Pagi itu Wulan sudah selesai membuat selebaran yang nanti akan dibagikan kepada warga. Hadiah yang ditawarkan pak Cokro pun tak main-main. Juara satu pengambil ikan terbanyak itu akan dihadiahi uang sebanyak dua juta rupiah, juara dua akan mendapat satu setengah juta, sedangkan juara tiga akan mendapat uang satu juta. Pak Cokro pun tampak sibuk saat mendatangkan lima perahu yang dibelinya langsung dari luar kota. Para warga tampak bingung dengan pak Cokro yang tiba-tiba telah membeli perahu kecil sebanyak lima perahu itu. Walau mereka penasaran, namun tak satu pun dari mereka berani bertanya kepada pak Cokro. Setelah selesai berurusan dengan kelima perahunya, pak Cokro pun menyuruh Asep untuk membagikan selebaran itu agar para warga tahu bahwa pak Cokro sedang ingin mengadakan lomba menangkap ikan didanau itu. Bukan hanya menangkap ikan didanau, pak Cokro juga mengadakan lomba memancing pada keesokan harinya.
Satu perahu paling tidak bisa digunakan oleh dua orang saja. Namun yang mendaftar untuk mengikuti lomba itu sangat banyak sekali. Perahu pak Cokro tak mampu menampung semuanya. Maka dari itu, pak Cokro juga mengajak mereka untuk mengantri terlebih dahulu karena lomba akan diadakan setiap seminggu sekali setiap hari Minggu. Mereka pun menyetujui ajakan pak Cokro. Pak Cokro juga menyuruh mereka jika tidak mau mengantri, mereka harus menyewa perahu sendiri karena perahu pak Cokro tak cukup jika harus menampung kebutuhan mereka. Mereka para warga pun memilih untuk mengantri daripada harus menyewa perahu sendiri karena akan mengeluarkan uang lagi.
Pak Cokro juga menyuruh Wulan untuk menyediakan mereka makan siang agar mereka tak ada yang kelaparan saat menyusuri danau. Wulan juga sudah menyetujuinya. Sementara itu, ide pak Cokro yang disambut dengan antusias oleh warga itu pun tentunya membawa kebaikan bagi pak Cokro sendiri. Jika satu perahu ada dua orang, tentunya dua orang akan langsung menjadi tumbal Lulun samak itu untuk menambah kekayaannya. Tidak ada orang yang curiga atas pak Cokro yang menumbalkan salah satu dari mereka. Tapi Bu Indah dan Candra mengetahui niat buruk pak Cokro. Candra pun sebenarnya diajak pak Cokro untuk mengikuti lomba atau sekedar ikut melihat saja, namun Candra menolaknya secara halus. Bu Indah berpesan kepada Candra untuk tidak terlibat dalam apapun mengenai pak Cokro karena hal apapun jika itu mengenai pak Cokro, sudah pasti pak Cokro punya tujuan lain dibalik itu. “Maaf ayah..., Candra tak bisa ikut, Candra harus tetap menjual ayam-ayam itu karena Candra sudah punya banyak pelanggan. Candra juga tak ingin mengecewakan mereka.” Jawab Candra ketika pak Cokro mengajaknya. “mas...., Hanya sehari saja libur, apa akan membuat dompet mas menjadi tipis?” ucap Wulan menimpali. Candra menjawab dengan senyumnya. “Ya sudah, kalau tidak mau ikut andil juga tidak apa-apa. Wulan, jangan paksa suamimu ya nak.” Ucap pak Cokro. Pak Cokro merasa tidak masalah jika Candra tak ikut andil dalam kegiatan yang akan direncanakan olehnya.
Kegiatan lomba menangkap ikan akan diadakan setiap hari Minggu karena sudah banyak warga yang mengantri untuk mengikuti lomba itu. Mereka hanya bermodalkan pancing saja sedangkan perahu dan solar sudah di tanggung oleh pak Cokro. Sore itu, Candra dan Wulan pun berkunjung kerumah Bu Indah. Saat Wulan sedang berada di kamar mandi, Candra pun menceritakan semua tujuan pak Cokro untuk menumbalkan salah satu warganya. “Candra harus bagaimana Bu?” tanya Candra. Candra rasanya ingin memberi tahu warga mengenai pak Cokro, tapi Candra tak mempunyai bukti apapun jika pak Cokro adalah seorang pemuja yang tega menumbalkan seseorang. “sudah diamlah saja nak, orang-orang disini juga tidak akan ada yang percaya walau kau membuktikannya. Pak Cokro sudah terlihat baik dimata mereka.” Ucap Bu Indah. Benar apa yang dikatakan Bu Indah, lebih baik Candra diam dan tidak mengikuti apapun kegiatan yang dinaungi oleh pak Cokro. Tak la setelah Bu Indah dan Candra berbincang, Wulan pun kembali keruang tamu, “ada apa Bu? Wulan tak sengaja dengar percakapan ibu dan juga mas Candra, memangnya ada apa dengan ayahku?” tanya Wulan. “oh..., Hmmmm....., Ini Wulan, aku sedang bercerita kepada ibu bahwa ayahmu akan mengadakan lomba, tapi aku tidak mau mengikutinya karena harus berjualan.” Ucap Candra. “hmm..., Iya Bu..., Mas Candra tidak mau ikut kegiatan ini malah memilih untuk berjualan.” Ucap Wulan mengeluh. Bu Indah pun hanya menjawab dengan senyuman sambil menatap wajah tak berdosa menantunya itu. Namun kini wajah Wulan memang sedikit lebih berbinar dibanding dengan sebelumnya. “Nak..., Kau masih menjalankan yang sudah ibu perintahkan setiap pagi, bukan?” tanya Bu Indah. “Masih Bu...., Wulan masih rutin menjalankannya. Memang semenjak Wulan meminum air yang sudah didoakan surat alfatihah, Wulan sekarang menjadi tenang dan tidak pernah lagi bermimpi buruk. Wulan jadi ingat saat Wulan hamil dulu Bu, Wulan sering sekali bermimpi buruk.” Ucap Wulan sambil mengenang masa dirinya pernah mengandung. Wulan pun menunduk sambil mengelus perutnya. Raut kesedihan tampak terlihat di wajah Wulan, “nak..., Kau merasa sedih?” tanya Bu Indah pelan. Wulan pun menggeleng lalu memasang senyum palsunya. “tidak Bu..., Wulan sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin Tuhan belum memberiku kepercayaan untuk mempunyai seorang bayi.” Ucapnya. Bu Indah lalu memeluknya, Bu Indah tahu apa yang dirasakan oleh menantunya itu. Bu Indah lalu membisikkan kata-kata yang membuat menantunya itu kembali bersemangat menjalani kehidupannya. “Sabar ya nak..., Ibu yakin kau akan segera diberi kepercayaan lagi untuk menjadi seorang ibu.” Bisik Bu Indah.
Setelah mengajak Wulan berkunjung kerumah ibunya, Candra pun mengajak Wulan untuk pulang karena Wulan harus menyiapkan makanan untuk para peserta yang ikut lomba menangkap ikan esok hari. “Hati-hati ya nak, semoga semua acara yang digelar ayahmu berjalan dengan lancar.” Ucap Bu Indah sambil mencium kening menantunya sebelum Wulan pulang kerumah. Wulan menjawabnya dengan senyum sumringahnya. Mereka berjalan menuju rumah Wulan sambil berbincang-bincang di perjalanan. Wulan masih tetap membujuk suaminya untuk ikut dalam turnamen ini, namun Candra tetap menolaknya dengan halus. Setiap hari, sebisa mungkin Candra harus menghindari kegiatan apapun yang telah dilakukan oleh pak Cokro karena setiap apapun yang dilakukan pak Cokro, pasti mempunyai tujuan yang tidak baik dan akan membawa petaka bagi orang yang mengikutinya. “Kita istirahat dulu ya sayang, besok semuanya sudah siap?” tanya Candra. “sudah mas..., Aku sudah menelepon katering juga untuk mengirim makanannya besok siang saja, agar semua juga merasakan makanan yang segar.” Ucap Wulan. Entah berapa uang yang dikeluarkan pak Cokro untuk mendanai semua ini. Untuk membeli lima perahu juga membutuhkan berapa ratus uang. Semua ini pak Cokro lakukan tentunya hanya untuk menjadikan salah seorang dari mereka sebagai tumbalnya.