Meet God’s of Sun

1040 Words
Pria bertubuh tinggi besar nan kekar, terlihat keluar dari rumah, menuju ke halaman belakang. Matahari bersinar dengan indah, seolah menyambut siapa saja yang hadir dengan sinar yang menghangatkan tubuh dan hati.   “Aku harus lebih dekat ke tempat yang lebih banyak terkena cahaya matahari, tapi tidak terlihat jelas oleh manusia lain. Ini sangat berbahaya, karena memang, ini bersifat pribadi. Baiknya di mana, ya?” gumam lelaki bermata biru itu.   Suasana tampak lenggang, karena maid yang bertugas membantu nyonya rumah, tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Seorang pria yang ditugaskan untuk merawat pekarangan, termasuk kebersihan pun terlihat bekerja, lalu berpindah ke area depan.   Kediaman pasangan Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh memang tidak begitu besar, namun terlihat sejuk, dan asri. Pepohonan besar dengan tanaman terawat di sekeliling, membuat sejuk, meskipun siang hari bisa panas terik.   Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa lima puluh meter dari tempat berdiri, terlihat sebuah tempat yang cocok, serta memenuhi kriteria. “Ah, di sana bagus. Aku bisa membawa Ostara dan memperkenalkan kepada Dewa Vrade. Dia harus tahu, jika si kecil adalah keturunan setengah fairy.”   Bayi mungil di dalam buaian, tetap tertidur pulas, seolah tidak ada yang menginterupsi. Sang ayah hanya tersenyum, lalu melangkah semakin jauh, agar bisa ke tempat tujuan. Sesampai di sana, ia langsung mengedarkan tatapan ke sekeliling. Setelah dirasa aman, bibir pun mengucapkan sesuatu yang bukan diajarkan oleh manusia. “Agrutx verdux saghtux vexth loghtzx!”   Muncullah sebuah perisai tipis yang menyelubungi area tersebut, sehingga tak tampak dengan mata manusia biasa. “O, Dex Vrade. Hutgt liotz!”   Tak ada tanda-tanda luar biasa, seakan semua baik-baik saja di situ. Pria itu tetap menunggu dengan sabar. Apakah Dewa Vrade tidak ada di tempat? Bagaimana mungkin beliau absen, padahal dialah yang menguasai mentari? Aku akan tetap di sini sampai dia muncul, pikir pria berhidung mancung tersebut.   “Siapa yang berani memanggil namaku?” Suara itu terdengar begitu membahana, sehingga membuat bayi yang masih berada di dalam dekapan pria bertubuh kekar, menjadi terkejut, lalu menangis keras.   “Cup ... cup ... jangan menangis, Sayang.” Sang ayah mencoba menenangkan. Dia tidak menyangka, jika anak yang dikasihi menjadi seperti itu.   Wajah si bayi memerah. Isakan bukan semakin mereda, malah sebaliknya memekakkan telinga. Pasangan Rhean Lutzh sampai lupa untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dewa Varde, karena sibuk menenangkan putri sulung.   Kasihan, Ostara jadi terbangun. Aihs, kenapa tadi sampai aku lupa menyebutkan nama, sehingga Dewa Vrade tidak mengenali? Jika memberitahu identitas, semua lancar, namun sekarang berbeda. Semoga saja, beliau mau turun ke sini, dengan merubah diri menjadi manusia biasa, karena mustahil bisa naik ke langit, apalagi membawa putri sendiri, batin fairy prince, seraya mengayunkan kedua tangan ke depan dan belakang.   Di langit, tampak seorang lelaki yang mengawasi ke arah ayah dan anak itu. Ia sampai membelalak, seakan tak percaya dengan pemandangan di bumi. “Perisai itu ... hanya dimiliki oleh Pangeran Truantz. Dia akan selalu membuat pembatas, supaya tak ada makhluk lain yang turut campur dalam percakapan. Kenapa dia menggendong bayi? Jangan-jangan—“ gumam sang dewa.   “Truantz, kaukah itu?” Suara menggelegar kembali terdengar.   Akhirnya beliau mengenaliku juga. My little girl would be crying louder, jika terus-menerus mendengar bunyi keras seperti tadi, dan ini harus dihentikan sekarang juga! tekad si pangeran.   “Ya, ini aku, Truantz. Tolong jangan berbicara dari jauh. Dewa Vrade, karena anakku bisa semakin menangis, dan sulit dibuat diam kembali,” pinta pria bermata biru cemerlang itu.   Perhatian fairy prince yang memakai nama manusia Gretzh Statzh, kini teralih kepada calon penerus keluarga yang masih berusia tiga tahun. Ia bersenandung kecil, seraya mengayunkan kedua tangan, agar putri kecil menjadi tenang, dan kembali tertidur.   Tanpa disadari, muncullah sesosok laki-laki, berusia sekitar empat puluhan, namun tetap muda, kuat, dan sehat, di dalam perisai yang telah dibuat oleh suami dari Rhean Lutzh. Tanpa tergesa-gesa, langsung berjalan mendekati tamu yang telah memanggil namanya.   “Truantz.”   Ketika mendengar namanya dipanggil ayah Ostara Statz menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, dewa yang diharapkan telah datang sesuai permintaan, sehingga ia tersenyum, dan bayi yang digendong tidak lagi menangis.   “Dewa Vrade, terima kasih telah berkenan turun.”   “Apa yang terjadi padamu? Bagaimana kau bisa memiliki anak dari golongan manusia?”   “Ceritanya panjang. Tujuan ke sini untuk menghindari wanita sialan yang merusak kerajaan, serta menghabisi nyawaku. Dari pada mati konyol, lebih baik menjalankan strategi, supaya kelak, ada yang mengambil kembali tahta ke penerus seharusnya.”   “Lalu, kenapa memanggilku? Apakah ada hal penting?"   Fairy prince jadi teringat tentang tujuan awal: ingin memperkenalkan putrinya kepada sang dewa matahari, agar bisa diberkati. “Aku ingin mengenalkan anakku, Ostara Statzh. Dia baru lahir tiga hari yang lalu.”   “Statzh? Kau memakai nama keluarga dari dunia fana?” Dewa yang menguasai matahari langsung mengerutkan dahi. Ia tidak percaya, jika ada bangsa peri, terutama dari kalangan bangsawan kerjaan berperilaku nyeleneh seperti itu.   “Ya. Itu harus dilakukan, agar tidak diketahui oleh wanita terkutuk yang mengangkat diri sebagai ratu. Paling tidak, untuk dua puluh tahun lebih kalau memakai usia manusia biasa.”   “Kau ini t***l atau bagaimana? Menukar kehidupan abadi dengan mortal! Sudah tahu konsekuensinya, ‘kan?”   Pria tampan itu mengangguk, dengan raut serius. “Tentu saja tahu dan sudah siap menjalankannya. It is okay if you call me stupid or so, because once I have decided something, it must be done properly.”   Suasana menjadi sunyi, karena tak ada yang melanjutkan percakapan. “Jika kau mati, bagaimana dengan Ostara? Terlebih, dia perempuan, sudah pasti akan memerlukan kedua orang tua. Bagaimana jika putrimu mengalami tekanan?” tanya Dewa Vrade.   “Tekanan bagaimana?” Truantz bertanya balik. Dia merasa bingung, karena tidak mengerti apa maksud dari ucapan sang dewa matahari.   “Ostara memiliki ciri khas istimewa, yang sudah pasti menurun banyak darimu. Dia tak sama dengan anak-anak mortal di tempat ini dan tentu saja akan sangat menarik perhatian. Have you ever considered about this before?”   “That’s why I was contacting you, God’s Vrade. I need your blessings for my daughter, so she can be tough to face all obstacles. Would you do it, please?”   *** Istilah bahasa asing: 1. Agrutx verdux saghtux vexth loghtzx! = Buatlah tempat ini menjadi tak terlihat! 2. O, Dex Vrade. Hutgt liotz! = O Dewa Vrade. Dengarkanlah aku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD