"Sudah kuduga, makan ramen ketika kondisi perut laper adalah yang terbaik!"
Orang yang berteriak sangat keras hingga kucing disebalahku terperanjat adalah Rika yang sangat memuja ramen ini.
Setelah kami sampai di persimpangan jalan, dimana toko ramen yang terkenal itu berada. Kami memutuskan singgah untuk mengisi perut kami. Aku tak menyangka bila toko ramen yang terkenal itu adalah rumah yang berukuran sangat kecil. Hanya ada sebuah kursi memanjang dimana hanya bisa mengisi empat orang saja, dengan tubuh yang proporsional tentunya.
Beruntung ketika kami datang tidak ada pelanggan, kami duduk bersampingan. Tak lama kemudian pria tua berkepala plontos datang bertanya tentang menu mana yang kami pesan. Aku berasumsi bahwa dia adalah pemilik toko ramen ini. Meskipun nama toko ini adalah toko ramen, ternyata mereka tak hanya menjual ramen saja. Aku melihat ramen, yakiniku, sashimi, dan masih banyak lainnya yang tidak aku lihat.
Kami tak tahu bila toko ramen ini memiliki menu yang bervariasi. Karena awalnya kami berniat makan ramen, kami semua akhirnya memesan ramen.
"Oi Rika, apa kau tahu, suaramu membuat kucing ketakutan", tegurku setelah menelan mie ramen.
"Orang sepertimu itu mana tahu bagaimana cara memuja ramen," ejeknya padaku walaupun aku tak memperdulikannya.
"Jangan menilai buku dari sampulnya".
Ungkapan itu yang menggambarkan toko ramen ini. Meski tampilan luarnya kurang meyakinkan. Namun setelah mencoba ramennya, kau akan tau tampilan yang sesungguhnya dari toko ramen ini. Tak salah bila toko ramen ini terkenal.
"Airis, kenapa kau diam saja? Makanlah!" Ujar Grisel yang berada disebalahnya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Grisel, terima kasih karena telah membayarkan aku makan", katanya sembari memegang sumpit lalu mengucapkan selamat makan dan langsung memakannya dengan lahap.
Sebelumnya, Airis sempat menolak ajakan kami untuk mampir kemari. Karena aku tahu bahwa Airis saat ini tidak memiliki uang, aku menyuruh Grisel untuk mentraktirkannya makan. Sebenernya, sudah kewajiban Grisel untuk membayarkan Airis makan.
"Kak Airis tidak perlu sungkan, aku senang bila dapat menolong orang lain," cakap Grisel yang kemudian menyeruput mie ramen yang telah ia gempit dengan sumpitnya.
Selepas kami menyantap ramen, kami berpisah dengan Rika yang arah rumahnya berbeda dengan kami. Sebelumnya, aku berspekulasi bahwa kami akan pulang bersama Airis. Namun ternyata, Airis meminta aku dan Grisel untuk pergi lebih dulu. Sepertinya dia memiliki urusan lain yang harus ia selesaikan.
Aku yang berjalan lurus sembari menyakukan kedua tanganku bersama Grisel yang terus melambaikan tangannya, pergi meninggalkan Airis yang juga melambaikan tangannya.
Setibanya di rumah, aku langsung merendamkan tubuhku kedalam air yang hangat. Aku menikmati uapan air hangat yang memenuhi ruangan. Semua rasa lelahku sirna begitu saja ketika aku menggosokkan tubuhku dengan handuk basah. Dalam lelapnya kenikmatan berendam, suara langkah kaki seseorang terdengar mendekatiku.
"Maaf mengganggu tuan. Sesuai dengan permintaan anda untuk menyelidiki informasi semua yang berkaitan dengan Airis segerah, sekarang saya akan melaporkannya pada tuan", suara Grisel.
Aku dapat melihatnya berdiri dibalik dinding kaca yang buram. Aku memang memintanya untuk memberitahukan aku segerah, jika dia telah mendapatkan suatu informasi. Tapi apa dia tidak tahu waktu yang tepat untuk melapor?
"Baiklah, beritahu aku!" Seruku padanya.
"Sebelumnya ketika di toko ramen, saya mengaktifkan teknologi Vinlard number 201 pada Airis. Saya juga mendapatkan informasi bahwa, dua tahun yang lalu Airis mengalami kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya dan membuatnya hidup sebatang kara".
Berdasarkan paparan yang disampaikan Grisel, aku dapat membayangkan bahwa selama dua tahun, ia berjuang seorang diri sama seperti aku. Namun dengan takdir yang sangat berbeda.
"Langsung saja!" Selaku meminta pada Grisel untuk langsung pada intinya.
"Dari yang saya liat menggunakan Vinlard number 201, Airis pergi meninggalkan apartemennya karena tak sanggup membayarnya", lanjut Grisel.
"Kemana dia sekarang?" Tanyaku.
"Saat ini, Airis berada dibawah jembatan yang tuan lewati sebelumnya", jawabnya.
Airis kehilangan tempat tinggal karena dia juga kehilangan pekerjaannya. Semua itu salahku, aku harus memperbaikinya. Apa jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi permasalahan ini?
Untuk sekarang, aku harus menemuinya. Jadi aku meminta Grisel untuk memanggil Apholo menyiapkan mobil. Aku langsung beranjak mengakhiri berendamku untuk hari ini. Kami langsung menuju jembatan tersebut.
"Mulai sekarang Airis akan tinggal bersamaku", putusku.
"Tapi tuan, bagaimana bila para dewan direksi mengetahui hal ini?" Kontra Grisel pada keputusanku.
"Kalau begitu, jangan sampai mereka mengetahuinya", ujarku.
Kami akhirnya sampai di jembatan tersebut. Aku meminta Grisel dan Apholo untuk menungguku di mobil. Aku berjalan menuruni tangga menuju bawah jembatan.
Dibawah sini, suara kendaraan tidak begitu terdengar. Mungkin karena teredam oleh suara aliran sungai yang menenangkan ini. Aku melihat seseorang di sudut dinding diselimuti kain tebal. Apakah itu Airis?
Aku mendekatinya lalu kucoba untuk memanggil namanya sekali. Namun, tak ada jawaban. Aku coba memanggilnya untuk yang kedua kalinya. Namun masih tak ada jawaban. Aku mencoba membuka kain yang menutupi wajahnya, ternyata benar dia Airis. Airis perlahan-lahan terbangun setelah aku membuka kain yang menutupi wajahnya. Dia melihatku seraya menggosok-gosokan matanya yang masih mengantuk.
"Apa kau Sin sungguhan, kenapa kau bisa disini?" Tanyanya linglung.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku memperhatikan sebuah koper yang ia pakai untuk bersandar. Ternyata dia benar-benar tak memiliki tempat tinggal lagi.
"Airis dimana sepedamu?" Tanyaku yang sedari tadi mencarinya, namun tak menemukannya.
"Aku membayar biaya apartemen terakhirku dengan itu", jawabnya dengan mata penuh kekosongan.
"Ikutlah denganku!" Mintaku sembari membawa koper yang berada disampingnya kemudian menarik tangannya.
"Hei kita mau kemana memangnya?" Tanya Airis yang belum mengetahui situasi.
“..........”
Airis kemudian menolak tarikanku hingga lengannya lepas dari genggamanku. Dia bertanya sekali lagi dengan menatap serius ke wajahku.
"Mulai sekarang, kau tinggallah di rumahku".
Aku menjawab pertanyaannya seraya menariknya kembali. Aku rasa Airis benar-benar kebingungan, karena dia tidak melawan tarikan aku lagi. Dia kembali bertanya padaku, apa maksud dari ucapanku itu. Namun aku tak mengindahkan pertanyaannya.
Aku membuka pintu mobil dan menyuruhnya untuk segerah masuk. Aku kemudian menaruh kopernya ke bagasi mobil. Aku pun duduk di samping Apholo yang menyetir. Sepanjang jalan, Airis terus saja malantunkan banyak pertanyaan. Namun, tak ada yang menjawab semua pertanyaannya.
Setibanya di rumah, Mary menyambut kepulangan kami. Airis diam terbelangah melihat rumahku. Aku tak tahu kenapa dia memasang wajah terkejut begitu?
Aku meminta Apholo yang tengah mengambil koper di bagasi untuk menunjukkan kamar dimana Airis akan tidur. Kemudian aku meminta Airis untuk datang ke ruang tamu setelah mengganti seragam sekolah yang masih ia kenakan. Aku juga meminta Apholo untuk memasangkan teknologi Vinlard number 307 pada Airis sebelum ia ke ruang tamu.
Di ruang tamu, aku menceritakan semuanya pada Airis. Bahkan rahasia yang hanya diketahui segelintir orang. Awalnya Airis tidak menyangka bahwa aku adalah pemimpin Vinlard Corp, namun ia mulai menerima semuanya setelah aku menjelaskannya.
"Jadi pelaku penembakan truk pengangkut bensin yang aku lihat itu adalah Grisel, sepupumu yang sebenarnya adalah pelayanmu?" Tanya Airis yang berusaha memahami semuanya.
"Ya itu benar, karena itulah aku ingin meminta maaf atas kesalahan pelayanku ini", dalihku pada Airis.
"Jadi aku ingin bertanggung jawab atas semua kerugian yang kau alami", lanjutku.
"Baiklah, tapi bukankah memberitahu semua itu pada orang lain akan dapat mengancammu Sin?" Tanyanya.
"Cincin yang diberikan Apholo padamu sebelumnya, itu adalah teknologi Vinlard number 307. Cincin itu tersambung dengan saraf nadimu. Jadi ketika teknologi itu tak dapat merasakan nadimu, cincin itu akan membentuk sebuah matahari berukuran kecil yang akan meledak kemudian meleyapkan apapun yang berada di sekitarnya Jika kau memberitahukan identitasku pada orang lain yang tidak mengetahui sebelumnya, cincin itu akan membunuh orang yang mendengarnya dengan laser berkecepatan cahaya", terangku pada Airis.
Teknologi ini tidak akan aktif bila orang tersebut telah mengetahui rahasia sebelumnya. Keluarga Vinlard tidak memasangkan teknologi ini pada pelayannya. Yang mereka pasangkan pada pelayannya adalah teknologi Vinlard number 99. Teknologi ini adalah kapsul yang mereka telan sebelum menjadi pelayan keluarga Vinlard. Cara kerjanya sama dengan cincin yang aku berikan pada Airis, hanya saja kapsul ini tak dapat mengeluarkan laser. Namun, ketika pelayan Vinlard berniat buruk pada tuannya, maka pelayan tersebut akan lenyap tak tersisa.
"Jadi maksudmu, aku akan membunuh orang lain bila aku mengatakan rahasiamu?" Tangkap Airis yang telah paham dengan semua konsekuensinya.
Aku tak menjawabnya, karena bila aku menjawabnya itu hanya akan membuatnya tambah tertekan. Dia terlihat berusaha melepaskan cincinnya yang telah terpasang itu. Aku menganggap hubungan ini adalah yang terbaik untuk dia dan diriku.
"Mulai saat ini kau akan menjadi bagian dari keluarga Vinlard. Kau tidak perlu bekerja lagi, semua yang kau mau bisa kau dapatkan sekarang", ungkapku yang tidak berpengaruh padanya.
"Cukup sekian untuk hari ini, kalian semua boleh istirahat!" Seruku menutup satu hari yang panjang ini.