Hari ini adalah hari kedua acara resepsi yang digelar oleh keluarga pak Cokro. Bu Indah dan pak Raharjo juga menginap dirumah pak Cokro semalaman ini. Mereka tinggal di kamar tamu yang sangat mewah dan tak pernah mereka tahu cara menghidupkan AC dan juga mengatur suhunya. Kamar tamu dirumah pak Cokro sangatlah mewah, fasilitas yang ada dikamar itu sama seperti hotel. Ada kamar mandi dalam, kasur spring bed dan juga ruangan ber AC. Pak Raharjo dan juga Bu Indah tak berani menghidupkan AC itu. Mereka lebih memilih untuk membuka jendela saja daripada harus menghidupkan AC. “Pak..., Ini hari kedua, entah siapa lagi yang datang. Ibu ini sangat tidak enak jika bertemu dengan warga kampung, mereka pikir pak Cokro membeda-bedakan para tamunya.” Ucap Bu Indah kepada suaminya. “Bukannya membeda-bedakan Bu..., Kan pak Cokro termasuk orang terkaya, sudah sepantasnya jika beliau membagi-bagi para tamunya karena sangat banyak. Ibu tahu kan, kemarin saja tamu pak Cokro sangat banyak.” Jawab pak Raharjo. “iya juga ya pak..., Apalagi hari ini, pasti pak Cokro juga mendapatkan banyak uang ya pak.” Ucap Bu Indah. “ya wajar kalau pak Cokro mendapatkan banyak uang Bu, ibu tahu kan, seluruh makanan disini pun juga pasti biayanya banyak. Banyak juga makanan yang belum pernah sama sekali kita makan lho Bu.” Ucap pak Raharjo. Mereka saling berbincang membicarakan acara pernikahan yang membuatnya super capek ini.
Perias memanggil Candra dan Wulan untuk dirias kembali untuk menyambut tamu yang datang. Sebelum dirias, Candra dan Wulan pun sarapan terlebih dahulu. Bu Sekar dan juga pak Cokro melakukan hal demikian agar tidak kelaparan saat menemui tamu-tamu nanti. Di hari kedua ini Wulan tampak cantik dengan pakaian adat Sunda seperti yang telah direncanakannya. Perias yang merias wajah Wulan adalah teman semasa sekolahnya dulu. Baru kemarin dan juga hari ini mereka bertemu setelah sekian lama tidak pernah berjumpa. “bagaimana riasanku Wulan?” tanya perias itu. “Aku sangat puas dengan hasil kerjamu. Lain kali jika aku tujuh bulanan kau mau aku panggil lagi kesini kan?” tanya Wulan. “Hmmm...., Tentu saja Wulan. Tapi apakah kau sudah siap? Aku yakin kau masih menjadi gadis perawan. Betul kan?” tanya perias itu menggoda Wulan. Wulan lalu tersenyum dan menjawab, “aku sangat lelah, begitu pun dengan suamiku. Kami semalam belum melakukan apapun.” Ucap Wulan terus terang. “Sungguh sangat mencengangkan, tamu yang datang di acara pernikahanmu begitu banyak.” Ucap perias itu terkesan dengan para tamu yang sangat banyak itu. Karena itulah pak Cokro memesan makanan sekitar seribu porsi untuk dua hari ini.
Pada hari kedua resepsi pernikahan Wulan dan Candra saat pagi sampai sore tamunya tidak begitu banyak, namun saat magrib. Semua tamu datang ke acara resepsi pernikahan mereka. Bahkan sampai pukul sembilan malam para tamu semakin banyak berdatangan. Ternyata bukan hanya tamu manusia yang datang diacara pernikahan itu. Hari kedua ini adalah hari Kamis malam Jumat Kliwon. Ada yang tampak aneh dengan para tamu malam itu. Mereka tampak diam saja tak berbicara satu dengan yang lainnya. Hanya pak Cokro yang tahu siapa orang-orang asing yang datang di acara resepsi pernikahan putrinya. Sudah pasti mereka adalah anak buah dari Lulun samak itu. Walau mereka menjelma sebagai manusia pada umumnya, tapi ada yang tampak berbeda dengan mereka. Bu Sekar juga tidak mengenal mereka sama sekali begitu pun dengan pak Cokro. Walau pak Cokro mengenal, tapi pak Cokro tetap diam tak mengajak mereka berbicara. Candra dan Wulan yang melihat para tamu itu tampak merinding karena selain pucat, para tamu itu mempunyai tatapan mata yang kosong menghadap kedepan. Mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lain. “neng Wulan, mereka itu siapa? Wajah mereka tampak aneh, pucat dan tatapannya kosong.” Ucap Candra berbisik. “Aku juga tidak tahu mas..., Barangkali mereka adalah tamu-tamu ayah.” Ucap Wulan. Wulan melihat jam di ponselnya. Pada ponselnya jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mata Wulan tampak berat seperti ingin tidur, namun para tamu itu juga belum ada yang pulang bahkan malah bertambah semakin banyak. “Dek..., Mumpung kamu pegang ponsel, ayo kita foto dan buat video.” Ucap Candra. Wulan lalu memberikan ponselnya kepada suaminya. Saat itu Candra dan Wulan ingin foto dengan kamera depan, namun kamera Wulan saat itu adalah kamera belakang. Saat Candra mengangkat ponselnya, Candra tampak terkejut bahwa tidak ada satu tamu pun nampak pada kamera ponselnya. Candra pun menyenggol tubuh istrinya untuk memberi tahu ada yang aneh pada poselnya. Mata Candra bergantian melihat kamera ponselnya dan juga kursi tamu undangan. Wulan juga memperhatikan hal yang aneh itu. Seketika bulu kuduk mereka berdiri dan mereka pun pingsan. Pak Cokro yang saat itu masih duduk di pelaminan pun kaget melihat sepasang pengantin itu pingsan. Pak Cokro membopong tubuh putrinya dan memasukkannya kedalam kamar, sementara tubuh Candra diangkat oleh pak Raharjo beserta Asep dan beberapa laki-laki lainnya. Mereka tak sadarkan diri dengan menjatuhkan ponselnya dipanggung itu.
Malam itu pukul sepuluh malam, tentunya membuat pak Cokro dan Bu Sekar panik. Tidak akan ada dokter yang mau kekampung mereka semalam itu. Bu Sekar lalu memberi kayu putih pada telapak tangan dan telapak kaki putrinya. Bu Sekar mengusap-usap tangan putrinya. Sementara pak Cokro memberi hidung Wulan dengan minyak kayu putih agar Wulan segera siuman. “asep! Coba panggilkan mantri yang tinggal di kampung sebelah, siapa tahu beliau mau membantu!” ucap pak Cokro panik dan memerintah Asep sang supir pribadi keluarga Cokro. Asep pun langsung bergegas kerumah mantri puskesmas itu. Asep berharap mantri itu mau membantu Candra dan Wulan yang saat ini sedang pingsan.
Tak lama kemudian, mantri puskesmas itu pun mau membantu keluarga pak Cokro untuk memeriksa tubuh Wulan dan juga Candra. Mantri itu memeriksa Wulan dan juga Candra lalu memberinya obat, “putra putrimu ini hanya kelelahan saja.” Ucap mantri itu singkat. Mantri itu pun meyakinkan pak Cokro bahwa putrinya baik-baik saja dan sebentar lagi akan siuman. Mantri itu lalu pulang diantar oleh Asep kerumahnya. Sementara itu, Bu Sekar masih mengusap telapak tangan putrinya agar bisa segera siuman.
Benar apa kata mantri puskesmas itu, Wulan dan Candra sadar secara bersamaan. “Kemana tamu-tamu itu Bu? Apa yang terjadi dengan Wulan?” tanya Wulan sambil mengingat-ingat sesuatu. Saat dipanggung tadi yang membuat Wulan sampai pingsan adalah para tamunya yang tidak terlihat dikamera dan saat Wulan menatap kembali wajah tamu-tamu itu, mereka berubah menjadi menyeramkan dan menatap tajam wajah Wulan. Wajah menyeramkan itulah yang membuat Wulan dan Candra pingsan secara bersamaan.
Pak Cokro yang sudah tahu pun menenangkan Wulan. “mungkin kamu hanya kelelahan nak.” Ucap pak Cokro sambil merangkul putrinya. “tidak ayah..., Aku tidak berbohong. Para tamu asing itu bisa berubah wajahnya.” Ucap Wulan. “Sudah sudah..., Kalian istirahat saja ya.” Ucap pak Cokro tak ingin putrinya membahas hal baru dilihatnya itu.
Pak Cokro, Bu Sekar, pak Raharjo dan juga Bu Indah pun pergi meninggalkan kamar pengantin itu. Wulan yang tampak ketakutan pun memeluk suaminya yang sedang duduk dikasur disampingnya. “mas aku takut.” Ucap Wulan. Candra juga masih bingung dengan kejadian baru saja dialaminya. Kejadian itu benar-benar nyata, tapi tak sedikitpun mereka berfikiran buruk dengan pak Cokro.