Resepsi hari ketiga

1035 Words
Hari ini adalah hari ketiga, dimana pesta rakyat akan dilakukan dirumah pak Cokro. Wulan dan Candra tetap berhias pengantin namun tak seperti sebelumnya. Hari ini mereka berdadan seperti layaknya make up prewedding. Mereka sudah lelah jika harus berhias layaknya pengantin dengan adat-istiadat setempat. Makanan yang disajikan pun beragam dan semua makanan mewah itu sangat membuat para warga yang diundangnya merasa senang. Hidangannya bahkan lebih beragam dari hidangan yang kemarin disajikan untuk para tamu. Para tetangga semuanya datang dengan membawa sanak familinya. Memang pak Cokro membebaskan para warganya untuk ikut semua di acara itu. Pak Cokro bahkan memberlakukan tidak akan menerima sumbangan dari warga kampung. Sebelum mereka makan, pak Cokro berpidato dahulu sebelumnya, hal itu dikarenakan pak Cokro mendengar ada omongan warga yang mengatakan bahwa pak Cokro telah membeda-bedakan para tamu, bahkan pak Cokro juga menjelaskan bahwa pak Cokro memang sengaja tak libatkan warga dalam pernikahan putrinya karena pak Cokro tak ingin merepotkan warganya. Pak Cokro sama ssklai tak mau menerima sumbangan dari warga sekitar dengan embel-embel pak Cokro menganggap mereka seperti saudara sendiri. Memang terlihat berbeda dengan sebelumnya, kali ini para warga bahkan berebutan mengambil makanan yang disediakan pada setiap mejanya. Makanan yang tersedia disana adalah, bebek bakar, ayam goreng, soto, bakso, sate kambing, tengkleng, rendang sapi dan masih banyak lagi makanan lainnya. Bukan hanya makanan sepuasnya. Pak Cokro juga memberikan bingkisan kepada para warga sebagai oleh-oleh untuk mereka. Wulan terlihat senang karena di acara pernikahan yang dilaksanakan ini membawa kebahagiaan bagi seluruh warga kampung. Mereka juga terlihat bahagia berebut makanan yang sudah tersedia disana. Beberapa kali pak Cokro mengingatkan mereka untuk tidak saling berebut dikarenakan semuanya akan kebagian makanan itu. Pak Cokro yakin bahwa makanan yang telah disajikan itu tak akan habis dimakan oleh para warga yang saling berebut makanan itu. Bahkan pak Cokro menyarankan kepada mereka bahwa hari ini mereka bisa makan makanan itu sampai tiga kali. Pak Cokro ingin agar semua tetangganya tak ada yang kelaparan di hari pernikahan putrinya. Bu Indah merasa terharu dengan pemandangan yang dilihatnya. Semua tetangganya kekenyangan saat makan makanan enak yang mungkin belum pernah sama sekali mereka memakannya. Bukan hanya di kampungnya, bahkan pesta rakyat itu pun dihadiri oleh warga dari kampung sebelah. Mereka berbondong-bondong datang ke pernikahan Wulan karena ingin memakan makanan gratis yang telah disediakan pak Cokro. Pak Cokro sama sekali tidak melarangnya. Pak Cokro juga tak khawatir makanan itu akan habis setelah orang dari kampung lain datang di acara resepsi itu. “Ayah..., Kenapa banyak sekali yang datang?” tanya Wulan heran. “iya nak..., Kau lihat orang itu? Dia berasal dari kampung sebelah, sepertinya ayah juga tidak mengundangnya, tapi biarlah, dengan begini mereka akan mendoakanmu yang terbaik.” Ucap pak Cokro sambil menunjuk seseorang yang sedang lahap memakan sepiring nasi beserta lauk lainnya. “Iya ayah..., Bukan undangan yang Wulan maksud, tapi Wulan takut kalau makanan itu habis dan ada orang yang belum kebagian, ayah lihat tamunya menjadi sebanyak ini.” Ucap Wulan khawatir. “tenang saja nak, makanan ini tak akan habis kalau hanya dimakan oleh warga disini. Ayah jamin itu.” Ucap pak Cokro penuh percaya diri. Wulan dan Candra melihat para tamu yang sedang lahap memakan makanan prasmanan itu dari atas panggung. Memang banyak orang berasal dari kampung sebelah yang datang tanpa undangan. Pak Cokro tetap membiarkan semua orang untuk masuk di acara itu. Ada satu hal yang membuat para juru masak kaget. Walau ia beberapa kali mengeluarkan nasi dari kukusan, ia tak melihat nasi itu berkurang sama sekali. Setiap ia menutup kukusan berisi nasi itu dan dibuka kembali, nasi itu kembali memenuhi kukusan itu. Hal itu memang ajaib dan belum pernah ia mengalami hal ini selama bertahun-tahun memasak nasi di acara resepsi pernikahan. Bukan hanya si penanak nasi, si tukang masak khusus rendang juga merasakan hal itu. Tapi mereka tetap berfikir positif saja karena pak Cokro memberi makan kepada fakir miskin, mungkin Tuhan yang membantu pak Cokro dan menjaga agar pak Cokro tak kehabisan makanan. Mereka tidak tahu bahwa warga yang sudah memakan makanan itu adalah calon-calon tumbal pak Cokro untuk Lulun samak sesembahannya. Sampai malam hari setelah isya pun masih banyak tamu yang tetap nongkrong di acara pernikahan itu. Wulan dan Candra pun sudah sangat lelah di hari resepsi pernikahan ketiga ini. Pak Cokro juga mengijinkan Wulan dan Candra untuk melepas semua atribut pernikahan yang masih dipakainya dan juga menghapus riasannya yang sejak tadi pagi menempel di pipinya. Candra dan Wulan pun kekamarnya untuk mengganti pakaiannya. Wulan juga menghapus make up-nya sementara itu Candra juga sibuk menghapus make up dan juga langsung mandi. Mereka agak lelah namun tidak seperti kemarin. Dari dalam kamar Wulan menelepon ayahnya untuk beristirahat sejenak karena badannya pegal-pegal. Wulan pun membaringkan tubuhnya dikasur sembari menunggu suaminya yang sedang mandi dikamar mandi. Wulan pun tak lama kemudian memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk. Candra yang keluar dari kamar mandi pun tersenyum saat melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu tertidur lelap. Perlahan Candra pun membaringkan tubuhnya disamping sang istri. Candra menatap wajah istrinya. Kini Wulan, wanita yang diidam-idamkannya telah sah menjadi istrinya. Tak sia-sia setiap malam Candra berdoa agar dijodohkan oleh Wulan. Awalnya Candra tak yakin bahwa hubungannya itu akan direstui oleh pak Cokro, namun berkat doanya, pak Cokro akhirnya merestui hubungan itu. Malam itu Candra juga memejamkan matanya untuk tidur disamping istrinya. Candra tak akan memaksa Wulan untuk melayaninya malam ini. Candra akan menunggu sampai Wulan sendiri siap melakukan hal itu karena bagi Candra kenyamanan Wulan adalah yang paling utama bagi Candra. Baru saja terlelap, tubuh Candra seperti ditindih oleh sesuatu yang berat namun Candra seperti tak bisa membuka matanya. Candra pun merasakan bahwa perlahan nafasnya sesak. Namun Candra sadar bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Candra juga merasa ada tangan besar sedang meraba dadanya menuju ke lehernya lalu mencekiknya. Candra yang semakin sulit bernafas pun hanya bisa membaca ayat suci dan minta perlindungan Tuhan agar dilindungi dari hal jahat yang akan menimpanya. Candra membaca ayat suci itu dengan khusyuk sambil berusaha bernafas dengan lepas. Setelah selesai membaca ayat suci, perlahan tubuh Candra mulai terasa enteng dan Candra mulai bisa membuka matanya. Candra pun langsung membuka matanya, keringat dingin keluar dari keningnya, nafas Candra terengah-engah. Candra lalu melihat istrinya yang masih tidur terlelap dan memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakan bagi istrinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD