Pak Cokro pun malam hari itu menemui sesembahannya. Pak Cokro datang dengan kemarahan atas diambilnya nyawa cucunya. “Iya Cokro..., Tapi kan aku memberikan imbalan yang pantas untukmu.” Ucap Lulun samak itu dengan enteng. Rasanya pak Cokro ingin marah, namun pak Cokro tak berani melakukan hal itu. Di sisi lain pak Cokro sedih karena telah kehilangan cucunya yang menyebabkan putrinya menjadi murung, namun disisi lain pak Cokro masih membutuhkan uang untuk memperkaya dirinya sendiri. “Ya..., Aku memang masih membutuhkan uang, namun tidak begitu juga caramu mengambil paksa calon cucuku itu. Aku sunggu kasihan dengan putriku, setiap hari dia menangis meratapi anaknya yang telah tiada.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro seakan menyesal karena dirinya tidak tahu bahwa Lulun samak itu mengincar cucunya. “Kau menyesali hal itu? Kau tidak menyetujui cucumu menjadi wadal? Kau memang egois, Cokro! Kau juga tak memikirkan para orang tua yang anaknya telah kau jadikan tumbal demi kekayaan itu.” Ucap Lulun samak itu dengan matanya yang melotot. Melihat Lulun samak itu seakan marah, pak Cokro langsung meminta ampun dan tak akan menyalahkan Lulun samak itu lagi, namun pak Cokro harus memikirkan caranya lagi bila Wulan hamil cucunya.
Pak Cokro pun pulang dengan sedikit sesal pada dirinya sendiri. Pak Cokro merasa kasihan dengan Wulan. Setelah keguguran, Wulan selalu termenung sendirian dan terkadang menangis sendiri. Pak Cokro bermaksud untuk membawanya ke psikolog untuk mengobati jiwanya yang sedang gusar, namun pak Cokro harus meminta ijin terhadap suami putrinya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Candra, Candra juga menyesali semuanya karena tak menghiraukan mimpinya. Kakek itu sebenarnya ingin memberi tahu Candra, namun Candra yang tidak mengerti. “aku sangat bodoh! Aku bodoh sekali!” ucap Candra berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk kepalanya dengan kedua tangannya. Namun nasi sudah menjadi bubur, mereka sudah kehilangan anak yang berada dalam kandungan Wulan. Kini tidak ada lagi wajah ceria pada wajah Wulan. Wulan hanya termenung semenjak kepergian anak yang masih dikandungnya.
Keesokan paginya, pak Cokro berencana untuk membawa putrinya menuju ke psikolog agar Wulan tak lagi menyalahkan dirinya saat kehilangan anaknya. Candra sebagai seorang suami pun menyetujui hal itu dan ikut juga ke tempat dimana Wulan akan dibawa. Wulan pun tetap ikut saja kemana pak Cokro dan suaminya akan membawanya. Wulan yang biasanya cerewet, kini berubah menjadi seorang wanita pendiam, pemikir dan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Tatapan matanya kosong dan terkadang air mata keluar membasahi pipinya. Wajah Wulan terlihat pucat karena sejak keguguran, Wulan tidak mau makan teratur. Badannya terasa lemas dan tak mempunyai semangat untuk hidup. Walau Candra selalu menghiburnya, Wulan tetap saja teringat jika dirinya pernah keguguran.
Sampailah mereka ke tempat psikolog yang lumayan termasyur di kota itu. Candra pun menuntun istrinya untuk bertemu dengan psikolog itu. Wulan pun berkenalan dengannya. “kau siapa?” tanya Wulan. “aku temanmu...,” ucap psikolog itu ramah. Wulan pun mengingat siapa wanita yang sedang duduk didepannya itu. Awalnya Wulan memang tak mau menceritakan masalahnya, namun lama-kelamaan setelah melakukan pendekatan, Wulan pun mau menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada dirinya. Wulan selalu menyesal karena tak becus menjaga anak dalam kandungannya itu. Wulan juga merasa nyaman telah mengungkapkan semuanya kepada orang yang menjadi temannya itu.
Baru pertama diajak ke psikolog, Wulan sudah terlihat berbeda, kini dirinya sudah mau berbincang dengan suami dan juga ayahnya. Psikolog itu menyarankan pengobatan selanjutnya sampai Wulan benar-benar sembuh dan kembali menjadi dirinya sendiri. “terima kasih Bu..., Kalau begitu kami mohon pamit.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro lalu membawa Wulan pergi pulang kerumah. Saat diperjalanan, Wulan mulai membicarakan psikolog itu bahwa ia merupakan teman yang baik dan memberi solusi atas apa yang selama ini menjadi beban dalam hidupnya. “sekarang Wulan sudah ikhlas?” tanya pak Cokro. “iya ayah...., Apa yang telah menjadi takdirku, ia akan selalu bersamaku, benar kan ayah?” ucap Wulan. Pak Cokro lalu mengangguk sambil melemparkan senyumnya. Perubahan yang signifikan membuat pak Cokro antusias bahwa putrinya akan sembuh seperti sedia kala. Pak Cokro pun berencana jika nanti Wulan hamil lagi, pak Cokro akan menyuruh Wulan dan Candra untuk tinggal dirumah Bu Indah saja. Lulun samak itu pernah berkata bahwa ia tak bisa masuk kedalam rumah Candra karena rumah itu sudah terpagar secara gaib. Bukan hanya Lulun samak, setan apapun tak bisa masuk kedalam rumah itu, bukan hanya itu, Candra juga selalu membaca kitab suci ketika sedang berada dirumahnya. Bu Indah juga melakukan hal yang sama. Walau rumah Candra kecil, tapi Wulan merasa tentram ketika tinggal dirumah Candra. Hal itu sangat berbeda ketika Wulan tinggal dirumahnya sendiri yang terkadang membuatnya trauma. “Ayah..., Aku ingin kerumah Bu Indah, ayah mau mengantarku?” tanya Wulan. “baiklah nak..., Kita langsung kerumah Bu Indah ya...,” ucap pak Cokro.
Sampailah mereka menuju rumah Bu Indah, Bu Indah pun sudah berada dirumah dan menyambut menantunya itu pulang, sementara itu pak Cokro juga pamit untuk pulang kerumahnya. “ayo masuklah nak...,” ucap Bu Indah. Mereka berbincang dan Bu Indah menawari Wulan makanan, “nak..., Ingin makan apa? Nanti ibu yang masak.” Tanya Bu Indah. “Wulan ingin yang segar Bu, sayur asem ikan asin ya Bu.” Ucapnya. Baru kali ini Wulan meminta dimasakkan makanan itu. Biasanya Wulan hanya mengikuti saja. Bu Indah pun langsung menuju ke dapurnya untuk memasak sesegera mungkin demi untuk menantunya itu. Candra juga membantu menggoreng ikan asin agar Wulan bisa segera memakan makanan yang baru saja dimintanya. “Candra..., Buatlah satu lagi kamar agar kalian bisa tetap menginap disini. Walau rumah Wulan itu besar, namun rumah itu juga membawa Wulan pada masa ketika dirinya keguguran.” Ucap Bu Indah. “baiklah Bu...,” jawab Candra. Candra selalu mematuhi ucapan ibunya itu karena Candra tahu bahwa ibunya lebih berpengalaman dari dirinya.
Makanan sudah siap, Candra dan Bu Indah membawa makanan untuk dihidangkan diruang tamu. Wulan tak sabar ingin memakannya, “sepertinya sangat segar.” Ucap Wulan. “Cicipi saja nak, semoga kau menyukainya.” Ucap Bu Indah sambil tersenyum. Wulan pun mulai memakan makanan itu dan menikmatinya. Baru kali ini setelah kepergian anaknya, Wulan pun bisa tersenyum dan makan dengan lahap. “Bu? Apa aku boleh menghabiskan makanan ini?” tanya Wulan. “hmm..., Tentu saja nak, kau boleh menghabiskan semuanya. Apa ibu perlu memasaknya lagi?” tanya Bu Indah. “Tidak Bu..., Ini saja.” Jawab Wulan. Wulan pun masih lahap memakan nasi sayur asam dan juga ikan asin itu.