Rencana korban tumbal

1039 Words
Malam yang sunyi itu, pak Cokro mengunjungi Lulun samak itu di danau tempat biasa mereka bertemu. Lulun samak itu tak berkata apapun mengenai Candra yang sudah memakai perisai begitu pun dengan Wulan. Kini Wulan pun sudah terlindungi dari hal jahat yang akan menyakitinya. Lulun samak itu pun tak bisa lagi menyentuh Wulan ataupun Candra. Untuk masuk kedalam mimpi mereka saja Lulun samak itu tak bisa lagi. Itu artinya, kematian pak Cokro tinggal sebentar lagi. Sebentar lagi pak Cokro akan menjadi seorang b***k sampai selamanya sampai hari kiamat terjadi. “Dengar Cokro! Aku tak akan mengambil jiwa cucumu lagi. Mungkin sebentar lagi cucumu akan lahir dan akan membuat kebahagiaan dalam hidup keluargamu atas hadirnya anak itu.” Ucap Lulun samak itu. Mendengar hal itu, pak Cokro tampak senang karena Lulun samak itu tak akan mengusik kehidupan putrinya lagi. Beberapa kali Wulan telah menjadi sasaran Lulun samak itu jika pak Cokro terlambat memberikan tumbal kepada Lulun samak itu. Setelah berbincang dengan Lulun samak itu, pak Cokro pun pulang kerumahnya untuk beristirahat karena besok pak Cokro harus pergi ke peternakannya untuk mengelola usahanya. Pak Cokro berjalan pulang menuju rumahnya. Pak Cokro melihat ke arah sekitar yang tampak sepi tanpa ada orang yang nongkrong didepan rumah. Tampak sunyi hanya lolongan anjing yang menemani langkah pak Cokro. Walau terlihat sepi dan mencekam, pak Cokro sama sekali tak takut dengan rasa sepi yang sedang bersamanya itu. Entah mengapa, semenjak pak Cokro bersekutu dengan Lulun samak itu, pak Cokro tak lagi takut terhadap setan apapun yang pernah diceritakan oleh para warga yang keluar rumah pada malam hari. Sesampainya didalam rumah, pak Cokro langsung merebahkan tubuhnya disamping sang istri yang masih terlelap terbawa arus ke dunia mimpi. Pak Cokro pun mengecup kening istrinya sebelum memejamkan matanya. Baru saja pak Cokro terlelap, tengah malam itu pak Cokro bermimpi bahwa istrinya sedang disiksa oleh seorang tinggi besar dengan bulu-bulu yang menutupi seluruh tubuhnya. Makhluk itu memecuti Bu Sekar sampai Bu Sekar tak bisa bangkit lagi. Tubuh Bu Sekar berlumuran darah. Pak Cokro hanya menangis karena tak bisa menolong istrinya yang berada dalam siksaan itu. Hati pak Cokro terasa sesak, siksa batin yang diberikan Lulun samak itu terasa berat baginya. Pak Cokro melihat istrinya yang sedang disiksa itu pun membuat hati pak Cokro sangat sakit. Tak lama setelah mimpi itu, pak Cokro pun bangun dan keluar dari mimpinya. Pak Cokro merasakan sesak didadanya. Mimpi itu terasa sangat nyata sampai pak Cokro terengah-engah. Pak Cokro pun langsung melihat istrinya yang ada disebelahnya yang masih tidur terlelap. Pak Cokro perlahan mengelus kening istrinya untuk menenangkan hatinya dan memastikan bahwa istrinya masih baik-baik saja. “Huh, ternyata hanya mimpi buruk saja.” Gumamnya. Pak Cokro pun merebahkan kembali tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya sebelum kembali terlelap. Keesokan paginya, keluarga pak Cokro menjalani aktivitas seperti biasanya, beberapa kali pak Cokro memperhatikan Bu Sekar, Bu Sekar tampak baik-baik saja dan sehat. Bu Sekar juga melayani pak Cokro ketika ingin sarapan pagi. “Wulan, kau masih ingin mengelola perkebunan teh milik kita itu kan?” tanya pak Cokro disela-sela pak Cokro mengunyah makanannya. “Ayah..., Kalau mau berbicara, berhentilah mengunyah, Wulan jadi tidak jelas mendengar suara ayah.” Ucap Wulan memperingatkan ayahnya. Pak Cokro pun hanya tersenyum mengakui kesalahannya. Wulan pun berkata bahwa dirinya akan tetap mengelola perkebunan itu dengan baik. Pagi itu, sebelum pak Cokro berangkat ke peternakan miliknya, entah mengapa pak Cokro rasanya ingin sekali mampir ke danau, padahal semalam pak Cokro sudah berada disana. Kini danau tampak sepi tak ramai seperti dulu, dulu masih banyak para wanita dan juga anak kecil berkumpul di tepi danau untuk mencuci atau bermain-main saja. Namun kini tak lagi seperti itu, sudah banyak perubahan di desa itu. Beberapa warga juga sudah banyak yang mempunyai kamar mandi dirumah mereka, mereka juga memilih untuk membayar air PDAM yang dikelola pemerintah setiap bulannya. Keadaan ekonomi mereka pun sudah lebih baik daripada banding dengan waktu dulu sebelum Wulan menikah. Mengenai pendidikan di desa itu juga sudah lebih baik semenjak para remaja itu tahu Wulan adalah satu-satunya wanita yang berhasil lulus dari universitas ternama dari Amerika. Seakan-akan Wulan adalah inspirasi mereka untuk meraih pendidikan yang lebih baik dari orang tua mereka. Sejak mereka sering bertemu dengan Wulan karena kegiatan sosial yang diketuai oleh Wulan, mereka para remaja kampung itu juga menjadikan Wulan adalah panutan. Apalagi saat Wulan membicarakan soal biasiswa ketika belajar di Amerika. Mereka pun sangat antusias ingin mengikuti jejak Wulan. Pak Cokro melihat danau sampai kejauhan, tak ada seorang pun terlihat disana, “aku lihat danau ini semakin hari semakin sepi saja. Sudah tidak ada lagi warga yang menjalankan aktivitas disekitar danau ini. Semenjak mereka sudah mempunyai kehidupan lebih baik, bahkan kamar mandi yang dibangun oleh Wulan juga tampak sepi, hanya beberapa orang saja yang mampir disana.” Pak Cokro bergumam dalam hatinya. Kalau begitu, bagaimana cara Lulun samak itu mengambil jiwa seseorang yang sudah ditumbalkan kepadanya bika tak ada satu pun orang yang menjalankan aktivitas didanau itu. Pak Cokro lalu pergi meninggalkan danau itu sambil memikirkan cara agar danau itu kembali menjadi ramai seperti dulu lagi. Pak Cokro terus memacu kudanya agar segera cepat sampai di peternakan miliknya karena hari sudah agak siang. Sesampainya di peternakan, tiba-tiba terlintas di pikiran pak cokro, pak Cokro ingin mengadakan lomba menangkap ikan di danau itu. Dengan cara seperti itulah mereka akan tahu bahwa danau itu menyimpan banyak ikan yang bisa mereka konsumsi tanpa harus membeli ikan dipasar. Saat ide itu terlintas, pak Cokro langsung menelepon putrinya untuk memberitahunya. “Ayah..., Ada apa?” tanya Wulan saat mengangkat teleponnya yang sedang berbunyi. Wulan tampak heran, baru saja mereka bertemu di meja makan, tapi pak Cokro sudah menghubungi dirinya. “begini nak, ayah tiba-tiba punya rencana untuk mengumpulkan para warga kampung disini, sebelum berangkat ke peternakan, tadi ayah mampir ke danau dan ayah melihat danau tampak sepi, itu artinya warga disini sudah berubah menjadi pribadi yang individual, tidak seperti dulu. Untuk mengumpulkan mereka kembali, ayah akan mengadakan lomba menangkap ikan di danau itu, apakah kau setuju?” tanya pak Cokro. “Ayah..., Ide ayah itu selalu mengesankan, tapi ayah, ayah yang akan memodali semua itu? Ayah harus membeli perahu tentu saja. Apakah ayah sanggup?” tanya Wulan. Pak Cokro tak terbebani jika harus membeli beberapa perahu jika setelah salah satu dari mereka meninggal didanau itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD