Tak ada kemunculan dari tanda-tanda yang diharapkan, sehingga membuat sang ratu naik pitam. Ia tak percaya, jika sang Dewi yang telah disebutkan, tidak muncul di antara semua fairy yang berkumpul di sana untuk menantikan jawaban secara langsung.
Mengapa tak ada pertanda atau apa pun dari Dewi Aletzhia? Apakah beliau kini pilih-pilih? Kaum witches selalu memanggil, tanpa menggunakan ritual, tapi selalu ada jawaban. Mengapa aku melakukan hal yang sama dan tidak ada tanggapan? Apa yang salah? batin perempuan itu.
“Dewi, apakah kau tak mau menerima permohonan dari kaum fairy? Kami juga sama seperti magical creature yang lain, menyembah dan menghormati namamu. Tolong, beritahukanlah kepadaku, di mana fairy prince, Truantz Loitzh,” pintanya, seraya menatap ke langit.
Seorang perempuan asing muncul. Dia duduk di atas bulan, akan tetapi tak mengindahkan permintaan tersebut. “Hm, menarik. Memang sejak semula sudah mengetahui, jika anaknya bersembunyi di dalam sungai, tapi sebelum perempuan itu berseru, lelaki itu sudah memohon terlebih dahulu. Perseteruan internal yang dialami oleh kaum fairy, bukan urusanku. Lebih baik diam saja, terserah apa anggapan Eliatz,” gumam Aletzhia.
Suasana sunyi kembali terasa, sehingga membuat para pasukan yang menyertai berasumsi, kalau permohonan yang dipanjatkan sia-sia belaka. Apa pun yang dilakukan tanpa campur tangan dari Dewa atau Dewi, maka bisa dipastikan semua akan gagal.
Pria bertubuh kekar itu masih berada di dalam sungai. Bibir terus mengucapkan doa, supaya keberuntungan dan nasib baik berpihak kepadanya. Sementara itu, fairy queen menjadi semakin kesal, karena apa yang diinginkan, tak kunjung berbuah. Ingin sekali berteriak menyalahkan, memaki, bahkan mengutuk, akan tetapi ia menyadari semua tak bisa dilakukan.
Aletzhia masih berada di tempat yang sama. Ia sama sekali tak memiliki niat untuk turun ke bawah, bahkan mengamati dari atas. Raut dingin nan datar terlihat, seakan tak terganggu sama sekali.
Beruntunglah kau bisa membuat hati menjadi iba, Truantz. Anggap saja, ini adalah hadiah kecil, karena aku tahu apa yang terjadi. Politik, perang, apa pun yang selalu terjadi di dunia, akan selalu ada, dan tak bisa dihindari. Sebagai pihak yang netral, kecuali dimintai bantuan, maka lebih baik pura-pura tidak tahu, agar tidak ikut campur, batin dewi penguasa ilmu sihir.
Eliatz menyadari, bahwa ada sesosok wanita yang tengah duduk di bulan, namun tak ada tanggapan dari sana. Huh! Dia berada di atas, tapi membantu pun enggan! Bagaimana bisa ada yang berseru, namun tak mendapatkan perhatian sama sekali? Apakah mungkin terlalu sibuk, sehingga permohonan pun luput? Kesal! Aku yakin, Truantz masih berada di sekitar hutan dan belum mencapai portal, tapi bagaimana bisa membuktikan, jika tak ada yang mendukung?
Tubuh sang ratu berbalik, sekarang tatapannya ke arah para pasukan yang sudah sekian lama menunggu perintah. Raut gusar bercampur amarah terlihat jelas, akan tetapi tak bisa diluapkan, karena tahu ada konsekuensi mahal jika nekat dilakukan.
“Kita pergi!” ucap perempuan, yang tengah menahan murka.
“Baik, Yang Mulia!” sahut mereka.
Mereka pun pergi dari hutan tersebut, sehingga suasana menjadi sunyi sepi. Lelaki yang masih berada di dalam air, segera menyadari ada yang tidak beres, namun masih ragu untuk memeriksa kondisi di luar.
Apakah keadaan sudah aman? Tapi, bagaimana jika itu hanya jebakan saja? Eliatz sungguh pandai memanipulasi segala sesuatu, sehingga jadi ragu. Langkah apa yang harus diambil? Benar-benar buah simalakama, pikir si pemuda yang masih meragu.
“Keluarlah dari air, Truantz. Musuhmu telah pergi.”
Suara tersebut membuat si empunya terkejut, karena tak menyangka hal itu bisa terjadi. Baru saja memikirkan siapa yang mengatakan hal tersebut, tiba-tiba terdengar kembali jawaban untuk pemilik sepasang mata berwarna biru tersebut. “Akulah Dewi Aletzhia.”
Perasaan lega muncul di dalam sanubari. Truantz langsung melompat keluar dari dalam sungai, lalu menatap ke arah rembulan. Fairy prince langsung seketika menyembah, ketika melihat ada sosok yang tak asing bagi kaumnya.
“Terima kasih atas bantuan dan belas kasihan yang diberikan kepada saya,” ucap si pemuda spontan.
“Pergilah sebelum terlambat. Aku tahu, kau ingin pergi menuju portal. Apa pun yang terjadi di kerajaan, meskipun mengetahui, semua itu adalah urusanmu. Semoga selamat sampai tujuan,” sahut sang Dewi.
“Baik. Saya undur diri.” Truatz lalu bangkit dari posisi semula, kemudian mengucapkan spell, sehingga tubuh kecil yang memiliki sepasang sayap, tak berada di area itu lagi.
Tak lama, fairy male itu sampai ke portal. Ia melihat sudah ada sosok lain, sama seperti dirinya. “Dari mana saja kau?” tegur suatu suara yang dikenal baik. Nada yang digunakan terdengar gusar, sehingga menuntut penjelasan lelaki itu.
“Aku hampir tertangkap—”
“Bodoh! Bagaimana bisa? Aku sudah sedari tadi menunggu, karena takut ketahuan!”
“Jangan begitu, semua yang dihadapi tak semudah yang dibayangkan. Hampir nyawa melayang, karena dikejar oleh para pasukan! Untung saja mendapatkan pertolongan dari Dewi Aletzhia, sehingga selamat. Kau tahu sendiri perempuan sialan yang membunuh raja! Dia sempat berseru memanggil nama yang sama, namun beliau berbelas kasihan kepadaku.”
“Lalu, tetap jalankan semuanya sesuai rencana?”
“Tentu saja. Aku tak bisa tinggal di sini lagi.”
“Kenapa tidak tinggal di kalangan witch saja?”
“Itu bukan ide yang baik. Bisa terjadi pertumpahan darah, sehingga lebih baik bermukim di tempat yang sangat jauh, tak ada sentuhan magick sama sekali.”
“Jadi, alam manusia aman untukmu? Bukankah lebih sulit berada di situ? Mereka makhluk yang brutal, ganas, bahkan membunuh magickal creature seperti kita. Witches saja memilih menghindar, karena diburu secara biadab, apalagi kita!”
“Oke, kalau memang berbahaya, apakah kau ada saran yang lebih baik? Aku tak bisa tinggal di hutan ini, karena pasti akan terjadi pencarian dari istana. Semua kediaman fairy dicek satu per satu. Kalau tinggal di lingkungan witch, memang aman, tapi bila terjadi masalah bagaimana? Jujur, alam mermaid, werewolf, vampire, dan yang lain juga sama saja.”
Fairy male itu terdiam. Ia merasakan kebenaran ucapan sang teman yang baru lolos dari maut tersebut. “Baiklah, meskipun berat, untuk saat ini sebaiknya menetap di dunia manusia biasa. Berapa lama kau akan tinggal di sana?”
“Sekarang, hal tersebut tak bisa dipastikan, tapi perkiraan akan lebih lama. Hitzh, bila tiba saatnya, akan ada penerusku. Bersumpahlah untuk membalaskan dendam pengkhianatan wanita yang tak pantas disebut sebagai ibu dan ratu kaum kita.”
Sepasang mata hijau itu terbelalak. Dia seolah bertemu dengan hantu. “Kau tidak bercanda, ‘kan?”
“Bersumpah saja! Bisa jadi, ini adalah pertemuan terakhir!”
“Jangan katakan, kau akan melepas immortal life?”
“I think so. Lebih baik meninggal dan terlahir ke dunia lain, a peaceful and better one, daripada di sini.”
“How can you be so sure? Fairy memiliki hidup abadi dan hanya peri gila saja yang melepaskan hal tersebut. Sadarlah!”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, you must swear to me!”
“Truantz—”
“Do it!”
“Okay, I swear to you.”
“Good. Aku pergi dulu. Terima kasih atas bantuanmu, kawan.” Lelaki yang memiliki mata biru, kemudian melangkah masuk ke dalam portal. Sebelum menghilang, ia melambaikan tangan dengan semangat, lalu sosok itu lenyap dari pandangan.
***
Istilah bahasa asing:
1. O De Aletzhia = O Dewi Aletzhia