At Fairy Kingdom
“Apa belum ada kabar tentang di mana Truantz berada?” tanya seorang perempuan cantik, memakai mahkota di kepala, kepada seseorang yang tengah melapor.
Raut sang wanita tampak gusar, karena pencarian akan putra mahkota, masih belum menemukan titik terang. Segala daya, upaya, bahkan sayembara pun telah dijalankan, namun semua sia-sia belaka.
“Lapor, Yang Mulia. Kami sudah mencari ke pelosok, bahkan telah menyeberang ke kawasan magickal creature lain, akan tetapi sama sekali kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaannya, bahkan ketika dicek secara menyeluruh, semua tetap sama,” jawab seorang laki-laki, yang tengah berlutut.
“Kalian sudah datang ke tempat lain? Bagaimana dengan area werewolf? Mermaid? Witches?” tanya sang ratu, serius.
Aku ingin sekali menemukan di mana keberadaan pangeran sialan itu! Sungguh menjengkelkan, karena bagaimana bisa dia bersembunyi, tanpa ketahuan sama sekali? Tak mungkin kami ke dunia manusia biasa, karena terjadi kegemparan. Bukan mustahil, jika nanti malah diburu, dibakar, disiksa, atau dipermalukan. Mortal world is a dangerous place for us, magickal creatures, pikir fairy queen.
“Kami sudah berkeliling ke area tersebut. Kaum werewolf dan mermaid, sangat kooperatif. Mereka membantu untuk mencari ke tempat-tempat yang sekiranya belum diperiksa. Kalau witches tidak begitu,” jawab pria itu.
“Maksudnya ‘witches tidak begitu?’ apakah mereka menghalangi pencarian atau bagaimana?” Sang ratu mengangkat satu alis.
“Bukan, Yang Mulia. Kami membawa surat percarian secara resmi, sehingga disambut dengan tangan terbuka. Hanya saja, tidak ditemani oleh salah satu perwakilan dari kaum itu, sehingga membutuhkan sedikit lebih lama dalam pencarian.”
Wanita kejam tersebut terdiam sesaat. Dia merasa harapan seolah tak ada, akan tetapi belum mau menyerah. Bagaimana ini? Tempat-tempat lain sudah selesai dijelajahi, namun satu area belum terjamah: mortal. Kalau nekat, kami bisa terkena celaka, jika terjadi hal-hal di luar kendali. Semua magickal creature mengetahui, dunia manusia tempat paling tidak aman, sehingga kecil kemungkinan Truantz di sana, batin Ratu Eliatz.
Laki-laki yang sejak tadi memberi laporan, tidak berani mengatakan apa pun. Ia masih menunggu instruksi dari pemimpin tertinggi di fairy kingdom, karena tanpa itu, sudah pasti sia-sia saja. Suasana di sana sekarang menjadi begitu hening, karena menunggu keputusan atau perintah dari penguasa wanita nan absolut.
Apakah aku harus menyisipkan mata-mata di segala penjuru? Tapi, kalau melakukan hal tersebut, bisa berakibat fatal: para raja akan marah, bahkan bisa mengumumkan perang, karena tidak suka area yang dipimpin diawasi, meskipun tujuan utama mencari Truantz. Selama ini, belum ada masalah sama sekali dengan kawasan-kawasan lain, namun jika keadaan darurat, maka tindakan tersebut mesti diambil. Sebaiknya, bertanya kepada penasihat, supaya ada pendapat tersendiri, pikir ratu.
“Kau boleh pergi!” perintah wanita yang memakai mahkota.
“Baik, Yang Mulia.” Laki-laki itu menghormat, kemudian berlalu dari sana.
Perempuan yang memiliki sepasang mata berwarna biru, mengalihkan tatapan ke sebelah kiri. Tampaklah salah satu fairy kepercayaan sang Ratu. “Panggil Penasihat Vragt untuk menghadapku sekarang.”
“Ya, Yang Mulia,” sahut pria berambut pirang. Dia menghormat, lalu pergi dari ruangan utama.
***
“Hachim!” Fairy prince bersin beberapa kali. Suami Rhean, jarang sekali mengalami hal itu, sehingga membuat sang istri menoleh ke arahnya.
“Kenapa, Hubby? Kamu sakit?” tanya perempuan muda, yang kini tengah menimang buah hati di kedua tangan.
Keluarga kecil Gretz Statzh, kini berada di dalam kereta kuda. Mereka menggunakan pakaian tebal untuk musim dingin. Tak lupa, si kecil Ostara, diberikan baju sama, akan tetapi sesuai ukuran anak itu, supaya tidak kedinginan.
Pria berhidung mancung itu menggeleng. Dia merasa heran, kenapa bisa bersin seperti tadi? Apakah ada yang salah? Mungkinkah sang pangeran dari salah satu negeri magickal creature jatuh sakit?
“Tidak apa-apa. Mungkin karena cuaca begitu dingin, sehingga membuatku jadi seperti tadi. Jangan khawatir.” Lelaki setia kepada sang istri, berkata menenangkan. Ia seolah ingin menepis keraguan di diri perempuan bertubuh langsing tersebut.
Rhean mengernyit. Aku tidak percaya dengan perkataan tadi, seakan ada yang ditutup-tutupi. Semoga saja, ini bukan firasat semata, tapi mau dibuat untuk yakin pun tetap keraguan muncul di hati. Suami semakin lama menjadi aneh, batin Ibu Ostara.
Kenapa hati tiba-tiba merasakan, bahwa pasangan sendiri seperti sangsi. Memang harus diakui, bahwa aku tidak bisa bercerita lengkap tentang jati diri. Manusia biasa mana mengerti akan sesuatu di luar nalar? Mereka tetap memiliki iman kepada hal gaib, terutama kepada Dewa dan Dewi pribadi, namun itu beda kasus. Bagaimana caranya, supaya memecah keheningan canggung ini? pikir Gretzh.
Tiba-tiba terdengar tangis bayi memecah kesunyian. Suara tersebut, mampu membuat kedua orang tua si anak menengok. Perempuan berambut panjang brunette dengan segera mengayunkan tangan, supaya putri cantik kembali tenang, akan tetapi apa yang dilakukan, malah membuat hal sebaliknya terjadi.
“Tubuh anak kita demam,” ucap Rhean, yang setengah panik.
“Betulkah? Coba berikan Ostara kepadaku, Wifey,” sahut sang ayah. Wah, anak sekecil ini sudah memiliki kepekaan, terutama keadaan kami, sebagai wali. Satu-satunya cara, agar suhu kembali normal adalah dengan didekap olehku, batin Gretzh.
“Ini, Hubby.” Sang istri menyerahkan bayi berusia tiga bulan, kepada pria yang menjadi pasangan resmi. Pria bertubuh kekar itu menerima dengan baik, lalu mulai menggendong. Tak lama kemudian, tangisan semakin berkurang, apa lagi sang ayah menimang dengan penuh kasih sayang.
Ibu si anak merasa kagum, karena putri mereka menjadi tenang, bahkan tertidur kembali. Ia merasa takjub, karena tangan sang suami seolah menenangkan Ostara, sehingga mau memejamkan kedua mata.
“Bagaimana kau melakukan hal itu, Hubby?” tanya Rhean, spontan.
Tatapan fairy male berpindah ke istri tersayang. Dahi mengerut, seolah bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan. “Maksudnya bagaimana, Wifey?” Gretzh bertanya kembali.
“Maksudku, bagaimana bisa anak kita menjadi tenang, saat kau mendekapnya? Tadi, dia malah menangis keras,” jelas perempuan bermata hijau itu.
“Dia mungkin bermimpi buruk, jadi memerlukan kehadiranku sebagai ayah di alam itu. Ini masih kemungkinan, karena I was not there,” jawab fairy prince lembut, untuk pertanyaan awal dari istri.
“Hubby, kenapa kau tiba-tiba meminta kita sekeluarga pergi ke rumah orang tuamu? Apakah mereka sudah mengetahui kedatangan kita?” Rhean sengaja mengalihkan pembicaraan.
Pria bertubuh kekar itu tersenyum. “Kita tidak perlu izin. Sebelum menikah, orang tua telah berpesan, agar sering ke sana untuk mengunjungi mereka. Adikku, Traimt, mungkin sudah melahirkan, jadi dia akan datang dengan membawa serta suami dan anaknya.”
“Apakah kita tidak akan mengganggu?”
“Tentu saja tidak. Kau tidak perlu takut, jika ingin istirahat lebih lama. Keluarga dari pihakku akan mengerti, apa lagi kita sudah memiliki seorang bayi cantik, lucu, dan menggemaskan.”
Rhean tersenyum. Jujur saja, aku takut, jika mertua sama seperti ibu. Status menantu kadang kala tak enak: di rumah sendiri seolah orang asing, di tempat orang tua suami seakan pendatang. Ketika baru menikah, saat masih tinggal di kediaman Statzh, jika tidak membantu, sudah pasti akan menjadi gunjingan. Semoga, situasi berubah, harap perempuan bertubuh langsing tersebut.
“Tidurlah, Wifey. Perjalanan masih panjang,” ucap Gretzh.
“Apakah tidak apa-apa?” Putri tunggal keluarga Lutzh bertanya, ragu.
Sang suami mengangguk. “Tentu saja. You are married woman. You belong to your husband, in this case, you belong to me. Tidak akan ada yang protes.” Pria cerdas itu menjawab serius.
“Baiklah, aku istirahat dulu, Hubby. Terima kasih.”
“Ya, sama-sama, Wifey.”
Wanita cantik itu pun memejamkan kedua mata. Tinggal kepala keluarga Statzh yang masih terjaga. Setelah memastikan semua aman, ia pun berbisik di telinga sang putri, “Jangan menangis, Ostara. Ayah dan Ibu tidak bertengkar, jadi do not worry about us. Sleep well.”
Kereta masih bergerak ke tempat tujuan. Truantz masih menatap ke luar dari jendela. Ia menatap hampa ke arah salju yang masih turun di sepanjang perjalanan. Tiba-tiba saja, aku mendapat firasat, agar tidak tinggal di rumah. Biasanya, itu adalah tanda bahaya. Apa yang akan terjadi, jika masih tetap bersikeras di kediaman kami?
***