Setelah menjenguk pak Raharjo, pak Cokro juga menyuruh pak Raharjo dirumah terlebih dahulu sampai pak Raharjo benar-benar sembuh. Pak Cokro juga menyuruh agar Candra saja yang bekerja untuk kedua orang tuanya. “Ini ada sedikit uang untuk pak Raharjo, paling tidak uang ini bisa dipergunakan untuk makan sehari-hari pak Raharjo.” Ucap pak Cokro. “Pak Cokro..., Saya mohon jangan pecat saya pak..., Saya masih ingin kembali bekerja.” Ucap pak Raharjo memohon. “Hehehe..., Memangnya siapa yang mau memecat pak Raharjo ini. Pak Raharjo sudah sangat berjasa atas semua usaha saya. Tidak mungkin saya memecat pak Raharjo dalam keadaan yang sedang sakit seperti ini. Uang ini hanya sebagai perwujudan rasa simpati saya kepada pak Raharjo atas musibah sakit yang menimpa pak Raharjo ini. Selamat istirahat ya pak, saya pulang dulu.” Ucap pak Cokro kepada buruh peternakannya itu.
Pak Cokro lalu pulang kerumahnya. Pak Cokro sama sekali tidak membahas kedekatan antara Candra dan juga putrinya itu. Hal itu dikarenakan pak Cokro merasa bahwa putrinya tidak akan jatuh cinta kepada laki-laki miskin itu. Pak Cokro kini sudah sampai dirumahnya. Pak Cokro lalu memberi tahu Bu Sekar bahwa pak Raharjo keadaanya sudah membaik. “syukurlah pak..., Bapak tidak mandi? Ini sudah sore.” Ucap Bu Sekar. Tanpa mengatakan apapun, pak Cokro bergegas kekamarnya untuk mandi, tapi sebelum mandi, pak Cokro lalu kekamar Wulan untuk melihat putrinya itu. Setelah tahu putrinya sedang tertidur. Pak Cokro kembali menutup pintu kamar Wulan.
Setelah menyelesaikan mandinya, pak Cokro pun berpamitan nanti setelah makan malam akan berkumpul bersama para warga untuk masalah penting untuk desanya. Bu Sekar tanpa ragu pun meng-iyakan ucapan pak Cokro tersebut tanpa rasa curiga. Tentu saja pak Cokro ingin bertemu Lulun samak itu untuk membahas masalah kamar mandi umum itu.
Malam pun tiba. Pak Cokro bergegas ke danau dengan menaiki kuda kesayangannya itu. Setelah sampai di danau, pak Cokro tampak kaget karena melihat danau begitu ramai dengan orang-orang kampung yang sedang duduk dan berbincang tak jauh dari kamar mandi itu. “Haduh..., Kalau banyak orang begini, bagaimana caraku bertemu dengan Lulun samak itu?” tanya pak Cokro dalam hati. Danau itu sungguh sangat luas. Pak Cokro menaiki kudanya berjalan menyusuri tepi danau itu. Saat pak Cokro hendak pergi, banyak warga menghentikan langkahnya. “eh..., Pak Cokro..., Ada apa kemari? Ingin melihat kamar mandi umum ini?” tanya salah satu warga. “Iya..., Saya hanya ingin melihat hasil dari pekerjaan putri saya.” Ucap pak Cokro lalu turun dari kudanya dan mengikat kudanya disebuab pohon. Pak Cokro lalu duduk diantara para warga sekitar yang sangat bahagia karena kini mereka mempunyai kamar mandi umum. Mereka tidak lantas meninggalkan danau. Danau akan tetap digunakan untuk mencuci dan lain sebagainya. Mendengar cerita para warga, pak Cokro tampak lega karena mereka tidak akan meninggalkan danau itu. Para warga tidak takut dengan kejadian orang-orang yang tenggelam didanau itu. Mereka menyangka bahwa mereka yang tenggelam didanau itu benar-benar tenggelam saja tanpa ada pikiran bahwa danau itu berpenunggu. “Tidak mungkin kami menyangka bahwa danau yang memberi kehidupan kepada kita ini juga memberi kematian. Semua orang yang tenggelam di danau ini adalah takdir mereka.” Ucap salah satu warga kepada pak Cokro. Pak Cokro sendiri tampak senang dengan warga yang mengatakan hal itu. Walau mereka berasal dari kampung, tapi pemikiran mereka sangat modern. Mereka bahkan tidak mengenal hantu penunggu danau itu. Mereka menganggap penunggu danau itu hanya mitos. Selain untuk mencuci dan mengambil air, para warga juga sering memancing didanau itu dan mendapatkan banyak ikan untuk dimasak.
Pak Cokro lalu mengurungkan niatnya untuk menemui Lulun samak itu. Pak Cokro pun pulang kerumah dengan menaiki kudanya. Pak Cokro masih berfikir bahwa beberapa hari kedepan atau beberapa bulan kedepan pasti kamar mandi itu akan ramai untuk berkumpul para warga disana. Pak Cokro tidak bisa menemui Lulun samak itu setiap waktu. Mungkin saat malam nanti sekitar pukul sepuluh malam, sudah pasti warga akan pulang kerumah mereka masing-masing. Setelah sampai dirumahnya lagi, kebetulan istri dan putrinya sedang berada diruang tamu. Pak Cokro lalu menceritakan bahwa saat ini walau malam pun sekitar danau tetap ramai. Antusias warga terhadap kamar mandi baru itu menyenangkan hati mereka. “Oh..., Karena itu ayah pulang cepat.” Ucap Wulan saat ayahnya sedang bercerita tentang keadaan danau yang begitu ramai itu. Pak Cokro tak menjawab ucapan Wulan itu. Pak Cokro mengatakan bahwa beliau akan beristirahat dikamar lebih awal dikarenakan hari ini tubuhnya lelah setelah seharian berada di peternakan dan menjenguk pak Raharjo.
Saat pak Cokro masuk kedalam kamarnya, disusul oleh Bu Sekar. Karena diruang tamu sendirian maka Wulan pun masuk kedalam kamarnya sendiri. Wulan pun mempunyai rencana esok pagi akan menjenguk pak Raharjo yang baru saja pulang dari rumah sakit itu. Wulan ingin sekali lebih dekat dengan keluarga Candra. Walau mereka hidup dalam kemiskinan, tapi keluarga Candra sangat harmonis. Ibu Candra adalah ibu yang paling Wulan kagumi. Bu Indah sangat peduli dengan keadaan suaminya. Walau pak Raharjo tidak membahagiakan beliau dengan harta, tapi Bu Indah tetap bahagia hidup bersama dengan pak Raharjo. Ketampanan yang didapat oleh Candra mungkin juga berasal dari ibunya. Bu indah ini mempunyai wajah khas wanita Sunda. Kulitnya putih bersih, matanya tidak terlalu lebar dan senyumnya menawan. Walaupun terik matahari setiap hari bertemu dengan Bu indah, tapi tak membuat kulit Bu indah menghitam. Kesederhanaan Bu Indah yang sangat dikagumi oleh Wulan inilah yang membuat Wulan semakin percaya diri untuk mendapatkan Candra. Sejak kecil Wulan memang belum pernah merasakan sehari makan hanya satu kali saja, tapi kalau Candra mencintainya, Candra tidak mungkin membuat seorang yang dicintainya merasa kelaparan setiap hari.
Sementara itu, Candra yang sedang berada di teras rumahnya malam itu memikirkan tentang perasaanya yang mau ia bawa kemana. Candra tidak mungkin membuat Wulan menderita dengan hidup bersamanya. Candra tidak punya apapun selain dirinya sendiri. Rumah kedua orang tuanya yang tampak reyot tak mungkin bisa membahagiakan Wulan. Candra tidak mungkin bisa membuat Wulan bahagia hanya dengan cinta.
Candra tak ingin memikirkan hal itu lebih lanjut. Hal itu semakin membuat Candra semakin pusing dan tidak bisa berbuat apapun. “aku harus fokus kepada kedua orang tuaku yang sekarang sangat membutuhkan perhatianku. Aku tidak ingin berharap lebih tentang gadis itu. Aku akan menyimpan perasaanku ini entah sampai kapanpun.” Ucap Candra dalam hatinya lalu Candra masuk kedalam rumahnya.