Candra sakit

1068 Words
Setelah mengantar keluarga pak Raharjo ke puskesmas, Asep pun berpamitan pulang. “Terima kasih ya kang, karena sudah mengantar kami ke puskesmas, kami tidak tahu apa jadinya jika nggak ada kang Asep.” Ucap Bu Indah. “Iya Bu..., Tidak apa-apa, saya berdoa semoga Candra cepat sembuh ya Bu.” Ucap Asep lalu pulang kerumah keluarga pak Cokro. Selama perjalanan pulang, Asep teringat akan wajah Candra yang tampak pucat itu. Asep bahkan berfikir bahwa puskesmas nanti juga akan angkat tangan menangani Candra. Asep lalu berfikir sesampainya dirumah nanti akan memberi tahu Wulan bahwa Candra saat ini dalam keadaan tidak sehat. Sampailah Asep dirumah majikannya itu dan langsung mengetuk kamar Wulan yang kala itu sedang tertidur. “Non..., Non Wulan...,” Asep memanggil nama Wulan dengan kepanikan. Tak lama kemudian, Wulan pun keluar dari kamarnya dengan mata yang masih setengah terbuka. “ada apa kang?” tanya Wulan. “non..., Saya baru saja mengantar Candra ke puskesmas, keadaannya sangat miris non, wajahnya sangat pucat, badannya juga panas. Saya rasa Candra mengalami penyakit yang serius.” Ucap Asep serius. “loh..., Bukankah dia kemarin baik-baik saja?” tanya Wulan dengan mata yang langsung terbelalak. “iya non..., Kedua orang tuanya juga bingung. Kalau non mau, saya bisa antar non ke puskesmas pagi ini.” Ucap Asep. “baiklah..., Kang, tolong katakan kepada mbak Aminah untuk membungkus tiga bungkus nasi beserta lauknya ya, aku akan langsung mandi.” Ucap Wulan yang langsung menutup pintu kamarnya kembali. Pagi itu adalah pagi dimana keluarga Candra dan juga Wulan panik dengan keadaan Candra yang tiba-tiba jatuh sakit itu. Wulan langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah siap, Wulan pun mengambil makanan yang sudah disiapkan mbak Aminah untuk diberikan kepada kedua orang tua Candra nanti di puskesmas. “mbak..., Nanti kalau ibu tanya, bilang saja saya ke puskesmas untuk menjenguk Candra.” Ucap Wulan kepada asisten rumah tangganya. “baik non...,” jawab mbak Aminah patuh. Wulan langsung bergegas kemobilnya bersama dengan Asep, supir pribadi keluarga pak Cokro. “ayo kang, cepatlah!” ucap Wulan yang tampak buru-buru ingin segera melihat keadaan Candra dirumah sakit. Saat perjalanan menuju puskesmas, Wulan berusaha menelepon Candra, tapi sama sekali tidak ada yang mengangkatnya. Pikiran Wulan bertambah panik ketika dirinya teringat akan sosok Lulun samak itu yang pernah dilihatnya malam itu bahwa sosok itu pun menginginkan Candra untuk menjadi tumbalnya. “Aduh..., Jangan sampai hal ini terjadi.” Wulan bergumam dan kebetulan terdengar oleh Asep dan menimpalinya, “apa non?” tanya Asep yang tidak jelas dengan apa yang Wulan katakan tadi. “Oh..., Tidak kang, tidak apa-apa.” Jawab Wulan yang masih terus berusaha menghubungi Candra. Sesampainya di puskesmas, keluarga Candra masih menunggu giliran untuk diperiksa. “loh..., Dari tadi belum diperiksa Bu?” tanya Asep kepada Bu Indah, ibunda Candra. “Belum kang, ini masih menunggu giliran. Eh..., Ada non Wulan disini.” Ucap Bu Indah dengan senyumnya yang tampak lesu. Melihat keadaan Candra yang tampak pucat itu, Wulan langsung ambil tindakan. “ibu..., Bapak..., Kita bawa saja Candra ke rumah sakit ya, mumpung belum terlambat, wajahnya sudah pucat dan panasnya masih tinggi.” Ucap Wulan. “tidak perlu non, di puskesmas saja, semoga Candra cepat sembuh.” Ucap pak Raharjo menimpali. Wulan pun menghela nafasnya, “ibu.. , bapak..., Dengan wajah pucat dan badan panas seperti ini, tidak memungkinkan Candra untuk sembuh dari sini, kemungkinan pihak puskesmas juga akan memberikan surat jalan untuk diperiksa ke rumah sakit besar, tentunya nanti akan memakan waktu dan juga akan terjadi banyak masalah dan akhirnya Candra malah tidak tertolong.” Ucap Wulan. “memangnya Candra sakit apa non?” tanya Bu Indah tanpa sengaja meneteskan air matanya. “yang penting ibu dan bapak setuju saja, soal biaya, ibu dan bapak tidak perlu khawatir ya.” Ucap Wulan. Kedua orang tua Candra pun langsung menyetujui Wulan untuk membawa Candra kerumah sakit. Asep pun juga membantu memapah Candra menuju kemobil Wulan. Mereka mulai berangkat kerumah sakit, mengingat perjalanan dari puskesmas kerumah sakit memakan waktu kira-kira empat puluh lima menit. Setiap laju roda mobil Wulan, Wulan menyuruh Asep untuk menyetir lebih cepat lagi agar segera cepat sampai kerumah sakit. Wulan melihat raut wajah kedua orang tua Candra yang tampak panik dan sedih melihat Candra mengalami sakit yang tida mereka ketahui. Wulan pun juga sampai pingsan setelah melihat sosok Lulun samak itu untuk pertama kalinya. Mungkin bisa juga Candra mengalami apa yang telah Wulan alami waktu itu. Mereka pun sampai dirumah sakit, Wulan dan semua orang pun langsung membawa Candra ke unit gawat darurat agar Candra mendapatkan pelayanan insentif. Bu Indah pun mengatakan kronologi Candra yang tiba-tiba mengalami demam tinggi dan wajah yang pucat pasih itu. Dokter di unit gawat darurat itu pun langsung memeriksa Candra saat itu juga. Sementara saat Candra diperiksa, kedua orang tua Candra dan juga Wulan menunggu diluar. Wulan pun memegang tangan Bu Indah, “bu Indah sabar ya.. ,” ucap Wulan menenangkan Bu Indah. Bu Indah tidak menjawab. Bu Indah masih panik dengan apa yang baru saja menimpa putra semata wayangnya itu. Tak lama setelah pemeriksaan itu, sang dokter pun keluar dari ruangan Candra dan mengatakan bahwa Candra hanya kurang cairan saja. “Setelah ini juga Candra akan sembuh.” Ucap sang dokter meyakinkan mereka. “syukurlah..., Terima kasih dokter.” Ucap Wulan mewakili kedua orang tua Candra. Candra pun hari itu juga akan dipindah kekamar tempat perawatan pasien. Mereka tampak lega mendengar diagnosa yang dokter katakan walau Candra masih tampak pucat. “Bu..., Bapak..., Kita makan dulu yuk..., Wulan sudah bawa makanan dari rumah untuk kita makan bertiga.” Ucap Wulan kepada kedua orang tua Candra. “nak..., Kenapa repot-repot, ibu dan bapak tidak lapar kok, kita juga tidak terbiasa sarapan pagi.” Ucap Bu Indah. “Boleh kita makan nanti siang saja, lagi pula makanan ini juga baru dimasak.” Ucap Wulan kepada kedua orang tua Candra. Pagi itu Wulan merasa perutnya tidak enak dan Wulan meminta ijin untuk kekamar mandi terlebih dahulu. Saat Wulan meninggalkan ruangan Candra, tinggal lah Bu Indah dan pak Raharjo diruang tunggu pasien. “pak..., Benar saja putra kita itu tergila-gila dengan non Wulan. Bapak lihat kan perlakuannya kepada kita.” Ucap Bu Indah mulai membicarakan kebaikan Wulan. “Iya Bu..., Putra kita itu memang hebat. Dia juga bisa menaklukkan hati non Wulan. Kita kan tahu, non Wulan adalah gadis paling sempurna di desa kita.” Sahut pak Raharjo. Mereka berdua tampak tersenyum melihat kebaikan yang diberikan oleh Wulan kepada keluarga mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD