Menolak dinikahkan dengan Candra

1048 Words
Pagi itu pak Cokro sudah sampai dirumah sakit untuk melihat keadaan putrinya itu, sekaligus pak Cokro ingin memberi tahu putrinya itu bahwa hubungannya yang terjalin dengan Candra akan segera beliau resmikan. “Wulan pasti bahagia mendengar kabar ini.” Batin pak Cokro dalam hatinya. Pak Cokro tidak tahu bahwa yang menyebabkan putrinya itu kini sakit adalah karena putrinya melihat sosok Lulun samak yang menyeramkan itu didalam danau. Apalagi Wulan juga mendengar bahwa Lulun samak itu berkata bahwa Wulan harus dinikahkan dengan Candra karena Lulun samak itu suatu saat akan mengambil Candra untuk dijadikan tumbal selanjutnya. Mulai dari sini Wulan tahu bahwa ayahnya bersekutu dengan sesuatu yang dianggapnya setan itu. Walau Wulan sudah tahu bahwa ayahnya telah bersekutu dengan setan, tapi Wulan belum mengetahui apa tujuan ayahnya sampai bersekutu dengan setan itu bahkan secara terang-terangan setan itu mengatakan akan meminta jiwa Candra suatu saat nanti. Ketika sang ayah masuk kedalam ruangan Wulan, Wulan yang melihat ayahnya pun langsung memalingkan wajahnya. Wulan merasa sedang tidak ingin melihat wajah ayahnya itu. Pak Cokro lalu mendekat kearah Wulan. “syukurlah kau sudah siuman nak..,” ucap pak Cokro. Wulan sama sekali tidak menjawab ucapan pak Cokro itu. Pak Cokro lalu memeluk Wulan dan mencium rambut kepala putrinya. Wulan tetap diam seribu bahasa, “nak..., Ini ayahmu...,” ucap Bu Sekar yang tampak heran dengan putrinya itu. Wulan tetap tidak mau menjawab. “tujuan ayah kesini, tentu saja selain untuk menjemputmu, ayah membawa berita bagus untukmu, sayang. Ayah merestui hubunganmu dengan Candra, setelah pulang nanti, kita langsung tentukan tanggal pernikahan kalian ya,” ucap pak Cokro. Pak Cokro dan Wulan melihat kearah wajah polos Candra. Candra tampak tersenyum senang, akhirnya hubungannya dengan putri seorang bos itu direstui oleh pak Cokro. Wulan tampak tidak tersenyum walau ayahnya telah merestui hubungannya dengan Candra. Candra yang melihat kearah Wulan pun juga tampak bingung. Wajah Wulan tak tampak bahagia. “bapak..., Besok Wulan sudah boleh pulang kerumah, Wulan sudah dinyatakan sehat oleh dokter.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya. “syukurlah...,” ucap pak Cokro seraya tersenyum. “aku tidak mau menikah!” ucap Wulan menghentikan tawa-tawa antara keluarganya dan juga Candra. Mereka tampak saling memandang satu sama lain. Pak Cokro tidak menyangka bahwa putrinya itu menolak dinikahkan oleh kekasih hatinya. “lalu kenapa Wulan?” tanya Candra seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Wulan itu. “aku tidak mau menikah! Apalagi denganmu! Sekarang lebih baik kau pergi! Pergi!” ucap Wulan sedikit membentak. Bu Sekar yang sedari tadi melihat Wulan baik-baik saja dengan Candra, bahkan mereka berdua sama-sama saling bercanda sebelum ayahnya datang, tapi setelah ayahnya datang, Wulan sudah berubah. Bahkan Wulan sendiri menolak dinikahkan oleh kekasih hatinya. “Wulan....,” ucap Candra seakan tidak percaya jika kekasihnya telah membentaknya untuk pertama kalinya. Candra menatap tajam mata Wulan, Candra bisa melihat dari sorot mata Wulan bahwa Wulan sebenarnya masih mencintainya, tapi apa yang membuat Wulan berperilaku seperti itu, Candra ingin mencari tahu lebih lanjut. Candra sama sekali tak berpikiran untuk meninggalkan Wulan walau wulan telah membentaknya untuk pertama kali. Candra lalu ijin pamit kepada kedua orang tua Wulan, Candra ingin agar Wulan kiranya bisa menata pikirannya kembali. Kedua orang tua Wulan pun mengijinkan Candra untuk pulang, terutama Bu Sekar yang meminta maaf kepada Candra atas perilaku Wulan yang tidak terpuji itu. “Tidak apa-apa Bu..., Mungkin Wulan memang harus beristirahat. Saya pamit dulu.” Ucap Candra lalu oergi berjalan meninggalkan rumah sakit itu. “Maafkan aku Candra,” ucap Wulan didalam hatinya. Karena kalau tidak melakukan hal itu, Wulan berpikir bahwa nyawa Candra akan terancam suatu saat nanti. Wulan masih memikirkan bagaimana caranya memberi tahu Candra mengenai hal ini. Candra dan Wulan sama-sama orang berpendidikan dan hidup dijaman modern. Alasan Wulan tidak mau menikah tentunya akan dirasa Candra tidak masuk akal. Bisa jadi penolakan Wulan hanya akal-akalan Wulan saja karena Wulan sudah memikirkan jika bersama dengan Candra, hidupnya akan terasa sangat susah, mengingat Candra berasal dari keluarga yang hidup dibawah kemiskinan. Wulan masih memikirkan cara yang tepat untuk mengatakan hal itu kepada kekasihnya itu. “Nak..., Kenapa kau menolak Candra?” tanya Bu Sekar. “Wulan tidak menolak Bu, Wulan hanya ingin untuk tidak menikah sekarang ini. Masih banyak sesuatu yang harus Wulan wujudkan sebel Wulan menikah.” Ucap Wulan beralasan. “nak..., Kau bisa mewujudkan apa yang kau inginkan setelah kau menikah nanti, bahkan saat kau punya anak, kau tetap bisa mewujudkan apapun yang kau inginkan.” Ucap pak Cokro menimpali. Wulan pun hanya tersenyum sinis sambil menatap tajam wajah ayahnya itu. Pak Cokro tampak salah tingkah ketika putrinya itu menatapnya dengan tatapan sengit. Pak Cokro lalu menunduk dan meminta ijin istrinya untuk keluar sebentar dari rumah sakit itu. Langkah pak Cokro terus ditatap tajam oleh putrinya itu sampai menghilang. Bu Sekar yang melihat putrinya tampak aneh pun bertanya, “ada apa nak? Kenapa kau menatap ayahmu dengan tatapan seperti itu?” tanya Bu Sekar heran. Tatapan Wulan memang seperti ingin membunuh ayahnya saja, bahkan ayahnya pun tak sanggup membalas tatapan mata sengit putrinya itu. “ijinkan Wulan beristirahat Bu.” Ucap Wulan kepada ibunya lalu berbaring membelakangi ibunya. Bu Sekar pun langsung pergi meninggalkan ruangan Wulan sambil memikirkan apa yang telah terjadi kepada putrinya itu, tatapannya kepada ayahnya sendiri seperti tatapan seorang musuh. Bu Sekar juga tampak heran sikap Wulan saat sebelum pak Cokro datang dan setelah pak Cokro datang. “Mungkin dia hanya perlu istirahat saja.” Ucap Bu Sekar dalam hatinya. Bu Sekar tetap berfikir positif mengenai putrinya itu. Pak Cokro lalu keluar dan duduk disebuah taman dirumah sakit itu. Pak Cokro lalu mulai merenungi putrinya yang bersikap sangat aneh kepadanya. Tatapan Wulan seakan ingin membunuhnya, maka dari itu pak Cokro memilih untuk pergi meninggalkan Wulan. Pak Cokro tampak berfikir, jawaban putrinya yang meleset dari prediksinya itu akan membuatnya kesulitan mendapatkan jiwa Candra. Pak Cokro bisa melihat bahwa putrinya itu masih mencintai laki-laki miskin itu, tapi pak Cokro tampak bingung, kenapa putrinya menolak untuk dinikahkan dengan Candra. “Apa yang sebenarnya terjadi pada anakku. Tingkahnya sangat aneh, dia bahkan menampakkan wajah bencinya kepadaku secara terang-terangan. Apa yang telah terjadi kepadanya.” Tanya pak Cokro didalam hatinya. Pak Cokro lalu mengambil rokok dari saku celananya dan akan merokok sambil memikirkan putri semata wayangnya itu. Pak Cokro pun masih duduk santai diantara pepohonan taman dirumah sakit tempat Wulan dirawat itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD