Chapter 03: Truk Pengangkut Bensin

1557 Words
"Tuan eh... ma... ma... maksudku Sin," ucapnya dengan nada yang tersendat-sendat. Wajar saja dia masih belum terbiasa memanggil dengan namaku, mengingat selama ini dia diajarkan untuk memanggilku dengan sebutan tuan. Selain itu, untuk secara resmi ini adalah hari pertama bagi dia melayaniku di luar rumah. "Kelas anda ada di lantai dua, jika anda membutuhkan saya, anda bisa mencari saya dikelas 10-A. Saya siap kapanpun anda memanggil," lanjutnya. "Apa apaan kalimat yang sangat formal itu, meskipun aku adalah senior kamu disini, kau tak seharusnya bicara seformal itukan dengan aku," kritikku. Kami memang berada di tingkatan kelas yang berbeda, jadi tak mungkin bisa diatur agar kami bisa sekelas. Aku lega karena tak ada yang mengawasi aku ketika dikelas nanti. Aku beruntung karena terlahir ke dunia ini lebih dulu darinya. Yang membuat aku terkejut, ketika aku baru mengetahui aturan dari sekolah umum, yaitu murid dilarang membawa ponsel. Tak aku sangka, teknologi modern yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia dalam berkomunikasi jarak jauh itu dilarang di sekolah umum. "Maafkan kesalahan saya," mintanya setelah aku kritik. Aku hanya mengeluarkan suara dari tenggorokanku tanpa membuka mulutku sebagai jawaban permintaan maafnya. Setelah itu, tak ada lagi obrolan yang keluar dari mulut kami berdua. Kami berjalan melalui lorong yang mengantarkan kepada kami tangga ke lantai dua dan lorong lainnya yang masih tersambung. "Berhati-hatilah!" Seru Grisel tanpa aku tanggapi. Kami berpisah, aku pergi menaiki tangga sedangkan Grisel melanjutkan langkah kakinya menuju sambungan lorong. Aku menaiki tangga selangkah demi selangkah dengan perlahan. Tak ada suara sama sekali hanya langkah kakiku yang terdengar. Aku berpikir bahwa, kenapa hari ini semua pelayanku bersikap aneh, bahkan Grisel sekalipun yang usianya dibawahku mengkhawatirkam aku seperti anak kecil? Saat aku tiba dilantai dua, ada seorang wanita yang sedang bersandar di balkon menikmati pemandangan. Aku berpikir dia adalah seorang guru karena pakaiannya yang tak sama dengan Grisel. Wanita itu memalingkan wajahnya yang menyadari keberadaan diriku lalu memandangiku dari bawah ke atas. "Kau pasti tuan Vinlard Sin," ucap wanita berkacamata itu seraya menghampiri lalu memeluk diriku. Dia mendekapku dengan erat namun tidak sampai aku merasakan sesak. Rasanya bisa dibilang seperti dihampiri bantal berjalan. Yah memang tidak buruk juga mendapatkan pengalaman seperti ini, meski ia memiliki tubuh yang bagus aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang lebih tua dariku. "Namaku Rias, aku yang akan menjadi wali kelas anda. Mohon bantuannya." Cakapnya formal setelah memelukku. Aku tidak menduga bahwa orang yang akan menjadi wali kelas aku nanti akan melakukan itu, aku hanya menduga sampai batas dimana kami berjabat tangan saja sebenarnya. "Tak seharusnya seorang guru memeluk muridnya sendiri bukan?" komentarku sembari merapihkan pakaianku. "Maafkan atas kelancangan saya, itu karena perasaan bahagia saya yang sudah tak bisa ditahan lagi. Saya merasa sangat terhormat ketika mengetahui saya akan menjadi wali kelas anda," terangnya dengan ekspresi gembira. Aku merasa bahwa Grisel sepertinya telah mengetahui bahwa kejadian ini akan terjadi, oleh karena itu dia meminta aku untuk berhati-hati. Padahal aku telah meminta kepada pimpinan sekolah untuk merahasiakan identitas diriku. Bagaimana bisa informasinya bocor dengan mudah begitu saja. "Siapa saja yang mengetahui identitasku?" Tanyaku. "Hanya saya dan pimpinan sekolah. Saya mengetahuinya karena pimpinan sekolah adalah paman saya, selain itu aku juga sudah berjanji untuk tidak akan membocorkannya pada siapapun. Anda tak perlu khawatir," jawabnya sambil menuntunku ke lorong kelas. Bagi masyarakat umum, bisa bertemu pemimpin perusahaan Vindlard adalah sebuah mimpi di siang bolong. Jika memang mereka dapat merahasiakannya itu tidak akan jadi masalah. Namun jika identitasku sampai terungkap ke publik, mungkin seluruh dunia akan gempar mengetahui bahwa pemimpin perusahaan Vinlard hanyalah seorang remaja yang baru mencapai usia 17 tahun. Aku mengikutinya dari belakang, aku takut bila nanti ia melakukan sesuatu yang tidak dapat aku prediksi lagi. Sepanjang jalan, wanita yang bernama Rias itu terus bicara mengenai dirinya yang masih sendiri dan kelebihan dirinya atau apalah itu. Aku mengabaikannya dengan melihat sekelilingku yang berjajar ruangan-ruangan kelas. Kelas pertama yang aku lewati adalah kelas 11.F, tertulis jelas di atas pintu kelas. Kemudian aku melewati kelas 11-E lalu 11-D, 11-C dan 11-B. "Ini adalah kelas anda. Tunggulah sebentar, saya akan memanggil anda bila sudah kondusif," katanya kemudian masuk ke ruangan kelas yang diatasnya bertuliskan 11-A. Aku melihat sebagian murid dari pintu yang dibiarkan terbuka, mereka melihatku dengan rasa penasaran. Tak selang lima menit, Rias memanggil nama panggilanku. Aku segerah memasuki kelas dan memperkenalkan diri dengan nama samaranku yaitu, Zager Sin. Setelah itu aku diminta untuk duduk di kursi yang kosong. Namun, aku melihat ada dua kursi yang kosong, yaitu kursi paling belakang yang berada di tengah dan kursi paling belakang yang berada di sudut kelas. Aku duduk di kursi kosong paling belakang sudut kelas. Aku melihat ke atas papan tulis, ada sebuah jam usang yang terpampang di dinding. Sepertinya jam itu sudah berada lama di sana. Meskipun begitu, jam tersebut masih dapat menunjukkan waktu saat ini. Tepat jarum jam itu menunjukkan pukul 07:00 AM, bel berbunyi tanda pembelajaran akan dimulai. Selama 17 tahun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar langsung suara bel tanda masuk sekolah. Selama ini aku hanya tau dari buku cerita yang selalu Mary bacakan untukku. Hal terbaik yang membuatku senang memilih kursi di sudut kelas adalah aku bisa memandang halaman sekolah serta merasakan hembusan angin dari jendela yang dibiarkan terbuka. Aku melihat wanita kusut yang sebelumnya berlari tergesa-gesa di jalan itu dari jendela. Namun, ada yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang yang aku lihat, dia menaiki sepeda merah dengan rak berbentuk kotak dari jerami di belakangnya. Selang beberapa menit setelah aku melihatnya memarkirkan sepedanya, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Semua orang memandang wanita kusut itu yang tak lain dan yang tak bukan adalah orang yang membuka pintunya. "Kali ini apa lagi alasanmu Airis?" Tanya Rias. Dari sini, aku tahu bahwa namanya adalah Airis. Selain itu, aku sudah mengerti bahwa wanita yang bernama Airis ini bukanlah wanita baik-baik. Dari pertanyaan yang Rias katakan, kemungkinan besar wanita ini sudah banyak mengulangi kesalahannya. Terlepas dari itu, aku benar-benar kecewa pada sesuatu yang disebut tuhan. Aku tak menyangka bahwa wanita kusut ini akan sekelas denganku. "Tadi pagi. Ketika aku berangkat menuju sekolah, ada seorang pejalan kaki yang menembak truk pengangkut bensin, kemudian api segerah muncul dan kebakaranpun terjadi," jawabnya dengan terengah-engah. "Truk pengangkut bensin itu terbakar akibat kelalaian sopir yang tidak benar menutup tangkinya. Bukan dari seorang pejalan kaki yang menembaknya dengan pistol. Memangnya saya akan percaya dengan alasan tak masuk akal kamu itu!" Cetus Rias dengan suara tinggi. Yang dikatakan Rias itu, sesuai dengan informasi yang disebarkan wartawan ke khalayak luas saat berada di lokasi kejadian. Aku mengetahuinya dari siaran radio mobil saat ditengah perjalanan menuju sekolah. "Tapi, itu sungguhan. Aku melihat sebelum kecelakaan itu terjadi, ada seorang pejalan kaki yang menembak dengan pistol kearah truk pengangkut bensin kemudian aku mencoba mengejar pejalan kaki itu, namun aku kehilangan jejaknya," sangkalnya. "Sekarang juga, kau pergi!" Bentak Rias dengan emosi yang meluap tanpa mendengarkan pembelaan wanita bernama Airis itu. Wanita yang bernama Airis itu tak segerah pergi, dia menatap ke arahku untuk waktu yang cukup lama. Pandangan kami berdua sempat bertemu satu sama lain. Bila diperhatikan baik-baik, ternyata ia mengepang rambutnya seperti bandana. Setelah Rias membentaknya yang kedua kalinya, baru akhirnya dia pergi meninggalkan kelas. Setelah itu, suasana kembali tenang. Rias melanjutkan pembelajarannya yang sempat berhenti tadi. Sementara aku, kembali menikmati pemandangan di luar jendela. Bukannya aku tak mengikuti pembelajaran, hanya saja pelajaran yang disampaikan Rias itu, telah aku pelajari tiga tahun yang lalu ketika aku masih sekolah private. Bukan karena sistem pembelajaran sekolah ini yang buruk, ataupun terlambat dalam menjalankan kurikulum. Melainkan, itu karena aku sendiri yang terlalu cepat memahami pelajaran hingga lupa bahwa yang aku pelajari telah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Setelah Rias menerangi materi pelajaran, ia kemudian memberikan soal untuk dikerjakan. Salah satu dari syarat dewan direksi saat aku berada di sekolah adalah tidak boleh tampil dengan mencolok. Jadi intinya, yang harus aku lakukan sekarang hanyalah memilih jawaban yang salah pada soal yang kebanyakan murid salah dan menjawab benar pada pertanyaan yang kebanyakan murid benar, untuk membuatku tidak mencolok. Untuk dapat melakukan itu, aku tak perlu melihat satu persatu jawaban mereka. Aku hanya perlu menjawab soal yang jawabannya telah disampaikan Rias saat menjelaskan materi pelajaran tadi, dengan begitu jawaban yang aku isi benar adalah jawaban yang kebanyakan murid memperhatikan Rias saat menjelaskan pelajaran. Sisanya, aku hanya perlu menjawab dengan memejamkan mataku. Aku hanya menyelesaikan soal dalam waktu lima belas menit, masih ada waktu lima belas menit lagi sampai lembar jawaban dikumpulkan. Selama sisa waktu yang aku miliki itu, aku habiskan untuk berpikir tentang ucapan dari wanita kusut itu. Aku berpikir dari banyak kemungkinan yang dapat terjadi, apabila semua yang dia katakan itu benar. Aku mendapatkan kesimpulan yang cukup menarik, namun aku masih belum dapat memastikannya. Hanya ada satu yang dapat aku pastikan. Alasan Airis berlari berlawanan dari arah sekolah adalah untuk mengambil sepedanya setelah mengejar pejalan kaki yang berlari menjauhi lokasi kecelakaan. Namun aku masih belum mengetahui, kenapa wanita kusut itu mengejar pelaku dengan berlari. Padahal dia bisa mengejarnya dengan sepedanya? "Ting... Tong... Ting.... Tong." Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Semua lembar jawaban dikumpulkan. Suasana menjadi ramai, ada beberapa murid yang mengambil bekal makanan lalu menggeser mejanya ke meja lainnya yang setiap sisinya terdapat kursi untuk mereka duduk disana. Sisanya keluar kelas, sepertinya ke kantin untuk membeli makanan. "Benar juga," gumamku karena teringat bekal yang aku bawa. Aku berniat memakan bekal yang aku bawa bersama wanita kusut itu. Aku bukannya menyukai wanita itu, hanya saja ada yang aku ingin bicarakan dengannya. Aku menunggunya masuk ke kelas, namun ia tidak kunjung terlihat. "Apa mungkin dia tidak membawa bekal?" Sangkaku. Aku langsung terkejut, karena sebelumnya aku tidak berpikir bahwa dia tidak membawa bekal. Jika dia memang tidak membawa bekal, itu artinya. Semuanya sudah jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD