Ditengah keputusasaan yang aku rasakan. Lumuran darah dari kedua tanganku yang tertusuk pecahan kaca, terasa perih ketika air mataku menetesinya. Aku memejamkan mataku kala pekikan terdengar, lalu hilang perlahan-lahan. Aku terus bertanya pada diriku ini, kenapa aku berada disini namun tak bisa melakukan apapun?
Aku bersimpuh tak kuasa membendung air mataku yang terus saja mengalir tanpa henti-hentinya. Dalam renunganku, aku berharap. Siapa saja, seseorang yang dapat mendengar suara hatiku. Tolong hentikan semua ini!
"Terimakasih, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik Sin", ujar seseorang seraya menepuk bahu kananku.
Ternyata orang yang menepuk bahuku adalah anak kecil yang menangis sebelumnya. Dia mengambil pistol yang berada disebelahku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih menyentuh bahuku.
Aku bertanya padanya, apa yang mau dia lakukan dengan pistol yang telah kehabisan pelurunya itu. Dia hanya bergeming mengarahkan pistol tersebut kearah pria misterius. Kemudian dia memalingkan wajahnya padaku sambil tersenyum. Setelah itu, dia menggenggam pistolnya dengan kedua tangannya.
"Menyelesaikan mimpi buruk ini", jawabnya yang seketika itu menarik pelatuk pistol dari kedua genggamannya.
Dentuman suara tembakan terdengar. Berbeda dengan yang sebelumnya aku lakukan, kali ini suaranya jauh lebih keras. Telingaku berdengung diikuti pecahan dinding kaca yang berhamburan yang sebelumnya tak dapat aku pecahkan. Peluru itu mengarah kepada pria misterius dan langsung mengenainya.
Ketika pria misterius itu jatuh terkapar, pandanganku tiba-tiba saja kabur dan telingaku terasa sakit mendengar dentuman yang sangat nyaring. Kesadaranku mulai memudar hingga membuatku terbaring di lantai.
"Tuan Sin....tuan Sin....tuan Sin!" Suara wanita tiba-tiba saja terdengar, semakin lama semakin keras.
Aku seperti mengenali suara itu. Aku mencoba membuka paksa mataku yang terpejam. Yang aku lihat pertama kali ketika aku membuka mataku adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian maid lengkap dengan bandananya. Aku memutarkan sedikit kepalaku melihat ruangan yang megah seperti istana lalu memejamkan kembali mataku.
"Tuan Sin, bangunlah waktunya sekolah!" Suara wanita lagi-lagi terdengar di kepalaku.
Kesadaranku perlahan-lahan mulai pulih. Aku mencoba beranjak duduk dengan mata masih terpejam. Suara wanita itu terus terdengar berulang kali, bahkan ketika aku telah duduk sekalipun. Aku memintanya untuk mengambilkan segelas air putih yang kutaruh di meja sebelah kasurku. Setelah dia mengambilkannya, aku langsung meminumnya hingga tak tersisa setetespun.
Lagi-lagi, kejadian di malam itu terus saja menghantuiku. Namun kali ini, mimpinya semakin terlihat jelas. Sekarang kebutuhan cairan tubuhku telah terpenuhi, aku mendorong selimut seraya membuka penglihatanku.
"Apa yang kau lakukan Airis?" Tanyaku pada Airis yang mengenakan pakaian maid dengan rambut yang tak kusut lagi.
Awalnya, dia terus mengurung dirinya di kamar untuk menunjukan rasa kekecewaannya padaku karena telah memasangkan alat pembunuh dijari manisnya. Namun itu tidak berlangsung lama, setelah dua hari masa skorksingnya berlalu, dia mulai menerimanya dan kemudian melakukan apapun sesuka hatinya. Dari bermain game, tidur sepanjang hari, perawatan kecantikan, hingga makan sepuasnya. Aku berpikir, sepertinya dia mulai mencoba menjadi pelayan untuk mengisi kebosanannya dihari ke limanya ini.
"Kau bisa lihat sendiri bukan, hari ini aku ingin mencoba menjadi maid seharian", sautnya dengan memutarkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana, apa aku terlihat cantik mengenakan costume maid ini?" Tanyanya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
Aku tak menggubrisnya, aku beranjak dari ranjangku lalu berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Airis yang tengah memutar-mutarkan tubuhnya terus menerus. Tak lama dia menyadarinya dan langsung menyusulku.
"Hari ini aku diminta memasak oleh Mary, kau harus mencicipi masakanku nanti!" Mintanya sambil menghadangku membuka pintu kamar mandi.
"Kalau begitu aku akan mencicipinya, sepertinya lezat," ucapku terseyum mendekatkan wajahku ke wajahnya sembari membenturkan lengan kananku ke pintu.
Kalau tidak salah, pose ini disebut kabe-don. Aku pernah melihat sebelumnya di komik yang aku baca. Ketika sang pria melakukan pose ini, sang wanita akan memasang wajah memerah tak karuan. Sepertinya akan menarik bila aku melakukan ini pada Airis.
"Dasar bodoh!" Teriak Airis yang reflek menamparku.
Ini adalah kedua kalinya diriku ditampar oleh seorang wanita. Aku mencoba menahan rasa sakitku dengan memegang pipiku yang terkena tamparannya.
"Sin, apa kau baik-baik saja? Maaf, aku tidak sengaja", ucap Airis seraya jemari kirinya menyentuh bibirnya tanda ketidak sengajaan
"......."
Aku menundukkan pandanganku dan bersumpah untuk tidak mengejutkan Airis lagi. Karena jika aku mengulanginya sekali lagi, mungkin pipi kiriku ini akan berada di rumah sakit.
"Apa sakit, Sin?" Tanyanya yang mencoba menyentuh pipiku yang terluka dengan tangan kanannya.
"......."
Aku membuka pintu kamar mandi melewatinya dan langsung menutup pintu tanpa menjawab pertanyaan konyolnya itu. Sepertinya memang benar, niat buruk akan selalu mendatangkan kerugian.
Setelah aku mengenakan seragam sekolahku dengan lengkap aku segerah keluar dari kamarku, tercium aroma makanan yang cukup lezat ketika aku menuruni tangga. Di meja makan, aku melihat Airis, Grisel dan Mary yang berdiri menungguku. Airis memasang ekspresi tak enak padaku, mungkin karena dia telah menamparku untuk yang kedua kalinya. Aku memberitahu padanya untuk tidak memikirkannya, lagipula rasa sakitnya telah hilang. Aku meminta mereka untuk makan bersamaku.
Mary memberitahu padaku bahwa sarapan kali ini adalah masakan yang Airis buat. Aku segerah memakan masakan Airis yang tercium harum, tanpa menunggu mereka mencicipinya terlebih dahulu. Rasa pertama yang aku rasakan ketika menyentuh lidah adalah rasa yang amat pahit, hingga membuatku mengeluarkan makanannya kembali.
"Tuan Sin, apa makanannya tak enak?" Tanya Grisel yang kemudian ikut mencobanya.
Disusul Mary dan Airis juga ikut mencobanya. Dan secara bersamaan, mereka memuntahkan kembali makanannya. Aku tak menyangka bila aroma dapat mengelabui rasa makanan. Aromanya memang lezat, namun ketika memakannya rasanya sangat pahit.
"Airis, apa kau tak bisa masak?" Tanyaku pada Airis yang memalingkan wajahnya.
"He...he....he...." Tawanya karena tak dapat menghindari pertanyaanku dengan mengusap-usap kepalanya.
"Kalau begitu, bagaimana kau bisa hidup sendirian sampai sekarang jika kau tak bisa masak?" Tanyaku penasaran.
"Sebenernya, aku hanya bisa masak telur mata sapi, makanan instan serta makanan lainnya yang menggunakan bumbu masak instan. Aku tidak tahu bila Mary memintaku memasak tanpa menggunakan bumbu masak instan. Jadi aku mencoba sekeras yang aku bisa," jawabnya.
"Tuan Sin, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu jika Airis tidak bisa memasak," kata Mary.
Aku tak tahu harus berkata apa pada mereka. Aku diam seribu bahasa. Mereka terus menundukkan kepalanya menunggu tanggapanku. Hanya meratapi kesalahan tidak akan membuat perut kenyang. Sepertinya hari ini aku tak bisa sarapan pagi.
"Bagaimana dengan bekalnya?" Tanya Grisel kepada Mary. Aku berharap tak seburuk sarapan pagi ini.
"Kalau itu tak perlu khawatir, karena saya sendiri yang membuat bekalnya", tanggap Mary.
Memberikan hukuman pada mereka karena telah merusak sarapan pagiku adalah hal yang wajar. Aku segerah bangkit dari kursi makanku setelah mengambil bekalku kemudian memandang mereka berdua.
"Mary, ajarkan Airis memasak, setelah pulang nanti aku ingin memakan makanan lezat!" Mintaku pada mereka sebagai hukuman.
Selain itu, jika Airis bisa memasak nantinya. Beban Mary juga akan menjadi sedikit ringan berkat tambahan tenaganya. Mengingat, dialah satu-satunya maid yang mengurus rumah di hari kerja. Grisel hanya bisa membantunya saat hari libur saja.
"Baik tuan!" Saut Mary menyanggupinya.
Aku dan Grisel lekas pergi menuju sekolah dengan berjalan kaki. Di gerbang rumah terlihat Apholo yang sedang menyusuri area halaman rumah bersama anjing Beauceron kesayangannya yang ia rawat sejak anjing itu masih kecil. Saat kami berpapasan dengannya, dia menundukkan kepalanya. Anjingnya sama sekali tidak menggonggong padaku. Memiliki peliharaan yang terlatih sepertinya jauh lebih baik, bila kau menginginkan seseorang yang selalu ada di sisimu.
“Grisel, kau pergilah duluan. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Apholo!” seruku pada Grisel yang setelahnya menundukan kepalanya padaku kemudian pergi meninggalkanku.
Sebelumnya aku terus memikirkan hal ini. Aku bertanya pada Apholo mengenai hari pertamaku ke sekolah. Saat itu, sepertinya Apholo telah mengetahui semua rencana Grisel. Namun, ia berusaha untuk membuat rencana Grisel tidak berjalan lancar.
“Entahlah. Apa aku memang terlihat seperti itu, tuan Sin?” jawabnya sambil mengelus-elus anjingnya yang ia beri nama p**i, kemudian mencoba membuatku meragukan pertanyaanku sendiri.
“Kalau begitu, aku akan mengandalkanmu sekali lagi jika sesuatu terjadi”, ucapku kemudian berjalan kembali menuju sekolah.
Aku memang tidak memiliki bukti yang meguatkan hipotesisku. Tapi aku tak mungkin salah dalam menyimpulkan hipotesisku ini. Percuma saja mengungkapkan sebuah kebenaran tanpa adanya pembuktian yang menyertainya. Ini hanya membuang-buang waktuku saja.
“Selamat jalan, tuan Sin. Semoga harimu menyenangkan”, cakap Apholo setelah setelah aku melewatinya.