Sibling Conversation Part Two

1205 Words
Setelah perempuan muda bermata hijau itu tertidur, sepasang lengan kekar mengambil bayi berusia tiga bulan, lalu menggendong dengan raut khawatir. Sang putri kecil malah tampak tenang, seakan tak perlu risau sama sekali. “Ostara, kamu tidak apa-apa, ‘Nak? Ayah khawatir,” tanya fairy prince, seraya menatap tubuh si kecil dengan seksama.   Sepasang tangan mungil memegang pipi lelaki yang adalah fairy parent-nya. Tak ada raut kesakitan, atau tanda-tanda lebam, namun tetap saja naluri orang tua untuk mengecek segala sesuatu, sampai ada kepastian.   “Aku memang sudah melihat kilasan peristiwa dari ingatan istri, akan tetapi lebih baik melihat dua arah: versi pasangan maupun keturunan sendiri. From there it will be seen, is everything okay or vice versa? I was really worried, especially since the little girl had fallen while being carried by her mother,” gumam fairy prince.   “Avtexc liotz vra firgth ni Ostara!” Si lelaki tampan mengucapkan spell, seraya menumpangkan tangan ke puncak kepala putri mahkota yang akan menggantuikan posisinya di fairy kingdom.   Kilasan demi kilasan terlihat. Terutama saat adegan jatuh yang diutamakan oleh lelaki berhidung mancung tersebut. Terlihat putri pertama dari pasangan Truantz Loitzh dan Rhean Lutzh benar terjatuh, akan tetapi dia aman, karena berada dalam dekapan kuat sang ibu.   Bayi berusia tiga bulan tersebut merasa heran, karena melihat perempuan yang sehari-hari dilihat dan memberikan gizi cukup itu tampak berbeda, bahkan menangis dengan raut aneh. Ia berusaha untuk berbicara, supaya dapat meminta pertolongan, namun sayang sekali belum dapat dilakukan.   Ketika selesai melihat semua itu, pemilik sepasang mata berwarna biru pun mengecup kening, lalu pipi kanan sang putri kecil tersayang. “Ostara anak baik. Ayah senang kau baik-baik saja.” Tiba-tiba, fairy male teringat akan adik mortal yang masih menunggu di sofa.   “Astaga, Traimt! I almost forgot her here! Princess, I would like to introduce you to my mortal sister. I hope, you can cooperate, so anything will be easy for us. Okay?” bisik Truantz di telinga sang putri kecil.   Bayi berusia tiga bulan itu hanya mengerjap saja, karena belum bisa menjawab dengan kata-kata layaknya orang dewasa. Namun sebelum pergi, merapikan pakaian yang melekat di buah hati, supaya rapi, setelah itu langsung memejamkan mata, mengucapkan spell di dalam hati, seraya menyentuh semua area di tubuh untuk memeriksa luka-luka secara gaib.   Ketika dirasa aman, maka lelaki tampan bertubuh kekar, membuka kedua mata, lalu tersenyum lega. “Syukurlah kau baik-baik saja. Nah, sekarang, kita temui bibi Traimt. Dia ingin sekali bertemu denganmu.”   Fairy prince pun membawa keturunannya ke arah sofa, tempat di mana sang adik perempuan mortal menunggu. Ketika melihat kakak lelaki tiba dengan keponakan yang diinginkan, anak bungsu segera berdiri menyambut.   “Maaf aku sedikit lama, karena tadi melihat keadaan istri dan anak dulu.” Buah hati pernikahan pun menatap perempuan berambut pirang di hadapan, dengan rasa ingin tahu besar, karena belum pernah bertemu sebelumnya.   “Tidak apa-apa, Kak. Itu Ostara? Halo, Ini Bibi Traimt. Apa kabar, Cantik?” sapa istri Vantz, ramah, seraya melambaikan tangan singkat. Fairy male sengaja bergerak lebih dekat, supaya adik mortal dapat melihat lebih dekat sang putri yang memiliki keturunan setengah peri dan setengah manusia. Sepasang mata berbeda warna mengerjap ke arah perempuan asing.   Karena merasa belum familiar, tatapan si kecil berpindah ke sang ayah yang tersenyum lebar, seolah memaklumi, dan jangan takut. “Itu Bibi Traimt, Sayang. Beliau baik dan ramah,” ucap Truantz kepada putri tercinta.   “She is beautiful. I can see your face on her. Wajah anak usia dini bisa berubah, terkadang mirip ayah, lain waktu seperti ibunya. But, one thing for sure, she is lucky because she has you and Rhean as her parent,” puji Traimt, tulus.   “Terima kasih. Maaf kalau anakku belum mau digendong, karena dia masih malu-malu,” sahut Gretzh. Pria tampan itu mengetahui, bahwa perempuan muda itu tulus, serta baik hati.   “Tidak apa-apa, Kak. Mungkin keponakan belum pernah melihat wajahku, sehingga merasa asing. Itu wajar, karena setiap hari, dia hanya bertemu orang tua, sedangkan kami jarang sekali berkunjung ke sana, sehingga kurang bonding.” Traimt memaklumi keadaan mereka terpisah jarak jauh. Sejak anak bungsu menikah, otomatis diboyong oleh pasangan, begitupula sang kakak yang membawa istri dan keluarga kecil tinggal terpisah dari orang tua.   “Duduklah, Traimt. Aku—” Belum selesai dengan kata terakhir, tiba-tiba, Ostara menghadap sang bibi, kemudian sepasang tangan mungil menggapai-gapai ke arah sana. Istri Vantz terkejut melihat hal tersebut, karena sama sekali tak menyangka, jika akhirnya keponakan mau digendong, bahkan gerakan yang ditunjukkan seolah menyambut baik.   “Dia memilihmu,” lanjut Truantz, seraya tersenyum.   “Ya, Kak.” Hati sang adik dipenuhi keharuan, karena sempat menduga, jika buah hati Gretzh dengan Rhean, akan tetap menolak. Perempuan muda itu memberikan tangan ke araha Ostara, lalu sang keponakan berpindah dalam sekejap.   Traimt mengamati raut bayi cantik nan menggemaskan, termasuk warna mata yang menjadi perbincangan di antara keluarga. Tindakan tersebut, tak luput dari pengawasan Truantz. Pria berhidung mancung tersebut, belum mengatakan apa pun, karena menunggu tindakan dari istri Vantz.   “Cantik sekali. Dia memiliki kedua mata orang tua dan ini sangat jarang terjadi, kalau tidak dikatakan langka,” ungkap wanita berambut pirang, jujur.   “Ya, aku dan pasangan tidak menganggap hal itu sebagai kekurangan, namun kelebihan. Akan tetapi, bagi orang tua, hal itu merupakan suatu aib, bahkan pagi ini kami sempat bertengkar di dining room.”   Traimt mengalihkan perhatian ke kakak lelaki satu-satunya. Ia mengerutkan dahi, karena bingung. “Apa? Kakak ribut dengan ayah hanya karena satu kondisi fisik Ostara? Bukankah apa yang terjadi pada anak, bukan kemauan kau dan Rhean sebagai orang tua?”   “Benar, kami sama sekali tidak bisa mengubah takdir atau keadaan sesuai keinginan. Aku memang berargumen hebat dengan pemilik kastil ini dan itulah yang terjadi. Ibu bahkan berani mengeluarkan pernyataan, bahwa putri kecil cacat, lalu menuduh istri telah melakukan sesuatu, sehingga terjadi peristiwa seperti sekarang. Sejak awal menikah, tak ada tanda-tanda aneh atau hal di luar nalar. Semua baik-baik saja.” Truantz menjelaskan panjang lebar.   “Bagaimana bisa anak secantik, selucu, serta cerdas seperti Ostara dikatakan aib? Dia benar-benar keturunan Statzh: rambut pirang, wajah cantik, bahkan memiliki satu warna biru yang ayah, kau, dan aku miliki. Raut pun terlihat sama dengan Kakak. Aneh sekali perkataan tersebut.”   “Ya, Rhean bahkan stress, sampai menangis. Aku bisa mengerti perasaan pasangan, karena orang tua, dalam hal ini, mertua, bisa seenaknya saja menuduh menantu, jika terjadi sesuatu pada cucu mereka, tanpa diselidiki lebih lanjut. Tapi, keadaan pun berubah.”   “Berubah bagaimana, Kak?”   “Ketika aku turun ke bawah, untuk mencari kepala pelayan, tiba-tiba ayah memanggil. Dia bersama seorang laki-laki asing, yang ternyata adalah pencatat sejarah keluarga Statzh.” Traimt mendengarkan dengan seksama, karena cerita seperti inilah yang ingin dia dengar.   “Ayah mengatakan akan berbicara secara pribadi, sekaligus memperkenalkan lelaki tersebut. Saat kami bertiga masuk ke ruangan rapat, di sana beliau menceritakan semua, termasuk percakapan dengan ibu.” Pria bermata biru itu berhenti sejenak.   “Ternyata, mereka mempermasalahkan bukan hanya warna mata, namun jenis kelamin anakku, karena sebagai cucu pertama dari anak laki-laki sulung, mereka mengharapkan bayi yang keluar dari rahim pasangan, memiliki jenis kelamin sesuai keinginan grandma and grandpa.”   “Apa? Itu gila!”   *** Istilah bahasa asing:   1. Avtexc liotz vra firgth ni Ostara! = Tunjukkan padaku apa yang terjadi pada Ostara!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD