“Jangan tinggalkan keran yang sedang mengalir meski bukan kau yang membukanya.” Mungkin ungkapan tersebut dapat menggambarkan aku saat ini. Meski bukan aku pelakunya, namun aku tetap harus bertanggung jawab agar masalah ini tidak bertambah banyak.
"Hai, namamu Sin bukan?" Tanya seorang wanita mengenakan pita warna kuning yang berada dua baris dari depan mejaku yang sedang bersama dengan dua temannya.
"Ayo makan bersama kami!" Ajak wanita berambut pendek itu dengan tersenyum melambaikan tangan.
"Saat melihat orang asing, berpikirlah kau sedang melihat seorang pencuri." Bukankah kutipan tersebut seharusnya menyuruh kita untuk selalu waspada ketika bertemu orang asing.
Padahal aku tidak mengenal gadis itu, namun dia sama sekali tidak terlihat canggung untuk mengajak seorang laki-laki yang belum dia kenal bergabung kedalam pestanya.
"Hai Rika, dia itu laki-laki mana mungkin dia mau bergabung dengan para perempuankan!?" Kata seorang wanita berkulit eksotis.
Mungkin dari seluruh murid yang aku lihat disini, hanya dia yang memiliki warna kulit eksotis. Aku berpikir bahwa dia blasteran. Karena selain kulitnya, tubuhnya juga terbilang lebih tinggi dari rata-rata murid disini.
"Heee, tapi bukankah 'seekor rusa juga bisa berteman dengan singa'?" Sanggah perempuan yang dipanggil Rika itu.
Teman-temannya mentertawakan perkataan yang baru saja ia ucapkan. Ungkapannya memang tidak salah, namun ungkapan tersebut tidaklah dapat dijadikan pedoman dalam berinteraksi dengan lawan jenis.
“Jika hanya duduk diam, kau tak akan dapat memilih apa yang kau mau.” Jadi aku putuskan untuk mencari wanita kusut itu dari pada hanya menunggunya. Tempat yang mungkin saja dia kunjungi adalah kantin, aku membutuhkan seorang guide yang sangat mengenal sekolah ini bahkan sampai mengenal seluruh murid disini. Aku tak mungkin meminta bantuan Grisel, dia bisa saja melakukan hal yang membahayakan. Perempuan yang bernama Rika itu sepertinya adalah orang yang tepat, mengingat dia adalah tipe orang yang mudah berbicara pada orang asing.
"Namamu Rika bukan, apa kau dapat menunjukkan aku dimana kantin berada?" Tanyaku yang menghampiri mereka.
"Untuk apa mencari emas, jika kau memiliki berlian?" Tanya seorang wanita bertubuh pendek yang keberadaannya begitu tipis, sampai aku lupa bahwa dia duduk bersebelahan dengan Rika.
Wanita ini terlihat menyeramkan dengan poninya yang menutupi sebelah matanya. Mungkin dia bertanya kepadaku, untuk apa ke kantin jika aku membawa bekal?
"Aku tidak mencari makanan, ada seseorang yang aku cari dan sepertinya dia ada di kantin," jelasku.
"Kau mencari dia untuk mengajaknya makan bersama bukan, kalau begitu aku akan membantumu."
Setelah mengatakan kalimat itu, Rika segerah menutup kembali bekalnya yang belum tersentuh dan lekas menuntun aku ke kantin setelah berpamitan pada temannya. Kami berjalan keluar gedung sekolah. Dia memberitahu aku apa saja yang sekiranya dapat kau temui saat melawati jalan menuju kantin. Seperti misalnya, kau dapat pergi ke sebelah kanan jika kau ingin pergi ke lapangan basket. Dan kau dapat pergi ke gedung aula jika kau pergi ke arah kiri.
Sesampainya di kantin, aku melihat kerumunan orang berdesakan membeli makanan. Banyak orang berlalu lalang datang dan pergi. Kursi yang disediakan kantin terlihat telah penuh, tak ada celah sedikitpun untuk dapat duduk.
"Ini adalah salah satu keuntungan bila kita membawa bekal bukan," ungkap Rika padaku.
Tentu saja aku setuju jika melihat hal ini. Aku beruntung karena tadi pagi aku mengambil bekal buatan Mary. Masalahnya adalah bagaimana aku bisa mencari wanita kusut itu diantara kerumunan ini.
"Katakan saja, siapa yang kau cari? Mungkin aku dapat membantumu," minta Rika tiba-tiba.
"Wanita yang tadi pagi terlambat, kalau tidak salah namanya adalah Arias," jawabku.
"Ouh Arias, dia selalu bermain dengan kami. Dia tak pernah sekalipun bermain dengan orang lain. Pada waktu istirahat, kami biasanya makan bersama-sama. Meskipun, dia tidak pernah sekalipun membawa bekalnya dari rumah," katanya.
"Apa kau tau kenapa dia tidak membawa bekalnya dari rumah?" Tanyaku meskipun aku sudah mengetahui jawabannya.
"Entahlah. Dia bukanlah orang yang mau menceritakan kisah hidupnya pada orang lain. Kami juga tidak terlalu memikirkannya," jawabnya dengan wajah tertunduk.
Jadi meskipun pertemanan mereka cukup dekat, mereka sama sekali tidak mengetahui permasalahan yang dialami wanita kusut itu.
"Dia hanya membeli roti saat istirahat dan memakannya bersama kami. Setiap hari, selalu begitu," lanjutnya.
"Jika kau bilang, setiap istirahat dia selalu makan bersama kalian. Lalu kemana dia sekarang?"
"Aku tidak tahu, kemarin kami sempat menyinggung tentang kehidupan dia. Kami pikir dia tak mau lagi bermain bersama kami karena hal tersebut, jadi kami tidak mencarinya karena kami merasa tidak enak padanya."
Aku berpikir jika memang begitu, dimana tempat yang akan aku tuju jika aku hanya ingin sendirian? Tak ada seorangpun yang mengganggu? Tempat dimana kau bisa melihat semuanya? Itu dia!
"Aku tahu dimana dia sekarang, ikuti aku!" Seruku sambil berlari. Rika mengikuti aku dari belakang dengan tubuhnya yang terbilang cukup subur. Wajar saja bila ia kesulitan mengejarku, jadi aku melambatkan tempo lariku untuk mengimbanginya.
Meski aku tidak cukup mengenal tempat ini. Aku tak memerlukan bimbingan Rika untuk pergi ke sana, karena tempat itu adalah tempat yang orang baru pertama kali datang sekalipun mampu mencapainya.
"Mau kemana kita?" Tanyanya sambil berlari mengikutiku.
"Atap gedung sekolah," jawabku.
Tak ada seorangpun yang akan tersesat saat menuju lantai teratas gedung, itu karena kau hanya perlu menaiki seluruh lantai yang ada. Walaupun di sini ada banyak gedung, namun hanya gedung sekolah yang memiliki atap horizontal yang bisa di kunjungi. Yah, walaupun sebenarnya aku mengetahuinya dari buku cerita Mary. Tapi aku yakin dia pasti disana.
Kami menaiki tangga mulai dari lantai satu hingga lantai tiga, lantai itu di penuhi murid kelas 12. Secara umum ini adalah lantai para seniorku berada, aku harus berhati-hati jika tidak ingin mendapatkan masalah. Tak jarang suara bisikan terdengar seperti bertanya, siapa laki-laki itu ya aku belum pernah melihatnya?
Aku ingin berlari secepat mungkin. Namun jika aku berlari di lorong, ditambah ada banyak seniorku yang melihat. Bisa dipastikan aku akan mendapat masalah. Kami memang tidak terlalu dikejar waktu, karena jam istirahat masih ada setengah jam lagi. Yang aku takutkan jika suatu hal buruk terjadi, aku tidak mau ada berita seorang siswi menjatuhkan dirinya dari atap sekolah karena masalah ini. Tak lama kami berjalan cepat menyusuri lorong, aku melihat tangga yang kemungkinan besar itu menuju atap sekolah. Saat aku sudah menaiki tangga pertama, tiba-tiba ada suara wanita memanggil Rika.
"Sedang apa kau disini?" Tanya wanita yang yang memanggil Rika dengan kedua tangannya memegang pinggang. Wajahnya seperti menahan marah yang mungkin saja suatu waktu akan lepas keluar begitu saja. Yang aku lihat, wajahnya mirip dengan gadis yang hawa keberadaannya tipis. Bedanya wanita ini memiliki rambut pendek yang di kuncir kuda, mungkin seperti itu style rambut yang dapat aku deskripsikan.
"Rupanya kak Mira, aku sedang mencari temanku."
Setelah Rika merespon pertanyaan wanita yang bernama Mira itu, mereka kemudian beradu argumen. Aku tak tau siapa wanita bernama Mira itu, tapi aku melihat sebuah pita merah di lengan kanannya yang bertuliskan OSIS. Berdasarkan buku yang sering dibacakan Mary padaku dulu, seseorang yang memiliki pita merah bertuliskan OSIS adalah orang yang dipanggil dengan sebutan ketua OSIS.
"Sin, kau duluan saja nanti aku akan menyusul nanti!"
Setelah mendengar seruannya, aku menaiki tangga tanpa mempedulikan larangan perempuan bernama Mira. Selangkah demi selangkah aku melangkahkan kakiku. Aku melihat sebuah pintu yang diikat dengan rantai telah kendor, sehingga ada cukup ruang untuk bisa masuk kesana. Aku menggenggam gagang pintu lalu memutarnya ke kiri, pintunya langsung terbuka. Warna birunya langit adalah yang kulihat pertama kali saat membuka pintu itu. Aku menerobos masuk, kemudian aku melihat seorang wanita sedang berbaring ditengah sudut memandang birunya langit terhampar luas. Pokoknya yang terpenting sekarang, aku harus pastikan semuanya, aku mendekatinya.
"Apa kau mau makan bekalku?" Tanyaku dengan memberikan bekal yang aku bawa.
Dia beranjak duduk lalu melihat kearahku. Tidak, mungkin lebih tepatnya dia memandangi bekal yang aku pegang. Aku mengulurkan tangan padanya yang terus menatap bekalku.
"Apa kau malaikat yang dikirim tuhan untuk memberikan aku sekotak makanan?" Tanyanya dan langsung mengambil bekalku. Dia membuka bekalku dan mengatakan bahwa tampilan bekalku sungguh berantakan. Yah, wajar saja setelah berlarian menaiki tangga jika tampilannya akan rusak. Dia memakan bekalku dengan lahap setelah mengatakan selamat makan. Dia berkata makanan ini sungguh lezat.
"Bukankah semua makanan akan lezat saat kau sangat kelaparan?" Pikirku. Suasananya begitu canggung jadi aku mencoba berbicara sedikit dengannya.
"Kursi yang aku duduki itu adalah kursimu bukan? Karena itulah kamu menatapku karena tidak terima kursimu aku duduki."
Ditengah kenikmatannya memakan bekalku dia bertanya, apa Rika yang memberitahumu? Lalu tersedak dan langsung meminum air yang berada di botol. Botol itu sudah sepaket dengan bekal makananku.
"Tidak, aku hanya menebak saja. Di kelas itu hanya ada satu kursi kosong bukan, jika kau datang terlambat maka akan ada dua kursi yang kosong. Jika memang sebenarnya ada satu kursi yang kosong, kira-kira kursi mana yang tidak akan ditempati? Jawabannya tentu saja kursi paling belakang yang berada di tengah bukan," terangku.
"Langsung saja, apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya setelah menelan makanan terakhir dari bekalku.
Sepertinya dia sudah mengetahui bahwa, aku kemari bukan hanya untuk sekedar memberikan bekalku padanya. Jadi, akan aku katakan maksud kedatanganku ini.
"Aku ingin meminta maaf tentang susumu!"