Enam bulan pernikahan

1046 Words
Pernikahan Candra dan Wulan sudah berjalan pada bulan keenam, namun belum ada tanda-tanda kehamilan pada Wulan. Wulan juga tampak takut kalau dirinya tak bisa memiliki anak. Namun Candra selalu menyemangati Wulan agar Wulan tetap berpikir positif terhadap Tuhan. Kalaupun hal itu terjadi, Candra pun berjanji tak akan meninggalkan Wulan. Bu Sekar berupaya untuk mengajak Wulan ke rumah sakit untuk memeriksakan Wulan dan juga Candra agar mereka sesegera mungkin memiliki anak. Candra dan Wulan berencana ingin mempunyai empat anak agar rumah mereka terlihat ramai. Wulan dan Candra memang merasakan rumahnya yang tampak sepi karena mereka sama-sama anak tunggal. Sampailah mereka dirumah sakit bersama dengan Bu Sekar. Bu Sekar ikut masuk kedalam ruang dokter saat Wulan dan Candra diperiksa. Setelah diperiksa, mereka menunggu diruang tunggu untuk menunggu hasil laboratorium rumah sakit itu. Candra dan Wulan saling menggenggam tangan sambil terus berdoa, “semoga kita baik-baik saja ya mas...,” ucap Wulan kepada suaminya. Candra pun mengelus kepala istrinya. Memang Candra tidak terbebani selama enam bulan ini menikah, hanya saja dia merasa tidak enak dengan mertuanya yang selalu menanyakan keadaan Wulan yang sampai sekarang belum hamil. “kalian semoga tidak ada masalah ya, semoga Wulan juga rahimnya sehat.” Ucap Bu Sekar. Wulan dan Candra pun saling tersenyum sambil menunggu hasil laboratorium. Akhirnya yang ditunggu pun telah datang, hasil dari pemeriksaan Candra dan Wulan pun keluar, “tidak ada masalah pada keduanya, mungkin kalian berdua hanya tinggal menunggu waktunya saja, saya akan memberikan vitamin agar kandungan Bu Wulan juga subur.” Ucap dokter itu. Mereka pun tampak bernafas lega karena tidak ada masalah pada mereka. Mereka pun pulang dengan hati yang gembira karena rahimnya sehat-sehat saja menurut pemeriksaan dokter. “bu..., Dulu ibu hamil ketika usia pernikahan berapa bulan?” tanya Wulan. “kalau dulu ibu usia pernikahan baru dua bulan, ibu sudah hamil. Kalau zaman dulu itu nggak tahu ya, cepet-cepet kalau hamil setelah menikah. Kalau zaman sekarang mungkin udah berbeda. Tapi kalian tidak ada niat menunda momongan kan?” tanya Bu Sekar. “tidak Bu...., Sama sekali tidak, kami sebenarnya sangat ingin segera punya anak, tapi nyatanya sampai sekarang belum mempunyai anak.” Ucap Wulan lalu menunduk. “sudah..., Sabar saja, nanti vitamin yang dari dokter rutin diminum ya nak.” Ucap Bu Sekar. Setiap hari Lulun samak itu selalu mengawasi Candra sampai Candra lengah. Lulun samak itu tak peduli dengan perasaan pak Cokro, jika saatnya Candra lengah, Lulun samak akan langsung mengambil jiwanya. Lulun samak itu pun sabar menunggu saat Candra benar-benar lengah sampai lupa berdoa. Sesampainya dirumah, pak Cokro pun menunggu mereka dan ingin segera mengetahui hasil tes antara Candra dan Wulan. “Wulan..., Bagaimana jika kita mengadakan syukuran atau doa agar kau segera memiliki anak? Atau kita mengadakan pesta rakyat agar semua orang mendoakanmu.” Ucap pak Cokro. “oh..., Iya ayah..., Aku lupa, aku pernah ingin mengadakan acara dengan para remaja kampung ini di bidang sosial, sampai sekarang belum Wulan urus kegiatannya. Mungkin itu yang menyebabkan belum hamil sampai hari ini.” Ucap Wulan. “Hmmm...., Bisa jadi nak, baiklah, mulai besok saja kau urus semuanya.” Ucap pak Cokro. “baik ayah..., Terima kasih sudah mengingatkan Wulan.” Ucap Wulan. “Sama-sama nak...,” ucap pak Cokro lalu mencium kening Wulan. Keesokan paginya, Wulan mulai mengumpulkan para remaja di kampungnya. Agak banyak remaja disana, sisanya banyak yang merantau di Jakarta dan juga ada yang di luar negeri. “adek-adek semuanya, kakak punya program untuk kita semua, kita akan mengadakan pesta rakyat setiap bulannya dan akan kakak sponsori sendiri. Kalau kalian ada yang bisa memasak, kalian bisa bantu-bantu atau juga kalian membantu mengantar makanan ini kepada warga sekitar. Ada yang tidak berkenan?” tanya Wulan. Semua remaja antusias mengikuti kegiatan ini, toh juga mereka tidak mengeluarkan uang sama sekali karena Wulan tahu mereka juga bagian dari masyarakat miskin itu. Selain mengadakan kegiatan sosial, Wulan juga mempunyai tujuan lain yaitu agar dirinya mendapat banyak doa pada masyarakat sekitar dan juga mengakrabkan para remaja di kampungnya. “kalian ini satu kampung, kalian harus melindungi satu sama lain dan juga membantu satu sama lain. Jangan ada yang bertikai disini.” Ucap Wulan. Wulan memang mengenal mereka, para remaja yang antusias mengikuti kegiatan sosial. Wulan pun meminta data kepada Asep agar Wulan bisa mengira-ngira seberapa ia harus memasak. Rencana kali ini adalah, Wulan ingin setiap rumah harus mendapat minimal dua kotak makanan karena biasanya satu rumah jumlahnya lebih dari satu. Para remaja wanita juga membantu memasak, mereka para remaja desa juga bisa memasak. “Hari ini kita masak makanan sederhana saja ya, yang penting lauknya enak, hahaha......,” ucap Wulan. Hari ini Wulan memasak opor ayam dan juga nasi. Semua bumbu sudah Wulan siapkan untuk membuat makanan itu. Ayam-ayam itu juga Candra yang membelikannya karena Candra juga menjual ayam goreng. Para remaja yang berkumpul itu dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menanak nasi, menyiapkan bumbu dan juga memasak opor ayam. Sambil memasak, mereka juga saling bercanda dan saling mengenal satu dengan lainnya. Para remaja laki-laki seperti biasa, mereka memang suka menggoda para wanita yang sedang serius memasak. Terkadang mereka sampai ada yang berlarian. Wulan pun tersenyum melihat tingkah para remaja itu. Itung-itung Wulan juga mengenalkan satu dengan yang lainnya. Setelah selesai memasak, Para remaja itu pun memakan makanannya sambil berbincang bersama, “untuk keluarga kalian, kalian boleh mengambil beberapa sesuai kebutuhan kalian ya adik-adik.” Ucap Wulan. Mereka semakin antusias dan Wulan mengatakan bahwa setiap rumah harus kebagian makanan yang dimasak mereka. Baru hari pertama memulai kegiatan ini, Wulan pun mendengar banyak cerita dari mereka sampai mereka sesekali tidak bisa makan pada suatu hari karena mereka sama sekali tidak mempunyai uang. Mendengar cerita itu pun, Wulan berinisiatif agar para remaja itu mempunyai kegiatan yang bisa membuat mereka produktif. Seketika Wulan ingin membuka sebuah minimarket agar para warga berbelanja di minimarket Wulan. Wulan akan mengajak para remaja bekerja dengan mereka. Konsepnya yang terpenting tidak menggangu aktivitas mereka disekolah. Wulan akan memberlakukan sistem partime untuk mereka. Tapi tentu saja hal itu harus ia bicarakan kepada suami dan juga ayahnya sebagai orang pemberi modal utama. Remaja di kampung Wulan tidak seberapa jumlahnya, jadi itu tidak membuat Wulan merasa tanggung jawab lebih besar lagi. “kalau sudah selesai makan, kalian ikut mengemas ya, nasinya kira-kira segini, ayo yang lainnya juga mengemas opor ayam kedalam plastik.” Ucap Wulan mengkoordinir para remaja itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD