Selesainya pembangunan kamar mandi umum

1064 Words
Saat ini, pembangunan sumur bor dan juga kamar mandi umum untuk warga sudah selesai. Dengan hal itu, kini Wulan menjadi buah bibir di kalangan warga dan semua orang memuji kebaikannya karena sudah membuatkan kamar mandi untuk para warga. Banyak warga yang mengusulkan Wulan untuk menjadi kepala desa yang dipilih langsung oleh warga. Wulan tapi tidak menginginkan hal itu. Tujuan Wulan membangun kamar mandi umum itu hanya untuk membantu warga dikarenakan Wulan merasa prihatin dengan warga yang telah tenggelam kedanau yang dianggap sebagai sumber kehidupan para warga itu. Nama Wulan sudah terkenal sampai ke desa lainnya karena atas jasanya membuat kamar mandi umum untuk warga sekitar. Acara syukuran karena sudah jadinya kamar mandi umum itu juga sudah digelar. Wulan pulang kerumah dengan menaiki kudanya. Siang itu Wulan sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya untuk makan siang bersama. Wulan mengatakan bahwa sebelum pulang kerumah, Wulan memakan masakan yang dimasak warga untuk dimakan bersama di area kamar mandi itu. Wulan lalu masuk kedalam rumahnya dan duduk dimeja makan untuk menemani kedua orang tuanya makan siang, Wulan pun menceritakan kebahagiaannya bisa membantu para warganya. Para warga desa juga sangat berterima kasih kepada Wulan dengan cara memberikan hasil panen mereka kepada Wulan. Wulan mendapat banyak sayuran, singkong, ketela dan masih banyak lagi jenis lainnya. “ayah..., Ibu..., Setelah ini Wulan boleh kan rutin membuat pesta rakyat?” tanya Wulan kepada kedua orang tuanya. “setiap hari nak?” tanya Bu Sekar. “Tidak Bu..., Mungkin sebulan sekali.” Ucap Wulan. “Iya boleh nak..., Anak ayah ini memang sangat berhati lembut. Sesuai dengan namanya.” Ucap pak Cokro membanggakan putrinya. “Oh iya Bu..., Yah..., Para warga desa malah menyuruh Wulan untuk menjadi kepala desa didesa ini. Wulan tentu saja langsung menolak.” Ucap Wulan. “Loh..., Kenapa ditolak nak?” tanya pak Cokro. “Wulan tidak mau Yah..., Nanti Wulan tidak bisa bebas dan semua kegiatan Wulan tentunya pasti akan disorot oleh warga.” Ucap Wulan. “hahaha..., Putri ayah ini.” Pak Cokro tertawa mendengar alasan Wulan ini. Setelah selesai makan, Wulan pun masuk kekamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Seharian ini Wulan memang agak sibuk dikarenakan pembukaan kamar mandi umum itu. Karena kamar mandi itu berada didekat danau, pak Cokro yang awalnya tidak setuju dengan permintaan Wulan pun akhirnya menyetujuinya. Wulan menatap kearah langit-langit kamarnya. Saat makan siang tadi, Candra yang meladeninya mengambilkan nasi tumpeng kepada Wulan. Candra juga mengambilkan Wulan minuman. Kejadian manis itu membuat Wulan tersenyum-senyum sendirian didalam kamar. Wulan sangat nyaman berada didekat Candra. Bagi Wulan, Candra adalah seorang yang membuatnya nyaman ketika berada didekatnya. Wulan juga merasa bahwa Candra juga menyukainya. Wulan menunggu Candra mengungkapkan isi hatinya kepada Wulan suatu saat nanti. Walah nanti hubungan mereka berakhir hubungan tanpa status, tentu itu juga membuat Wulan senang asalkan Candra berada didekatnya seperti siang tadi ketika peresmian kamar mandi umum itu. Setelah menyelesaikan mandi dan mengganti pakaiannya, Bu Sekar masuk kekamar Wulan untuk memberikannya segelas es s**u agar putrinya itu lebih relaks. “sayang..., Ibu boleh masuk?” tanya Bu Sekar dari luar kamar Wulan. Wulan yang awalnya sedang duduk dimeja riasnya pun langsung berdiri membukakan pintu kamarnya. “Ibu..., Kok tumben ibu yang membawakan s**u. Mbak Minah kemana Bu?” tanya Wulan. “Iya..., Memang ibu sengaja kok nak.” Ucap Bu Sekar. “Lalu dimana ayah?” tanya Wulan. “ayahmu sedang berkunjung kerumah pak Raharjo, beliau baru saja pulang dari rumah sakit.” Ucap Bu Sekar. “Hah? Kenapa Candra tidak memberi tahuku?” Wulan bergumam tapi Bu Sekar mendengar nama Candra keluar dari mulut putrinya itu. “Apa? Candra? Kenapa dia harus memberi tahumu? Apa hubungannya?” tanya Bu Sekar dengan senyumnya. Sebagai ibu kandung yang merawat Wulan dari Wulan kecil, Bu Sekar sudah tahu saat putrinya itu sedang jatuh cinta kepada pria. “tidak Bu..., Tidak...,” jawab Wulan mengelak. “Nak..., Rencanamu untuk memberi makan warga kampung setiap sebulan sekali apakah ingin segera kau laksanakan?” tanya Bu Sekar. “iya..., Tentu saja ibu. Wulan ingin menggerakkan para remaja warga kampung ini agar mau bergerak di kegiatan sosial terutama di kampung kita yang sebagian masyarakatnya menengah kebawah.” Ucap Wulan. “Iya nak..., Kalau ayahmu kan biasa memotong sapi untuk warga desa setiap setahun sekali. Sudah dua puluh lima tahun ini ayahmu melakukan hal itu.” Ucap Bu Sekar. “iya Bu..., Kalau Wulan nanti tidak harus masak daging kok Bu. Wulan nanti bisa masak porsi besar apa saja, tergantung dari hasil panen para warga.” Ucap Wulan. “loh..., Tidak semata-mata uangmu nak?” tanya Bu Sekar. “Iya..., Wulan mau memberi contoh pakai uang Wulan dulu Bu. Nanti kalau sudah banyak remaja yang tertarik, Wulan akan menggerakkan mereka di bidang sosial. Bu..., Kalau di Jakarta, anak-anak muda sangat aktif mengikuti kegiatan sosial. Wulan sangat prihatin disini para remaja bahkan tidak peduli dengan area sekitar.” Ucap Wulan. “bagus nak..., Walau kau baru satu tahun tinggal disini, kau sudah membawa perubahan besar dikampung ini.” Ucap Bu Sekar yang tampak bangga dengan putrinya tersebut. “Ibu doakan saja Wulan, semoga rencana Wulan ini berjalan dengan lancar ya Bu.” Ucap Wulan sambil memeluk ibunya itu. “pasti nak..., Kalau begitu ibu keluar dulu ya, jangan lupa minum s**u dan selamat tidur siang sayang.” Ucap Bu Sekar lalu pergi meninggalkan kamar Wulan. Wulan lalu meminum s**u yang dibawa oleh Bu Sekar dan membaringkan tubuhnya lagi dikasurnya. Wulan masih belum ingin tidur siang. Wulan masih ingin membayangkan dan mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya sangat dekat dengan Candra. Pak Cokro pun sudah sampai dirumah pak Raharjo. Jantung Candra berdetak begitu kencang saat tahu bosnya berkunjung kerumahnya. Pak Cokro lalu dipersilahkan untuk masuk kekamar pak Raharjo yang masih terbaring lemah. Pak Raharjo berusaha untuk bangun dari tidurnya dan duduk, tapi pak Cokro melarangnya. “Sudah tiduran saja pak.” Ucap pak Cokro. Pak Raharjo pun kembali membaringkan tubuhnya lagi. “sudah agak mendingan?” tanya pak Cokro. “sudah agak mendingan pak, dua Minggu saya dirumah sakit rasanya sudah tidak betah.” Ucap pak Raharjo. “hahaha...., Namanya juga rumah sakit pak, sebagus apapun rumah sakit itu, kita tetap nyaman tinggal dirumah bukan.” Ucap pak Cokro. Candra yang melihat perbincangan hangat antara pak Cokro dan juga bapaknya itu, Candra tampak senang dan tenang. Candra berfikir berarti pak Cokro belum mendengar kabar yang santer terdengar di kalangan masyarakat bahwa Candra dan Wulan saat ini dikabarkan sedang saling dekat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD