Blessing's from God's Vrade

1131 Words
Di Dalam Rumah   Seorang perempuan muda, memiliki sepasang mata berwarna hijau, dan rambut panjang brunette, baru saja membersihkan diri dibantu oleh dua orang maid. Raut pucat terlihat, apalagi dia berjalan pelan-pelan, karena teringat oleh perkataan suami.   Salah satu dari pelayan, kini membantu untuk melilitkan kain di area perut, pinggang, dan pinggul. Ia berusaha untuk tidak meringis, meskipun rasa nyeri begitu terasa. Sungguh, ibu muda tersebut lebih memilih untuk menanggalkan kain yang begitu menyiksa, akan tetapi orang tua, baik dari pihaknya, maupun sang mertua telah berpesan, agar tetap memakai kain itu siang dan malam, supaya tetap kecil, serta ramping.   “Rhean, pakailah ini, supaya setelah melahirkan, kau akan tetap cantik, menarik, dan membuat suami betah di rumah.” Seorang perempuan paruh baya, bermuka bulat, dengan tubuh berisi, tengah memegang kain tipis, kira-kira berukuran dua setengah meter.   “Apa itu, Bu?” tanya perempuan bermata hijau, bingung.   Wanita yang tengah berbadan dua, terlihat duduk di kursi, dan di atas meja tersedia teh panas, dengan asap masih mengepul ke atas. Sedangkan sang ibu berdiri. Raut sang putri tak mengerti terlihat jelas, sehingga membuat orang tua menjadi kesal.   “Masa kau belum tahu? Ini kain khusus, ini harus dipakai setelah habis bersalin! Kau mau, jika Gretzh berpaling, kalau tubuhmu gendut? Mau?” Raut Rhean berubah mendung. Ia tidak menginginkan, bila pria yang telah menjadi pasangan, berpaling ke wanita lain. Dia menggeleng sebagai jawaban, karena hati menjadi sakit, karena ucapan sang ibu.   “Jawab, Rhean!” bentak wanita yang sama-sama memiliki mata berwarna hijau.   “Maaf. Aku tidak mau, ‘Bu. Tentang kain, memang belum tahu namanya, karena selama ini belum pernah diberitahu sama sekali,” kata perempuan yang tengah hamil tua, takut-takut.   “Sekarang kau sudah tahu! Ingat, jangan sampai ini tak dipakai atau menyesal seumur hidup! Kau masih beruntung, karena memiliki suami tampan, berasal dari keluarga baik-baik, mapan, bahkan dia mengambil dua orang pelayan untuk membantu. Jangan sampai, urusan ranjang kau abaikan, kecuali siap kehilangan pasangan. Wanita yang telah menikah, harus tetap menjaga kecantikan, terutama kemolekan tubuh, supaya teman hidup tetap betah di rumah.”   “Berapa lama kain itu harus dipakai, Bu?”   “Gunakanlah itu selama enam puluh hari. Jangan lupa meminum ramuan khusus wanita bersalin, supaya tubuh segera pulih. Itu nanti akan dikirimkan, tepat setelah kau melahirkan. Bila Gretzh memanggil untuk minta dilayani, jangan pernah menolak, atau aku akan datang ke sini untuk memukul dan memanggilmu sebagai istri durhaka! Jangan buat malu nama keluarga Lutzh!”   “Baik, Bu. Aku akan melaksanakan semua perintahmu.”   “Nyonya, apakah mau meminum ramuan sekarang?” panggil salah seorang pelayan. Perkataan tersebut, sukses membuat anak tunggal dari pasangan Agrh Lutzh dan Grima Vandft kembali fokus ke masa sekarang. Angan telah melayang jauh, terutama ketika sang ibu yang terkenal keras, kasar, dan suka menuntut, datang ke rumahnya saat perempuan itu tengah hamil tua.   “Saya ingin makan dulu, baru meminum rempah-rempah khusus itu.”   “Baik, Nyonya.”   Seorang maid beranjak dari sana, lalu menuju ke pintu, supaya bisa ke luar ruangan. Sementara, pelayan yang lain, tengah menarik pelapis ranjang, di mana terdapat noda cairan merah khas ibu yang telah melahirkan, terdapat cukup besar. Selimut tak lupa diambil, karena bercaknya sudah tercetak jelas di situ.   Aku sungguh malu, karena darah bisa tembus ke pakaian, seprai, bahkan selimut, walaupun sebelum tidur, sudah berganti dengan handuk kecil tebal, supaya tidak ada vlek. Tapi, yang terjadi sebaliknya. Bahkan, suami menyadari hal itu pertama kali. Kalau ibu tahu, sudah pasti akan kena marah, pikir Rhean.   “Maaf, Nyonya, saya akan mencuci dulu,” pamit sang pelayan.   “Ya. Jangan lupa pesanku tadi,” sahut Rhean.   “Baik, Nyonya.” Perempuan itu segera beranjak dari kamar, lalu pergi ke luar.   Suasana menjadi hening, karena tidak ada lagi yang mengajak bicara. Wanita muda berambut brunette, berjalan ke arah jendela, lalu membukanya. Sepasang mata hijau cemerlang memperhatikan suasana di luar. Langit biru nan cerah, sinar mentari menyapa bumi, ditambah semilir angin sepoi-sepoi, sungguh membuat hati terasa hangat.   Sungguh tidak menyenangkan terlahir sebagai perempuan. Ketika masih gadis, harus mengalami sakit saat datang bulan, begitu menikah, nyeri hebat ketika melakukan hubungan suami-istri. Begitu benih tumbuh subur, gejala seperti mual, muntah, dan segala hal di luar bayangan datang silih berganti. Saat melahirkan, tak bisa tidur, bahkan mengejan pun sulit. Untung saja, memiliki suami seperti Gretzh. Dia jarang menuntut, hanya jika diminta ikut menemani ketika sedang ada urusan bisnis, sudah pasti akan turut serta, batin ibu Ostara.   Tiba-tiba, perempuan berhidung mancung teringat sesuatu. “Ke mana suami dan Ostara? Dia bilang, akan membawa putri kami berjemur, tapi di mana tepatnya? Apakah mereka ada di kebun belakang? Semoga saja tidak lama, karena ingin menyusui putri kecil.”   ***   Di Dalam Perisai Perlindungan   “Are you sure about your decision? You can go back to the fairy kingdom and bring Ostara, so no one mortal children would do the bullying. Trust me, she would get suffer, because her place does not belong here.”   Astaga, belum pernah aku mengalami hal semacam ini, sejak pertama kali menjadi Dewa! Bagaimana mungkin, seorang fairy prince bisa bersikeras untuk melemparkan diri ke kehidupan manusia biasa? Melepaskan kehidupan abadi, bahkan berani mempertaruhkan masa depan anak sendiri! Sungguh aneh dan di luar hal wajar! batin Vrade, jengkel.   “I am sure about it, God’s Vrade. Please bless my daughter. After this, I would ask Goddess Aletzhia, Goddess of Moon. You are the sun. Everything in this mortal world needs you for their life,” bujuk Truantz, tidak menyerah.   Sepasang mata berwarna kuning cerah, beralih ke bayi yang tengah tertidur lelap di dalam gendongan sang fairy prince. Keadaan kembali hening, karena semua tergantung kepada Dewa Matahari: apakah dia berkenan untuk memberkati keturunan peri yang memiliki darah setengah manusia?   Ostara, tampak tenang, dan tidak rewel seperti tadi. Aku merasa kasihan dengan nasib anak ini. Truantz sangat gegabah. Hidup mereka bukan di dunia manusia, tapi di alam fairy. Kenapa dia masih bersikeras untuk hal tak pasti? Kalau saja bayi ini terlahir di tempat asal sang ayah, sudah pasti tidak membutuhkan blessing untuk bertahan. Mortal world is totally different and they do not belong here, sesal Vrade.   “Truantz.”   “Ya?”   Apakah beliau akhirnya mau memberkati anakku? Memang harus diakui, bahwa living in the mortal place is not easy, but I was willing to take a risk, because I had planned, and I want my daughter would accomplish it with or without me, harap ayah muda tersebut.   “Kau dan putrimu mendekatlah ke mari,” panggil Dewa Vrade.   Pria bertubuh tinggi besar itu pun segera mendekat ke arah sang penguasa matahari. Suasana begitu sunyi, karena percakapan telah terhenti. Setelah fairy prince dan putrinya sudah dalam jarak yang dekat, sang dewa mengangkat tangan kanan, lalu menumpangkan tangan di atas kepala bayi perempuan itu.   “Ostara Statzh, now I—”   *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD