, Hubby. Aku sengaja meminta agar diberikan empat potong, supaya bisa tambah, jika masih ingin.” Rhean menjelaskan, karena sudah mengetahui tabiat suami tercinta.
Senyum lebar tampak di raut pria tampan tersebut. Ia tidak mengatakan apa pun, namun langsung mengambil spoon, lalu mulai memotong makanan, dan menyuapkan ke dalam mulut. Wanita yang memiliki sepasang mata berwarna hijau merasa lega, ketika sang kepala keluarga menyukai kue buatan sendiri.
“Enak sekali, Sayang!” puji fairy prince, tulus.
“Terima kasih, Hubby.”
***
Tiga Puluh Menit Kemudian
Pasangan suami-istri itu telah selesai menghabiskan hidangan yang ada. Ostara tampak tengah tertidur, setelah diberikan s**u oleh sang ibu. Rhean mendekap putri kecil dengan protektif, seolah takut terjadi apa-apa.
Anak kami memang terlihat nyata perbedaan dari bayi mortal. Warna mata yang ada itu sudah jadi tanya tanya besar. Suhu tubuh Ostara juga lebih rendah. Aku takut, saat orang lain menyentuh kulit si kecil, beranggapan sedang sakit. Ini memang salah satu konsekunsi menikah dengan manusia, karena pasti hal-hal penuh kejutan, pasti datang. Tak heran, ketika meminta blessing dari God’s Vrade dan Goddess Aletzhia, mereka semua memarahi. Bahkan, Dewi mengatakan untuk tidak kembali ke sini, demi kebaikan diri, batin sang ayah.
Perempuan cantik itu melihat, kalau suami tercinta tampak memikirkan sesuatu. Ia penasaran, karena pria bertubuh kekar tersebut seolah menyembunyikan sesuatu, sehingga membuat tanda tanya besar. Namun, tidak berani mengatakan secara langsung.
Kenapa dengan suami? Mengapa dia terdiam cukup lama? Apakah sesuatu telah terjadi, namun enggan memberitahu? Sejak awal berjumpa, Gretzh memang pria misterius, jarang bicara, tapi selalu memperhatikan dengan seksama. Pola pikir pun berbeda dari laki-laki di Lointz: unik, tidak suka bila perempuan diperlakukan seperti b***k, dan menentang keras hal-hal yang sudah dianggap lazim, pikir Rhean.
Tiba-tiba, pria berhidung mancung seperti tersadar akan sesuatu. Ia mengalihkan pandangan, lalu menatap sang istri. “Wifey, bersiaplah, karena kita akan—”
**