Bulan ini usia kandungan Wulan memasuki bulan kedua, semalam juga Candra bermimpi didatangi lelaki tua sama seperti sebelumnya. Kakek itu juga berkata kepada Candra untuk menjaga anaknya baik-baik didalam kandungan istrinya. Candra pun bangun dari tidurnya lalu melihat istrinya yang sedang tertidur lelap disampingnya. Candra pun memegang perut istrinya dengan lembut sambil mengelusnya. “Sehat-sehat didalam perut ibumu ya nak..., Ayah janji setelah kau lahir nanti ayah akan menyayangimu sepenuh hati ayah.” Ucap Candra. Mendengar suara Candra bicara dengan perutnya, Wulan pun bangun dan membuka matanya. Wulan lalu melihat jam dinding, saat itu jam sedang menunjukkan pukul 03.00 pagi. “Mas...., Kenapa bangun pagi-pagi begini?” tanya Wulan. Candra pun langsung duduk disebelah istrinya sambil menceritakan mimpinya, maka dari itu ia langsung memegang perut istrinya dan memastikan anaknya masih baik-baik saja didalam kandungannya. “Anak kita baik-baik saja mas, kita jangan berisik, nanti mengganggunya.” Bisik Wulan. Candra pun tersenyum mendengar bisikan istrinya lalu mengecup kening istrinya. Candra dan Wulan pun kembali tidur.
Keesokan paginya, Candra bergegas kerumahnya untuk menyiapkan dagangannya. Candra tak berusaha mengingat mimpi itu, tapi mimpi itu selalu terngiang-ngiang di pikiran Candra. Pukul lima pagi, anak buah Candra sudah berkumpul dirumah Candra untuk membantunya menggoreng ayam. Candra pun menceritakan mimpinya kepada teman-temannya. “Tapi kandungan Teh Wulan baik-baik saja kan A?” tanya salah seorang karyawannya. “Iya.. , dia baik-baik saja.” Ucapnya. Salah satu karyawan Candra itu merasa ada yang ganjil dengan cerita Candra. “mungkin orang tua itu ingin mengingatkan Aa Candra untuk lebih menjaga teh Wulan.” Ucap karyawan itu. “Sudah..., Aa Candra tenanglah, banyak-banyak berdoa saja agar anak Aa Candra baik-baik saja.” Ucap salah seorang karyawan lainnya menenangkan Candra. Candra mempunyai lima karyawan, semuanya masih berusia muda dan yang paling muda adalah Ade, namun ada seorang karyawan yang tahu bahwa Wulan sedang diikuti oleh makhluk halus yang ingin mengambil janinnya. Namun orang itu hanya diam tak memberi tahu kepada Candra. Ia bermaksud untuk tidak mencampuri urusan keluarga Candra. Ia tahu bahwa kekayaan pak Cokro itu didapat dari memuja. Ia juga tahu bahwa pak Raharjo meninggal akibat dari kemarahan makhluk itu karena tak bisa membunuh Candra. Ia tahu Candra akan baik-baik saja, namun tidak dengan istri dan juga bayinya yang masih berada dalam kandungan. “Umang..., Umang..., Umang!” ucap Candra memanggil namanya. “Eh..., Iya, Aa, ada apa A?” tanya Umang. Umang yang saat itu sedang melamun memikirkan majikannya itu pun seketika buyar karena Candra memanggil namanya sedikit membentak. “ada apa? Kenapa pagi-pagi begini wajahmu tampak sedang memikirkan sesuatu? Apa kau masih mempunyai masalah?” tanya Candra. “Tidak A..., Tidak ada masalah apa-apa.” Jawabnya. “kalau begitu, fokuslah dalam bekerja, jika ada masalah aku pasti bisa membantumu.” Ucap Candra. Umang pun hanya tersenyum kecil saat Candra berusaha menghiburnya. Umang mencuri-curi pandangan kepada Candra. Dirinya merasa kasihan terhadap Candra yang telah masuk kedalam perangkap pak Cokro karena menikahi putrinya.
Candra pun melakukan aktivitas seperti biasanya yaitu berdagang ayam goreng keliling kampung dari satu kampung ke kampung lainnya. Candra pun setiap saat menelepon istrinya untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja bersama dengan anaknya yang masih berada didalam kandungannya. Candra pun tampak lega ketika mendengar bahwa istrinya baik-baik saja. “mimpi itu hanyalah mitos.” Ucapnya dalam hati. Seakan-akan mimpi itu tak ada artinya bagi Candra. “cepatlah pulang mas..., Anakmu ini ingin segera bertemu dengan ayahnya.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Candra pun juga tersenyum mendengar candaan Wulan. Memang sejak saat Wulan hamil, dirinya menjadi sedikit lebih manja kepada suaminya.
Candra pun pulang kerumah pak Cokro setelah selesai berdagang. Sampai didalam rumah, Candra langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Sementara itu, Wulan setia menunggu Candra selesai beres-beres lalu mengajaknya makan siang. Wulan sangat ingin mengungkapkan sesuatu, namun dirinya agak sedikit ragu. Candra yang melihat gerak-gerik Wulan yang terlihat bingung pun lantas bertanya, “sayang..., Ada apa denganmu? Nampaknya kau agak sedikit bingung, apa kau sakit atau ada masalah lainnya?” tanya Candra. “Mas..., Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku ingin mas Candra selalu ada disampingku.” Ucapnya sambil memeluk suaminya. Candra pun membalas pelukan istrinya. Candra agak sedikit bingung dengan sikap istrinya yang kadang sangat gembira, kadang sedih, terkadang juga marah tanpa sebab. “memangnya kenapa sayang?” tanya Candra sambil menuntun Wulan untuk duduk tepian kasur. Wulan pun langsung menyandarkan tubuhnya di bagian depan tubuh Candra. “mas..., Aku takut jika ada apa-apa terjadi kepadamu.” Ucap Wulan sambil sesenggukan. Candra pun berusaha mengusap air mata Wulan agar tidak jatuh membasahi pipinya. “sayang..., Dengar..., Dengarkan aku. Aku tidak akan apa-apa, tidak akan ada hal buruk menimpaku.” Ucap Candra meyakinkan istrinya. “mas..., Entah mengapa akhir-akhir ini aku teringat kata-kata setan itu, mas masih ingat setan itu yang pernah kita lihat didanau?” tanya Wulan. “iya..., Mas sangat ingat sekali, tapi untuk apa kita mempercayai setan? Setan tidak bisa dipercaya, lebih baik kau banyak-banyak berdoa agar suamimu ini selalu dilindungi yang maha kuasa, ya sayangku?” ucap Candra sambil memegang kedua pipi Wulan. Candra pun mengecup kening Wulan beberapa kali untuk menenangkan istrinya. Candra pun sebenarnya juga sedang risau dan memikirkan bayi dalam kandungan istrinya. Sudah dua kali mimpi itu datang lagi kepadanya sampai membuatnya berpikir yang tidak-tidak dan belum tentu terjadi hal yang tidak diinginkan kepada anaknya yang masih berada didalam kandungan istrinya. “Sayang..., Ayo temani mas makan siang, perut mas sudah sangat lapar.” Ucap Candra. Candra tak ingin istrinya berpikir tentang keburukan yang belum tentu terjadi kepadanya, kalaupun itu terjadi bagi Candra itu adalah sebuah takdir dan yang terpenting tidak ada roh jahat yang mengganggu anak dan juga istrinya.
Setelah Candra menyelesaikan makanannya, Candra mengajak Wulan untuk duduk didalam kamar saja agar Wulan terhindar dari hal-hal yang buruk yang tidak ia inginkan. Rumah mereka tampak sepi karena siang itu pak Cokro dan Bu Sekar sedang berada di peternakan dan juga di perkebunan kopi. Didalam kamar mereka duduk diatas kasur sambil berbincang. Wulan juga mengutarakan mengapa dirinya melarang Candra untuk bekerja dan lebih baik menemaninya saja. Hal itu dikarenakan Wulan merasa takut didalam kamar sendirian. Selain takut, Wulan juga merasa kesepian karena kedua orang tuanya juga sibuk bekerja. “baiklah kalau begitu, untuk menemani istriku, aku akan menggoreng dan menyiapkan dagangan saja, biar anak-anak saja yang berjualan.” Ucap Candra kepada istrinya. Wulan tampak tersenyum karena bisa membujuk suaminya untuk tetap dirumah saja menemaninya.