Berbunga-bunga

1132 Words
“ayah..,” sapa Wulan yang masih duduk diatas kuda dan berusaha untuk turun dan berlari menghampiri ayahnya. Setelah dekat dengan ayahnya, Wulan pun memeluk ayahnya itu. “Tuan putriku.” Ucap pak Cokro sambil mencium kening Wulan. Sementara itu Candra mengikat kuda kesayangan Wulan itu dipohon. “Kenapa kau bisa bersama putra pak Raharjo itu?” tanya pak Cokro. “Oh..., Bukan apa-apa ayah, dia yang membantuku tadi mengangkat pemberian warga sebagai ucapan terima kasih karena aku telah membuatkan fasilitas kamar mandi umum untuknya.” Ucap Wulan. “lalu..., Putri ayah ini menerima pemberian warga kampung?” tanya pak Cokro. “iya ayah..., Tapi nanti Wulan akan memberikannya lagi kepada warga kampung yang mau membantu membangun kamar mandi umum itu.” Ucap Wulan. “baguslah..., Ayo kita duduk disana, ayah ingin tahu, kenapa tuan putri ayah ini sampai datang ke peternakan. Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya pak Cokro. “Tidak ayah..., Wulan hanya ingin melihat sapi-sapi ayah yang sangat gemuk dan terawat ini.” Ucap Wulan sambil tersenyum. Candra melihat dari kejauhan keakraban antara Wulan dan juga pak Cokro itu. Candra tampak terharu dengan kasih sayang yang diberikan pak Cokro kepada putrinya itu. “Mana mungkin pak Cokro akan menerimaku, sementara beliau sangat menyayangi putrinya itu. Tidak mungkin pak Cokro mau berbesan dengan bapakku yang hanya bekerja sebagai buruh dipeternakan ini.” Ucap Candra kepada dirinya sendiri. Setelah mengikat kuda milik Wulan, Candra pun pergi meninggalkan kuda itu dan langsung menyiapkan rumpun untuk makanan sapi-sapi milik pak Cokro itu. Sampai di tumpukan rumput, disana sudah ada Wagiman, teman Candra yang sangat perhatian kepada Candra. “Can..., Bagaimana keadaan bapakmu?” tanya Wagiman. “Bapak masih dirumah sakit Man. Doakan saja yang terbaik buat bapakku ya.” Ucap Candra kepada sahabatnya itu. “oh iya Can..., Berita kedekatanmu dengan putri bos kita ini sudah sampai ke pelosok desa ini. Apakah kau tidak mendengarnya?” tanya Wagiman. “Tidak..., Aku belum pernah mendengar kabar itu.” Ucap Candra agak kaget dengan pemberitahuan Wagiman itu. “Kalau menurutku, benar kamu menjauh saja dari anak bos itu. Bisa-bisa kamu dan kedua orang tuamu dikeluarkan dari pekerjaan ini. Tentu saja hal itu akan merugikan keluargamu. Kedua orang tuamu yang tidak tahu apa-apa jadi terkena imbasnya.” Ucap Wagiman kepada Candra. Candra lalu berfikir lagi dan mengurungkan niatnya untuk mengutarakan perasaannya kepada Wulan, anak orang paling kaya didesa itu. Setelah mempersiapkan rumput-rumput ituz Candra pun pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Candra membaringkan tubuhnya dikasur kamarnya. Rumahnya tampak sepi dikarenakan kedua orang tuanya masih berada dirumah sakit. Candra membaringkan tubuhnya sambil menatap atap kamarnya yang tanpa terbit itu. Candra memikirkan sesuatu tentang perasaannya itu. Candra berfikir, dirinya harus menahan rasa cintanya itu kepada Wulan. “Candra Candra..., Kamu itu jatuh cinta juga kenapa dengan anak bosmu sendiri? Kenapa kamu tidak jatuh cinta saja kepada gadis desa lainnya? Kenapa harus anak bos itu.” Ucap Candra kepada dirinya sendiri. Malam itu Candra masih terjaga karena baru saja menyelesaikan sholat isya. Baru saja Candra meletakkan sajadahnya, rumah Candra itu pun diketuk oleh seseorang. “siapa?” tanya Candra. “Ini Wulan...,” ucap Wulan didepan pintu rumah Candra yang tampak reyot itu. Sebelum membuka pintu rumahnya, Candra berkata kepada dirinya sendiri, “kenapa kau malah kemari, aku sedang berusaha untuk menghapus perasaanku kepadamu.” Candra pun bergegas membuka pintu rumahnya. Candra melihat Wulan datang bersama supir pribadinya, kang Asep. “Ada apa kau kemari?” tanya Candra setelah membuka pintu rumahnya. “Aku boleh masuk?” tanya Wulan. “Kita duduk diluar saja, dirumah sedang tidak ada siapapun. Aku tidak enak jika ada orang melihat dan nantinya akan timbul fitnah antara kita berdua.” Ucap Candra yang duduk di bangku persis didepan rumahnya. Sementara kang Asep menunggu Wulan didalam mobil. Kang Asep tahu bahwa Wulan mencintai Candra, terlihat dari cara Wulan menceritakan Candra dan ingin tahu kegiatan Candra selama di peternakan dan juga selama Candra dirumah. Wulan lalu memberikan makanan kepada Candra, “makanlah..., Aku tahu kau pasti belum makan.” Ucap Wulan sambil menyodorkan plastik. “Aku sudah terbiasa tidak makan malam.” Jawab Candra. “Kalau begitu kau boleh memakannya besok pagi.” Ucap Wulan. “aku juga tidak terbiasa sarapan pagi.” Jawab Candra. “yasudah! Buang saja makanan itu!” ucap Wulan sambil meletakkan bungkusan itu di bangku depan rumah Candra. Wulan lalu pergi meninggalkan Candra dengan emosi karena Candra secara halus menolak pemberiannya. “tunggu..., Tunggu sebentar...,” ucap Candra yang langsung menangkap tangan Wulan agar Wulan tidak secepat itu pergi kemobilnya. Wulan lalu menghentikan langkahnya, Wulan melihat tangannya yang untuk pertama kalinya dipegang oleh Candra. Wulan menatap tangannya yang masih digenggam Candra. Candra yang melihat hal itu pun lalu melepaskan genggaman tangannya, “maaf..., Maafkan aku, aku tidak bermaksud melecehkan dirimu.” Ucap Candra lalu menundukkan pandangannya. Wulan pun menahan senyumnya dan berkata dengan ketus kepada Candra. “apa yang kau inginkan?” tanya Wulan. “temani aku makan malam ya..., Agar kau tahu bahwa pemberianmu sangat berharga bagiku.” Ucap Candra kepada Wulan. Wulan yang mendengar suara Candra yang sedang memohon kepadanya itu pun tampak senang dan kembali duduk di bangku didepan rumah Candra. Candra lalu mengambil dua piring dan sendok, siapa tahu Wulan juga ingin makan bersamanya. Wulan pun juga membantu Candra membuka bungkusan itu. “kau makanlah.. , aku sudah makan sebelum aku kemari.” Ucap Wulan. Makan ditemani oleh wanita secantik Wulan membuat jantung Candra berdetak kencang. Untung saja Wulan tidak mendengar suara detak jantung Candra. Kalau Wulan bisa mendengar, sudah pasti Candra akan merasa malu karena jantungnya berdetak sebegitu kencangnya. Sambil menemani Candra makan, Wulan pun mulai berbicara. “Kau bersabarlah..., Ayahmu sudah pasti akan segera sembuh.” Ucap Wulan memberi semangat kepada Candra. “Iya..., Terima kasih ya, kau begitu perhatian kepada anak buahmu ini.” Ucap Candra. “Candra..., Aku ingin bicara banyak hal kepadamu. Tapi aku rasa malam ini tidak tepat waktunya. Kita bicara besok saja ya.” Ucap Wulan sebelum berpamitan meninggalkan rumah Candra. Candra juga tidak menahan Wulan untuk pulang kerumahnya. Wulan lalu kembali kemobilnya dengan menatap Candra yang masih berada didepan rumahnya. “ayo jalan kang.” Ucap Wulan kepada supirnya itu. “Bagaimana non? Sudah puas bertemu dengan Candra?” tanya Asep yang memang sudah tahu bahwa majikannya itu menyukai Candra. “sudah kang. Kang..., Apakah kang asep tahu kisah cinta Candra disini? Apakah Candra pernah menyukai atau mencintai seseorang atau pernah menjalin hubungan dengan dengan gadis dikampung ini?” tanya Wulan. “saya tidak pernah melihat Candra berpacaran dengan siapapun non..., Yang saya tahu Candra hanya bekerja, bekerja dan bekerja saja non.” Ucap Asep, supir Wulan. “oh iya kang..., Jangan ceritakan hal ini kepada ibu atau ayah ya kalau saya kerumah Candra.” Ucap Wulan. “baik non Wulan.” Jawab Asep masih terus menyetir menuju rumah Wulan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD