Bulan ketiga kandungan Wulan, Wulan yang bermimpi didatangi seorang lelaki tua dan menyuruhnya untuk menjaga kandungannya. Karena menurut mereka hal itu sudah tak masuk akal, Wulan dan Candra pun bermaksud menceritakan hal ini kepada Bu Indah, ibu Candra. Bu Indah yang merupakan orang yang percaya dengan pesan lewat mimpi itu pun langsung sedikit marah dengan keduanya, “kenapa kalian bisa merahasiakan mimpi itu? Kenapa kalian tak menceritakan kepada ibumu ini, nak!” Ucap Bu Indah meledak-ledak. Bu Indah tampak panik dengan mimpi Candra dan Wulan itu. “begini saja, besok kita pagi-pagi sekali berangkat menuju rumah guru spiritual ayah Candra. Perjalanannya kira-kira memakan waktu sampai tiga jam lamanya sampai empat jam. Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepada kandungan istrimu.” Ucap Bu Indah. Karena hari itu sudah pukul sembilan malam, Candra dan Wulan pun pulang kerumah pak Cokro. Malam itu tepat malam Jumat Kliwon. Suasana dikampung mereka sangat sepi mencekam. Beberapa kali burung gagak berkeliaran terbang kesana kemari dan hampir ada burung gagak yang menabrak Wulan. Wulan agak sedikit takut karena tak biasanya malam itu burung gagak berkeliaran dikampung mereka. Setelah sampai didalam rumah, Wulan pun langsung menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Burung gagak itu masih berkeliaran kesana kemari mengelilingi rumah Wulan. Wulan langsung masuk kedalam kamarnya dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimutnya. Wulan tertidur berbaring menghadap jendela. Dari jendela itu Wulan melihat ada sosok menakutkan semakin mendekat kearah jendelanya, Wulan pun berteriak-teriak memanggil nama suaminya yang sedang berada didalam kamar mandi. “mas...., Mas....,” Wulan menutupi matanya dengan bantalnya. Mendengar suara teriakan Wulan, Candra pun langsung keluar dari dalam kamar mandi. Candra langsung memeluk Wulan yang tampak terlihat ketakutan, “ada apa sayang? Apa yang terjadi kepadamu?” tanya Candra panik. “Mas..., Mas....,” Wulan tetap menangis dengan mata terpejam sambil tangannya menunjuk ke arah jendela. Candra pun menengok ke arah jendela, tak ada apapun disana. “sayang...., Coba kau lihat, lihatlah, tidak ada apa-apa disana.” Ucapnya. Wulan pun memberanikan diri menatap jendela itu namun tak melihat apapun. Setan itu sudah pergi. “Sekarang berbaringlah, aku akan menutupi jendela itu dengan tirai.” Ucap Candra. Candra pun juga berbaring disamping istrinya sambil memeluknya.
Akhirnya mereka pun tertidur dengan suara burung gagak yang selalu berisik mengitari rumah mereka. Sekitar pukul dua belas malam, Wulan merasakan perutnya yang sangat sakit sampai bangun dari tidurnya. “mas! Perutku mas....., Aduh mas....., Sakit mas....,” ucap Wulan. Candra yang langsung bangun dari tidurnya pun membangunkan kedua mertuanya untuk meminta solusi atas masalah mereka. “Ayah..., Ibu...., Apa yang terjadi dengan Wulan? Tiba-tiba ia merasa kesakitan pada perutnya.” Ucapnya. Pak Cokro dan Bu Sekar pun langsung bergegas kekamar Wulan melihat Wulan yang sedang kesakitan sambil memegang perutnya. Bu Sekar langsung memeluk putrinya untuk menenangkannya. “memangnya tadi dia makan apa, Candra?” tanya pak Cokro. “Tidak ada makanan apa-apa yang baru saja dimakannya, ayah. Wulan makan seperti biasanya.” Jawab Candra. Pak Cokro pun panik, beberapa kali beliau menelepon dokter untuk datang kerumahnya, namun mengingat kembali bahwa dokter itu tak mungkin bisa langsung kerumahnya. Akhirnya pak Cokro menyuruh Asep untuk menghubungi seorang mantri puskesmas di kampung sebelah, mungkin hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit saja.
“ayah....., Perutku sakit Yah...., Yah...., Tolong Wulan.” Suara Wulan merintih menahan sakit diperutnya. Bu Sekar seakan teringat masa lalu saat hamil keempat kakak Wulan. Bu Sekar juga merasakan sakit yang hebat diperutnya sampai janin dalam kandungannya pun hilang. “jangan-jangan....,” Bu Sekar tak ingin berpikiran negatif terhadap putrinya yang akan mengalami nasib seperti dirinya. Saat Wulan sedang merintih kesakitan, tiba-tiba kasur mereka penuh dengan darah yang keluar dari kewanitaan Wulan. “pak lihat, Wulan pendarahan.” Ucap Bu Sekar. Bu Sekar pun menangis, bayi Wulan tak mungkin bisa selamat lagi. Setelah keluarnya darah itu, Wulan pun tak merasakan kesakitan lagi di perutnya. Akhirnya mantri puskesmas itu datang kerumah mereka dan langsung memeriksa keadaan Wulan. “Ibu..., Bapak..., Semuanya, bayi dalam kandungan Wulan tidak bisa diselamatkan lagi.” Ucap mantri puskesmas itu dengan nada seperti kecewa. Wulan pun menangis menyesali dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga anak dalam kandungannya itu. Semua orang sedih atas meninggalnya bayi Wulan yang masih berada didalam kandungannya. Wulan menangis sejadi-jadinya karena telah kehilangan bayinya, begitu juga dengan Candra yang menangis dan menyesal. Candra selalu memeluk istrinya dan menguatkan hati istrinya. Candra pun menyesal karena tak menghiraukan mimpinya yang telah memberi tahunya untuk menjaga bayi dalam kandungan istrinya. Kini setelah tahu maksudnya, Candra pun menyesalinya, begitupun dengan istrinya yang tampak sedih telah kehilangan anak dalam kandungannya.
Keesokan paginya, Bu Indah pun berkunjung kerumah pak Cokro karena ingin mengajak mereka pergi ke rumah guru spiritual ayah Candra untuk meminta syarat agar kandungan Wulan selalu dilindungi. Namun saat Bu Indah berkunjung kerumah pak Cokro, terlihat semua orang menangis disana karena gugurnya kandungan Wulan. “Ibu....,” ucap Wulan sambil merentangkan tangannya seperti ingin dipeluk Bu Indah. “sabar ya nak..., Semua sudah digariskan oleh yang maha kuasa.” Ucap Bu Indah menenangkan hati menantunya. “bu..., Apakah Wulan tidak pantas mempunyai seorang anak?” tanya Wulan sambil sesenggukan. “hushh..., Siapa yang bilang seperti itu? Tidak ada seorang wanita yang tidak pantas menjadi ibu. Sudah jangan menangis, setelah ini jika kau hamil lagi, kau harus lebih melindungi anakmu lagi ya, nak.” Ucap Bu Indah sambil mengecup ubun-ubun Wulan.
Bu Indah merasa sangat kecewa karena kemarin setelah Candra dan Wulan bercerita, Bu Indah tak langsung mengajak mereka untuk pergi kerumah guru spiritual pak Raharjo. Itulah seberkas penyesalan yang terjadi dalam diri Bu Indah. “Harusnya hari itu kita berangkat ya nak, tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi.” Ucap Bu Indah kepada anak dan juga menantunya itu. “Ini juga salah Candra, Bu. Candra tak menghiraukan mimpi itu yang sebenarnya ingin memberi tahu Candra bahwa akan ada hal seperti ini yang membuat kita sangat sedih.” Ucap Candra sambil menitihkan air matanya.
Pak Cokro juga merasa sangat sedih atas gugurnya bayi dalam kandungan Wulan secara tiba-tiba. Namun dalam kesedihan itu, pak Cokro rasanya ingin sekali membuka brangkas kosong yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu. Perlahan pak Cokro membukanya dan tersentak melihat isi brangkas kosongnya yang kini penuh dengan uang. Seketika pak Cokro tahu bahwa cucunya telah ditukar oleh sejumlah uang. Pak Cokro pun menangis karena dirinya menurut saja ketika Lulun samak itu meminta pak Cokro untuk membeli brangkas yang baru. Ternyata brangkas itu digunakan Lulun samak untuk memberi uang-uang itu kepada pak Cokro, namun sebagai gantinya adalah nyawa anak Wulan.