On The Way To The Bakery

1159 Words
Five Years Later   “Ostara, kamu mau ke mana, ‘Nak?” Suara halus terdengar. Gadis kecil nan cantik itu tampak mengerjapkan mata beberapa kali dengan lucu. Rambut panjang pirang diikat rapi, sepasang mata berbeda warna, kulit putih, tak lupa mengenakan pakaian musim panas, sudah siap dengan topi bundar kesayangan.   “Aku ingin ke kebun belakang, Ibu. Boleh, ya?” pinta si gadis cilik, dengan tingkah menggemaskan. Ia pernah dibawa ke sana beberapa kali oleh sang ayah, terutama saat musim panas, dan semi, lalu mengejar kupu-kupu.   “Siapa nanti akan menemani, dan menjaga, jika pergi ke sana? Maid berada di dalam rumah. Ibu sebentar lagi akan menyusul ayah di toko roti. Kamu mau ikut ke sana?” tawar perempuan cantik nan lemah lembut itu. Ia telah mengenakan mantel berwarna coklat muda, apabila berpergian di musim panas.   “Kenapa Ibu mau ke sana? Apakah nanti tidak mengganggu, jika misalnya ada pembeli?” tanyanya, bingung. Salah satu alis terangkat, pertanda bingung.   Sebuah senyum terukir di bibir wanita yang telah melahirkan, serta membesarkan buah hati ke dunia. “Tentu tidak, Sayang. Kalau kamu malas ikut, Ibu tak akan memaksa, Hanya saja, jangan pergi ke kebun belakang tanpa didampingi orang dewasa dan harus tetap di dalam rumah. Berbahaya jika ke sana sendirian.”   Anak perempuan cerdas tersebut terdiam sesaat. Ia tampak menimbang-nimbang. “Aku ingin ikut saja dengan Ibu. Bosan kalau sendirian di sini.” Keputusan pun telah dibuat oleh putri tunggal Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh.   “Bagus. Ayo, bersiap-siap, supaya bisa cepat berangkat,” sahut pemilik sepasang mata berwarna hijau tersebut, seraya mengulurkan tangan, agar pergi ke kamar tidur sang putri.  Namun, gadis cilik tersebut enggan beranjak dari tempat sekarang.   “Aku sudah siap, Ibu,” sanggah si kecil, seraya menunjuk diri sendiri. Wanita yang telah melahirkan dan mendidiknya ke dunia hanya memperhatikan sekilas, lalu menggeleng beberapa kali.   “Belum, Sayang. Pakailah mantel, supaya tidak kepanasan. Kau lihat Ibu? Nah, seperti inilah anak perempuan berpakaian, jika ke luar rumah,” jelas Rhean, sabar.   “Bukankah semakin panas, jika memakai mantel, Bu?” tanyanya, polos.   “Mantel hanya dipakai selama perjalanan lalu akan dilepas, ketika sudah di tempat tujuan, begitu pula topimu. Ayo, jangan terlalu lama atau Ibu akan pergi sendiri menyusul ayah,” jawab wanita berkulit putih itu.   “Baik, Bu,” sahut si cantik. Dia mengenggam telapak tangan kanan yang terulur, lalu mereka bersama-sama masuk ke dalam kamar. Setelah sampai di tempat tujuan, Rhean menuju ke dalam lemari, lalu mencari mantel untuk putri tersayang. Sementara, si gadis kecil hanya diam saja, seraya mengedarkan pandangan ke dalam isi almari.   “Ah, yang ini cocok,” gumam Rhean. Ia mengambil satu mantel berwarna merah muda, lalu melebarkan dari lipatan semula. “Ostara, kamu pakai yang ini. Setelah itu, kita pergi.”   Pemilik sepasang mata berwarna berbeda mengalihkan perhatian, lalu menatap ke arah sang ibu. Binar di manik terlihat, karena mantel yang akan dipakai, memiliki kenangan istimewa di memori gadis berambut pirang tersebut. “Ah, ini dibelikan oleh ayah dan pink! I love it!”   Senyum lebar terukir di bibir putri kecil, sehingga membuat sang ibu ikut bahagia. “Ayo, masukkan tanganmu ke sini, Sayang. Kita akan segera pergi ke toko roti, supaya tidak terlambat.”   “Baik, Ibu.” Anak perempuan nan aktif itu mematuhi ucapan orang tua. Dengan cekatan, ia memasukkan kedua lengan, lalu membiarkan istri fairy prince mengancingkan semua kancing yang ada di situ, dan membuat semua bagus.   “Oke, mari kita pergi. Ingat, selama di perjalanan, bahkan ketika sudah sampai di sana, jangan pergi jauh-jauh dan harus mematuhi kata-kata ayah dan Ibu! Genggam terus tangan ini, dan tidak boleh dilepaskan sama sekali, kecuali bila disuruh.” Wanita cantik nan lembut memberi peringatan tegas.   “Ya, Ibu,” sahut si kecil, lalu spontan menggenggam tangan kanan Rhean. Mereka berdua keluar dari kamar, lalu berjalan ke depan. Sinar mentari begitu terik, meskipun belum tengah hari. Di luar, terlihat kereta kuda menunggu bersama sang kusir. Pria tersebut telah siap menunggu, kemudian membukakan pintu.   “Selamat siang, Nyonya Rhean, dan Nona Ostara,” sapa lelaki itu.   “Selamat siang,” sahut ibu dan anak bersamaan. Ostara naik ke dalam kereta terlebih dahulu, namun wanita berambut panjang brunette memilih tinggal di luar sementara waktu. Sang putri terheran-heran, namun tidak berani bertanya, seolah menunggu tindakan Rhean.   “Hari ini, tolong antarkan aku dan Ostara pergi ke toko roti suamiku, ya,” ucap istri Gretzh Statzh. Nada yang digunakan pun tidak seperti memerintah, sehingga membuat lelaki yang sudah cukup lama mengabdi di posisi yang sama, tetap betah.   “Baik, Nyonya,” sahut lawan bicara.   “Terima kasih,” ucap Rhean. Ia pun menyusul sang putri dan duduk di dalam. Ketika melihat istri sang majikan sudah naik, maka pintu pun di tutup, lalu lelaki yang mengenakan seragam kusir pun terlihat naik ke atas, lalu memacu kuda-kuda, sehingga kereta pun bergerak.   “Ibu, ada apa di toko roti, sampai kita akan ke sana hari ini?” tanya si gadis cerdas ketika mereka dalam perjalanan.   “Tidak ada apa-apa, hanya saja Ayah memang meminta Ibu datang ke sana, dan jika Ostara mau ikut pun diperbolehkan. Waktu kamu masih kecil sudah dibawa ke sana, kecuali musim dingin. Kelak, kamu akan meneruskan usaha ayah,” jawab Rhean, lembut.   “Aku tidak bisa membuat roti, Bu,” ceplos si kecil, sehingga membuat senyum sang ibu merekah.   “Tidak apa-apa, semua akan ada waktunya. Ayah juga dulu sama seperti Ostara, tapi mau belajar, sehingga bisa membuat, bahkan sangat enak. Kamu belum pernah coba, ‘kan?” goda Rhean. Si gadis cilik menggeleng cepat. “Belum pernah, Bu. Apakah betul rasanya enak?” Terbayang sudah kelezatan roti yang baru keluar dari pemanggang, sehingga membuat anak tunggal itu menjadi lapar.   “Ya, Sayang. Nanti kamu akan melihat sendiri, bagaimana keadaan di sana. Kalau ingin memakan satu, langsung minta pada ayah, supaya diambilkan. Jangan memmilih sendiri, karena bisa jadi itu sudah dipesan oleh pembeli.”   “Baik, Bu. Apakah di sana ayah bekerja sendirian?” tanya Ostara, ingin tahu,   “Tidak, Little Princess. Ayah ada dua karyawan yang membantu. Jadi, ketika toko ramai, semua masih bisa teratasi. Nanti kamu akan melihat sendiri. Oh, ya, kalau nanti melihat ada banyak pembeli, kita akan masuk ke bagian dalam, supaya tidak mengganggu,” jawab Rhean, sekaligus memberikan pesan.   “Ya, Ibu.”   Putri tunggal kami aktif bertanya, aktif, cerdas, dan luar biasa, benar-benar menurunkan sifat Gretzh. Sayang sekali, aku tidak bisa memberikan seorang adik, karena memang sudah berusaha, apa daya belum mengandung kembali. Untung saja, suami bukan tipe pasangan suka menuntut, sehingga dengan atau tanpa tambahan keturunan, sudah puas dengan yang ada. Orang tua tak bisa menekan kami, karena peristiwa itu, pikir wanita berkulit putih itu.   Ostara sudah berhenti berbicara, karena mengalihkan tatapan ke arah pintu, di mana bisa melihat pemandangan di luar. Ia melihat keadaan di situ, dengan keingintahuan yang besar, walaupun belum terucap. Sementara, sang ibu tak lepas mengamati tingkah polah sang putri kecil. Kereta kuda terus bergerak, untuk membawa mereka ke tempat tujuan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD