Chapter 05: s**u

1291 Words
Saat itu untuk pertama kalinya, aku merasakan sakitnya ditampar oleh seorang wanita. Entah apa yang membuatnya melakukan itu. Sebuah kata terlintas sebelum dia mengayunkan lengannya padaku. "Mengapa?" Kurasa itulah yang dia katakana sebelumnya. Wajahnya menggambarkan ekspresi terkejut dan kebingungan diiringi rasa takut yang mendalam. Setelah dia menamparku, dia terperanjat bangun dari tempat duduknya. Apa aku melakukan sebuah kesalahan?  Aku hanya mencoba menanggung kesalahan orang lain yang sama sekai tidak aku perbuat. Apa ini balasan yang aku dapatkan dari niat baikku? Dengan menahan perihnya bekas tamparan yang masih berdenyut di pipiku, aku mencoba menjawab pertanyaannya itu. "Jam 06:15 AM, aku melihatmu berlari berlawanan arah dengan arah sekolah. Saat itu, kau kembali untuk mengambil sepedamu setelah mengejar pelaku penembakan truk bensin. Alasan kau tidak mengejarnya dengan sepeda, itu karena....." "Hentikan!" Wanita kusut itu berteriak dengan lantang. Aku tak mengerti mengapa dia menyuruhku untuk berhenti, padahal dialah sebelumnya yang bertanya ‘mengapa’. Namun selang beberapa detik ketika dia menyuruhku berhenti, suara wanita dari arah tangga terdengar. "Lanjutkan anak baru, aku ingin tahu." Minta seorang wanita yang menghadang aku dan Rika sebelumnya. Aku tak tau sejak kapan ketua OSIS dan Rika berada di belakangku. Tapi sepertinya mereka sudah berada di sana ketika aku mengatakan permohonan maafku pada wanita kusut ini. Aku tak menggubris seruan gadis kusut itu. Untuk dapat menyelesaikan kesalah pahamannya karena telah menamparku, aku perlu menjelaskannya dari awal. Jadi aku harus memulainya saat dimana aku pertama kali melihatnya. "Kau tiba di sekolah jam 07:00 AM. Sementara, aku melihatmu di jalan pada jam 06:15 AM. Waktu tempuh dengan bersepeda seharusnya kurang dari 30 menit. Jadi seharusnya kau tiba di sekolah sebelum jam 06:45 AM. Jadi pertanyaannya, kemana kau pergi?" "Apa mungkin, Airis mampir ke sebuah toko untuk sarapan terlebih dahulu?" Tebak Rika. "Salah. Jika dia mampir terlebih dahulu untuk sarapan, seharusnya dia tidak sekelaparan ini saat jam istirahat. Pertanyaan yang sebenarnya adalah mengapa dia bisa kelaparan?" paparku sambil beranjak berdiri. Sebelumnya aku telah memastikannya dengan menawarkan bekalku padanya, dia mengambil umpannya dengan cepat sesuai dengan yang aku bayangkan. Karena itu, aku yakin sekali atas kesimpulan yang aku dapatkan ini. "Kau memiliki waktu untuk sarapan ataupun membuat bekal dari rumah. Namun kau justru tidak melakukan itu. Rika berkata padaku bahwa, kau selalu membeli roti saat istirahat," kataku sambil menoleh ke arah Rika. "Artinya, kau tak memiliki uang untuk sarapan sebelumnya. Lalu kau memiliki cukup uang ketika sampai di sekolah, itulah kenapa kau bisa membeli roti saat istirahat," jelasku. "Jika yang kau katakan itu benar, masalahnya adalah karena uang. Lalu kenapa Airis tidak membuat bekal saja dari rumah, dengan begitu ia tidak perlu mengeluarkan uang?" Tanya Rika padaku. "Kau benar. Tapi jika dia membuat bekal, maka dia tidak akan bisa bekerja, jika dia tidak bisa bekerja maka dia tidak akan mendapatkan uang, dan jika dia tidak mendapatkan uang dia tidak akan bisa membeli bahan masakan untuk dimasak bukan," jelasku. "Jadi maksudmu, Airis bekerja mengantarkan koran sebelum ke sekolah dengan sepedanya itu?" Tanya Mira yang mencoba menyimpulkannya sendiri. "Tidak, kau kurang tepat. Jika Airis mengantarkan koran, ia tak mungkin mengejar pelaku penembakan truk pengangkut bensin itu dengan berlari. Itu artinya, barang yang ia antarkan adalah barang yang mudah rusak. Selain koran, ada satu lagi barang yang hanya di antarkan saat pagi hari," tuturku. "Yaitu botol s**u. Karena kau meninggalkan sepedamu begitu saja tanpa ada penjagaan sama sekali, aku menduga bahwa s**u yang kau antar itu telah dicuri oleh seseorang disana bukan," tebak aku. “Kejahatan terjadi karena ada kesempatan,” pikirku. Kami semua memandangi Airis untuk mendapatkan jawaban atas semua yang aku katakan. Airis yang terdiam membisu setelah mendengar semua yang aku ucapkan hanya bisa menundukkan kepalanya memandangi lantai. Hembusan angin menerpa rambut panjangnya yang kusut, kemudian sebuah kalimat terucap. "Ya kau benar," kata Airi dengan nada rendah. Untuk beberapa saat, semuanya terdiam tak bersuara. Airislah yang kemudian menghancurkan keheningan itu dengan suara rintihan tangisnya. Air matanya menetes ke lantai satu persatu. Mira kemudian menghampiri Airis yang entah kenapa menangis, lalu langsung menarik lengan Airis. Airis tidak mengeluarkan sepatah kata sama sekali. "Kalian juga ikutlah denganku," perintah Mira dengan memanfaatkan jabatannya sebagai ketua OSIS. Aku dan Rika mengikuti perintahnya. Kami kemudian mengikutinya hingga tiba disuatu pintu.  Saat Mira membuka ruangannya, kami melihat pria tua gemuk yang sedang menandatangani tumpukan kertas di mejanya. Sebelumnya aku tidak tau siapa pria yang mengenakan jas hitam itu, aku mengetahuinya setelah Mira memanggilnya dengan sebutan pimpinan sekolah. Namun aku masih tidak mengerti kenapa kami di bawa ke sini. Mira kemudian memberitahu maksud tujuannya menemui pimpinan sekolah, ia menceritakan kepada pimpinan sekolah semua yang terjadi di atap gedung sekolah. Sementara itu, aku mencoba memahami situasi ini, aku mencoba bertanya pada Rika apa yang sebenarnya terjadi dengan berbisik. Dia menjawab dengan berbisik bahwa, Airi telah melakukan pelanggaran berat dengan bekerja part time. Aku sama sekali tidak mengetahui sebelumnya, jika bekerja part time dapat membuat seorang murid terancam keluar dari sekolah. Jadi, alasan Airis menamparku dan memintaku untuk berhenti mengatakan itu adalah karena dia takut akan dikeluarkan oleh sekolah jika semuanya terungkap. Itu juga yang mungkin dapat menjelaskan kenapa Airis menangis ketika aku selesai bicara. Sepertinya Airis telah mengetahui sebelumnya, apa yang selanjutnya akan terjadi padanya. Artinya, aku telah membuat suatu kesalahan besar dengan mengungkapkan rahasia Airis didepan orang yang sangat merepotkan, yaitu ketua OSIS. "Saya akan mendrop out Airis, jadi mulai besok kau tak perlu datang ke sekolah," deklar pimpinan sekolah kepada Airis setelah Mira menceritakan semuanya. Aku kemudian menyela pimpinan sekolah dan meminta izin untuk bicara berdua dengannya sebentar. Mereka semua keluar dari ruangan dan membiarkan aku berdua dengan pimpinan sekolah. Aku lekas meminta pimpinan sekolah untuk tidak mendrop out Airis dari sekolah hanya karena dia bekerja paruh waktu. "Tapi tuan Sin. Saya masih bisa memaafkan Airis bila ia bekerja paruh waktu, tapi dia itu telah menyerang anda selaku pimpinan Vinlard Corps secara fisik," ucap pria tua itu seakan-akan tidak terima dengan yang dilakukan Airis kepada diriku ini. "Wow, Siapa yang menduga jika alasan Airi di drop out adalah karena dia telah menamparku?" Khayalku dengan terkejut mendengar perkataannya. Aku mencoba menjelaskan bahwa, untuk saat ini aku hanyalah seorang siswa yang bernama Zager Sin, aku juga memberitahukan kepadanya kalau itu semua adalah murni kesalahanku yang tidak mengetahui peraturan sekolah umum. Ia kemudian terdiam sejenak mempertimbangkan kembali keputusannya. "Baiklah jika itu keinginan tuan Sin, saya sangat menghargai kebaikan tuan. Saya tidak akan mengeluarkan Airis dengan syarat tidak mengulangi perbuatannya kembali. Lagi pula dia adalah anak yang berprestasi jadi sangat disayangkan jika ia di drop out. Namun saya akan menskor Airis selama seminggu sebagai gantinya," tuturnya setelah mempertimbangan kembali keputusannya. "Baiklah tidak masalah," ucapku. "Satu hal lagi tuan Sin, sebenarnya kalian bertiga juga melanggar aturan karena telah menerobos masuk ke atap gedung sekolah,” terangnya yang sama sekali tidak dapat aku pahami maksud dan tujuannya. Aku terdiam menunggu penjelasan pimpinan sekolah.  “Begini tuan...... Jika saya tidak menghukum anda.... Saya akan...." Ungkapnya dengan takut jika aku marah. Begitu ya, alasan Mira membawa aku dan Rika ke sini adalah karena ini. Sepertinya yang diceritakan Mary itu benar, OSIS memang harus di waspadai. Dengan kata lain, akan timbul masalah baru jika aku sampai menolak hukuman ini. Namun aku sendiri mengerti kalau aku memang bersalah. Segerah setelah aku menyetujuinya, pimpinan sekolah memanggil kembali mereka semua. Wajah Airis yang semula berlinang air mata hilang ketika mengetahui kalau ia tidak jadi dikeluarkan. Mira terus menatapku ketika pimpinan sekolah meringankan hukumannya. Dia mungkin merasa bahwa ada sesuatu yang ganjil. Yah walaupun dia mengetahuinya, itu tidak akan jadi masalah karena kami memang tetap dihukum. "Hey, anak baru. Siapa namamu?" Tanya Mira padaku. Tentu saja aku memberitahukan nama samaranku padanya, yaitu Zager Sin. Ketua OSIS itu kemudian tersenyum dan berkata, kalau aku ini sungguh menarik kemudian pergi meninggalkan kami begitu saja. Aku tak mengerti apa maksud dari perkataannya itu. Tapi aku lega karena masalah yang aku timbulkan akibat provokasi ketua OSIS telah berhasil aku atasi. "Tidak tahu adalah buddha." Mungkin itu ungkapan yang sesuai dengan yang aku alami saat ini, lebih baik untuk tidak mengetahui kebenaran. Sepertinya sekali lagi, aku harus mengucapkan permintaan maaf pada Airis dan Rika dengan benar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD