Arrive at The Bakery

1264 Words
Twenty Minutes Later   Kereta kuda pun berhenti bergerak. Penghuni di dalam kereta menyadari hal tersebut, sehingga langsung menatap keluar dan tampaklah papan nama “Ostara Bakery”. Gadis kecil nan cantik pun beberapa kali mengucek mata, seakan tak mempercayai apa yang dia lihat.   “Kenapa, Sayang?” tanya suara lembut itu.   “Ibu, toko itu memakai namaku,” jawab si gadis kecil, seraya menunjuk ke papan nama. Raut senang bercampur bingung terlihat jelas, karena ia sangat ekspresif.   “Ayah menamai toko dengan namamu, supaya semua mengetahui nama putri cantik kebanggaan kami,” ucap Rhean, memaklumi keadaan. “Ayo, turun! Kedatangan kita sudah pasti ditunggu.”   “Ya, Ibu,” sahut si periang, patuh.   Kusir telah turun dari tempat duduk, lalu bergerak ke arah pintu, kemudian membukakan untuk nyonya dan anak dari majikan. Melihat hal tersebut, Rhean turun terlebih dahulu, baru sang putri. Ostara teringat akan pesan orang tua, ketika mereka masih di rumah, segera menggenggam telapak tangan wanita yang telah melahirkan ke dunia.   “Terima kasih,” ucap istri sah Gretzh, kepada lelaki yang telah mengantarkan ke toko roti suami.   “Sama-sama, Nyonya. Apakah saya perlu menunggu di sini atau perlu dijemput?” tawar sang kusir.   “Boleh dijemput, kira-kira tiga sampai tiga setengah jam lagi. Kalau menunggu di sini, mungkin akan terlalu lama.” Rhean menyetujui.   “Baik, Nyonya.”   “Ya, sama-sama.” Rhean pun berlalu, seraya mengeratkan genggaman sang putri. Mereka masuk ke dalam suatu toko roti di mana terdapat lima orang pembeli. yang tampak mengantre untuk membayar.   Sepasang mata berwarna hijau mengedarkan tatapan ke sekeliling, lalu menemukan suami dan kedua anak buah tampak sigap melayani customer, sehingga tidak menyadari kedatangan mereka. Si kecil tampak kebingungan, karena tinggi badan belum setinggi orang dewasa, jadi belum bisa menemukan dengan mudah di mana letak kepala keluarga berada.   Tiba-tiba, ada sesosok bayangan hitam melintas tepat di belakang pembeli nomor empat, lalu dengan cepat menghilang ke dalam. Si gadis kecil terbelalak, sehingga merasa tidak betah di dalam toko.   “Ibu, kenapa di sini sangat ramai? Di mana ayah?” tanya Ostara, khawatir.   “Ayah sedang melayani mereka yang ingin membayar roti, Sayang. Memang sekarang toko sedang ramai, jadi kita duduk saja dulu, ya,” jawab Rhean, seraya menatap ada beberapa kursi yang diperuntukkan bagi para tamu, tak jauh dari tempat mereka berdiri.   “Baik, Ibu,” sahut si kecil, namun kecemasan belum juga sirna dari wajah cantiknya.   Perempuan berambut panjang brunette segera berjalan ke arah tujuan, lalu ketika sampai, dia duduk, dan langsung memangku si gadis kecil. Tiba-tiba, Ostara menyembunyikan wajah di ceruk leher sang ibu, sehingga tak terlihat oleh orang lain.   “Tumben begini. Ada apa, Sayang?” Rhean bertanya lembut, karena tak biasanya sang putri bersikap demikian.   Gadis kecil hanya menggeleng sebagai jawaban. Tindakan aneh itu membuat wanita yang telah melahirkan, serta membesarkannya menjadi bingung, karena pasti ada yang tidak beres. “Kamu melihat sesuatu?” tanya istri Gretzh.   “Iya,” jawab Ostara pelan. Perkataan tersebut, membuat sang ibu menjadi cemas, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada yang mencurigakan, namun tetap saja membuat pasangan sah fairy prince khawatir.   Tidak seperti biasa, Ostara sampai ketakutan. Apakah ada hantu di sini? Tapi, kalaupun ada, seharusnya sejak dulu terjadi hal-hal aneh. Ketika toko ini dibuat, suami telah membacakan doa ke dalam air, lalu dipercikkan ke seluruh sudut yang ada, bahkan satu minggu sekali, pasti diulang. Aku jadi penasaran, batin Rhean.   “Apa yang kamu lihat, Nak? Ceritakan pada Ibu,” bujuk wanita berambut panjang brunette tersebut.   “Aku takut,” lirih sang gadis kecil. Mantel berwarna pink masih tetap dikenakan, begitu pula dengan sang ibu, karena memang belum ditanggalkan. Sepasang lengan mungil dilingkarkan di leher Rhean, seolah menolak melepaskan.   Jantung si ibu muda berdebar. Ia sama sekali tak menyangka, jika buah hati akan berkata demikian. Selama aku hidup, belum pernah bertemu hal-hal aneh, sehingga semua baik-baik saja, akan tetapi anak kami berbeda. Saat di rumah atau di tempat ‘aman’, tingkah polah tetap wajar. Tapi, sekarang malah berubah. Apakah yang dilihat tadi betul-betul menakutkan?   Antrian pembeli pun semakin lama menyusut, sehingga tersisa satu orang. Pria bertubuh tinggi tegap menyerahkan semua kepada anak buah. Ia melihat, ada seseorang tengah duduk di kursi, dengan anak kecil di pangkuan.   Apakah itu istri dan anak? Aku tidak memperhatikan, saat mereka tiba, karena di sini tadi sedang ramai sekali, apalagi jika tak dibantu, sudah tentu belum bisa teratasi. Jangan katakan, mereka ada di sana sejak tadi menunggu? Kasihan sekali. Hati ini merasa bersalah, karena tidak sengaja menelantarkan keluarga sendiri, batin si pemilik toko.   Lelaki berhidung mancung segera menghampiri perempuan yang masih setia dengan posisi duduk, lalu mengusap punggung buah hati yang masih tetap tersembunyi di ceruk leher. Tak ada gerakan sama sekali, sehingga bisa dipastikan jika si kecil tertidur pulas.   Berapa lama suami selesai melayani customer? Aku tak berani bergerak, karena takut membangunkan. Kasihan Ostara, karena tidak berani menatap ke arah lain, sebab telah melihat sesuatu yang menakutkan. Untuk anak usia lima tahun adalah hal wajar jika menghindar dari hal-hal menakutkan, pikir Rhean.   “Wifey,” panggil fairy prince, kepada pasangan yang selalu setia mendampingi. Perempuan cantik nan lembut itu menoleh, lalu melihat pria bertubuh tinggi tegap telah berdiri, tak jauh dari tempatnya duduk.   “Hubby,” sahut ibu satu anak tersebut, seraya tersenyum manis.   “Maaf, aku tidak melihat, ketika kalian datang,” ucap Gretzh, penuh penyesalan. Ia meneruskan langkah, untuk mendekat ke keluarga kecil yang sejak tadi menunggu.   “Tidak apa-apa. Ketika sampai di sini, memang suasana sedang ramai, jadi kuputuskan menunggu di sini bersama anak kita.” Perempuan bermata hijau tersebut menimpali. Tak ada raut marah atau kekesalan, hanya senyuman manis terulas di bibir.   “Kau sudah makan siang?” tanya sang suami, sungguh-sungguh.   Wanita itu menggeleng. “Belum, Sayang. Tadi, aku langsung ke sini bersama Ostara. Jadi, belum ada bersantap, kecuali sarapan,” jawab si pasangan resmi..   “Oh, ya, kenapa putri kecil ikut serta? Bukankah kamu bilang, akan datang seorang diri?”   “Betul, aku memang ingin datang sendirian. Tapi, ketika melihat si cantik ingin bermain di kebun belakang, langsung saja melarang, lalu memintanya untuk ikut ke sini, dan dia pun mau.”   “Buah kita tertidur. Aku akan menggendongnya. Kau pasti merasa lelah dan pegal, karena berada dalam posisi itu dalam waktu cukup lama. Let me hold her in my arms,” tawar Gretzh, yang dibalas anggukan oleh teman hidup.   “Thank you, Hubby.” Rhean menyerahkan sang putri yang tengah tertidur lelap kepada suami, lalu diterima baik. Karena anak semata wayang sudah berpindah, maka leher dan pundak terasa pegal, karena tadi Ostara berada di situ dalam waktu cukup lama.   “Bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu? Sebelum kalian ke sini, aku telah membuat roti spesial sebanyak lima buah dan sudah disimpan. Sekarang, pasti sudah dingin, tapi bisa dihangatkan kembali. Kalau kau keberatan, I will make a new and fresh one for us.”   “Tak apa-apa, Sayang. Apa yang ada saja. Aku tidak mau merepotkan.”   “Mh ... tidak! Aku takut! Ibu, tolong!” Percakapan kedua orang dewasa, terhenti seketika, karena mendengar teriakan kecil dari putri tunggal mereka. Spontan sang ayah mengusap punggung sang putri, sehingga dia tenang kembali.   “Kenapa dia mengingau? Apa Ostara kelelahan atau bertemu hal aneh?” gumam fairy male, yang merasa khawatir.   Ucapan si kecil, membuat ibu dari gadis kecil itu teringat akan sesuatu, sehingga langsung timbul ingin bercerita kepada sang suami. “Hubby, aku ingin bertanya sesuatu. Ini berhubungan dengan perkataan anak kita barusan.”   “Katakan saja, Wifey. Ada apa?” Raut heran terlihat jelas di sana. “Apakah di sini ada—” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD