Kekuatan doa

1070 Words
“kapan kau bisa mengambil jiwa menantuku itu?” Tanya pak Cokro kepada Lulun samak, sesembahannya. Malam itu pak Cokro kembali menemui Lulun samak itu sebelum putrinya kembali kerumahnya. “Kau terlihat sangat bernafsu sekali Cokro, nanti jika saatnya tiba. Kau harus membujuknya tetap tinggal dirumahmu, karena dengan begitu aku akan semakin mudah mengawasinya, aku sudah mengincar jiwanya, aku hanya tinggal menunggu sampai ia benar-benar lengah. Aku akan membawa jiwanya saat ia lupa berdoa.” Ucap Lulun samak itu. Pak Cokro juga mengerti bahwa Lulun samak itu tak bisa membawa atau mengambil jiwa orang yang selalu berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan, namun Lulun samak pasti akan setia menunggu sampai incarannya itu benar-benar lengah sampai lupa berdoa, dengan begitu Lulun samak itu akan mudah membawa jiwa manusia incarannya. Tapi kalau manusia itu berdoa sebelum melakukan aktivitas atau sebelum tidurnya, Lulun samak sama sekali tidak bisa mengganggunya, jangankan mengganggu, dekat saja rasanya sudah tidak kuat. Begitu penjelasan yang diungkapkan oleh Lulun samak itu kepada pak Cokro. Pak Cokro memang sangat ingin sebelum Wulan hamil, Candra sudah meninggal terlebih dahulu. Banyak rencana yang ingin pak Cokro lakukan setelah kematian Candra. Rencana yang paling utama adalah, pak Cokro ingin menjodohkan Wulan dengan anak temannya sesama pengusaha. “Lalu bagaimana jika dia tidak pernah lupa akan berdoa setiap harinya?” tanya pak Cokro. “Tidak mungkin, Cokro. Manusia adalah tempatnya lupa, mereka selalu lupa. Aku yang pernah hidup selama ribuan tahun tahu bahwa dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah dari sifat manusia mengenai kelupaan mereka.” Ucap Lulun samak itu. Si Lulun samak itu benar-benar yakin sekali bahwa suatu saat Candra pasti akan lupa berdoa. Ketika suatu saat menjelang tidurnya, Candra lupa berdoa, Lulun samak pasti akan mengajak jiwanya untuk tinggal bersamanya. Suatu saat jika Candra lupa berdoa sebelum berangkat berjualan, Lulun samak juga bisa mengambil jiwanya lewat kendaraan yang dikendarainya. Pak Cokro pun pulang kerumahnya dengan banyak pikiran yang menyelimutinya. Pak Cokro tak yakin bahwa Candra akan lupa berdoa. Diam-diam pak Cokro selalu memperhatikan Candra saat dirumahnya. Shalatnya tak pernah ketinggalan, Candra juga selalu berdoa setiap kali melakukan sesuatu. Sudah sejak kecil Candra terbiasa melakukan hal itu, jadi saat Candra tidak berdoa maka ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Berbeda dengan Wulan, pak Cokro sama sekali tak pernah menyuruh Wulan untuk beribadah atau melakukan ritual keagamaan lainnya seperti puasa di bulan ramadhan dan sebagainya, namun Wulan yang terbuka sendiri hatinya untuk melakukan hal itu. Sejak menikah dengan Candra pun Wulan juga menambah ibadanya. Awalnya shalat Wulan tidak pernah penuh dan selalu bolong, namun ketika menikah dengan Candra, shalat Wulan jadi rajin karena Candra sering mengajaknya untuk shalat berjamaah bersama dengan Wulan. Keesokan paginya, pak Cokro menyuruh para pembantunya untuk membersihkan kamar Wulan karena hari ini juga Wulan akan pindah kerumahnya lagi bersama dengan suaminya. Pagi itu, “Ade...., Kau tidurlah dikamarku, aku nitip ibu ya...,” ucap Candra sebelum meninggalkan rumahnya. “iya a, aa tenang saja.” Jawab Ade. Ade yang sudah dianggap seperti adik sendiri bagi Candra itu pun meyakinkan Candra akan menjaga rumah itu beserta ibunya. Ade juga merasakan kasih sayang seorang ibu yang dicurahkan oleh Bu Indah kepadanya. Walaupun Ade nantinya akan tinggal dirumah Candra, setiap hari setelah shalat subuh Candra akan keluar dari rumah pak Cokro untuk menggoreng ayam dirumahnya, jadi setiap hari Candra akan selalu berjumpa dengan ibunya. Walau Wulan senang akan tinggal dirumahnya lagi, namun Wulan juga merasa sedih karena harus berpisah dengan ibu mertuanya yang baik itu. “nak Wulan, jaga dirimu baik-baik ya, sering-sering datang kerumah ini ya nak. Jangan pernah kapok tinggal dirumah ini.” Ucap Bu Indah. “Wulan tidak pernah kapok Bu, Wulan sangat senang selama ini tinggal bersama dengan ibu.” Ucap Wulan penuh haru. Wulan pun membawa beberapa bajunya untuk dibawa kerumahnya lagi, sementara itu dirumah pak Cokro sudah memasak makanan untuk Wulan agar Wulan senang bisa kembali lagi kerumahnya. Wulan pun sudah sampai dirumahnya dan langsung memeluk ayahnya. “selamat pagi ayah...,” sapa Wulan dengan senyumannya. “Bagaimana kabarmu nak?” tanya pak Cokro sambil mengelus kepala putrinya. “Sangat baik ayah....,” ucap Wulan penuh semangat. Pak Cokro pun menyuruh Candra dan Wulan untuk masuk kedalam rumahnya. “kami sudah memasak untukmu nak, kau boleh mencicipinya saat makan siang nanti ya.” Ucap pak Cokro kepada putrinya. Wulan pun langsung bergegas kekamarnya yang sudah terlihat sangat bersih walau tak ditempati selama beberapa hari ini. Wulan langsung merebahkan tubuhnya dikasur, sementara Candra membereskan pakaiannya dan memasukkannya kedalam lemari milik Wulan. Wulan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Tampaknya Wulan sangat rindu dengan kamarnya. “Wulan..., Setelah ini aku harus mengunjungi anak-anak ditempat mereka berjualan terutama yang berjualan ditempat.” Ucap Candra. “iya mas..., Hati-hati ya...,” ucap Wulan yang saat itu langsung duduk sambil mencium pipi suaminya. Setiap hari Wulan melakukan hal itu saat Candra akan pergi bekerja. Wulan masih ingin menjalani masa pacaran bersama Candra karena selama pacaran dulu Candra sama sekali tak pernah memperlakukannya seperti pacar. Candra selalu menjaga jaraknya ketika bertemu dengan Wulan dan tidak memperlihatkan bahwa dirinya mencintai Wulan, namun kini sudah berbeda, setelah menikah Wulan selalu mendapat kata-kata romantis yang keluar dari mulut suaminya itu. Semenjak menikah juga Candra memperlakukannya dengan baik, tak pernah memaksa dan selalu memberi tahu saat akan melakukan sesuatu. Wulan mengantar Candra sampai kedepan rumahnya saat Candra akan mengunjungi para karyawannya. Wulan pun bergegas ke kandang kuda untuk melihat si putih kesayangannya. Dikandang kuda itu Wulan melepas rasa rindunya kepada kuda kesayangannya itu. Si putih juga nampaknya sangat rindu kepada tuannya itu. Tak lama saat Wulan bersama dengan kuda kesayangannya, datanglah pak Cokro. “nak..., Si putih beberapa hari ini tidak nafsu makan.” Ucap pak Cokro. “Iya ayah..., Mungkin dia rindu kepadaku.” Ucap Wulan sambil mengelus kepala kuda kesayangannya. “Bagaimana keadaan Bu Indah disana nak?” tanya pak Cokro. “bu Indah baik-baik saja ayah, beliau juga sehat seperti biasanya.” Ucap Wulan. “nak..., Bu Indah kan sekarang anaknya sudah menjadi pengusaha dan menantunya termasuk anak orang terkaya di desa ini. Kenapa Bu Indah masih mau bekerja di perkebunan kopi milik kita?” tanya pak Cokro. “iya ayah...., Itu yang Wulan herankan. Wulan juga sudah membicarakan hal ini kepadanya, tapi Bu Indah menolak untuk tidak bekerja, Bu Indah juga katanya kalau bingung jika tidak melakukan apa-apa karena sudah terbiasa bekerja.” Ucap Wulan. Banyak yang dibicarakan antara Wulan dan pak Cokro di kandang kuda termasuk rumah tangganya bersama dengan Candra. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD