Tumbal anak laki-laki

1077 Words
“putraku! Putraku!” Terdengar suara teriakan dan tangisan seorang ibu yang tidak begitu tua berusaha ingin menolong putranya yang dibawa oleh sang Lulun samak itu. Para warga yang melihat ibu itu pun langsung menahannya menarik tangannya dan menjauhkan sang ibu dari air danau yang sangat tenang itu sesudah memakan korban. Salah satu warga pun juga menghubungi anggota tim SAR untuk mencari anak kecil itu yang baru saja tergulung oleh ombak itu. “sabar Bu..., Sabar,” ucap salah seorang wanita yang berusaha menenangkan hati ibu itu. Ibu itu merasa sangat remuk hatinya setelah tahu bahwa putranya telah hilang dibawa oleh si Lulun samak itu. Para warga sekitar danau atau warga kampung itu tidak mengetahui bahwa didalam danau itu ada sosok penunggu yang selama ini dipuja-puja oleh pak Cokro, ayah kandung dari Wulan. Karena pemujaan terhadap Lulun samak itu menyebabkan pak Cokro menjadi orang yang paling kaya dikampungnya dan bisa menyekolahkan Wulan sampai keluar negeri. Wulan sendiri sebagai seorang anak tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pemuja makhluk lain selain Tuhan. Wulan pikir ayahnya kaya raya adalah hasil dari kerja kerasnya selama ini. Pak Cokro sedang melamun dirumahnya memikirkan putri satu-satunya yang sedang berada dirumah sakit melawan takdirnya. Tak lama setelah itu, ponsel pak Cokro berbunyi membuyarkan lamunannya. “Pak..., Putri kita sudah sembuh. Hari ini putri kita sudah boleh pulang kerumah.” Ucap Bu sekar dalam percakapannya lewat telepon genggamnya. “Iya Bu..., Syukurlah, Wulan sudah sembuh. Bawa pulang Bu, naik taksi saja ya Bu, bapak akan menyuruh para pembantu untuk memasak makanan kesukaan Wulan.” Ucap pak Cokro antusias. Setelah mendapat kabar bahagia atas kesembuhan Wulan itu, pak Cokro sangat bahagia karena putrinya tidak jadi dijadikan tumbal atas kekayaan pak Cokro itu. Setelah menutup teleponnya, pak Cokro lalu menyuruh para pembantu untuk memasak dan menghias serta membersihkan kamar Wulan. “Kalian harus kerjakan itu dalam waktu satu jam, karena perjalanan dari rumah sakit ke rumah kita ini kira-kira memakan waktu satu jam. Kalian mengerti?” ucap pak Cokro kepada para pembantunya. “kami mengerti.” Jawab para pembantu itu serentak. “bagus! Lakukan sekarang juga!” ucap pak Cokro lalu pergi meninggalkan para pembantunya. Sudah beberapa tahun lamanya pak Cokro memuja makhluk Lulun samak itu tanpa sepengetahuan keluarganya. Bu sekar sebagai sang istri pun juga tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang pemuja sosok itu yang bertujuan untuk memperkaya diri sendiri. Bu sekar pun juga tidak tahu menahu dari mana pak Cokro membeli kebun kopi, membeli sapi dan lain sebagainya mengingat pak Cokro berasal dari keluarga yang kurang mampu. Walau Bu sekar adalah anak orang kaya, tapi kekayaan suaminya kini tak sebanding dengan kekayaan ayahnya itu. Pak Cokro memang benar-benar orang yang kaya raya. Karyawan pak Cokro bahkan bisa mencapai ribuan jika dijadikan satu antara karyawan pemetik teh, kopi, peternakan, dan juga karyawan yang dikhususkan untuk mengurusi kuda pak Cokro yang biasa dibawanya keliling perkebunannya. Bu sekar pun juga tidak peduli dari mana kekayaan itu berasal karena Bu sekar adalah seseorang yang paling takut hidup miskin. Bu sekar lah yang sebenarnya membantu pak Cokro mengurus bisnis-bisnis suaminya sehingga kini mereka mempunyai karyawan yang sangat banyak. Akhirnya yang ditunggu pak Cokro pun datang. Istri dan juga putrinya sudah sampai dirumahnya. Walau baru saja oulang dari rumah sakit, wajah Wulan tampak sudah sehat, segar dan bugar seperti orang sehat pada umumnya. Sesampainya dirumah, Wulan pun langsung memeluk ayahnya. “Ayah..., Wulan rindu...,” ucap Wulan dalam pelukan ayahnya itu. “Sayangku..., Syukurlah kau sudah sembuh nak.” Bisik pak Cokro kepada anak semata wayangnya itu. “Ayah..., Aku ingin istirahat saja dulu dikamarku,” ucap Wulan sambil berjalan menuju kearah kamarnya. “tunggu Wulan, sebelum kekamarmu, lebih baik tutup dulu matamu, ayah sudah mempersiapkan kejutan untukmu.” Ucap pak Cokro yang kala itu berhasil menghentikan langkah putrinya. “Bu..., Tutup matanya, kita akan mengantar putri kita kekamar dengan mata yang tertutup.” Ujar pak Cokro kepada istrinya. Wulan pun menurut saja ketika pak Cokro mengatakan hal demikian. Mengingat Wulan juga sangat menyukai sebuah kejutan. Bu sekar pun menutup mata Wulan dengan selembar kain agar Wulan tidak bisa melihat kearah kamarnya yang baru saja di hias oleh para pembantunya itu. “Kejutan apa ayah?” tanya Wulan sambil tersenyum bahagia merasakan kasih sayang yang diberikan ayahnya itu kepadanya. “kalau ayah bilang sekarang, namanya bukan kejutan sayang,” ucap pak Cokro. Bu sekar yang baru saja masuk sangat terkesan dengan kamar Wulan yang memang berubah lebih baik dari sebelumnya. “Duduklah disini nak.” Ucap pak Cokro lembut sambil membantu putrinya untuk duduk dikasurnya dan membuka mata Wulan yang sedari tadi tertutup oleh kain. Perlahan Wulan membuka matanya dan mulai melihat disekeliling kamarnya. Wulan tersenyum bahagia ketika melihat sekeliling kamarnya yang tampak indah itu. “Ayah..., Ayah yang mempersiapkan ini semua?” tanya Wulan masih dengan senyumnya. “hmm..., Dibantu oleh para mbak.” Ucap pak Cokro juga tersenyum karena melihat putrinya tersenyum. “Terima kasih ayah,” ucap Wulan sambil memeluk ayahnya lagi. “upsss..., Ada hadiah satu lagi untukmu sayang..,” ucap pak Cokro sambil mengambil kotak kecil di saku celananya. Pak Cokro memperlihatkan isi kotak kecil berwarna merah itu dan membukanya. “ini hadiah untukmu sayang,” ucap pak Cokro seraya membuka kotak itu. Wulan yang awalnya terkesan dengan kamarnya yang berubah menjadi sangat indah, kini tampak tidak tersenyum ketika melihat kotak kecil yang berisi sebuah kalung dengan liontin batu mulia yang paling langka didunia ini. “sayang..., Kau tidak suka dengan pemberian ayah ini?” tanya pak Cokro yang tampak heran dengan putrinya. “Wulan suka, ayah. Tapi..., Sudah berapa kali ayah memberikan Wulan perhiasan? Hadiah ini sangat biasa bagi Wulan.” Ucap Wulan kepada ayahnya. “Sayang..., Ini adalah batu permata paling langka didunia, hanya lima orang yang mempunyai batu ini dan ayah adalah salah satunya yang mampu membelinya.” Ucap pak Cokro. “ayah..., Aku tidak peduli apakah batu permata itu barang langka atau barang barang murah, Wulan tidak pedulikan hal itu ayah. Ayah sudah terlalu banyak memberi Wulan permata.” Ucap Wulan mendebat ayahnya. “Lalu..., Apa keinginanmu yang belum ayah kabulkan nak? Ayah hanya ingin melihat senyumanmu saja. Tujuan ayah hanyalah ingin membuatmu tersenyum bahagia.” Ucap pak Cokro. Bu sekar yang sedari tadi hanya melihat saja ketika ayah dan anak itu memperdebatkan sesuatu. “sudah sudah..., Kalau Wulan tidak mau, berarti liontin ini untuk ibu saja ya nak?” ucap Bu Sekar. “Tidak! Ini ayah beli untuk Wulan, kalau ibu mau, ambil saja dikamar!” ucap pak Cokro tegas. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD