Pak Cokro menjadi semakin berfikir mengenai calon tumbal selanjutnya. Tampaknya pak Cokro sendiri tak rela jika Candra yang dijadikan tumbal itu. Pak Cokro semakin tahu, lewat cerita-cerita yang keluar dari mulut Wulan bahwa putrinya itu sangat mencintai Candra baik fisik maupun batin. Pak Cokro bisa merasakannya setiap Wulan berbicara tentang suaminya itu. Pastinya jika Candra meninggal atau jiwanya hilang, Wulan akan sangat sedih dan pak Cokro tak bisa melihat putrinya sedih atas hilangnya jiwa suaminya. “Ayah...., Ayah....,” panggil Wulan kepada ayahnya. Wulan melihat pak Cokro sedang melamun diruang tamu memikirkan tentang nasib putrinya nanti. Seketika lamunan pak Cokro buyar saat mendengar suara putrinya memanggil namanya. “Ayah..., Ayah kenapa? Apa ayah sakit?” tanya Wulan. Sore menjelang magrib itu membuat pak Cokro berfikir keras. “ini tak bisa dibiarkan!” gerutu pak Cokro. “apa yang tak bisa dibiarkan, ayah?” tanya Wulan menyahut ucapan pak Cokro yang baru saja didengarnya. “Hah? Tidak nak....,” jawab pak Cokro salah tingkah. “Apa yang ayah sembunyikan dariku? Sepertinya ayah sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Wulan sambil menatap tajam mata ayahnya. “Tidak ada nak...., Tidak ada yang ayah pikirkan.” Ucap pak Cokro sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Pak Cokro tak ingin bicara lagi dengan Wulan agar dirinya tak kelepasan saat Wulan bertanya kepadanya. Pak Cokro juga tahu Wulan pandai mencari tahu sesuatu dari seseorang saat ia sedang penasaran.
Wulan pun melihat ayahnya yang tampak aneh, tak biasanya pak Cokro menghindari saat Wulan bicara. “Ada apa dengan ayah ya?” ucap Wulan bertanya-tanya. Wulan yang tak ingin memikirkan sesuatu yang disembunyikan ayahnya itu pun juga masuk kembali kedalam kamarnya. Sementara itu Wulan melihat suaminya yang sedang membaca kitab suci. Wulan pun tersenyum sambil duduk didepan suaminya yang sedang membaca kitab suci itu. Candra pun sejenak menghentikan bacaannya dan melirik istrinya. Candra melihat istrinya tersenyum manis didepan matanya. Candra pun menutup kitab sucinya dan memasukkannya kedalam lemari paling atas. “Kok sudah selesai mas?” tanya Wulan. “Karena ada bidadari yang sedang menggangguku.” Ucap Candra lalu mencium kening istrinya. Candra pun mencumbu istrinya namun Wulan menghindarinya, “nanti saja mas, setelah makan malam.” Ucap Wulan yang langsung mendorong tubuh suaminya dan sedikit berlari keluar kamar. Wulan pun menuju ke ruang makan untuk makan bersama ayah dan ibunya. Candra yang melihat tingkah polah istrinya itu pun tersenyum. Wulan selalu menggodanya ketika Candra sedang sibuk melakukan sesuatu dan meninggalkannya ketika Candra sudah tergoda. Candra pun mengikuti istrinya menuju ke ruang makan. Bisa makan setiap hari dan rutin makan sehari tiga kali membuat Candra semakin tambun. Perutnya semakin menggembung walau baru saja makan rutin sebulan lebih ini, atau semenjak menikah dengan Wulan. Biasanya Candra yang makan hanya sehari satu kali pun kini bisa makan sehari tiga kali dengan lauk yang berbeda-beda setiap sesi makanannya. Itulah berkah Candra selama menikah dengan Wulan, Candra tak pernah merasa lapar, namun terkadang Candra sedih saat Wulan tak habis memakan sesuatu dan membuangnya. Memang saat didepan kedua orang tuanya Candra tak langsung memberi tahu istrinya. Saat sampai didalam kamar, Candra mulai protes. “sayang...., Kita sebagai manusia harus selalu bersyukur, kita tak boleh membuang-buang makanan seperti yang baru saja kamu lakukan.” Ucap Candra lembut. “Aku sudah kenyang mas,” jawab Wulan dengan entengnya. “maksudku begini sayang, kau kan sudah dewasa, sudah menikah pula, kau adalah tanggung jawabku, kau bukan lagi tanggung jawab kedua orang tuamu. Kau tidak boleh membuang makanan seperti yang baru saja kau lakukan. Coba kau lihat, banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan, tapi kali malah membuang-buang makanan itu. Coba kalau kau berada pada posisi mereka, apa yang akan kau lakukan?” ucap Candra dengan suara agak meninggi. “Iya iya, begitu saja ribut!” ucap Wulan. “sayang..., Aku sebagai suamimu harus memberi tahumu apa yang tidak boleh kau lakukan. Memang kau belum pernah sama sekali hidup susah, jadi kau tak akan pernah mengerti. Tapi aku berpesa kepadaku, kalau kau masih menganggapku sebagai suamimu, kau tidak boleh membuang makanan seperti yang baru saja kau lakukan! Itu tidak baik. Ambil makanan sesuai porsimu, kalau kurang, kau bisa menambah lagi makananmu.” Ucap Candra lalu pergi meninggalkan Wulan sendirian dikamarnya. Candra pun keluar rumah menuju taman yang ada didepan rumah Wulan. Disana ada sebuah bangku untuk Candra duduk. Candra merasa bersalah karena telah memarahi istrinya. “aku sangat bodoh! Tak seharusnya aku berkata kasar kepada istriku sendiri!” ucap Candra sambil menepuk-nepuk kepalanya dengan kedua tangannya.
Sekitar dua jam lamanya Candra duduk dihalaman rumah pak Cokro. Pak Cokro keluar dari rumahnya untuk menemui Lulun samak sesembahannya, namun pak Cokro melihat menantunya sedang duduk dihalaman depan. “kenapa dia disana?” Tanya pak Cokro dalam hatinya. Pak Cokro lalu berjalan menghampiri Candra. “loh..., Ada apa Candra, kenapa malam-malam begini masih diluar rumah?” tanya pak Cokro. “Oh..., Bapak...., Tidak apa-apa pak, saya hanya ingin mencari angin saja.” Ucap Candra. “kau cari angin diluar rumahku karena kepanasan?” tanya pak Cokro heran. “Hmmmm...., Iya, ada maksud lain juga pak,” jawab Candra. “kau sedang bertengkar dengan putriku?” Tanya pak Cokro. “Tidak tidak..., Baiklah kalau begitu, saya masuk kedalam dulu.” Ucap Candra yang langsung berdiri dan masuk kedalam rumah. Pak Cokro pun tersenyum melihat tingkah menantunya itu. “kau tak akan bisa menyembunyikan apapun dariku!” ucap pak Cokro lalu berjalan pergi menuju danau untuk menemui sesembahannya.
Sampailah pak Cokro ditepian danau dan mulai membaca mantra pemanggil Lulun samak itu. Lulun samak itu langsung datang begitu pak Cokro memanggilnya. “ada perlu apa lagi Cokro?” tanya Lulun samak itu sambil memutar-mutar kan tubuhnya berenang di danau. “Apakah bisa jika Candra tidak jadi wadal selanjutnya?” tanya pak Cokro ragu. “Hhahahaha....., Manusia memang mudah berubah pikiran, lalu kalau bukan Candra siapa lagi? Kau?” tanya Lulun samak itu sambil tertawa lepas. Pak Cokro lalu menundukkan kepalanya. “Kemarin kau bernafsu sekali ingin menjadikan Candra tumbal selanjutnya, sekarang kau melindunginya. Apa yang sebenarnya berada dalam pikiranmu itu, Cokro?” tanya Lulun samak itu. “Maafkan hamba..., Sejak siang tadi hamba berbincang dengan putri hamba, setelah itu hamba jadi berubah pikiran. Biarkan saja putri hamba tetap bahagia dengan suaminya.” Ucap pak Cokro. “hahahaha...., Ternyata kau lebih sayang putrimu itu Cokro! Kau tahu Cokro! Kalau kau memberikan Candra sebagai wadalnya, bisa saja putrimu itu akan gila karena kehilangan suaminya.” Ucap Lulun samak itu. Lulun samak itu membuat pak Cokro semakin berfikir keras. Awalnya pak Cokro tak ingin menumbalkan Candra, namun kini pak Cokro berubah pikiran.