"Lihat, lihat itu, lihatlah!"
"Siapa ya gadis itu?"
"Berani sekali dia menolaknya".
"Apa bagusnya dia sampai berani menolak?"
"Iya ya, tega sekali dia".
"Huuff", hela nafasku yang mengeluh pada desas-desus disekelilingku.
"Apa lantai satu memang seramai ini?" Tanyaku dalam hati yang berjalan menyusuri lorong.
Setelah aku menghabiskan bekalku, aku pergi menemui Grisel yang berada di lantai satu. Tepatnya di kelas 10-A. Namun, aku tak menyangka jika lantai satu sangat ramai. Hingga pada ruangan yang bertuliskan kelas 10-A, terdapat kerumunan murid-murid yang memenuhi jendela dan pintu di sana.
"Bagaimana caraku menemui Grisel jika semua orang mengerumuni pintu masuknya?"
Baru saja aku memikirkan itu, semua orang yang mengerumuni pintu pergi berhamburan dengan menyisakan obrolan yang menyerukan ajakan untuk pergi ke tempat lain. Aku merasa, seperti ada pertunjukan yang baru saja aku lewatkan.
Aku berdiri di tengah pintu yang terbuka mencari Grisel. Aku menemukannya ketika ia telah melihatku lebih dahulu. Grisel yang sedang bicara dengan seorang laki-laki kemudian pergi menghampiriku.
"Ngiiiiiiiitt", suara keran yang berdecit ketika aku memutarnya.
Aku membasuh wajahku untuk menyegarkan kepalaku. Sudah lima menit aku memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini. Hanya ada satu kemungkinan yang dapat aku pikirkan. Namun, ini mungkin akan sangat beresiko. Aku menutup keran lalu berjalan keluar toilet membulatkan tekadku. Meskipun beresiko, aku harus melakukannya.
"Lepaskan, kenapa kau menghalangi kami Mira. Kami ada pelajaran tambahan di bimbel kami. Kami harus pergi sekarang", cetus ketiga wanita itu yang aku dengar ketika masuk ke ruang UKS.
"Sebagai ketua OSIS, aku tak boleh melepaskan tersangka begitu saja", ujar Mira yang terlihat sangat dapat diandalkan sebagai ketua OSIS.
"Tak ada gunanya menutupi ini semua. Aku sudah mengetahui semuanya!" Seruku setelah aku menutup pintu yang aku buka sebelumnya.
Mereka seketika terdiam tak bersuara memandangku mempersilahkan aku untuk menjelaskan semua yang terjadi. Pandangan mereka tertuju padaku menunggu pernyataan yang akan aku ungkapkan.
"Jika yang dikatakan Rika itu benar, maka seharusnya pelakunya adalah ketiga gadis ini dan penyebab dari insiden ini adalah kau Akihiko", ucapku bersamaan dengan aku menunjuk Akihiko.
"Apa maksud kak Sin?" Tanya Akihiko yang telah aku tuduh.
"Aku tahu, ketika istirahat sebelumnya bahwa kau adalah orang yang cukup terkenal. Saat itu, ketika kau menyatakan perasaanmu pada Grisel. Ada banyak sekali orang yang mengolok-olok Grisel karena telah menolakmu", opiniku.
"Kalian bertiga adalah penggemar berat Akihiko bukan?"
".........."
"Kalian berani mencelakakan Grisel karena kalian tak terima bila idola kalian dipermalukan bukan?" tudinganku pada ketiga gadis tersebut yang tidak menyangkalnya sama sekali.
"Aku memang cukup terkenal karena di umurku yang baru mencapai 16 tahun, aku telah menjadi model dan pemeran film terkenal. Tapi, aku sama sekali tidak berpikiran jika penggemarku akan melakukan kejahatan pada orang yang baru saja menolak aku", ungkap Akihiko.
"Jadi begitu, cukup masuk akal untuk mendukung pernyataan dari Rika. Penggemar fanatik biasanya akan berani melakukan tindakan yang terbilang cukup ekstrim untuk dilakukan demi idolanya", tanggap Mira seraya memegang dagunya.
"Ya, tapi jika yang dikatakan Rika itu benar", jelasku sekali lagi untuk menekankan bahwa yang aku katakana hanyalah deduksi aku saja.
"Sebaliknya, jika yang dikatakan mereka bertiga adalah kebenaran. Maka, Rin dan Rika adalah orang yang merencanakan insiden ini", spekulasiku yang mendapatkan reaksi terkejut dari mereka berdua.
"Apa maksudmu, Sin?" Tanya Rin yang mendekatkan wajahnya padaku memasang ekspresi tidak terima karena gugatanku.
"Mungkin saja kalian memiliki niat buruk pada Grisel. Kalian mengundang kami ke kelas 11-A. Kalian telah merencanakan insiden ini, Rin mengawasiku agar tidak menolong Grisel sedangkan Rika yang melakukan bullying. Itu bisa saja terjadi, jadi sudah seharusnya aku mencurigai kalian", hipotesisku yang mendukung spekulasiku sebelumnya.
"Tapi kami mengundang kalian bukan untuk melakukan hal seperti yang kau bayangkan Sin", sangkal Rika.
"Kalau begitu, apa kau bisa jelaskan alasanmu mengundang aku dan Grisel untuk membahas hal penting apa?" Balasku yang mencoba untuk mengetahui apa sebenarnya yang mereka ingin katakan pada kami.
Rika dan Rin tak memberikan penjelasan sama sekali. Semuanya juga sepertinya telah memahami dengan baik posisi diri mereka masing-masing. Mereka tahu betul bahwa bila mereka menyangkalnya itu akan membuat mereka semakin tersudut.
“Itu artinya. Jika kalian terbukti bersalah, kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kasus tindak k*******n yang direncanakan”, konklusi Mira yang kemudian mendekapkan kedua lengannya pada dadanya.
"Sin. Kau memakai perumpamaan untuk mendukung penjelasan mereka semua jika salah satu diantara mereka benar, tapi apa kau benar-benar mengetahui siapa yang mengatakan kebenaran itu?" Tanya Mira seraya melepas sandaran punggungnya di dinding.
"Ya, aku tentu saja telah mengetahuinya," jawabku dengan memejamkan mataku untuk meyakinkan diriku ini.
"Lalu siapa orang yang mengatakan kebenarannya, Sin?" Tanya Mira sekali lagi.
"Sebelum itu, aku ingin mengetahui argumen yang menjelaskan bagaimana kau bisa berada disini ketua OSIS?" Tanyaku memandang Mira setelah membuka mataku kembali.
Dari sini, semuanya akan jelas. Argumen yang disampaikan oleh Mira ini adalah penentu kesimpulan dari semuanya.
"Aku diberitahu oleh Akihiko mengenai apa yang terjadi pada Grisel. Aku yang menyuruhnya memanggilmu kemari," jawab Mira.
"Apa kau yang meberitahukan namaku pada Akihiko?" Tanyaku untuk memperjelasnya
Awalnya Mira terdiam, menutup mata dan menurunkan kepalanya sedikit. Setelah itu, ia mengangkat wajahnya memandangku dan membenarkan perkataanku.
Aku terdiam dan memasang sedikit senyuman di wajahku. Mereka terheran-heran melihatku tersenyum. Apa ini pertama kalinya bagi mereka melihatku tersenyum?
Hah ya, sepertinya memang benar. Ini adalah hari yang membuatku cukup terhibur untuk pertama kalinya selama bersekolah disini.
“Baiklah, aku akan menjawabnya. Orang yang mengatakan kebenaran adalah tak seorangpun disini”, simpulku kepada mereka semua.
“Yah, sepertinya kita telah ketahuan”, kata Akihiko sambil tersenyum kaku.
Rin, Mira, dan ketiga gadis itu mengangguk bersamaan seraya mengeluarkan suara dari hidung sebanyak dua kali.
"Grisel bangunlah, aku sudah mengetahui semuanya. Jika kau tidak bangun, aku akan menghukummu nanti!" Seruku padanya yang masih memejamkan matanya.
"Maafkan saya tu...eh...kak Sin!" Jawabnya yang hampir keceplosan.
Grisel yang mendengar perkataanku langsung bangun seketika. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canda penuh tawa karena Grisel yang menggagalkan rencana mereka.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya Sin, kalau ini hanyalah sandiwara saja?" Tanya Rika padaku yang habis tertawa terbahak-bahak seraya memeluk Grisel.
"Itu karena jawaban Akihiko dan Mira yang berbeda," jawabku.
"Akihito mengatakan bahwa ia mengetahui namaku dari Grisel, sedangkan Mira memberikan keterangan bahwa dialah yang memberitahukan namaku", lanjutku yang kemudian mendapatkan respon dari ketua OSIS berupa gelengan kepala sembari menepuk jidatnya.
“Aku sama sekali tidak menyangka akan melakukan sebuah kesalahan dengan mengatakan bahwa aku yang memberitahukan namamu pada Akihiko”, ucap Mira yang menyesali perkataannya.
Sebenarnya yang melakukan kesalahan bukanlah ketua OSIS, melainkan Akihiko. Grisel tidak akan memberitahukan namaku pada orang lain. Meskipun dari awal aku telah mengetahui bahwa ini semua hanyalah rekayasa, namun aku masih harus memikirkan setiap kemungkinan yang ada. Aku masih harus mendengarkan setiap pernyataan yang ada untuk menghilangkan resiko yang akan terjadi.
"Tunggu, jadi ini semua hanyalah sandiwara?" Tanya Rin yang masih belum memahami situasi ini.
Mereka semua langsung tertawa ketika melihat Rin yang masih kebingungan. Rika pun menjelaskan semua yang telah terjadi kepada Grisel hanyalah sandiwara.
“Jadi, apa tujuan kalian membuat panggung sandiwara ini?” tanyaku setelah mengangkat tangan kananku ke atas.
“Untuk menguji kalian berdua”. Ucap seseorang yang berada di ranjang sebelah.
Aku tak dapat mengetahui dengan benar sosok dibalik suara wanita yang menjawab pertanyaanku itu karena tertutup tirai pembatas.
“Di SMA Kanzai, seseorang yang mengajukan permohonan pembentukan ekstrakulikuler baru harus melewati kualifikasi yang begitu ketat. Pertama, mereka harus memiliki empat anggota tetap. Kedua, mereka harus memiliki wali yang mendampinginya. Ketiga, ketua dan seorang anggotanya harus dapat menyelesaikan ujian yang diberikan”, lanjutnya yang kemudian menarik tirainya ke kanan hingga terbuka.
Wanita yang mengatakan semua itu ternyata adalah Rias yang mengenakan flat cap layaknya sutradara. Berdasarkan dari penjelasannya itu. Sepertinya memang benar bahwa dalang dibalik panggung sandiwara ini adalah dia.
“Rin, tentang permohonanmu yang sebelumnya. Saya akan dengan senang hati bila bisa menjadi wali yang mendampingi kalian”, ucap Rias sambil memegang kedua tangan Rin yang kemudian Rin segerah memeluk Rias.
Sampai disini, aku sama sekali belum mengerti arah topik pembicaraan ini. Rin yang sebelumnya tak mengetahui apapun, entah mengapa sepertinya telah memahami kebenaran. Hanya aku disini sepertinya yang tidak diberitahu apapun.
“Ehem, aku benci mengatakan ini. Tapi akan aku katakan, apa disini masih ada orang baik yang mau memberitahuku, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku dengan berat hati yang justru mendapatkan cemoohan dari mereka.
“Baiklah, aku akan umumkan sekarang. Rin, Sin, Grisel, dan Rika. Dibawah dampingan ibu Rias, dengan menggunakan wewenangku sebagai ketua OSIS, aku akan meresmikan Service Club sebagai ekstrakulikuler SMA Kanzai yang baru”, kata Mira yang kemudian membawa euforia untuk semuanya. Kecuali aku.
Hah, setelah semua yang aku alami. Mungkin ini pengalaman terburuk yang pernah terjadi padaku. Aku menyesali semua yang aku lakukan pada hari ini. Benar-benar tak bisa aku maafkan.