Dua Tahun Kemudian
Di suatu pagi yang cerah, terdengar suara tangisan bayi di dalam suatu kamar. Di dalam ruangan tersebut, terdapat seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun, serta wanita kira-kira dua puluh tiga tahun, tampak tertidur lelap. Keduanya saling berpelukan erat, seakan tidak mau terpisah satu sama lain.
Bayi itu terus menangis, bahkan suara semakin nyaring, sehingga mampu membangunkan salah satu dari orang tua yang masih berada di atas tilam. "Ostara?" gumam si lelaki yang ternyata tidak memakai pakaian atas, namun hanya mengenakan celana pendek saja.
Kedua tangan nan kekar melepaskan pelukan dengan perlahan, lalu terduduk di atas ranjang. Karena isakan semakin tetap terdengar, ia bangkit dari sana, lalu beranjak ke tempat di mana buah hati tertidur di tempat tersendiri, namun tidak jauh dari tempat pembaringan kedua orang tua.
Sesampainya di sana, sang ayah langsung mengambil anak, lalu menggendong dengan hati-hati. Sinar mentari menembus tirai di dalam ruangan, meskipun belum banyak cahaya. Kicauan burung mulai terdengar, menandakan pagi telah datang.
"Jangan menangis, Sayang. Kamu anak ayah dan ibu yang luar biasa, pintar, cerdas, dan tentu saja cantik. Ayo kita keluar, supaya ibu bisa istirahat," ucapnya lembut, seraya mengusap pipi mungil si bayi.
Seolah mengetahui, bahwa orang yang tengah berbicara, bahkan menyentuh sisi muka di bawah pelipis adalah salah satu orang tuanya, sang anak yang belum lama lahir pun terdiam, bahkan menjadi tenang seketika.
Sang ayah beranjak ke depan pintu, lalu membukanya, kemudian ke luar dari sana. Ia tak lupa menutup kembali, agar ruangan tetap tertutup rapat. Sementara itu, buah cinta yang berada di dekapan, merasa tentram diperlakukan demikian.
Dia berjalan kira-kira sepuluh meter dari kamar, di mana jendela masih tertutup rapat, namun bisa terlihat cahaya sang surya masuk ke dalam rumah, bahkan kicauan burung masih terdengar. Sepasang mata biru nan memesona, menatap ke sana sesaat, lalu mengalihkan kembali ke buah hati.
"Cuaca begitu cerah. Sebentar lagi akan masuk musim dingin, tinggal beberapa minggu lagi. Semoga Dewi Aletzhia selalu memberkati keluarga, terutama keturunanku, Ostara," doa sang ayah, seraya menatap kesayangan.
Seorang pria bertubuh tinggi besar, berambut pendek pirang, memiliki sepasang mata berwarna biru cemerlang, berhidung mancung tampak gembira. Di dalam pelukan, terlihat seorang bayi mungil yang tampak sudah tertidur lelap. Ia mengecup pipi si kecil, dengan penuh kasih sayang.
Akhirnya, aku memiliki keturunan, walaupun berjenis kelamin perempuan. Si cantik ini akan menjadi gadis hebat, cerdas, bijaksana, dan mewarisi apa yang sudah seharusnya. Sebelum meninggalkan dunia fana, harus meninggalkan sesuatu untuk tuan putri, terutama mengenai apa yang terjadi, supaya kelak semua diteruskan dengan baik, pikir si lelaki.
Seorang wanita muda, memiliki rambut panjang berwarna brunette, tampak keluar dari sebuah ruangan. Raut mengantuk, tampak jelas terlihat. Kedua tangan mulai mengucek area mata, lalu berhenti. Tak lama kemudian, sepasang mata berwarna hijau nan memesona tak mempercayai, ketika ada seorang pria dewasa tengah menimang buah hati tercinta. Ia berjalan mendekat, lalu menyentuh tangan kanan orang tersebut, tanpa mengatakan apa pun.
Ketika merasakan ada sentuhan, fokus si laki-laki berpindah ke wanita yang ada di sebelah kanan. Ia tersenyum bahagia. "Sayang, kenapa kamu terbangun? Masuklah ke kamar. Aku masih ingin menggendong anak kita. Dia tadi terbangun, lalu menangis, tapi sekarang sudah tenang."
Nada yang digunakan lembut, penuh perasaan. Sang istri membalas senyuman dari suami tersayang. "Aku tadi tak sengaja menyentuh sisi lain ranjang, tapi terasa kosong. Saat melihat ke arah tempat tidur Ostara, ternyata kosong, jadi berinisiatif mencari kalian."
"Ya, tadi memang sengaja tidak mau membangunkan, supaya kamu bisa terus istirahat. Tenagamu harus pulih, Sayang, karena tiga hari lalu baru melahirkan. Ingat?" ucap sang suami, dengan nada sama lembutnya.
"Ya, Sayang. Aku tidak akan lupa. Rasa sakit setelah bersalin masih terasa, tapi tak mengapa, karena yang terpenting anak terlahir sehat, normal, dan tidak ada kendala apa-apa," sahut wanita berambut panjang tersebut, seraya tersenyum manis.
Pria tampan itu bahagia, karena bisa melihat belahan jiwa tersenyum. Rhean, tak salah memilihmu sebagai pasangan. Tak pernah mengeluh, rendah hati, bijak, dan pemalu. Untung saja, bisa kabur ke dunia manusia, memantrai keluarga terpandang, sehingga bisa menjadi 'anak' mereka. Saat mengetahui kami dijodohkan, aku langsung setuju saat melihat wajah manis itu, pikir pria berhidung mancung.
"Aku akan menjemur Ostara, supaya mendapatkan sinar matahari cukup untuk tubuhnya. Mumpung masih musim semi. Kalau sudah musim dingin, maka cuaca akan lebih dingin, dan anak kita tidak bisa ke luar menikmati suasana. Istirahatlah di kamar, Sayang."
"Seharusnya, aku yang melakukan—“
"Tidak apa-apa, aku tidak merasa keberatan. Ingat kesepakatan yang dibuat sebelum menikah? Aku dan kamu setara. You are my wife not my maid. Jangan merasa sungkan, apalagi mengatakan 'seharusnya itu tugasku'. Kita berdua adalah suami-istri, jadi pekerjaan pun dibagi dua, apabila tidak ada pelayan. Karena, di rumah ini ada yang membantu, jadi segala sesuatu jadi ringan. Jangan berpikir terlalu jauh."
Perkataan sang suami, membuat si istri terdiam. Ia menunduk, seolah telah dimarahi, padahal tidak sama sekali. Keadaan menjadi sunyi, karena percakapan telah terputus di antara mereka. Pria bertubuh kekar, tetap menimang buah hati hasil pernikahan, sementara wanita berambut panjang brunette masih memegang tangan suami tercinta.
Sepertinya Rhean ada beban pikiran, sampai tidak mau menyahut. Aku bisa saja menggunakan spell, supaya istri mau mengakui, tapi itu hanya opsi terakhir. Memang hidup di dunia manusia harus sabar, karena masyarakat masih menganggap, bahwa istri itu harus penuh melayani suami: makan, minum, mencuci pakaian, melahirkan anak, dan kebutuhan ranjang. Bisa gila, jika satu orang dibebankan begitu banyak pekerjaan, bila tidak dibantu. Manusia tetap memiliki keterbatasan, kecuali mereka adalah magickal creature seperti kami, bisa menggunakan spell, batin si pria.
Kini tatapan lelaki penyayang keluarga beralih ke pakaian tidur wanita yang dikasihi. Ia bisa melihat dengan jelas, ada bercak darah di situ, sehingga bisa dipastikan, di ranjang mereka pun ada noda yang sama.
"Sayang, sebaiknya kamu mandi dulu, biar aku membawa Ostara untuk berjemur. Kamu habis melahirkan, jadi darah masih keluar, dan sekarang menempel di baju. Jangan lupa untuk meminta tolong pada maid, agar dia bisa membantumu mengerjakan segala sesuatu," pesan sang suami, lembut.
Wanita berkulit putih itu, langsung mengalihkan perhatian. Ia melepaskan pegangan tangan dari lelaki yang sudah menjadi pasangan hidup, lalu memeriksa bagian belakang. Betapa terkejut hatinya, saat menemukan bukti yang sesuai. Bercak yang cukup besar, tampak jelas terlihat, sehingga sudah tak disangsikan bila tempat pembaringan pun terkena.
"Maafkan aku, Hubby." Rhean berkata pelan, seraya menunduk.
Astaga, darah selepas melahirkan masih banyak keluar. Padahal, sebelum tidur, sudah diberikan handuk yang cukup tebal, supaya terserap lebih banyak. Aku sampai meminta pelayan, agar membantu mengatur, serta mengikat. Tambahan lagi, tubuh terasa kurang nyaman, karena dari area da*da ke bawah, harus dililit oleh kain yang begitu kencang. Ibu bilang, ini berguna agar perut tetap ramping, seperti masih gadis, batin perempuan berhati lembut itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Nah, segeralah mandi. Do not worry about me and our daughter. I can take care of myself and Ostara. Jangan lupa untuk makan setelah membersihkan diri. Aku ingin anak kita menikmati cahaya matahari, supaya tubuhnya sehat." Gretzh Statzh membesarkan hati sang istri.
Wanita itu mengangkat wajah, lalu menatap pria bertubuh kekar. Kedua mata mereka beradu dan ia merasakan cinta yang dalam di sana. Ruat istri memerah, sehingga ia kembali menunduk. “Aku kembali ke kamar dulu, Hubby. Terima kasih telah diberitahu.”
“Sama-sama, Wifey. Hati-hati dalam melangkah, jangan cepat-cepat, supaya tidak terasa sakit,” pesan ayah dari anaknya.
“Ya, Sayang.” Rhean menyahut. Dia segera membalikkan badan, lalu berjalan perlahan. Sepasang mata biru itu, tampak mengawasi wanita yang dicintai pergi, sampai hilang di balik pintu kamar.
Aku sungguh merasa kasihan kepada wanita dari dunia manusia. Tugas dan kewajiban dibebankan begitu banyak, seolah mereka adalah makhluk super. Ketika masih tinggal di keluarga manusia, hati terasa teriris, saat mendengar ‘ibu’ memberi arahan kepada ‘adik perempuan’ yang akan menikah, bahwa dia tak boleh absen melayani suami, baik di ranjang, makanan, minuman, dan pakaian. It was horrible, because I felt that a woman was born to be a maid and they could not be independent. Padahal, pria bisa mandiri. Itulah kenapa, sebelum menikah, sudah membuat perjanjian dengan Rhean, agar tidak perlu bekerja keras, dan ada pelayan yang membantu, pikir fairy prince tersebut.
Terasa ada yang bergerak di dalam buaian, sehingga membuat perhatian teralih ke sana. Ternyata, bayi mungil sempat menggeliat, meskipun gerakan itu hanya sekali dilakukan. “Ah, sampai lupa ada kamu, Little Princess. Mari kita keluar dan berkenalan dengan Dewa Vrade.”
***