Selalu menyebut nama Candra

1051 Words
Candra pun kini sudah sampai dirumah sakit untuk menjenguk Wulan. Tampak ada keraguan di wajah Candra. Sebelum memasuki ruangan tempat Wulan dirawat, Candra melihat kearah Asep. Asep pun mengangguk seperti mengatakan bahwa Candra harus masuk kedalam ruangan itu. Candra pun perlahan membuka pintu ruangan tempat Wulan dirawat. Candra melihat ada kedua orang tua Wulan sedang menampakkan wajah sedihnya. Mereka berdua seperti sedang berharap atas kesembuhan Wulan. “Candra..., Masuklah nak.” Ucap Bu Sekar ramah. Candra lalu berjalan pelan mendekat ke arah tempat Wulan berbaring. Candra lalu mengulurkan tangannya kepada Bu Sekar dan mencium tangan Bu Sekar. Bu Sekar pun juga menerima uluran tangan Candra. Saat Candra mengulurkan tangannya kepada pak Cokro, “tidak usah..., Tanganku sedang kotor dan aku belum mencucinya.” Ucap pak Cokro ketus. Melihat Candra sudah berada didalam ruangan rumah sakit itu, pak Cokro lalu keluar dari ruangan tempat putrinya dirawat. Pak Cokro sebenarnya masih membenci Candra karena Candra tidak sadar akan dirinya sendiri bahwa dia dengan berani mencintai anak bosnya sendiri tanpa mempertanyakan siapa dirinya itu. Berbeda dengan Bu Sekar, beliau tetap menghargai Candra walau Candra anak orang miskin. “apa yang menyebabkan Wulan sakit Bu?” tanya Candra membuka pembicaraan. “Ibu juga tidak tahu nak..., Ayahnya yang menemukannya tergeletak dibalik pintu rumah. Saat itu juga kaya ayahnya, pintu rumah dengan keadaan terbuka saat ayahnya menemukannya.” Ucap Bu Sekar bercerita. Saat Bu Sekar dan Candra sedang berbincang, Wulan pun lalu dengan mata tertutup memanggil nama Candra. “Candra...., Candra...,” ucap Wulan mengigau. Candra pun lalu memegang tangan Wulan sambil berkata, “aku disini Wulan, ini aku, Candra.” Ucap Candra. Melihat belahan jiwanya sedang terkapar tak berdaya seperti itu membuat Candra tampak sedih dan merasa prihatin. Hatinya merasa sakit ketika melihat Wulan menderita. Pak Cokro pun lalu masuk kedalam ruangan Wulan lagi. “Bu..., Bapak mau pulang terlebih dahulu, bapak mau naik taksi saja, biarkan Asep disini menemani ibu.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. “Baiklah pak...,” ucap Bu Sekar sambil mencium tangan suaminya. Candra hanya melihat pak Cokro saja. Candra tidak berani mengulurkan tangannya lagi, Candra takut jika pak Cokro tidak berkenan. Pak Cokro lalu keluar dari ruangan tanpa menatap Candra sedikit pun. Pak Cokro pun lalu pulang kerumahnya. Tentunya pak Cokro pulang karena ada maksud tertentu, pak Cokro ingin bertanya kepada sesembahannya tentang apa yang terjadi kepada putrinya itu. Mengapa putrinya tiba-tiba pingsan dalam keadaan yang sebelumnya sehat-sehat saja. Pak Cokro merasa bahwa dirinya sama sekali tidak melanggar sumpahnya terhadap Lulun samak itu. Beberapa kali Wulan masuk kerumah sakit akibat penyakit aneh yang dideritanya. Pernah suatu kali Wulan tidak sadarkan diri, tapi setelah diperiksa, sebenarnya tidak ada satu penyakit pun dalam tubuh Wulan. Kala itu bahkan pak Cokro sampai memarahi seorang dokter mengenai kesehatan Wulan itu. Pak Cokro sampai sekarang pun menyesali perbuatannya, akibat dari emosinya yang tidak terbendung itu, pak Cokro berani memarahi seorang dokter kala itu. Untuk saat ini, pak Cokro hanya pasrah dan menuruti apa yang dokter katakan, karena menurut diagnosa dokter, Wulan juga tidak menderita penyakit apapun dalam tubuhnya. Penyebab pingsannya masih simpang siur, apakah Wulan shock, atau kurang cairan, atau masalah lainnya. Sampailah pak Cokro dirumahnya. Sesampainya dirumah, pak Cokro langsung mandi dan mengganti pakaiannya sebelum pak Cokro sarapan pagi. Pagi itu sudah menunjukkan pukul sembilan kala pak Cokro masuk kedalam rumahnya. Pak Cokro lalu mandi dengan pikiran yang membuatnya risau mengenai kesehatan putrinya itu. Setelah menyelesaikan mandi paginya, pak Cokro langsung menuju keruang makan yang memang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga yang bertugas memasak. “mbak Minah masak apa?” tanya pak Cokro. “Ini pak..., Masak seadanya saja, saya pikir bapak tidak pulang pagi ini. Bagaimana keadaan non Wulan pak?” tanya mbak Minah, asisten rumah tangga pak Cokro yang bekerja sekitar tiga puluh tahun lamanya dirumah pak Cokro. “Masih sama seperti semalam mbak..., Wulan masih belum sadar juga.” jawab pak cokro. “kasihan non Wulan, padahal Minggu ini beliau ingin mengadakan pesta rakyat dengan para remaja kampung, tapi ya tertunda, karena non Wulan sakit.” Ucap mbak Minah. Pak Cokro hanya diam tidak menjawab ucapan mbak Minah. Pak Cokro lalu melanjutkan makannya. Pak Cokro melihat kursi tempat biasa Wulan dan istrinya makan. Pak Cokro tampak meneteskan air matanya. Beliau merasa bahwa dunia ini sedang tidak adil kepadanya. Makan apapun bisa, membeli apapun bisa, tapi untuk berkumpul dengan keluarga dalam keadaan sehat, pak Cokro tidak bisa melakukannya. Walau punya banyak uang, tak memungkiri bahwa kesehatan tidak bisa dibeli oleh pak Cokro, putrinya tetap saja terbaring dirumah sakit dengan keadaan yang tidak sadarkan diri. Setelah sarapan pagi, pak Cokro lalu kekamarnya untuk beristirahat karena semalam tadi pak Cokro sama sekali tidak tidur. Pak Cokro memang tidak bisa tidur karena kepanikan yang menderanya. Setelah sampai dikamarnya, pak Cokro lalu melihat ponselnya dan mulai menelepon istrinya. “Halo Bu..., Bagaimana keadaan Wulan?” tanya pak Cokro lewat saluran teleponnya. “Masih sama pak..., Doakan saja semoga Wulan cepat siuman. Walau Candra sudah disini, Wulan pun masih terus-terusan memanggil nama laki-laki itu.” Ucap Bu Sekar. “Memangnya Candra masih berada disana?” tanya pak Cokro. “masih pak..., Bahkan dia malah yang menemani Wulan saat ibu pergi mencari sarapan. Candra juga sama sekali tidak mau sarapan, tidak biasa sarapan pagi katanya.” Ucap Bu Sekar. “baiklah..., Ibu disanalah terlebih dahulu, bapak mau istirahat dulu, ibu kan tahu semalam bapak sama sekali tidak bisa tidur.” Ucap pak Cokro. “iya pak..., Bapak istirahat lah terlebih dahulu.” Ucap Bu Sekar. Mereka lalu mengakhiri percakapan mereka lewat saluran ponsel itu. Pak Cokro kembali meletakkan ponselnya dimeja. Untuk hari ini, pak Cokro sama sekali tidak ingin ke peternakan ataupun ke kebun teh dan kopi miliknya. Pak Cokro enggan mengurusi usahanya itu karena putrinya yang sedang terbaring dirumah sakit. Walau pak Cokro masih membaringkan tubuhnya, tapi pak Cokro tetap memikirkan putri semata wayangnya itu hingga tertidur pagi itu. Sementara itu, Wulan yang masih mengigau dengan memanggil nama Candra itu masih terus-terusan menyebut nama kekasihnya itu. “Wulan..., Aku ada disini. Bangunlah...,” ucap Candra menjawab panggilan Wulan. Candra tampak sedih melihat kekasihnya dalam keadaan tak sadarkan diri seperti itu. “Sudah nak Candra..., Wulan mungkin masih bermimpi tentang dirimu. Nak Candra apa tidak mau pulang?” tanya Bu Sekar. “tidak Bu..., Saya akan tetap disini menunggu Wulan sampai Wulan sadar.” Ucap Candra. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD