Chapter 02: Grisel

1781 Words
1 hari setelah tragedi itu terjadi . . . . . Pemakaman dilakukan saat hari menjelang sore, hujan turun mengiringi upacara pemakaman. "Sepertinya langit juga turut berduka atas kepergian orang tuaku," khayalku. Aku melihat banyak orang yang datang. Pakaian mereka hitam mnyerupai warna payung yang mereka bawa. Selain itu, mereka juga membawa seikat karangan bunga. Bersama dengan Apholo yang menaungiku dari rintikan hujan, aku menyambut tamu yang menghadiri pemakaman orangtuaku. Sebagian besar adalah orang asing yang tidak aku kenal. Seorang pria diantara orang asing itu menggandeng seorang anak perempuan yang seusia dengan aku. Bagaimana aku bisa menyadarinya? Anak itu mengenakan pakaian putih dan topi jerami musim panas yang terlihat sangat mencolok dengan rambut pirangnya yang terlihat. Sekilas aku tak mengenalinya. Namun setelah mengamati baik-baik, aku akhirnya ingat. Ia adalah anak perempuan dari orang yang sering datang ke rumah. Gadis itu namanya Angel. Mungkin dia satu-satunya teman yang seusia dengan aku. Aku kurang begitu suka dengan sifatnya karena ia sangat manja dan penakut. Ayah Angel adalah teman baik ayahku, aku biasa memanggilnya mister Albert karena ia berasal dari eropa. Meskipun mister Albert berteman dekat dengan ayahku dan Angel adalah teman kecilku, aku sama sekali tidak menyukai mereka. Setelah acara pemakaman selesai, Angel dan ayahnya mendatangi rumahku. Pada awalnya mister Albert mengatakan bahwa ia turut berduka atas kepergian kedua orang tuaku. Kemudian setelah itu, mister Albert menunjukan maksud kedatangannya yang sebenarnya. "Jangan khawatir Sin, mulai hari ini kamu akan saya rawat sebagai anak, aku akan membesarkan kamu seperti anakku sendiri dan aku akan melanjutkan bisnis ayahmu mulai saat ini." Terangnya. Tangan kanannya mendekap bahu kiriku sambil menampakan senyumnya didepan wajahku. "Ayah, apa Sin akan tinggal bersama kita!?" Tanya Angel dengan gembira. Wajahnya selalu ceria setiap aku bertemu dia. Ia selalu mengajak aku bermain bersama ketika kami bertemu. Namun saat ini, melihat wajah cerianya itu membuat aku kesal. Dia sama sekali tidak berduka untuk diriku. Wajar saja, itu karena ayahnya memanjakan Angel layaknya seorang putri. Dia tidak pernah merasakan kesedihan ataupun kesulitan. "Iya Angel, mulai sekarang kalian akan tinggal serumah," jawab mister Albert pada pertanyaan Angel yang sebenarnya belum aku setujui itu. Umurku sudah 7 tahun, aku bukan lagi anak manja yang akan menuruti perintah orang dewasa apabila diberikan permen kapas. Aku bisa melihat dengan jelas niat sebenarnya dari mister Albert ini adalah ia ingin menguasai harta beserta kedudukan ayahku. Ucapannya sama sekali tidak dapat dipercaya. "Saya sangat menghargai pertolongan anda. Tapi mulai saat ini, yang akan melanjutkan bisnis ayah adalah saya sendiri," ungkapku dengan menepis tangannya. Kemungkinan besar, ia mengetahui surat warisan yang ayah tinggalkan. Mengingat dia adalah sahabat dekat ayahku. Jadi ia berencana untuk mengambil alih bisnis ayahku dengan mengangkatku menjadi anaknya. Mereka lalu pergi dengan rasa kecewa, Albert menyayangkan keputusan yang aku buat, ia juga memintaku untuk memikirkannya kembali. Namun keputusan aku sudah bulat, aku akan mengerahkan seluruh upaya yang aku miliki untuk menjalankan perusahaan ayahku. Hanya aku seorang dari keluarga Vinlard yang masih hidup. Berbekal pengetahuan yang di ajarkan oleh keluargaku sejak aku balita, aku mulai mempertahankan seluruh peninggalan ayahku seorang diri.. Sejak saat itu, hidupku berubah. Aku menutup hatiku pada semua orang. Mereka hanya ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Aku mulai memutuskan kontrak hubungan kerjasama pada semua orang yang tamak akan harta dan kedudukan. Hasilnya, perusahaan ayahku kini mengalami perkembangan yang cukup pesat dibawah kepemimpinanku. Aku meyakini bahwa, di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar tulus bahkan pelayan setiaku sekalipun. Aku menjalani bisnis keluargaku dan kehidupan baruku secara bersamaan sampai saat ini. 10 tahun setelah insiden tersebut, tepatnya saat ini . . . . . Seperti yang Mary bilang sebelumnya, hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah umum. Sebelumnya selama 10 tahun, aku hanya menempuh sekolah private. Dengan alasan aku adalah pemilik tunggal Vinlard Corp, serta untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku tak diberikan izin oleh para dewan direksi untuk sekolah di sekolah umum. Namun saat ini usia aku telah mencapai 17 tahun, secara hukum aku sekarang adalah orang dewasa. Aku berhak melakukan yang aku mau. Walaupun sebenarnya, untuk beberapa hal aku masih dibatasi oleh dewan direksi Vinlard Corp karena statusku ini sebagai pimpinan perusahaan. Seperti pagi biasanya, Mary selalu membuatkanku sarapan setiap pagi, walaupun hari ini sedikit berbeda. "Apa ini?" tanyaku sambil memakai dasi seragam sekolah. Aku bertanya bukan karena tidak tahu, tapi karena kebiasaannya itu yang tidak berubah sama sekali. Dia selalu melakukan hal yang tidak aku perintahkan. "Aku membuatkan bekal spesial hari ini, agar tuan bisa bertukar makanan dengan teman sekelas nanti," jawabnya dengan senyum hangatnya. Untuk orang yang sudah melayani tuannya selama 17 tahun, harusnya dia mengerti sifat tuannya seperti apa, atau memang dia hanya pura-pura tidak mengerti. Yah lagi pula, aku tak perlu memikirkan itu, karena dilihat bagaimanapun Mary adalah Mary. "Apa kau pikir aku akan berusaha mencari teman!?" Tebakku seraya memasukkan roti kedalam mulutku. Tidak merespon, dia justru mengganti topik seakan aku tidak pernah bicara. Yah, lagi pula aku tidak mengharapkan respon darinya. "Waktu terasa cepat berlalu, padahal aku merasa seperti baru kemarin tuan meminta aku membacakan cerita tentang . . . ." Aku terkejut sampai tersedak. Mary yang belum menyelesaikan ucapannya segerah memberikan aku segelas air s**u. Memangnya remaja mana yang mau jika masa kecilnya diungkit? Aku meninggalkan meja makan dan pergi meninggalkan Mary dengan wajah memerah. Aku membawa bekal yang ia buatkan, dengan catatan hanya untuk menghargai makanan. "Tuan Sin, apa tuan tidak mau mengatakan yang biasa diucapkan seorang anak saat berangkat sekolah? Seperti misalnya . . . . aku berangkat," rayunya dengan nada meledek. Wajahku mengerut mendengarnya, dia selalu berhasil membuatku marah. Aku tak tahu seperti apa ibuku jika ia masih hidup, mungkin jika ia masih hidup akan jauh lebih menyusahkan dari Mary. Aku tak pernah mengharapkan kasih sayang dari seorang ibu. Maksudku, aku benar-benar tidak mengharapkan apapun dari orang lain. Tanpa mengatakan itu, aku keluar rumah. Disana sudah ada Apholo yang siap mengantarku ke sekolah. Apholo adalah kepala pelayan keluargaku, sekaligus suami dari Mary. Sifatnya itu berlawanan dengan Mary, dia tidak begitu banyak bicara. Ia hanya bicara saat aku mengajaknya bicara, meskipun ada satu hal yang mirip dari mereka berdua, yaitu sama-sama suka melakukan sesuatu yang tidak aku perintahkan. "Seharusnya kau tak perlu mengantarku dengan mobil, aku hanya pergi ke sekolah untuk hari ini," jelasku Dia membukakan pintu untukku sembari mendekapkan telapak tangan kanannya pada dadanya. "Mohon maaf tuan Sin. Sebagai pelayan tuan, sudah seharusnya saya mengantar tuan kemanapun." Aku tidak bisa menentangnya karena ia sangat bersih kukuh untuk mengantarkanku ke sekolah. Aku menuruti kemauan Apholo dengan memasuki pintu belakang yang ia bukakan untukku. Perjalanan yang aku lalui menuju sekolah sangat membosankan, tak ada pejalan kaki yang berlalu-lalang, tak ada kendaraan yang melintas sejalan denganku, hanya ada suara sirene pemadam kebakaran. Sepertinya dari tempat yang tak jauh dariku. Aku memalingkan pandanganku kearah belakang mobil. Benar saja, gumpalan asap hitam terlihat tak jauh dari rumahku..Aku sempat berpikir rasanya seperti ada sesuatu yang aneh. "Jam berapa sekarang?" Tanyaku pada Apholo yang selalu mengenakan jam tangan silvernya. "Sekarang jam 06:15 AM tuan, kita akan tiba 15 menit lebih cepat dari berjalan kaki," jawabnya. Benar, ternyata memang ada yang aneh. Seharusnya saat ini jalan raya dipenuhi oleh kendaraan yang melintas dan trotoar jalan dipenuhi pejalan kaki, namun tak ada kendaraan satupun yang melintas ke arah yang sama denganku serta tak ada orang yang berlalu-alang. Aku bisa menyimpulkan bahwa kebakaran itu menghalangi jalan sehingga tak ada satupun kendaraan dan pejalan kaki yang dapat melintas. Saat aku memandang keluar jalan yang begitu sepi, pikiranku pecah karena melihat seorang wanita yang memakai seragam sama dengan yang aku kenakan. Iya berlari tergesa-gesa dengan rambut panjangnya yang masih kusut. Anehnya dia berlari berlawanan arah dengan arah ke sekolah. "Berantakan sekali wanita itu, aku berharap tidak sekelas dengan orang seperti dia," gumamku. Bicara tentang wanita, aku tiba-tiba langsung teringat Grisel. Salah satu syarat yang diberikan oleh dewan direksi untuk aku dapat pergi ke sekolah umum adalah dengan menempatkan diriku di sekolah yang sama dengannya. Grisel adalah anak dari Apholo dan Mary. Ia adalah gadis yang sangat disiplin, jadi sungguh tak aku duga jika Grisel sampai terlambat. Yah, lagi pula aku memang baru mengenal gadis itu. Kami baru bertemu seminggu yang lalu. Sejak balita, Grisel sudah diberikan pendidikan khusus untuk menjadi maid keluargaku yang kini hanya aku seorang. Ketika seorang maid telah mencapai umur 15 tahun, maka ia akan mengabdikan nyawanya untuk tuannya. Begitulah cara keluargaku memiliki maid yang setia mengabdi pada tuannya. "Apholo dimana Grisel, bukankah dia seharusnya ikut bersama denganku?" "Maaf tuan Sin, bukankah anda kemarin malam memberikan perintah kepada Grisel?" Aku mengingat sejenak kejadian kemarin malam. Aku ingat kemarin malam aku bicara pada Grisel tentang ‘bagaimana jadinya jika seorang pria dikawal oleh wanita yang lebih muda darinya?’ Mungkin akan ada murid yang takut mendekati pria itu, atau mungkin juga pria itu akan dicap lemah karena dilindungi oleh wanita. Lalu setelah itu aku tak melihatnya lagi sampai sekarang. "Begitu ya, jadi obrolanku semalam dengannya dianggap sebuah perintah oleh Grisel," gumamku. Berdasarkan perhitungan Apholo yang selalu akurat, waktu tempuh jika berjalan kaki ke sekolah sekitar 30 menit. Jadi itu artinya, jika Grisel berangkat lima belas menit lebih awal dariku dengan berjalan kaki, seharusnya kami akan sampai ke sekolah secara bersamaan pada jam 06:30 AM. Walaupun perhitungan itu tidak akan akurat bila dia lari, namun setidaknya dapat mendekati dari kemungkinan yang ada. Jalan menuju sekolah dengan kendaraan berbeda dengan berjalan kaki. Jika dengan kendaraan, harus memutari sekolah untuk sampai di gerbang sekolah. Dari jendela mobil, aku melihat sebuah gedung sekolah dengan atapnya yang horizontal. Pemandangan tersebut tak berlangsung lama karena terhalang pepohonan disepanjang jalan. Sesampainya di gerbang sekolah, aku melihat gapura yang bertuliskan SMA Kanzai. Aku meminta Apholo untuk tidak menjemput aku sepulang sekolah nanti. Akan merepotkan bila aku di panggil anak manja saat usiaku telah menginjak 17 tahun. Ketika aku berjalan masuk menuju gerbang sekolah, seorang perempuan tiba-tiba muncul dari arah berlawanan dengan aku yang kemudian berdiri tepat dihadapanku. Tingginya tak lebih dari bahuku, rambutnya hitam panjang dengan poni yang menutupi seluruh keningnya.  Aku tidak terkejut ketika yang kulihat dihadapanku adalah Grisel. Yang membuatku penasaran adalah ritme nafasnya yang tidak beraturan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? "Selamat pagi tuan Sin, maaf saya meninggalkan tuan. Karena permintaan tuan untuk tidak dikawal maka saya terpaksa meninggalkan tuan," katanya dengan menundukkan kepalanya. Setelah ia berkata seperti itu, ritme nafasnya telah kembali beraturan. Sepertinya bukan masalah besar yang ia alami, jadi aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya dan melupakannya. "Panggil aku dengan sebutan kak Sin jika tidak di rumah, kau mengerti!?" Bisikku sambil memperhatikan sekitar. "Baik jika itu perintah, akan saya lakukan sebaik mungkin." Itulah respon dari seorang maid yang telah telatih dari keluargaku. Dia tidak akan melanggar perintah yang aku berikan padanya, memang itu sedikit membuat aku takut jika aku salah memberi perintah.  Akan timbul masalah jika ia memanggilku dengan sebutan tuan disini. Ini adalah rencana yang telah disepakati oleh para dewan direksi untuk menutupi identitas Grisel yang notabennya tinggal serumah denganku dengan mengakui bahwa kami bersaudara.  Selama aku berada diluar, hubungan aku dengan Grisel adalah adik-kakak. Hari pertama aku sekolah di sekolah umum akan segerah dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD