Satu bulan setelah Wulan melakukan kegiatan sosial bersama para remaja itu, Wulan pun dikabarkan tengah hamil. Tentu saja semua orang yang ada dirumah sangat antusias dan bahagia mendengar kabar kehamilan Wulan. Wulan sangat bersyukur atas karunia ini, begitu juga dengan Candra. “Wulan..., Jaga kandungan kamu baik-baik, alangkah baiknya jika sekarang kamu tidak berkuda, kalau mau ke perkebunan naik mobil saja.” Ucap pak Cokro. “Iya ayah...., Wulan akan jaga kandungan ini.” Ucap Wulan kepada ayahnya. Bagi Wulan, kegiatan sosial itu membawa dampak yang baik bagi kehidupannya, dengan begitu Wulan bisa mendapatkan anugerah kehamilan yang selama ini didambakannya.
Usia kandungan rentan keguguran itu dimanfaatkan Wulan untuk mencari-cari makanan yang baik sesuai dengan wanita yang sedang hamil muda. Bu Sekar pun langsung memberi Wulan makanan yang mengandung asam folat agar janin dalam kandungan Wulan tetap sehat. Wulan yang tidak menyukai buah alpukat, kini ia harus memakannya seperti yang telah dikatakan oleh ibunya. Namun semenjak Wulan hamil, ada yang berubah dari dirinya. Ia yang tidak menyukai alpukat, kini bisa memakan dan menjadikan alpukat sebagai makanan favoritnya. Pada awal kehamilan, Wulan memang sering mual muntah, namun hal itu bisa diatasinya walau tubuhnya agak sedikit lemas. Wulan agak merasa malas saat harus memeriksa keuangan perkebunan yang selalu dilaporkan untuknya.
Sementara itu, di istananya, Lulun samak mencium bau darah segar. “hmmm...., Darah siapa ini?” tanyanya kepada dayang-dayangnya. Lulun samak itu sejenak tahu bahwa darah segar itu berasal dari rahim Wulan. Lulun samak itu tak kuat menahan hasratnya untuk mengambil darah segar itu. “Hmmmm...., Darahnya lebih nikmat dari darah Candra. Ini benar-benar segar.” Ucapnya sambil tertawa. Lulun samak itu pun berencana untuk mengambil janin itu tanpa memberi tahu pak Cokro terlebih dahulu. Lagi pula pak Cokro tak mungkin marah atas peristiwa ini asalkan Lulun samak itu memberikan uang lebih di brangkasnya. Namun bukan hanya janin dalam kandungan Wulan, Candra pun tetap menjadi incarannya. Sampai sekarang pun Lulun samak itu masih mengawasi Candra dimanapun Candra berada sampai dirinya lupa tidak berdoa.
Mengingat pak Cokro yang telah mengorbankan anaknya yang masih berada didalam kandungan Bu Sekar, janin dalam kandungan Wulan statusnya hanya seorang cucu, pak Cokro tak akan menyesal terlalu lama. Lulun samak itu tahu bahwa pak Cokro adalah orang yang mendewa-dewakan uang, setelah Lulun samak itu mengambil janin dalam kandungan Wulan, sudah pasti Lulun samak itu akan memberikan segepok uang di brangkas pak Cokro yang sama sekali tak ada habisnya.
Malam itu, pak Cokro kembali menemui Lulun samak itu. Entah kenapa pak Cokro merahasiakan kehamilan Wulan dan tidak membicarakan tentang kehamilan Wulan kepada Lulun samak itu. Pak Cokro sendiri merasa trauma dengan kejadian yang pernah terjadi di masa lampau ketika anaknya yang belum lahir sudah digadaikan menjadi tumbal atas keinginannya menjadi orang kaya raya dikampungnya. Lulun samak itu berlagak seolah tidak tahu dengan kebahagiaan yang baru saja terjadi pada keluarga pak Cokro. “Cokro..., Belilah satu lagi brangkas untuk menyimpan uang-uangmu. Nampaknya tak akan cukup jika aku memberinya pada brangkas itu.” Ucap Lulun samak itu. Pak Cokro pun langsung menyetujui hal itu dan akan langsung membeli brangkas lagi. “tapi ingat Cokro, jangan kau isi brangkas barumu itu dengan uang-uangmu, biarkan tetap kosong.” Ucap Lulun samak itu. Pak Cokro juga akan menyatujui hal itu. Pak Cokro selalu patuh kepada Lulun samak itu sesuai dengan apa yang telah diperintahkannya. Pak Cokro akan membelinya besok pagi.
Setelah berbincang dengan sesembahannya, pak Cokro pun pulang dengan hati yang sangat gembira. Di perjalanan menuju rumahnya pak Cokro selalu tersenyum karena membayangkan dirinya akan segera menimang cucu. Sebentar lagi rumahnya akan terasa ramai dengan suara tangisan bayi yang lahir dari dalam perut putrinya. Sesampainya didalam rumah, pak Cokro juga mengingat masa kecil Wulan yang penuh dengan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Bayangkan saja, lima kali Bu Sekar hamil, yang berhasil menjadi anak sampai dewasa hanya Wulan saja, keempat anaknya telah menjadi tumbal atas kekayaannya. Pak Cokro pikir dengan tidak memberi tahu Lulun samak itu bahwa putrinya tengah hamil membuat janin yang berada didalam kandungan Wulan aman. Namun tidak seperti itu, setiap hari, setiap waktu, setiap detik, lulun samak itu selalu mengawasi kegiatan yang dilakukan keluarga pak Cokro termasuk dengan aktivitas intim lainnya. Lulun samak itu selalu mengetahui apapun yang dilakukan orang didalam rumah itu.
Malam itu Candra dan Wulan saling berpelukan, mereka semakin saling menyayangi semenjak Wulan hamil anak pertamanya. Namun malam itu Candra bermimpi ada seorang kakek-kakek berbaju serba putih memberi tahunya bahwa anaknya berada dalam bahaya. “Hati-hati nak..., Anakmu yang dikandung istrimu berada dalam bahaya, hanya kau yang bisa menolongnya, lindungilah anakmu sendiri.” Ucap kakek tua berbaju putih itu. Belum sempat bertanya, Candra langsung bangun dari tidurnya. Tubuh Candra gemetar dengan keringat bercucuran dikeningnya. Perlahan Candra pun melepas lembut pelukan istrinya karena Candra ingin shalat sunah tahajud disambung sampai subuh tiba. Candra memikirkan mimpinya yang baru saja terjadi. “Siapa kakek tua itu?” tanyanya dalam hati. Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Candra. Walau hanya sekedar mimpi, Candra pun melihat kearah perut istrinya. Perut istrinya semakin membesar, itu artinya bayi yang dikandung Wulan sehat dan berkembang secara normal. Setelah subuh, Candra pun membangunkan istrinya dengan mengelus lembut kepalanya, “sayang, sudah subuh, ayo bangun.” Ucap Candra lembut. Wulan pun membuka matanya, “mas..., Selamat pagi...,” sapa Wulan sambil menguap. Candra pun menutup mulut istrinya yang sedang menguap itu. “Selamat pagi, kamu shalat subuh dulu ya sayang, doakan anak kita supaya baik-baik saja dan juga sehat. Mas pergi dulu kerumah ibu, mau menyiapkan ayam untuk dijual nanti.” Ucap Candra. “Ya mas..., Hati-hati ya mas,” ucap Wulan sambil mencium punggung tangan suaminya. Candra pun juga mencium kening istrinya sebelum berangkat bekerja.
Begitulah rutinitas setiap hari yang dilakukan oleh Candra. Wulan pun sangat bahagia semenjak hamil, suaminya semakin memperhatikannya dan lebih memperlakukannya dengan lembut sehingga Wulan merasa sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya itu. Wulan pun pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh sebelum memulai aktivitasnya. Setiap pagi sebelum makan nasi, Wulan selalu menyantap tiga butir kurma muda. Buah itu juga saat ini menjadi buah kesukaan Wulan semenjak dirinya hamil. Saat buah itu mulai habis, Wulan akan meminta kepada Bu Sekar untuk membelikannya lagi.