Mimpi buruk

1063 Words
Bayi dalam kandungan Wulan sudah menjadi incaran Lulun samak. Bila sudah tiba saatnya, janin itu akan diambil langsung dari perut Wulan sebelum lahir. Candra sudah di ingatkan oleh kakek tua misterius yang hadir dalam mimpinya. Walau Candra tak mengenal kakek itu, tapi kakek itu adalah leluhur dari Candra yang pernah menjadi tetua di kampungnya pada zaman dahulu. Terkadang Candra ingat akan mimpi itu, namun terkadang Candra juga tak menghiraukan mimpinya itu. Sementara itu, Candra menceritakan mimpinya kepada istrinya, namun Wulan juga tak menganggap mimpi itu serius. “Mimpi hanya sebuah bunga tidur mas..., Tidak perlu kau pikirkan seperti itu. Lihat anakmu ini mas .., dia adalah bayi yang sehat.” Ujarnya. Candra pun berhenti memikirkan mimpinya, tapi disuatu malam, Wulan juga bermimpi bahwa bayinya hidup didalam kaca seperti sebuah akuarium, namun Wulan tak bisa menyentuhnya karena terhalang oleh pilar kaca yang begitu tinggi dan besar. Wulan berusaha memecahkan kaca itu, tapi dirinya tak bisa melakukannya. Saat itu Wulan pun terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Wulan melihat kearah suaminya. Candra masih tertidur lelap dan tidak tahu jika Wulan bangun pada tengah malam itu. Wulan lalu mengambil segelas air putih yang tidak jauh dari tempatnya tidur, namun saat Wulan ingin meminum air itu, tiba-tiba gelasnya terjatuh kelantai sampai membuat Candra terbangun dari tidurnya. Melihat istrinya berkeringat dan panik, Candra pun langsung menenangkannya. “Ada apa sayang?” tanya Candra sambil memeluk istrinya. “Aku ingin minum mas, tapi gelasnya terjatuh.” Ucap Wulan. “Baiklah..., Kau disini saja, jangan kemana-mana biar aku yang menyapu semua serpihan gelas ini.” Ucap Candra langsung keluar dari kamarnya dan mengambil sapu dan pengki. Candra kembali lagi kekamarnya untuk menyapu serpihan gelas kaca itu dan membuangnya ke tempat sampah. Candra pun juga memastikan tidak ada pecahan gelas yang tertinggal disana. “Sayang..., Lain kali hati-hati ya.” Ucap Candra sambil mencium kening istrinya lalu kembali membaringkan tubuhnya. Wulan ingin bercerita kepada suaminya mengenai mimpinya yang terasa nyata baginya. Namun Wulan mengurungkan niatnya sambil membelai perutnya yang semakin membesar. Wulan pun memeluk suaminya lalu kembali memejamkan matanya. Wulan berharap tidak akan ada sesuatu atau hal buruk terjadi kepada bayi yang saat ini sedang berada dalam kandungannya. Keesokan paginya, Wulan pun memilih untuk melupakan mimpinya, toh bayi yang ada dalam kandungannya benar-benar sehat dan kandungannya kuat. “ayah..., Ayah mau kemana?” tanya Wulan saat melihat ayahnya sedang memanasi mobilnya. “Oh..., Ini ayah mau membeli brangkas baru. Kau mau ikut?” tanya pak Cokro. “boleh saja ayah..., Wulan juga bosan dirumah terus.” Jawabnya. “kalau begitu bersiap-siaplah. Jangan lupa beri tahu suamimu ya nak,” Ucap pak Cokro. Wulan pun mengangguk sambil masuk kedalam kamarnya. Wulan mengganti bajunya yang sekiranya lebih nyaman dengan perutnya. Pak Cokro kali ini yang menyetir mobilnya menuju tempat penjual brangkas. Saat didalam mobil juga Wulan dan pak Cokro banyak berbincang mengenai bisnis-bisnis yang akan dijalankan Wulan terutama untuk membantu para remaja dikampungnya. “memangnya bisnis apa yang ingin kau jalankan nak?” tanya pak Cokro. “Wulan juga tidak tahu, Ayah. Namun seketika Wulan pernah terbesit ingin membangun sebuah minimarket dan akan mempekerjakan mereka, para anak-anak remaja di kampung kita ini.” Ucapnya. “Hmmm...., Bagus juga idemu, begini saja, kau cari tanahnya, nanti ayah yang mengurusnya.” Ucap pak Cokro. “Sebentar ayah..., Kita jangan terburu-buru, Wulan sama sekali tidak tahu managemen atau sistem di sebuah minimarket atau supermarket itu seperti apa, Wulan harus belajar terlebih dahulu.” Ucap Wulan. “begini saja, kita cari tanahnya dulu, setelah itu kita bangun dan mulai mencari manager yang berpengalaman pada bidangnya, sambil belajar juga sambil praktek.” Ucap pak Cokro. “Baiklah Ayah..., Ayah selalu saja mempunyai solusi atas semua masalah Wulan. Ayah..., Terima kasih ya, ayah selalu saja membantu Wulan.” Ucapnya. “kau kan putri ayah satu-satunya, kau pantas mendapatkan semua yang kau inginkan, nak. Ayah hanya berpesan, jaga kandunganmu baik-baik, kami semua menantikan kelahirannya.” Ucap pak Cokro. Sementara itu, hari ini Candra tak fokus berjualan, mimpi yang pernah dialaminya selalu teringat kepadanya. “Apa mimpi itu sebuah firasat ya?” tanyanya dalam hati. Candra berusaha untuk melupakan mimpinya, namun selalu teringat kembali dengan mimpi itu. Candra pun berniat untuk pulang lebih awal dari biasanya. Candra ingin beristirahat dirumahnya sendiri walau hanya sejenak. Walau Candra merasa nyaman tinggal dirumah pak Cokro, namun perasaan Candra terkadang tidak enak. Walau rumah pak Cokro besar dan juga setiap kamar ada AC, Candra selalu merasa kepanasan saat malam. Candra pun merasakan rumah itu terasa singup. Candra juga merasa ketika berada didalam rumah seperti ada yang melihat aktivitasnya. Pernah saat itu, pukul dua malam Candra ingin membuat segelas kopi hangat. Candra pun bergegas masuk kedalam dapur. Pada bagian dapur rumah pak Cokro ada sebuah jendela dengan kaca berwarna putih. Candra seperti melihat sesuatu disana, namun saat Candra mengedipkan matanya, sesuatu itu hilang entah kemana. Candra memang tak pernah takut, namun ia merasa risih karena setiap apa yang dilakukannya dirumah itu dirinya seperti sedang diawasi. Pernah suatu kali Candra lupa membaca doa saat akan kekamar mandi, saat itu juga Candra seakan merasa ada sesuatu yang menjegalnya, namun saat Candra melihat kearah sekitar, tidak ada satupun benda atau apapun itu menghalangi langkahnya. Seketika Candra ingat bahwa dirinya lupa membaca doa akan masuk kamar mandi. Saat itu pun Candra langsung meminta maaf kepada Tuhan dengan cara istighfar berkali-kali. Saat itu sebenarnya Lulun samak sedang menggoda Candra. Lulun samak itu ingin agar Candra sedikit celaka pada saat itu. Untung saja Candra bisa mengimbangi tubuhnya jadi saat itu wajah Candra tak mengenai bak mandi. “Tuhan masih melindungiku.” Ucapnya pada saat itu. Kejadian aneh satu persatu Candra alami namun Candra tak mempermasalahkan atau memperdulikan hal itu. Semua terjadi atas kecerobohan sendiri karena dirinya baru saja tinggal dirumah yang belum pernah ditempatinya. Candra sedang mengingat saat itu didalam rumah ibunya sendiri. Ketika Candra sedang melamun, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata itu dari istrinya yang sedang video call. “halo mas..., Aku sedang bersama ayah, mas kalau pulang jangan lupa makan siang ya,” ucap Wulan sambil tersenyum. Terlihat semburat wajahnya yang tampak bahagia. Candra pun berfikir semenjak menikah dengan Wulan, Candra belum pernah sama sekali mengajak Wulan berjalan-jalan seperti yang ayahnya lakukan itu. “jaga diri baik-baik ya, sayang. Aku sedang dirumah ibu untuk beristirahat sejenak, mungkin nanti setelah isya aku pulang ya sayang.” Ucap Candra. Mereka pun mengakhiri video call mereka dan Candra melanjutkan mengingat kejadian janggal dirumah mertuanya itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD