Atas perintah Lulun samak

1036 Words
Siang itu, pak Cokro dan Bu Sekar pulang dari peternakan dan kebun milik mereka. Sesampainya dirumah, Bu Sekar melihat kearah sekitar rumah yang tampak sepi. “Wulan..., Wulan...,” Panggil Bu Sekar. Tak lama setelah suara Bu Sekar terdengar oleh Aminah, asisten rumah tangga Bu Sekar. “Bu..., Non Wulan berpesan kalau hari ini ke rumah sakit mengantar Candra.” Ucap Aminah. “Memangnya sakit apa mbak?” Tanya Bu Sekar. “Non Wulan tidak memberi tahu Bu, ibu bisa bertanya kepada non Wulan langsung nanti atau sekarang lewat telepon.” Ucap Aminah yang langsung berjalan menuju ke dapur lagi untuk menyiapkan makan siang. Bu Sekar pun ke kamarnya untuk menyusul suaminya yang juga baru pulang dari peternakan. “Bapak..., Wulan pergi kerumah sakit katanya.” Ucap Bu Sekar kepada suaminya. “Untuk apa dia kerumah sakit Bu? Bukankah jadwal kontrolnya masih bulan depan?” tanya pak Cokro. “Candra sakit pak.” Jawab Bu Sekar singkat. Pak Cokro pun terdiam mendengar Candra yang sakit, dalam hatinya merasa agak senang karena jika orang sakit, kemungkinannya ada dua, antara sembuh atau mati. “apa dia yang melakukan hal ini ya?” pak Cokro bertanya-tanya dalam hatinya. Pikiran jahat pak Cokro pun memenuhi kepalanya, kalau Candra mati, sudah pasti pak Cokro tak perlu repot-repot menikahkan putrinya dengan laki-laki miskin itu. Kalau bukan karena ucapan dan saran dari sesembahannya itu, tentunya pak Cokro tidak ingin dan sangat tidak setuju jika putri semata wayangnya itu menikah dengan Candra. Walau pak Cokro tak punya pandangan dengan siapa nanti Wulan akan dijodohkan, pak Cokro tidak ingin jika putrinya menikah dengan Candra. “ayo kita makan siang dulu Bu...,” ucap pak Cokro mengalihkan pembicaraan tentang Candra. Bu Sekar pun mengangguk dan ikut suaminya melangkah ke meja makan. Sampai dimeja makan, Bu Sekar memandang tempat duduk yang biasa diduduki putrinya selagi masih makan. “pak..., Kalau tidak ada Wulan, rumah jadi sangat sepi ya.” Ucap Bu Sekar membuka pembicaraan. “iya Bu..., Sekarang putri kita itu sudah dewasa ya Bu..., Lihatlah Bu, dia sekarang sudah punya dunianya sendiri. Nanti hanya akan tinggal ibu dan bapak saja dan putri kita akan bahagia dengan suami dan juga anak-anaknya.” Ucap pak Cokro seraya mengunyah makanannya. Ada suatu kebanggaan dari Bu Sekar dan juga pak Cokro mengenai putrinya yang sudah dewasa itu. “putri kita tidak akan meninggalkan kita pak, nanti sudah pasti Candra akan ikut tinggal bersama kita. Ibu ini tidak tega jika Wulan harus tinggal dirumah reyot itu.” Ucap Bu Sekar sinis. Walaupun Bu Sekar tidak menentang hubungan antara Candra dan Wulan, tapi sebagai seorang ibu yang selalu memberikan kemewahan kepada putrinya itu dan tiba-tiba Wulan hidup menderita bersama keluarga Candra. Bu Sekar tidak bisa membayangkan hal itu. Bagi Bu Sekar, uang atau kekayaan bisa membawa seseorang menuju pintu kebahagiaan. Contohnya saja Bu Sekar yang selalu memandang apapun dengan uangnya. Selama ini keluarga Bu Sekar terkenal baik dan dermawan. Bersama dengan kekayaannya, keluarga Bu Sekar bisa memberi orang lain pekerjaan atau amal setiap tahunnya. Kalau tidak ada uang, hal itu sudah pasti tidak akan bisa dilakukannya. Sama sekali tidak ada yang membenarkan mencari kekayaan dengan jalan pintas yang tentunya menyekutukan Tuhan adalah suatu dosa besar. Tapi dosa itu biarlah pak Cokro yang menanggungnya di alam lain nantinya ketika beliau sudah meninggal. Uang-uang yang didapatkan pak Cokro dari hasil memuja itu pun digunakannya juga untuk pesta rakyat setiap tahun sekali. Walau pak Cokro tidak pernah mengikuti kegiatan keagamaan apapun, tak mengubah rasa dermawan pak Cokro kepada warga di desanya. Banyak warga desa yang menggantungkan hidupnya di peternakan dan juga pertanian milik pak Cokro sekeluarga. Pak Cokro pun seumur hidupnya hanya memecat beberapa orang saja dengan berbagai alasan yang tentunya akan merugikan usaha pak Cokro jika pak Cokro terus mempertahankan mereka. Salah satunya adalah pencurian yang merugikan sampai ratusan juta rupiah di masa lampau. Dengan sangat terpaksa pak Cokro memecat beberapa orang yang mencuri di peternakannya, pak Cokro pun cukup bijak saat itu. Pak Cokro tidak menjebloskan mereka ke penjara. Pak Cokro hanya mengancam mereka dan menyuruh mereka mengembalikan aset-aset yang telah dicuri oleh orang itu. Kini pak Cokro tak pernah mengkhawatirkan tentang usahanya karena Lulun samak selalu mengawasi para pekerja pak Cokro. Rumah pak Cokro juga sangat aman dan tidak ada perampok yang berani merampok lagi dirumah pak Cokro. Waktu itu, ketika Bu Sekar dan pak Cokro menjenguk Wulan yang sedang berkuliah di Amerika, rumah mereka tampak kosong karena para pembantu dan supir juga ikut dengan pak Cokro ke Amerika. Waktu itu ada kawanan rampok yang masuk kerumah pak Cokro ingin mengambil harta-harta milik pak Cokro. Mereka pun berhasil menemukan uang pak Cokro di lemari yang menurut pak Cokro uangnya tidak seberapa, tapi mereka menemukan keganjilan dirumah pak Cokro. Mereka sama sekali tidak bisa keluar dari rumah pak Cokro. Mereka sama sekali tidak menemukan pintu rumah pak Cokro untuk keluar membawa harta-harta yang telah mereka curi itu. Sampai keluarga pak Cokro pulang, mereka pun masih disama dengan tubuh yang amat lemas. Mereka memohon kepada pak Cokro agar pak Cokro tidak memenjarakan mereka. Pak Cokro pun malah memberi mereka makan karena mereka tampak lemas dan kekurangan cairan. Malah sekarang para perampok itu pun bekerja ikut dengan pak Cokro di peternakan sapi milik pak Cokro. Mereka bahkan sekarang sangat setia kepada pak Cokro dan mempunyai jiwa kepemilikan atas sapi-sapi milik pak Cokro. Mereka pun sangat berterima kasih atas kebaikan pak Cokro yang tidak memenjarakan mereka tapi pak Cokro malah memberi mereka pekerjaan. Kejadian itu memang tidak masuk akal bagi sebagian manusia, bahkan banyak yang tidak mempercayai cerita mereka. Tapi kebenaran memang terjadi, mereka sama sekali tidak menemukan pintu dirumah pak Cokro saat akan membawa harta-harta hasil curian mereka. Mereka tidak akan melupakan kejadian aneh waktu itu. Tapi mereka pun juga sangat bersyukur, akibat gagal mencuri, mereka malah mendapat pekerjaan dari rumah orang yang telah dicurinya. Itulah sepenggal kisah dari seorang perampok yang gagal membawa pulang harta-harta pak Cokro tapi pada akhirnya mereka malah mendapatkan pekerjaan di peternakan milik pak Cokro. Waktu pun sudah menunjukkan pukul lima sore. Wulan dan supirnya pun belum juga pulang kerumah. “bu..., Coba telepon Wulan, ini sudah sore kok belum juga pulang.” Ucap pak Cokro kepada istrinya. Bu Sekar pun menuruti perintah pak Cokro dan bergegas untuk menelepon Wulan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD