Chapter 09: Rin

1412 Words
Seluruh siswa berjalan beriringan keluar kelas ketika suara bel lonceng sekolah memecahkan kesunyian, tanda telah berakhirnya jam pelajaran. Terdengar hingar-bingar disepanjang lorong kelas yang dipenuhi murid-murid yang hendak pulang. Aku mendengar percakapan dari beberapa orang yang melewati mejaku, membicarakan tentang seorang idol terkenal dan rencana mereka untuk menonton konsernya. Sementara aku, sama sekali tidak memiliki rencana setelah pulang sekolah. Hanya duduk di kursi dan menyandarkan kepala pada lengan kananku, memandang murid-murid keluar gerbang dari balik jendela. Bukannya aku tak ingin pulang ataupun pergi ke suatu tempat, hanya saja ada seseorang yang memaksaku untuk membicarakan sesuatu yang menurutnya itu penting. Disebut memaksa mungkin terlalu berlebihan, akan lebih tepat bila disebut terpaksa. "Lima menit telah berlalu, Grisel masih belum datang. Apa dia tersesat seperti kucing yang mencari rumahnya?" Orang yang mengatakan perumpamaan seperti itu dengan ekspresi bahagia membayangkannya adalah Rika. Dia berbicara pada temannya yang aku sebut gadis pendek didepan meja kedua dari tempatku duduk. Aku menyebutnya seperti itu karena ia memang bertubuh pendek, selain itu hawa keberadaannyapun sangat rendah. "Dia tidak mungkin tersesat. Walaupun kelas kita terletak di paling ujung lantai dua, seharusnya dia hanya perlu menaiki lantai dua saja dan berjalan lurus ke ujung lorong", jawab Rin pada Rika. Ya, namanya Rin. Aku mengetahui nama dari gadis pendek itu ketika aku dipaksa oleh Rika memakan bekalku bersama dengan mereka. Gadis pendek itu menghampiri mejaku dengan ditemani Rika, ia ingin membicarakan suatu hal penting padaku dan juga Grisel. Dia memintaku untuk bertemu sepulang sekolah nanti. Jadi setelah menghabiskan bekalku, aku mendatangi kelas Grisel untuk memintanya datang ke kelasku setelah pulang sekolah nanti. Sejujurnya aku tak ingin berurusan dengan hal yang merepotkan ini jika Rika tidak ikut terlibat. Aku masih harus memperbaiki kesalahanku sebelumnya pada Rika. Aku tidak tahu apa yang mau mereka bicarakan, tapi sepertinya ini tidak akan dimulai bila Grisel belum datang. "Grisel tak mungkin langsung kesini. Bila ia langsung kesini, sudah pasti dia akan berdesakan melawan arus manusia", jelas Rin. Walaupun pertumbuhan fisik Rin bisa dibilang terhambat, tapi sepertinya dia adalah wanita yang cerdas. Mereka berdua benar-benar memiliki perbedaan yang sangat jelas terlihat aku pikir. "Kalau begitu, aku akan turun membeli minuman untuk kalian", usul Rika yang kemudian dijawab oleh Rin dengan nama sebuah merek minuman kaleng bersoda. Ia kemudian bertanya padaku mengenai minuman apa yang aku inginkan. Aku menjawabnya dengan nama sebuah merek minuman berkafein. Suasana kelas menjadi sunyi ketika Rika pergi. Atau lebih tepatnya Rika lah yang pergi ketika lorong telah sepi. Hanya ada Rin yang tengah membaca sebuah buku novel yang tak dapat aku lihat judulnya, serta diriku ini yang terus memandang halaman sekolah dari jendela yang terbuka seraya menikmati hembusan angin. Jam dinding terus berdetik dan tanpa aku sadari, halaman sekolah telah sepi begitu saja tak ada lagi hilir murid yang keluar dari sekolah lagi. Suara langkah kaki seseorang yang berlari di lorong kelas terdengar memecahkan keheningan. Suaranya semakin jelas menuju arah kelas kami. Sepertinya itu adalah Grisel yang sedang menghampiri kami. Atau mungkin Rika yang membawakan minuman pesanan kami. "Apa kakak yang bernama Sin?" Tanya seorang laki-laki yang menyandarkan kedua tangannya pada pintu kelas kami yang terbuka dengan terengap-engap. Pertanyaan ini sudah pasti ditunjukan kepadaku, karena hanya aku laki-laki disini. Padahal aku tak mengenal laki-laki berambut gelombang yang diwarnai pirang ini, tapi bagaimana ia bisa mengetahui namaku? Jika aku menggambarkan wajahnya, mungkin dia adalah tipe orang yang di idolakan oleh banyak wanita karena kharismanya. ”Apa sekolah tidak melarang pewarnaan rambut?” Pikirku yang segerah aku hiraukan. "Ini mengenai Grisel, kak Sin”, katanya yang sedang kesulitan bernafas. Setelah ia memanggilku dengan sebutan ‘kak Sin’, aku baru ingat bahwa ia adalah laki-laki yang bersama Grisel saat aku mendatangi kelas mereka sebelumnya. “Kepala Grisel terbentur lantai. Saat ini ia dibawa ke ruang UKS setelah sebelumnya tak sadarkan diri", ujarnya dengan wajah yang sangat khawatir. Rin langsung mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca dan kemudian tersentak berdiri dari kursinya ketika mendengarnya. Bukankah aku yang harusnya tersentak dan khawatir? "Tenanglah. Pertama-tama tunjukan aku dimana ruang UKS berada, lalu aku ingin kau menjelaskan semua yang kau ketahui sambil berjalan", ucapku seraya berdiri menghampirinya. Laki-laki itu terkejut mendengar perkataanku yang begitu santai seperti tak menyangka bahwa aku adalah kakaknya. Yah, lagi pula memang kami bukan saudara. "Baik. Menurut beberapa saksi mata yang melihatnya. Mereka berkata bahwa Grisel berlari menaiki tangga kemudian ia terpeleset", ketusnya seraya berjalan menuntun aku dan Rin. "Aku bilang, 'aku ingin kau menjelaskan semua yang kau ketahui'. Maksudnya adalah semua yang kau ketahui tentang Grisel, bukan yang kau ketahui tentang peristiwa yang menimpanya", ujarku padanya. "Eehhh, yang aku ketahui tentang Grisel?" Tanyanya seolah-olah meragukan ucapanku. "Ya, apa hubunganmu dengannya dan bagaimana kau bisa tahu namaku?" Ada istilah yang mengatakan bahwa "orang yang paling mengkhawatirkan kita bukanlah orang yang paling dekat dengan kita, melainkan orang yang paling peduli dengan kita". Tidak mungkin jika laki-laki ini sampai berlari tergesa-gesa menghampiriku, jika bukan tanpa alasan. Dia terdiam tak bersuara walaupun mulutnya sempat beberapa kali terbuka, seperti ragu untuk menyampaikannya padaku. Setelah kami menuruni tangga, ia kemudian berhenti dan menghadapkan tubuhnya padaku dengan sikap tegap sempurna. "Namaku Akihiko, aku mengenal kakak dari Grisel. Aku mengenal Grisel karena kami berada di kelas yang sama. Aku....aku....aku...." Dia menundukkan punggungnya hingga membentuk siku yang sempurna sambil memperkenalkan dirinya padaku. Aku tak tahu apa yang mau coba ia ungkapkan. "Aku jatuh cinta pada Grisel!" Katanya dengan suara lantang seraya menaikan punggungnya kembali. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam untuk membuatnya seperti terlihat kokoh. Sangat jelas terlihat bahwa ia baru saja mendapatkan pengalaman yang sangat buruk dalam hidupnya. "Begitu ya, jadi kau ditolak oleh Grisel", tebakku padanya hingga membuat kelopak matanya berkilauan menahan air matanya mengalir. Dia mungkin bukan laki-laki yang lemah. Tapi perasaan cintanya yang di tolak oleh orang yang ia sayangi, membuat ia mengalami penderitaan emosional yang mendalam. Aku tak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Karena aku tak pernah merasakannya, mungkin itu yang disebut patah hati. "Dia tak suka pada laki-laki yang mudah menangis", karanganku untuk membuatnya tegar kembali sambil melewatinya. Ia kemudian segerah menyusulku dan kembali memandu kami menuju UKS. Dari kejauhan aku melihat ada dua pintu kaca yang sisi kanannya bertuliskan tarik dan sisi kirinya bertuliskan dorong. Meskipun terbuat dari kaca, aku sama sekali tak dapat melihat sisi dalamnya karena ada lapisan kaca yang menutupinya. Di atas pintu, tertulis ruang UKS. Suara keributan terdengar dari dalam meskipun tak terlalu jelas karena ruangannya yang tertutup rapat. Akihiko kemudian membuka ruangan dengan mendorong pintu kiri. "Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa Grisel di dorong oleh mereka", kata Rika terdengar jelas ketika Akihiko telah membukakan pintu masuk. Semua terdiam ketika melihatku masuk ke ruangan UKS. Aku melihat Grisel yang terbaling tak sadarkan diri di kasur dengan kepalanya yang diperban. Lalu, disebelahnya ada Rika, Mira, dan tiga wanita lain yang tidak aku kenal. "Ada apa ini, kenapa ribut sekali?" Tanya Rin yang tak aku sadari berada di sebelah kiriku. "Ketika aku hendak turun membeli minuman untuk kalian, aku melihat mereka yang mendorong Grisel dengan sengaja hingga terjatuh", jawab Rika sambil menunjuk tiga wanita yang tidak aku kenal. "Jangan berkata hal yang tidak benar ya, kami bertiga melihatmu berkelahi di tangga hingga menyebabkan gadis ini terjatuh”. “Ingatlah baik-baik, semua yang kau lakukan nanti akan terungkap semuanya ketika gadis ini bangun”. “Seharusnya kami mendapatkan ucapan terima kasih, karena kami yang membawanya ke UKS untuk mendapatkan perawatan. Bukan tuduhan seperti ini yang kami dapatkan”, Sangkal mereka bertiga. "Percuma saja berspekulasi tanpa adanya bukti. Selain itu, pembelaan dari kalian semua juga cukup logis", papar Mira seraya memisahkan mereka agar tidak terjadi keributan yang semakin parah. "Untuk sekarang, kita tunggu saja sampai Grisel sadar kembali", sambungnya dengan tersenyum. Rin tiba-tiba saja menarik lengan bajuku hingga membuat tubuhku miring. Ia membawaku keluar ruangan UKS. Aku tidak dapat melawan tarikannya karena saking terkejutnya. "Aku minta pertolonganmu Sin", minta Rin dengan menundukkan kepalanya di depan pintu masuk ruangan UKS. Bukan bertanya, ‘apa kau bisa membantuku’. Melainkan yang terucap darinya adalah kalimat ‘aku minta pertolonganmu’. Sepertinya dia sangat percaya padaku, bahwa aku dapat menolong mereka. Apa sebenarnya yang dipikirkan gadis pendek ini? "Mengapa?" Ada orang bijak yang pernah berkata padaku, "jika kau memiliki banyak pertanyaan, tanyalah dengan pertanyaan yang paling singkat". Jadi aku bertanya dengan satu kata untuk mengetahui semua yang ia pikirkan. "Aku ingin membuktikan pada kakakku bahwa tak semua masalah harus di adili. Aku percaya ada cara untuk menyelesaikan kejahatan tanpa hukuman. Rika bukanlah orang yang suka berkata bohong. Ketiga wanita itu adalah murid kelas 12-E. Jika perbuatan mereka sampai terbukti, mereka mungkin saja akan kehilangan semuanya. Ini hanya masalah waktu saja. Setelah Grisel tersadar kembali, semuanya akan terungkap", ungkap isi pikiran Rin. "Jadi kau ingin menyelesaikan masalah ini tanpa ada pihak yang di rugikan?" Rin tak menjawab pertanyaanku secara lisan. Ia menjawabnya dengan matanya yang memperlihatkan ke sungguhan dirinya terhadap keputusan yang telah ia buat dari hati terdalamnya. "Jangan terlalu berharap padaku".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD