Chapter 06: Teman

1553 Words
Melalui jendela yang dibiarkan terbuka, cahaya senja menghiasi ruangan. Hembusan angin musim semi menerpa tirai. Suara bat yang memukul bola baseball terdengar samar-samar dari lapangan sekolah. Suara sorakan terdengar setelahnya. "Kena kecipuk orang berbelut", keluh Rika yang harus merasakan hukuman bersama kami. Aku, Rika, dan Airis diminta oleh pimpinan sekolah untuk membersihkan ruangan biologi sebagai hukuman menerobos atap gedung sekolah. Seharusnya hanya aku dan Airis yang harus menjalankan hukuman ini. Rika ikut terkena masalah yang aku perbuat akibat mencoba menghadang ketua OSIS. Sejujurnya aku juga merasa bersalah padanya. Setelah aku menurunkan kardus yang aku bawa ke pojok ruangan, dimana tumpukan kardus tersusun rapih. Aku menoleh melihat Rika yang sedang membersihkan lantai. Sementara itu, tepat disebelahnya aku melihat Airis yang sedang membersihkan kaca jendela dengan kain berwarna putih. Aku memberanikan diri untuk meminta maaf kepada mereka. "Aku minta maaf!" Ucapku kepada mereka dengan volume yang cukup tinggi. ”..........” Tidak ada balasan permintaan maaf yang aku ucapkan dari mereka, hanya dinginnya hembusan angin yang menerpa tubuhku. Mereka terus fokus mengerjakan hukuman yang diberikan pimpinan sekolah. Jadi aku juga harus fokus pada hukumanku sama seperti mereka. Namun, setelah beberapa menit yang cukup lama. "Bahkan kera pun bisa terjerat ranjau manusia bila tak menyadari letaknya". Kalimat itu datang dari Rika yang mengusap keringat di keningnya. Kira-kira bila aku artikan perumpamaannya itu, manusia bisa tertipu bila tak mengetahui maksud dari orang tersebut. Aku sangat memahami hal yang sebenarnya Rika ingin sampaikan. Namun tetap saja, seandainya aku mengetahui yang diinginkan ketua OSIS adalah sebuah kebenaran yang menyalahi aturan. "Nasi sudah menjadi bubur". Kiasan itu tepat seperti yang aku rasakan saat ini. Andaikan saja saat itu, aku mendengarkan permintaan Airis. Mungkin Airis tidak akan di skors. "Satu inch di depan adalah kegelapan". Orang yang mengatakan itu, tak lain adalah Airis yang berhenti mengusapkan kainnya. Kami terdiam mematung memandang punggung Airis. Ia memutarkan tubuhnya yang semula menghadap jendela ke arah kami. Seketika itu, udara menjadi hangat, waktupun serasa berhenti. Airis tersenyum riang berpendarkan cahaya jingga kemerahan layaknya senja di musim kemarau. Momen itu tidak bertahan lama. Sinar lingkaran di ufuk langit barat, perlahan-lahan redup membuat suasana menjadi kembali dingin. Langit menjadi gelap tanda hari telah usai. "Tidak ada yang dapat memperkirakan masa depan", Airis mengartikan ungkapannya itu. "Seperti yang biasanya diucapkan oleh kak Mira, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap akan tercium juga". Aku tak tahu jika ketua OSIS bisa berkata seperti itu. Tapi bila dilihat dari caranya mengungkapkan kesalahan kami, mungkin memang seperti itulah keyakinan yang dia anut. "Cepat atau lambat, semuanya akan terungkap. Ini bukan salahmu Sin, kau hanya mempercepat kedatangannya saja. Entah apa yang kau lakukan untuk meringankan hukumanku, namun aku sangat berterima kasih padamu Sin". Ucap Airis lalu merendahkan punggungnya. Sebelum aku membalas ucapan terima kasih Airis, Rika telah terlebih dahulu memecahkan suasana dengan rengekan tangisnya. Mereka berdekap-dekapan saling mencurahkan isi hati mereka atas segala hal buruk yang mereka alami hari ini. Rasa syukur terus mereka ucapkan satu sama lain. Mungkin ini waktu yang buruk untuk aku berada disini. Lagi pula hari telah berganti, hukuman yang diberikan pimpinan sekolah juga telah selesai. Jadi tak ada alasan untuk aku terus disini, aku keluar dari ruangan biologi tanpa berpamitan dengan mereka. Aku berjalan menuruni tangga yang gelap, jarak pandangku menjadi sangat terbatas karena tak ada cahaya sedikitpun. Aku melangkah perlahan-lahan, ketika aku sampai dilantai satu, aku bisa melihat cukup jauh karena lampu taman disekolah menyala. Aku melihat seorang wanita yang masih mengenakan seragam sekolah berdiri di tangah lorong. Aku tak bisa melihat wajahnya karena cahaya lampu taman tak dapat menjangkaunya. Aku memberanikan diriku mendekatinya, karena memang itu jalan satu-satunya untuk aku keluar dari sini. Aku menelan air liurku sendiri dan tanpa sadar tenggorokanku telah mengering. Semakin aku mendekatinya, wajahnya mulai terlihat sedikit. Namun aku masih belum mengetahui siapa wanita yang berada dihadapanku ini. Setelah jarak diantara kami memendek, wanita yang berada didepanku itu kemudian bertekuk lutut padaku. "Tuan Sin, saya benar-benar menyesal atas apa yang saya lakukan hingga membuat anda dalam masalah. Anda sudah mencoba menanggung kesalahan yang saya perbuat. Saya siap menerima hukuman apapun yang akan anda berikan pada saya". Ternyata wanita itu adalah Grisel yang sedang menungguku. Bukannya dia ingin menyatakan perasaannya padaku, tapi sepertinya dia mengetahui apa kesalahannya itu. Oleh karena itu, saat ini dia bertekuk lutut padaku. “Apa kau memakai teknologi Vinlard number 201 untuk memantau semua yang terjadi padaku?" Kiraku. Ia tak mungkin bisa mengetahui jika aku mencoba menaggung kesalahannya bila tanpa alat itu. Teknologi Vinlard number 201 adalah sebuah drone yamg memiliki auto pilot untuk mengikuti targetnya selama 24 jam. Bentuknya menyerupai nyamuk. Target yang diincarnya tidak akan bisa mengetahui keberadaannya, bahkan aku sendiri. Satu-satunya yang dapat mengendalikannya hanyalah orang yang mengaktifkannya. Oleh karena itu, teknologi ini seharusnya hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan militer saja. Tak seharusnya dipergunakan sesuka hati. “Maafkan kelancangan saya tuan, sejujurnya saya ingin membantu tuan saat itu. Namun, saya takut bila masalahnya akan menjadi lebih besar lagi”, sautnya dengan rasa menyesal tanpa mengubah posisinya yang tengah berlutut padaku. "Perkataan yang aku ucapkan kemarin padamu itu, kau anggap perintah bukan?" Tanyaku. “..........” "Karena itu kau tidak mengawalku secara terang-terangan, tapi kau mengawalku dari belakang". Tanpa mendapatkan jawaban darinya aku terus melanjutkan pernyataanku. "Kau berangkat lebih awal dariku untuk membuat kondisi jalan yang akan aku lalui jadi lebih lenggang bukan?" “..........” "Agar tak ada pejalan kaki maupun kendaraan transportasi yang dapat lewat. Kau menembak truk pengangkut bensin itu hingga menyebabkan kebakaran”. Sekali lagi, Grisel hanya menundukan kepalanya bergeming mendengarkan perkataanku. Aku terus melanjutkannya. “Namun, ada dua hal yang tidak kau duga. Yang pertama, Airis yang melihatmu. Dan yang kedua, Apholo yang mengantarkan aku ke sekolah. Itulah sebabnya kau terkejut melihatku tiba lebih dulu darimu, dan itu juga yang menjelaskan kenapa nafasmu sangat tidak beraturan pagi tadi”, deduksiku berdasarkan semua hipotesis yang aku ucapkan. “Grisel katakan padaku, apa aku salah?" Tanyaku untuk memastikan bahwa tidak ada satupun kesimpulanku yang salah. "Tidak tuan. Semua yang tuan Sin ucapkan, benar tanpa kesalahan sedikitpun. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk mengawal tuan dengan cara seefisien mungkin. Saya telah mengganti kerugian akibat insiden tersebut, tidak ada korban jiwa bahkan tak seorangpun yang terluka. Saya juga telah berhati-hati dengan merekayasa berita yang disebarkan pada media. Pertemuanku dengan Airis memang kesalahan yang sangat fatal untuk diriku, untungnya penyamaranku saat itu tidak diketahui olehnya". Berdasarkan argumen yang ia sampaikan padaku, sepertinya dia membuat insiden itu dengan sangat matang. Dia sampai mengetahui kapan truk pengangkut bensin itu lewat, merekayasa media, serta menyiapkan material yang tidak sedikit. Dari pada memakai jasa polisi untuk memblokade jalan, ia lebih memilih cara tersebut agar tidak aku ketahui. Bila saja Airis tak melihat Grisel dan Apholo tidak mengantar aku ke sekolah. Mungkin rencana yang ia lakukan seorang diri itu akan sempurna. "Kau memakai uang Vinlard Corp, teknologi Vinlard number 201, dan s*****a api tanpa sepengetahuanku. Sudah pasti aku akan menghukummu dengan hukuman yang sangat berat". Aku tak berkata bila dialah yang menyebabkan aku berada dalam masalah, karena itu memang kesalahanku yang tidak mengetahui sama sekali tentang aturan sekolah umum. Aku memikirkan hukuman apa yang sesuai untuknya. Kemudian, secara spontan aku mengingat Airis yang belum mendapatkan pertanggungan dari perbuatan Grisel. "Hukumanmu adalah selidiki tentang kehidupan Airis, beritahu semua informasi yang kau dapatkan padaku!" Perintahku tanpa penolakan dari Grisel. Ketika kami -aku dan Grisel- hendak pulang, seseorang berlari mengejar kami dengan berteriak dari arah belakang memanggil namaku. Rupanya orang itu adalah Rika. “Kau jahat sekali Sin, meninggalkan dua wanita dalam ruangan gelap. Sementara itu, kau malah asik berbicara berduaan dengan adik kelas yang cantik. Hai, apa kau ini pria baik-baik Sin?” Sindir Rika dengan menatap sinis kearahku. Sesudah Rika menyindirku, tak lama kemudian Airis datang dengan mengayuh sepedanya. Dia memberhentikan sepedanya setelah tiba ditempat kami berkumpul. “Aku ingin bertanya padamu Sin, tentang permintaan maafmu itu. Mengapa kau meminta maaf padaku mengenai botol s**u itu?” Belum aku menjawab sindiran Rika, Airis sudah bertanya lebih dahulu. Aku mencoba memastikan apakah kami dapat bicara leluasa atau tidak dengan bertanya kepada Airis dan Rika, apakah rumah mereka melewati toko ramen terkenal yang berada disebelah kanan persimpangan? Mereka menjawab pertanyaanku dengan dua kata, yaitu  ya tanda bahwa rumah kami sejalan. Untung saja arah rumah kami searah, jadi aku bisa menjelaskannya sembari berjalan. “pertama-tama, wanita yang kau bilang cantik ini adalah adikku”. Aku membalas sindiran Rika padaku dengan mulai berjalan. Setelah mendengar perkataanku itu, ia langsung memasang wajah amat sangat terkejut tak menyangka bila kami berdua bersaudara. “Halo. Perkenalkan, namaku Grisel. Aku adalah adiknya kak Sin. Senang bertemu kalian”, sapanya dengan akting yang sangat sempurna hingga diriku sendiri terkejut tak percaya jika yang barusan bicara adalah Grisel. Kami berjalan menyusuri pinggir jembatan jalan raya yang dibawahnya terlihat arus sungai mengalir. Setelah Rika, Airis, dan Grisel berkenalan. Rika terus saja berkicau tanpa henti dengan Grisel, bercanda tentang hal-hal yang tidak aku pahami keseruannya. Aku menganggap, topik pembicaraan mereka itu hanya menghabiskan tenaga saja. Apa ini situasi yang disebut obrolan para wanita? “Airis. Tentang pertanyaanmu itu, aku tidak bisa menjawabnya. Tapi, aku memang harus meminta maaf tentang hal itu. Aku pikir saat itu, kau menamparku karena kau tak mengerti yang aku maksudkan. Oleh karena itu, aku menjelaskannya tanpa mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi”, ungkapku yang sesungguhnya pada Airis yang berada di sebelahku. Kebingungan Airis semakin bertambah ketika aku mengatakan itu. Aku tidak mungkin memberitahu Airis bahwa, orang yang menyebabkan semua ini adalah Grisel. “Begitu ya, aku akan memaafkanmu Sin. Walaupun, aku tidak tahu apa kesalahanmu padaku”, responnya seraya tersenyum kearahku dengan menggandeng sepedanya. Kami saling memandang satu sama lain. Kemudian tanpa aku sadari, suara perutku berbunyi sangat keras hingga mereka semua mendengarnya. Hari ini begitu melelahkan hingga aku baru sadar jika aku belum makan seharian. Bukannya menolongku, mereka semua tertawa diatas penderitaanku. Aku memang tidak bisa mempercayai semua orang sepertinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD