Arrive at Ogatzh Statzh Castle

1122 Words
Lima Jam Lima Belas Menit Kemudian   Langkah kereta kuda sempat berhenti, ketika ada empat orang pengawal menjaga pintu gerbang. Ketika mengetahui, bahwa yang ada di dalam adalah putra dari pemilik kastil, mereka membukakan akses, sehingga bisa lewat. Kira-kira dua belas menit kemudian, rombongan pun berhenti di depan sebuah kastil mewah. Di sana, terdapat banyak penjaga, juga pelayan. Pria bertubuh kekar yang tidak tidur, karena ingin berjaga-jaga, telah menyadari, bahwa mereka sudah tiba.   Sepasang mata berwarna biru mengamati ke arah bayi mungil yang tengah tertidur di dalam pelukan. Tak ada tangis sama sekali, karena sang anak merasa nyaman dilindungi oleh ayah tercinta.   “Ostara, nanti ketika bertemu dengan grandma, grandpa, bibi Traimt, paman Vantz, dan Agrazh, jangan menangis, ya. Berikanlah keceriaanmu, sehingga mereka senang. Ayah percaya, jika kau pasti bisa,” bisik Truantz di telinga kanan putri kecil. Ia hanya menggeliat kecil sebagai jawaban, meskipun kedua mata tetap terpejam.   Lelaki bertubuh tinggi besar itu menatap ke arah pasangan, yang masih tertidur lelap. Perjalanan cukup jauh, membuat sang suami meminta agar istri tercinta beristirahat, agar tidak terlalu lelah dalam menunggu.   “Wifey, bangun. Kita sudah sampai,” ucap Gretzh, seraya menggoyangkan bahu kanan Rhean.   Sepasang mata berwarna hijau mempesona itu perlahan terbuka. Ia sempat mengerjap beberapa kali, bahkan tak jarang menguap. “Ya, Hubby?” Suara serak khas bangun tidur terdengar dari bibir tipis, terbalut lipstik berwarna pink.   “Kita sudah di kediaman orang tuaku. Ayo, kita turun!” ajak sang suami, lembut.   “Ya, Sayang,” sahut perempuan berambut panjang brunette, yang digulung rapi ke atas.   Gretzh dengan sabar menunggu istri tersayang, karena ia mengetahui kebiasaan, kalau baru bangun tidur, maka memerlukan waktu beberapa saat berdiam diri, setelah itu baru bisa melaksanakan aktivitas lain.   Tak lama kemudian, Rhean menatap ke pasangan, yang dibalas anggukan oleh pria berhidung mancung. Mereka bertiga turun dari situ, lalu melihat ada orang tua menunggu di depan, beserta banyak pelayan pria untuk membantu. Pengendara kereta kuda, telah menurunkan barang bawaan sang tuan, nyonya, dan nona muda.   Gretzh menyerahkan Ostara kepada sang istri, yang diterima baik oleh perempuan bertubuh langsing tersebut. Tanpa banyak kata, mereka bertiga mendekat ke arah sang pemilik kastil, di mana terlihat sudah menanti kedatangan keluarga kecil itu. Para pelayan dengan sigap mengambil koper-koper, setelah mendapatkan kode dari majikan mereka.   Seorang pria paruh baya, dengan kumis, jenggot, serta cambang rapi, bermata biru, mengenakan topi tinggi, serta setelan resmi, berdiri di samping wanita bertubuh berisi, memakai dress resmi, rambut pirang dikeriting ditata rapi, dan memiliki sepasang mata berwarna hijau.   Raut keduanya tampak datar, namun di dalam hati terlihat senang, karena sang putra tertua telah datang, membawa serta menantu, dan cucu yang belum pernah ditemui, karena tempat tinggal mereka berjauhan, sehingga baru dibawa hari ini ke sana.   “Ayah, Ibu,” sapa Gretzh, ketika mereka sudah tiba di hadapan.   “Putraku akhirnya datang dengan istri dan cucu kami. Selamat datang di kediaman Ogatzh Statzh dan Bathz Sturzx,” balas pria yang memiliki warna mata sama dengan fairy prince.   “Terima kasih, Ayah. Perkenalkan anak kami, Ostara Statzh,” ucap lelaki berambut pirang.   Tatapan mata mereka beralih kepada bayi kecil yang tampak tenang di dalam dekapan sang ibu muda. Sebagai menantu, Rhean mengetahui, jika ada pertemuan penting, termasuk family gathering, maka kaum perempuan harus diam, kecuali dipersilakan oleh suami atau itu adalah perjumpaan sesama wanita.   “Ostara?” tanya Ogatzh Statzh, yang merasa asing dengan nama demikian.   “Ya, betul, itulah namanya,” jawab Gretzh. Dia berusaha untuk tidak terlalu kentara terdengar bangga, saat memperkenalkan buah cinta hasil perkawinan dengan wanita yang dijodohkan oleh orang tua.   “Kami tidak pernah mendengar nama seperti itu di seluruh pelosok negeri. Dari mana kau bisa mendapatkan ide itu?” tanya sang ayah lebih lanjut, karena mengetahui kebiasaan sang putra yang suka melakukan hal-hal aneh di mata orang tua.   “Dari mimpi. Aku melihat nama itu terpatri di langit biru, sehingga berpikir kalau itulah nama yang sesuai untuk putri kecil kami,” jawab Gretzh, setengah berbohong.   Satu alis pria berkumis tebal terangkat. Ia sungguh tidak menyukai tindakan anak sulung, namun tak bisa berbuat apa-apa, karena yang dinamai adalah keturunan sendiri. Sang ibu pun merasa gundah, ketika mendengar percakapan di antara suami dan anak laki-laki yang sudah dewasa.   “Ayah, apakah kita akan berdiri di sini? Sekarang telah musim dingin. Kami takut, jika buah hati menjadi sakit di udara dingin seperti sekarang.” Pria berhidung mancung mengingatkan secara halus.   “Ah, hampir lupa. Mari, silakan masuk,” ucap Ogatzh Statzh.   “Terima kasih,” sahut Gretzh, singkat.   Keluarga kecil itu berjalan di belakang, karena mereka harus mengikuti langkah dari tuan rumah. Aku sungguh takut kepada mertua. Apakah mereka akan menerima Ostara di sana, jika mengetahui bola mata berwarna berbeda satu sama lain? Memang, pernikahan yang terjadi adalah arranged marriage, but since the first time I met him, sudah timbul perasaan suka, karena siapa pun akan jatuh cinta dengan ketampanan fisik. Selain itu, kepribadian dia pun unik, tidak otoriter seperti pria pada umumnya. Semoga saja, keluarga besar Statzh tidak mempermasalahkan perbedaan fisik, harap Rhean.   Fairy prince merasakan getaran gelisah dari diri sang istri, sehingga ia bertekad, tidak akan membiarkan pasangan yang dicintai menghadapi kesulitan seorang diri, terlebih yang diakibatkan oleh ‘keluarga’.   Percakapan dengan ayah mortal memang membuat suasana menjadi canggung. Tentu saja, nama Ostara tidak muncul di dalam mimpi, namun ada arti mendalam. Jika diberikan jawaban jujur, sudah pasti akan timbul kegemparan. Lebih baik, berkata bohong, namun semua aman, dari pada jujur yang menyebabkan identitas asli ketahuan. Aku sudah memberikan mereka semua ramuan kuat dicampur spell kuno, sehingga mereka tidak sadar, kalau bukan dari keluarga. Selain itu, istri tampaknya cemas, karena vibrasi negatif datang dari dalam tubuh. I will not make you through it all alone, Rhean. I promise that, tekad Truantz.   Tak lama kemudian, Ogatzh Statzh dan Bathz Sturzx berhenti melangkah, yang menyebabkan sepasang suami-istri juga turut melakukan hal sama. Pria paruh baya dengan pakaian setelan resmi itu membalikkan tubuh, lalu menatap Gretzh, menantu, dan cucu.   “Gretzh, Rhean, dan Ostara akan tidur di kamar yang dulu, karena kalian bukan tamu. Untuk tempat tidur bayi, sudah disiapkan pula. Maid akan segera mengantarkan makanan dan minuman ke sana, supaya kalian bisa segera menyantap di sana. Besok pagi, baru kita sarapan bersama di dining room,” ucap Ogatzh.   “Baik, terima kasih, Ayah dan Ibu,” sahut pria berambut pirang, seraya mengangguk hormat kepada keduanya. Pria berhidung mancung sudah memahami makna ‘kamar yang dulu’ adalah bilik yang ditempati sebelum ia menikah.   Orang tua Ostara pun berpamitan, lalu naik ke lantai dua, tempat di mana mereka akan beristirahat bersama buah hati tersayang. Sementara itu, orang tua mortal merasakan keganjilan dari nama cucu mereka, namun tidak bisa menyampaikan keberatan, sehingga mereka hanya menyimpan di dalam hati.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD