Ikhlas

1045 Words
Hari demi hari, kesehatan Wulan sudah kembali pulih. Wulan juga sudah mengikhlaskan kepergian anak yang pernah hadir dalam rahimnya. Wulan menganggapnya yang lalu sebagai pelajaran bahwa dirinya harus mengikhlaskan sebuah titipan untuk pergi meninggalkannya. Wulan juga kini sudah menjalani aktivitas seperti biasanya dan sudah kembali ceria lagi. Sementara itu, Candra meminta izin kepada istrinya akan menemui guru spiritual almarhum ayahnya. “Mas saja yang berangkat bersama dengan ibu ya, nanti bila kita diberi rezeki dan kamu hamil lagi, aku janji akan mengenalkanmu dengan guru spiritual bapakku.” Ucap Candra. “Baiklah mas..., Hati-hati mas, bawalah mobil pemberian ayah ya mas, daripada harus naik angkutan umum.” Ucap Wulan. Candra pun hanya mengangguk pelan ketika istrinya menyuruhnya membawa mobil. Sebelum keberangkatan Candra, Wulan mencium punggung tangan suaminya dan juga ibu mertuanya saat melepas kepergian Candra. Candra pun berangkat bersama dengan ibunya naik mobil yang diberi oleh pak Cokro hadiah pernikahan Candra dan Wulan. Candra menyetir dengan hati-hati didampingi sang ibu yang duduk disampingnya. “Candra sama sekali tidak tahu kalau bapak punya guru spiritual Bu. Kenapa ibu baru memberi tahu Candra sekarang?” tanya Candra. Candra tak pernah mengenal guru spiritual ayahnya karena ayahnya sendiri tak pernah memperkenalkannya. “iya..., Bapakmu memang sangat jarang kesana, mengingat jaraknya juga sangat jauh.” Ucap Bu Indah. Saat didalam mobil, banyak perbincangan antara Candra dan juga ibunya termasuk membicarakan Wulan yang saat ini keadaannya semakin membaik. Empat jam lamanya mereka menempuh perjalanan dari rumah menuju kerumah guru spiritual pak Raharjo waktu dulu. Candra pun tiba disana, “bu..., Dimana rumahnya? Ini hanya pondok.” Ucap Candra tampak bingung karena pondok itu begitu besar dan juga mempunyai halaman yang luas. “ini pondok sekaligus rumah guru spiritual ayahmu.” Jawab Bu Indah. Bu Indah pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah pondok itu sedangkan Candra hanya mengikutinya. Terlihat banyak sekali santri yang melihat ke arah mereka. Rumah sang guru berada dibelakang pondok yang sangat megah itu. Rumahnya tampak sederhana dan tidak sebesar pondok itu. “Mbak..., Bisa saya bertemu dengan Abah Salim?” tanya Bu Indah sopan. “Ibu ini siapa? Dari mana?” tanya seorang santri kepada Bu Indah. “Saya istrinya pak Raharjo dan ini putra saya, Candra. Tolong sampaikan bahwa kami ingin sekali bertemu dengan Abah. Bisa mbak?” tanya Bu Indah. “sebentar Bu..., Saya telepon dulu ya Bu, sepertinya Abah sedang ada tamu.” Ucap santri itu. Bu Indah dan Candra pun dengan sabar menunggu keputusan santri itu. Setelah santri itu selesai berbicara lewat telepon, santri itu lalu mengantar Bu Indah dan Candra untuk masuk kedalam rumahnya. Bu Indah dan Candra memberi salam kepada seorang lelaki paruh baya. Orang-orang biasa memanggilnya dengan kata Abah. “bu Indah..., Bagaimana kabarnya?” tanya Abah Salim ramah. “Langsung saja Abah, kami kemari ingin memberi tahu Abah bahwa mas Raharjo sudah meninggal sudah lebih dari empat puluh hari yang lalu.” Ucap Bu Indah mulai bercerita. “innalilahi wa innailaihi rajiun. Kenapa tidak ada yang memberi tahuku mengenai hal ini?” tanya Abah itu penuh sesal. “maafkan kami Bah, kami juga bingung bagaimana cara mengabari Abah, maka dari itu setelah meninggalnya suamiku, saya langsung menyempatkan waktu untuk datang kemari.” Ucap Bu Indah. “baiklah..., Sudah tidak apa-apa, yang terpenting keluarga ikhlas, semua nyawa adalah titipan. Banyak-banyaklah berkirim doa untuk suamimu itu, karena hanya itu yang beliau butuhkan saat ini.” Ucap Abah Salim. “Kami sudah mengikhlaskan kepergian mas Raharjo, Bah. Selain itu, ada yang ingin kami ceritakan kepada Abah mengenai hal ganjil yang menimpa putraku ini, Bah.” Ucap Bu Indah. “Ceritakan saja, kalau ada hal yang bisa ku nanti, pasti aku membantumu.” Ucap Abah Salim. Bu Indah pun menceritakan apapun hal ganjil yang tengah terjadi kepada keluarga mereka semenjak Candra menikah dengan Wulan. Abah Salim pun mulai menerawang kehidupan Candra setelah menikah. Abah Salim juga berterus terang bahwa kekayaan yang mertuanya punya adalah kekayaan dari hasil memuja makhluk gaib. Sontak Bu Indah dan Candra pun kaget mendengar penjelasan Abah Salim. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Abah Salim, namun itulah yang terjadi. Abah Salim juga bercerita bahwa Candra adalah target selanjutnya, namun setan itu tak bisa mengambil jiwa Candra karena Candra selalu berdoa setiap akan melakukan sesuatu. “Nasi sudah menjadi bubur, Candra, minumlah air ini dan berikan air ini kepada istrimu agar istrimu juga meminumnya. Semoga istrimu segera hamil lagi untuk mengobati rasa pedih dalam hatinya. Ingatlah satu hal bahwa rumah yang saat ini kau tempati itu sangat berbahaya. Kalau suatu saat istrimu hamil, kau tinggalkan saja dirumah ibumu atau kau tinggal dimana saja, tapi lebih aman dirumah ibumu saja, tinggalkan rumah pak Cokro. Kalau kau tidak melakukan itu, istrimu tidak akan mempunyai waktu untuk melahirkan seorang anak karena anak itu akan selalu menjadi wadalnya.” Ucap Abah Salim panjang lebar. Candra pun mengangguk menuruti ucapan Abah Salim. Setelah bertemu dengan Abah Salim, Candra pun pamit pulang kerumahnya. Bersama dengan ibunya Candra membawa sebotol air untuk diminumkan kepada istrinya. Air itu berisi air putih yang sudah diberi doa untuk melindungi Wulan dari gangguan jin. Abah itu juga berpesan agar Wulan membaca doa terlebih dahulu sebelum makan dan sesudah makan. Setiap pagi Abah Ali juga menyuruh Wulan agar meminum segelas air putih yang sudah dibacakan surat alfatihah sebanyak tujuh kali. Saat perjalanan pulang menuju rumahnya, Candra pun berbicang dengan ibunya lagi. “Candra tidak akan merahasiakan apapun dari ibu lagi, maafkan Candra, Bu. Candra tak menganggap serius mimpi itu, Candra pikir mimpi itu hanya bunga tidur semata.” Ucapnya menyesali semuanya. “Sudahlah..., Jangan menyesali semua yang sudah terjadi. Mau menyesal atau tidak, anakmu juga tak kan kembali lagi. Jadikan semua ini pelajaran.” Ucap Bu Indah. Memang benar apa yang dikatakan Abah Salim kepada Candra dan Bu Indah. Mereka tidak akan bisa menghentikan pak Cokro untuk tidak menyembah selain Allah, namun mereka bisa menghindarinya. Setelah tahu bahwa pak Cokro kaya dengan cara memuja, Candra pun menyuruh ibunya untuk berhenti bekerja di perkebunan kopi yang dikelola oleh Bu Sekar. “bu..., Bagaimana caraku memberi tahu Wulan agar dia tidak tersinggung ya?” tanya Candra. “hmm..., Kau ajaklah dia bicara baik-baik tanpa menyalahkan ayahnya. Karena ibu lihat Wulan sangat menyayangi ayahnya, dia pasti tidak akan percaya bahwa ayahnya telah melakukan hal itu.” Ucap Bu Indah memberi saran. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD