Saran dari Lulun Samak

1022 Words
Malam itu, pak Cokro ingin menemui sesembahannya untuk mengatakan sesuatu kepada sosok Lulun samak itu tentang putrinya yang kini masih terkapar tak sadarkan diri dirumah sakit. Kali ini pak Cokro berangkat ke danau dengan menaiki kuda kesayangannya. Pak Cokro memacu kudanya agar cepat sampai ke tepian danau itu. Setelah sampai ke tepian, pak Cokro lalu langsung mengikat kudanya disebuah pohon dan berjalan ketepian danau. Dengan santainya pak Cokro duduk ditepian dengan kaki yang bersila. Pak Cokro mulai membaca mantra pemanggil Lulun samak itu. Tak menunggu lama, air danau mulai bergoncang, bergemuruh seperti ombak, munculah sosok Lulun samak itu. “Ada apa Cokro?” tanya Lulun samak itu. “ampun tuan...., Tolonglah hamba..., Tolonglah putri hamba....,” ucap pak Cokro memohon. “Cokro! Nikahkan saja putrimu itu dengan laki-laki itu. Kalau kau tidak mau mempunyai menangis seperti dia karena dia miskin, kau bisa memberikan laki-laki itu kepadaku, dengan begitu kau akan bertambah kaya dengan mengorbankannya kepadaku.” Ucap Lulun samak itu dengan suara yang bergema bersama dengan hembusan angin menusuk kedalam pori-pori tubuh pak Cokro. “bagaimana aku bisa menikahkan dia dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini?” tanya pak Cokro. “setelah kau pulang dari sini nanti, putrimu itu akan sadar dan ingat, kau harus segera menikahkan putrimu itu dengan laki-laki pilihannya itu.” Ucap Lulun samak itu. “Baiklah..., Terima kasih..., Aku akan segera menikahkan putriku dengan laki-laki itu secepatnya.” Ucap pak Cokro. Setelah itu, Lulun samak pun meninggalkan pak Cokro yang masih duduk ditepian danau itu. Pak Cokro lalu mengambil kudanya yang ia ikat dipohon, lalu pak Cokro menaikinya untuk pulang kerumah. Saat melewati kamar mandi umum yang tampak sepi itu, pak Cokro melihat dua pasangan muda-mudi keluar dari pintu kamar mandi yang sama. Pak Cokro hanya diam saja ketika melihat mereka berdua. Pak Cokro lalu kembali memacu kudanya dengan kecepatan tinggi karena waktu hampir saja tengah malam. Sampailah pak Cokro dirumahnya dan masuk kedalamnya setelah memasukkan kudanya dikandang yang tidak jauh dari rumahnya itu. Ponsel pak Cokro yang sedari tadi ada diatas meja dikamarnya pun berbunyi. Seketika pak Cokro yang mendengar suara ponsel itu pun lalu mengangkatnya. “Halo..., Ada apa Bu..., Malam-malam begini telepon?” tanya pak Cokro. “Pak..., Putri kita sudah sadar pak. Apakah bapak tahu, wajahnya langsung berbinar kala pertama kali yang dilihatnya saat membuka mata adalah Candra.” Ucap Bu Sekar. Pak Cokro yang mendengar kabar putrinya itu sudah siuman tampak bahagia mendengar kabar itu. Sosok Lulun samak itu memang mengatakan kebenaran kepada pak Cokro. Sebagai pengikutnya, pak Cokro semakin memuji sesembahannya itu. “syukurlah Bu..., Besok pagi sekali bapak akan kerumah sakit untuk bertemu dengan Wulan ya Bu.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. Setelah pak Cokro dan Bu Sekar berbincang lewat ponselnya, pak Cokro pun tampak lega dan segera membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Pak Cokro tampak senang dan setelah Wulan sembuh, pak Cokro akan segera menikahkan putrinya itu dengan Candra, laki-laki miskin anak dari pasangan pak Raharjo dan Bu Indah. Pak Cokro pun bisa memastikan bahwa Lulun samak itu menyukai Candra, maka dari itu Candra akan dimintanya menjadi tumbal suatu saat nanti. Kenapa pak Cokro tak langsung menumbalkan Candra saja saat ini? Kalau saat ini Candra tidak akan bisa ditumbalkan karena Candra tak pernah memakan harta pak Cokro secara Cuma-Cuma. Semua hasil uang dari pak Cokro akibat dari kerja kerasnya selama ini mengantar s**u. Suatu saat nanti jika Candra sudah menjadi menantu dari pak Cokro, Candra pasti akan memakan atau memakai pemberian dari pak Cokro secara Cuma-Cuma tanpa harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Mulai dari situlah nanti Candra masuk dalam daftar calon tumbal selanjutnya. Siapapun orang yang pernah diberi sesuatu oleh pak Cokro, baik itu uang, makanan dan lainnya. Saat pak Cokro memberikannya secara Cuma-Cuma, itu artinya pak Cokro akan menumbalkan orang itu kepada sesembahannya suatu saat nanti. Walau pak Cokro setiap setahun sekali mengadakan pesta rakyat untuk warganya, keluarga pak Raharjo tak pernah ikut andil dan ikut makan-makan dirumah pak Cokro tersebut. Selain karena keluarga pak Raharjo tidak biasa makan malam, keluarga pak Raharjo juga dilarang untuk ikut serta dalam pesta rakyat itu oleh ibu kandungnya yang tinggal didesa lain tidak jauh dari desanya itu. Orang satu desa sangat menghormati keluarga pak Cokro, tapi ada sesuatu yang membuat para warga desa heran. Walau pak Cokro mempunyai banyak sapi, bahkan beliau mengadakan pesta rakyat setiap tahunnya, tapi keluarga pak Cokro sama sekali tidak pernah ikut andil dalam acara korban idul Adha. Ya, pak Cokro sama sekali tidak pernah berkorban sapinya kala idul Adha. Pak Cokro akan mengadakan pesta rakyat kala sebulan setelah idul Adha atau sebulan sebelum idul Adha itu terjadi. Pernah suatu kali para warga mendesak pak Cokro agar mengorbankan sapinya satu saja untuk idul Adha, tapi pak Cokro melarang keras melakukannya dengan sebagai ganti, pak Cokro akan mengadakan pesta rakyat setiap setahun sekali. Banyak warga membicarakan pak Cokro waktu itu dikarenakan keanehan pak Cokro, orang terkaya didesanya tapi tidak pernah melakukan idul kurban. Pak Cokro dan keluarga selalu berlibur kala menjelang lebaran idul Adha tiba, tentu saja hal itu dikarenakan untuk menghindari para warga yang akan membicarakannya nanti ketika pak Cokro tidak ikut berkorban atas sapi-sapinya. Lain pak Cokro, lain pula keluarga Candra, walaupun mereka miskin, makan hanya bisa sehari satu kali, tapi keluarga mereka gemar berzakat dan juga bisa mengorbankan sapi atau kambing setiap lebaran idul kurban. Bu Indah dan pak Raharjo selalu mengumpulkan uang agar mereka setidaknya bisa kurban kambing setiap tahunnya. Pernah suatu kali pak Raharjo dan istrinya mempunyai uang berlebih untuk berkorban sapi dikala idul Adha tiba. Tapi malah banyak warga yang tampak nyinyir kepada keluarga mereka. “Dasar! Miskin saja belagu! Sok-sokan mau kurban! Makan sehari-hari saja sudah!” ucap salah satu tetangga pak Raharjo. Kala itu pak Raharjo dan Bu Indah hanya terdiam saja saat salah satu warga itu mencelanya. Pak Raharjo dan Bu Indah sangat sadar, untuk menjadi orang yang mau berkorban pada saat idul Adha tidak harus orang kaya raya, tapi harus orang yang ikhlas. Entah mengapa para warga begitu nyinyir kepada keluarga pak Raharjo dan juga Bu Indah, apalagi saat ini mereka mendengar bahwa putranya, Candra telah menjalin kasih dengan putri seorang bos terkaya didesa mereka itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD