Setelah pemakaman pak Raharjo Candra pulang kerumah pak Cokro. Dirumah itu sudah disediakan makanan untuk orang-orang yang datang untuk tahlilan atas kematian pak Raharjo. Pak Cokro sangat baik terhadap keluarga Candra, seluruh proses kematian pak Raharjo ditanggung oleh pak Cokro sebagai seorang besan. Sementara itu, Bu Indah tidak enak jika harus tinggal dirumah besan. Bu Indah ingin kembali kerumahnya terdahulu tempat bersama pak Raharjo memadu kasih. Bu Indah juga mengemasi barang-barangnya untuk segera pergi meninggalkan rumah pak Cokro. Bu Indah merasa tidak enak jika harus ikut bersama keluarga besan.
Saat Bu Indah ingin berpamitan dengan Bu Sekar dan juga pak Cokro, kedua besan itu lalu melarangnya. “Bu..., Tetaplah tinggal disini, kau sekarang sudah tinggal sendirian, apa kau tidak takut jika terjadi apa-apa kepadamu? Kalau kau tinggal disini, kau akan aman bersama kami.” Ucap Bu Sekar. “Tidak Bu..., Rumah ini adalah rumah dimana tempat suamiku meninggal. Aku tidak bisa bila harus tinggal disini, aku akan selalu ingat akan kematian suamiku.” Ucap Bu Indah mulai meneteskan air matanya. “bu Indah, tetaplah tinggal disini, paling tidak sampai ketujuh hari meninggalnya suamimu. Lagi pula tahlilan akan diadakan disini bukan?” Bu Sekar membujuk besannya agar tetap mau tinggal bersamanya. Bu Indah lalu berfikir sejenak dan mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan rumah pak Cokro. Benar apa yang dikatakan Bu Sekar, Bu Indah tidak boleh sendirian saat berada dalam masa kesedihannya. Setelah mengurungkan niatnya, Bu Sekar lalu mengantar Bu Indah untuk beristirahat dikamarnya. Bu Indah dan Bu Sekar duduk di tepi ranjang, “bu Indah, kita ini sekarang sudah menjadi keluarga, Bu Indah boleh bercerita kepadaku mengenai semua hal yang ingin Bu Indah ceritakan. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang suami, maka dari itu aku menyuruh Bu Indah untuk tetap tinggal disini, paling tidak seminggu saja kalau Bu Indah tidak berkenan, selebihnya kalau Bu Indah mau terus tinggal disini, itu tak masalah bagi kami.” Ucap Bu Sekar.
Setelah memberi pengertian terhadap Bu Indah, Bu Sekar pun pergi kekamar putrinya untuk memberi tahu sesuatu tentang Bu Indah. Bu Indah pun mengetuk pintu kamar putrinya dan Wulan menyuruh ibunya untuk masuk. “maaf ibu telah mengganggu kalian berdua, ada hal yang ingin ibu katakan kepada kalian berdua mengenai Bu Indah.” Ucap Bu Sekar. “Ada apa dengan Bu Indah Bu?” tanya Wulan. “Iya Candra dan Wulan, Bu Indah baru saja ingin pergi meninggalkan rumah ini, untung saja ibu melihatnya dan membujuknya untuk tetap tinggal disini. Ibu tahu rasanya kehilangan suami itu seperti apa, namun alangkah baiknya jika Bu Indah tetap tinggal disini bersama kita. Paling tidak seminggu ini, kalau mau tinggal disini selamanya itu tetap boleh saja, ibu dan ayah tidak melarangnya.” Ucap Bu Sekar mulai bercerita. “memangnya kenapa Bu? Maksudku, kenapa Bu Indah mau meninggalkan rumah ini dan memilih untuk tinggal sendirian?” tanya Wulan heran. “bu Indah bilang bahwa ia akan tetap ingat suaminya kalau masih terus tinggal disini. Coba kamu pikir Candra, kalau ibumu tinggal sendirian dirumahmu apakah itu tidak membuat mentalnya tambah down?” tanya Bu Sekar. “baiklah Bu sekar..., Nanti Candra akan bicara kepada ibu mengenai hal ini.” Ucap Candra.
Diluaran rumah mereka banyak para tetangga merasa ganjil atas kematian yang terjadi kepada pak Raharjo. Pak Raharjo meninggal secara mendadak setelah pernikahan putranya. Hal itu membuat warga merasa ganjil karena pak Raharjo sehat-sehat saja waktu itu. “Bisa saja pak Raharjo itu kelelahan, kan kita juga tahu, pernikahan anaknya itu digelar tiga hari tinga malam.” Ucap salah seorang warga yang sedang ikut berbelanja sayuran. “tapi saya tetap merasa ganjil teh, lihat saja, pak Cokro juga malah langsung membeli mobil untuk menantunya itu.” Ucap salah seorang ibu-ibu juga. “Iya wajar jika pak Cokro membeli mobil baru, selama dua hari kemarin itu kan kita lihat sendiri, tamu-tamu pak Cokro juga membawa mobil mewah-mewah saat datang diacara pernikahan itu. Mereka banyak yang datang dari luar kota, terlihat dari plat mobil merek.” Ucap salah seorang ibu menimpali. Kematian pak Raharjo tetap menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Menurut mereka kematian pak Raharjo memang sangat janggal. Ada juga orang yang menduga pak Cokro mempunyai pesugihan dan pak Raharjo menjadi tumbalnya. “ya kalau pak Cokro itu punya pesugihan, kenapa kita juga nggak mati? Kita kan juga ikut makan di acara pernikahan Wulan.” Ucap salah seorang ibu-ibu. “ya mana mau setan dengan orang miskin seperti kita ini Bu. Hahaha.....,” ucap seorang lainnya dengan candaan.
Berita tentang kejanggalan kematian pak Raharjo itu sampai ke telinga Bu Indah. Tentunya Bu Indah semakin sedih dengan berita yang beredar dimasyarakat mengenai kematian suaminya. Yang paling menyedihkan Bu Indah adalah tentang kematian suaminya yang ditumbalkan oleh keluarga pak Cokro. Bu Indah lalu menceritakan hal ini kepada putranya tentang berita yang beredar di masyarakat. “sudah Bu...., Mereka kan tidak tahu kebenarannya. Tidak mungkin juga seorang pak Cokro memuja untuk mendapatkan kekayaan.” Ucap Candra. Walaupun berkata seperti itu, namun Candra teringat akan percakapan yang didengarnya ketika pak Cokro dan Lulun samak itu berbincang. “apa ini yang dimaksud dengan ibu?” tanya Candra dalam benaknya. Candra ingin mengatakan hal ini kepada istrinya, namun Candra mengurungkan niatnya. “apa mungkin waktu itu aku tidur seperti ditindih juga karena hal ini?” Candra bertanya-tanya.
Untung saja Tuhan masih melindungi Candra, kalau tidak sudah pasti Candra akan meninggal setelah acara pernikahannya. Candra lalu menghela nafasnya dan menyuruh ibunya untuk beristirahat saja dan tak memikirkan omongan warga yang telah menduga-duga tentang kematian ayahnya itu. Bu Indah menuruti perintah Candra lalu membaringkan tubuhnya dikasur. Candra lalu kembali kekamarnya untuk menceritakan semuanya kepada istrinya karena hanya istrinya lah yang tahu mengenai hal itu.
Candra lalu masuk kedalam kamarnya, disana sudah ada sang istri yang masih sibuk dengan laptopnya, “sayang..., Apakah kau sedang sibuk?” tanya Candra. “Tidak mas....,” ucap Wulan sembari menutup laptopnya. “Sayang..., Aku ingin bercerita mengenai sebelum kematian ayahku.” Ucap Candra yang mulai duduk disamping istrinya. Wulan menatap tajam mata suaminya sambil menunggu suaminya bercerita. “Sebelum ayahku dikabarkan meninggal dunia, setelah hari ketiga pernikahan kita, malam itu saat aku tidur, aku merasa seperti ada sesuatu yang menindih tubuhku sampai aku tak bisa membuka mataku. Saat malam itu mataku terasa sangat berat dan nafasku mulai sesak. Aku yang saat itu tidak bisa melakukan apapun, akhirnya aku membaca doa dan meminta perlindungan Tuhan agar aku dilindungi. Ternyata Tuhan masih melindungiku, setelah aku membaca doa itu, tubuhku terasa enteng dan aku bisa membuka lagi kedua mataku. Aku langsung memeriksa keadaanmu yang ada disamoingku, tapi kau terlihat sangat lelap setelah acara itu. Lalu aku kembali tidur lagi sampai akhirnya aku mendengar tangis ibuku atas kematian ayahku.” Ucap Candra bercerita. “lalu?” tanya Wulan. “Wulan..., aku yakin ayahku meninggal karena makhluk itu, makhluk yang pernah kita temui didanau yang ingin membunuhku seperti yang kita dengar.” Ucap Candra. Wulan lalu berdiam sejenak dan mengingat akan hal itu. Wulan lalu membuka lebar-lebar matanya, “lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Wulan. Hal yang ditakutkan Wulan pun akhirnya terjadi. Walau bukan Candra yang meninggal, tapi Wulan juga sedih atas kematian ayah mertuanya.