Gagal mengambil jiwa

1036 Words
Malam itu Lulun samak itu gagal mengambil jiwa Candra karena Candra membaca ayat suci ketika Lulun samak itu menindih tubuhnya dan ingin mencekiknya. Lulun samak itu merasa kepanasan saat berada didekat Candra. Walau Candra tak bisa membuka matanya saat itu, namun Candra masih sadar dan masih ingat bahwa Tuhan maha segalanya. Lulun samak yang kepanasan itu pun langsung keluar dari kamar Candra dan langsung menuju kekamar pak Raharjo. Pak Raharjo tampak kelelahan dan tidur lelap bersama dengan istrinya. Pak Raharjo awalnya tidur biasa saja, namun saat Lulun samak itu menindih tubuhnya dan mulai mencekik par Raharjo. Pak Raharjo berusaha membuka matanya dan kaget ketika melihat ada sosok menyeramkan menindih tubuhnya dan mencekik lehernya. Bu Indah yang kala itu tidur disamping suaminya itu juga tak melihat dan tak merasa suaminya sedang berada di titik antara hidup dan juga mati. Saat itu posisi Bu Indah tidur miring membelakangi suaminya yang sedang diambang maut itu. Setelah meninggal, tubuh pak Raharjo tak bisa berontak lagi. Pak Raharjo meninggal dalam ketakutannya. Sebelum meninggalkan dunia ini, pak Raharjo melihat sosok menyeramkan mencekik lehernya namun tak ada satu pun orang yang menolongnya. Pak Raharjo yang mempunyai riwayat penyakit dalam seperti jantung dan paru-paru yang sudah tidak sehat lagi itu pun seketika langsung menghembuskan nafas terakhirnya disamping sang istri. Malam itu Bu Indah juga tak merasa suaminya telah meninggal karena terlalu lelah dengan acara yang digelar pak Cokro. Keesokan paginya, saat Bu Indah akan melaksanakan shalat subuh, Bu Indah membangunkan suaminya. Namun saat Bu Indah menyentuh tubuh suaminya, tubuh pak Raharjo terasa dingin. Bu Indah tetap menggoncang lembut tubuh pak Raharjo namun pak Raharjo tak kunjung bangun dari tidurnya. Bu Indah pun berteriak dari dalam kamar memanggil nama suaminya. Sementara itu, mbak Aminah yang mendengar teriakan Bu Indah itu pun lalu mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban apapun dari Bu Indah, Bu Indah tetap saja berteriak memanggil nama suaminya diikuti dengan isak tangisnya. Mbak Aminah pun memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar tamu tempat Bu Indah dan suaminya tertidur. “ada apa Bu?” tanya mbak Aminah yang terlihat panik melihat Bu Indah sudah berlinang air mata. Bu Indah tak menjawab namun tetap menggoncang tubuh suaminya. Mbak Aminah yang tak percaya akan hal itu pun lalu membangunkan Wulan dan suaminya beserta dengan pak Cokro dan Bu Sekar. Mereka pun langsung bergegas kekamar tempat pak Raharjo dan Bu Indah menginap. Candra langsung memeriksa denyut nadi bapaknya. Setelah memeriksa denyut nadi pak Raharjo, Candra pun langsung menangis. “ada apa mas? Bapak kenapa?” tanya Wulan panik. Pagi itu mereka yang baru saja melakukan pernikahan pun seketika kebahagiaan mereka dirubah menjadi kesedihan atas meninggalnya pak Raharjo dirumah pak Cokro. Candra sangat terpukul melihat ayahnya yang sudah meninggal. Candra seketika ingat akan petuah ayahnya yang diucapkannya sebelum Candra menikah. Pak Raharjo adalah sosok ayah yang pekerja keras, tangguh dan juga bertanggung jawab. Candra juga ingat saat ayahnya dirawat dirumah sakit dan dibesuk oleh pak Cokro saat itu, bahkan pak Raharjo meminta kepada pak Cokro untuk tetap menggunakan tenaganya bekerja di peternakan milik pak Cokro. Pak Cokro melihat ada bekas cekikkan di leher pak Raharjo, namun tak ada orang yang memperhatikan hal itu. Bekas cekikkan itu warganya agak biru samar. Pak Cokro tahu bahwa Lulun samak itulah yang membunuh pak Raharjo sebagai tumbal atas uang yang diminta oleh Bu Sekar secara tidak sengaja. Pak Cokro juga agak bingung kenapa Lulun samak itu tak membunuh Candra melainkan malah membunuh ayahnya. “Candra..., lebih baik jenazah ayahmu diurus dirumah ini saja, beliau kan juga meninggal disini.” Ucap pak Cokro. “Memangnya boleh pak?” tanya Candra dengan wajah sedihnya. “Ya tentu saja boleh, rumah ini juga akan menjadi rumahmu.” Ucap pak Cokro menepuk bahu Candra. Pagi itu memang suasana duka menyelimuti keluarga pak Cokro. Besannya telah meninggal dunia secepat itu. Bu Indah sangat terpukul dengan kematian yang terjadi kepada suaminya secara tiba-tiba. Mereka para anggota keluarga lain juga tak menduga hal itu terjadi. Pak Raharjo kini sudah berpulang akibat dicekik oleh Lulun samak itu. Bukan hanya Candra yang terpukul atas kematian ayahnya, Wulan sebagai seorang menantu pun juga terpukul akan hal itu. Baru saja menikah dengan Candra, namun ia sudah kehilangan ayah mertuanya yang dianggapnya sangat baik itu. “Sabar ya mas...,” ucap Wulan lembut. Wulan menguatkan hati suaminya. Candra pun masih tetap meneteskan air matanya. Begitupun dengan Bu Indah, Bu Indah juga tak berhenti menangis atas kematian suaminya. “sudah Bu..., Ikhlaskan pak Raharjo pergi ya,” ucap Bu Sekar menenangkan Bu Indah. Bu Indah menghapus air matanya, namun air mata Bu Indah tak bisa berhenti menetes. Semua orang sudah pasti terpukul akan kejadian ini. Tepat di hari Sabtu pak Raharjo menghembuskan nafas terakhirnya. Hari ini pukul sembilan pagi, proses pemandian jenazah dan memasang kain mori harus dilakukan. Candra juga ikut memandikan ayahnya sampai selesai. Pak Raharjo akan dikebumikan pada pukul sepuluh nanti, saat semua proses sudah selesai. Banyak tetangga yang juga kaget atas kematian pak Raharjo. Banyak para tetangga yang tak menduga hal itu, “bukankah kemarin saat kita bertemu pak Raharjo baik-baik saja kan Bu Indah?” tanya salah seorang tetangga yang ikut taziah kerumah pak Cokro. “iya Bu..., Kami juga tidak menyangka hal itu terjadi kepada suamiku.” Jawab Bu Indah dengan sesenggukan. Banyak warga menenangkan Bu Indah atas kematian pak Raharjo ini. Namun Bu Indah tetap tak bisa membendung air matanya. Bu Indah masih sedih atas musibah yang menimpa suaminya. Sebagai putra satu-satunya, Candra merawat pak Raharjo saat kematiannya. Candra tampak menahan air matanya agar tidak menetes mengenai kulit ayahnya. Candra adalah orang yang mengerti dan patuh terhadap agama. Candra tak ingin menangis didepan jenazah ayahnya yang kini sudah berada di alam yang berbeda. “Bapak..., Besok kita akan bertemu lagi ya pak.” Ucap Candra sambil menahan air matanya. Pukul sepuluh pagi, Candra juga ikut mengangkat keranda ayahnya dan ikut memakamkan sang ayah ke tempat terakhirnya. Candra pun juga ikut memakamkan ayahnya. Sembari memakamkan ayahnya, Candra memikirkan Bu Indah yang sudah ditinggal oleh suaminya. Setelah memakamkan ayahnya, Candra tinggal sejenak di kuburan ayahnya untuk mengirim doa dan menabur bunga diatas makam pak Raharjo. Setelah itu Candra pulang dengan membuang semua kesedihannya. Candra tahu bahwa bukan tangisan yang diperlukan ayahnya melainkan sebuah doa setiap saat harus Candra kirimkan untuk ayahnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD