Pertemuan pak Cokro dengan Lulun samak

1078 Words
Karena tidak ada perubahan, dan Wulan belum juga sadar, Wulan akhirnya dibawa kerumah sakit yang berjarak jauh dari kampungnya, pak Cokro membawa Wulan kerumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. “Bu, ayo kita bawa saja Wulan kerumah sakit, bapak takut ada yang tidak beres dalam tubuhnya,” ucap pak Cokro. “Ini semua gara-gara bapak, kemarin bapak membentak Wulan, lihat pak, sekarang Wulan sakit!” Ucap Bu sekar sambil menangis. “Sudah sudah Bu! Ini masih pagi. Kita tidak perlu berdebat sesuatu yang tidak penting!” Ucap pak Cokro tersulut emosi. Pak Cokro pun membopong tubuh Wulan kedalam mobil, dan supirnya menyetir mobil itu. “ayo sep! Cepatlah sedikit!” perintah pak Cokro. “baik pak,” jawab Asep, supir pribadi keluarga pak Cokro. Satu jam telah berlalu, sampailah mereka kerumah sakit itu, “dokter, tolong putri saya!” ucap pak Cokro diruang IGD. Dokter dan suster itu langsung sigap menolong Wulan. Ada salah satu suster bertanya kepada Bu sekar, “bu sudah berapa lama mbak Wulan mengalami pingsan?” tanya suster itu. “wulan pingsan sejak semalam sus, dan semalam itu badannya sangat panas, kami sudah memanggil dokter kerumah, tetapi putri saya tetap saja tidak sadarkan diri sampai pagi ini,” ucap Bu sekar menceritakan kronologi Wulan ketika pingsan. Saat Wulan tak sadarkan diri, Wulan bermimpi bahwa kakak-kakaknya telah meninggal dalam perut ibunya, di mimpi itu para saudara Wulan meminta tolong kepada Wulan untuk menyelamatkan mereka, di sela teriakan saudara-saudara Wulan, hantu tikar itu memakan tubuh saudara-saudara Wulan. Wulan berlari menyelamatkan diri, didalam mimpi itu Wulan terus berlari agar tidak dimakan oleh hantu itu, bahkan dalam mimpi itu Wulan memanggil-manggil ibunya, “ibu!” ucap Wulan berteriak. Bu sekar yang kala itu sedang berada disamping Wulan lalu langsung bangun dari tempat duduknya dan memeluk Wulan, “dokter! Dokter!” teriak Bu sekar memanggil dokter. Dokter itu langsung memeriksa Wulan. “Tidak ada masalah dalam tubuhnya,” pikir dokter itu. “bapak ibu, putri bapak dan ibu ini hanya kelelahan saja, saya akan memberikan vitamin, agar dia bisa segera pulih,” ucap dokter itu lalu pergi. “bu, Wulan boleh bertanya?” ucap Wulan meminta ijin. “Tentu saja boleh nak,” jawab Bu sekar. “Bu, apakah ibu pernah punya anak sebelum Wulan?” tanya Wulan. Pertanyaan Wulan mengagetkan keduanya. Pak Cokro dan Bu sekar saling melihat satu sama lain. Pak Cokro dan Bu sekar tidak pernah bercerita kepada Wulan mengenai hal ini, tetapi Wulan bisa bertanya seperti ini. “Iya nak, ibu pernah keguguran sebanyak empat kali, anak pertama gugur saat usianya menginjak lima bulan, anak kedua gugur sejak usia empat bulan, anak ketiga gugur ketika tiga bulan, dan yang keempat sekitar empat bulan.” Ucap Bu sekar bercerita. “Berarti Wulan seharusnya mempunyai empat kakak ya Bu? Mengapa ibu tidak pernah menceritakan semua ini?” tanya Wulan lalu Wulan meneteskan air matanya. “Sudahlah Bu, Wulan mau istirahat dulu, Wulan butuh istirahat!” ucap Wulan sambil berbaring membelakangi kedua orang tuanya. Pak Bagus dan Bu sekar lalu keluar dan duduk diruang tunggu, mereka berbincang mengenai Wulan. “Bapak, apa yang terjadi kepada Wulan? Mengapa dia tahu semuanya tentang keempat kakaknya yang meninggal semasa masih dalam kandungan?” tanya Bu sekar kepada suaminya. “Mana bapak tahu Bu! Bapak tidak pernah bercerita kepadanya mengenai anak-anak kita yang keguguran itu Bu,” ucap pak Cokro. Wulan tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Wulan selalu teringat akan mimpi yang sangat menyeramkan itu, terlebih hantu didalam mimpi Wulan sama seperti hantu yang pernah Wulan temui di danau malam itu. Wulan mencoba untuk melupakan mimpi itu, tetapi rasanya mimpi itu semakin nyata bagi Wulan. “Bu, tinggalan disini dulu, bapak akan pulang, ada pekerjaan yang harus bapak selesaikan, lagi pula Wulan juga sedang marah kepada bapak, Wulan tidak ingin melihat bapak sekarang. Alangkah baiknya jika bapak pulang saja, besok jika Wulan sudah boleh pulang, nanti bapak jemput ya Bu,” ucap pak Cokro. “Baiklah pak, bapak hati-hati pulangnya!” ucap Bu sekar. Sore itu pak Cokro pulang kerumah, maksud pak Cokro pulang bukan karena kemarahan Wulan, tetapi pak Cokro curiga bahwa sesembahannya itu meminta tumbal. Didalam mobil pak Cokro berfikir, “apa karena tumbal itu gagal, makanya putriku yang menjadi sasaran makhluk itu,” ucap pak Cokro didalam hatinya. Sampailah pak Cokro dirumahnya, pak cokro melihat jam dinding menunjukkan pukul 17.00, “sebentar lagi magrib, aku harus segera mandi,” ucap pak Cokro yang langsung melangkahkan kakinya dikamar mandi. Setelah selesai mandi, pak Cokro makan dimeja makan sendirian, pak Cokro mengingat biasanya dia makan bersama istrinya dan putrinya. Dalam suapan pak Cokro, pak Cokro mulai meneteskan air mata. Setelah semuanya beres, waktu menunjukkan pukul 19.30 malam. Pak Cokro berencana untuk menemui sesembahannya itu, hantu tikar. Sampailah pak Cokro ditepi danau itu, pak Cokro mulai membaca mantra. Sama seperti yang pernah Wulan lihat, air danau yang begitu tenang malam itu berubah menjadi kacau bergemuruh dan berisik, munculah sosok itu. “apa yang kau inginkan dari putriku?” tanya pak Cokro. “putrimu sendiri yang telah mengantarkan nyawanya kepadaku, bukankah putrimu itu yang telah menolong anak kecil itu!” Ucap hantu itu. “tidak! Aku tidak akan membuat putriku mati!” ucap pak Cokro kepada mahkluk itu. “Apa yang tidak mungkin didunia ini? Aku sudah memberimu kekayaan yang melimpah ruah, dan aku juga yang selalu mengabulkan semua keinginanmu, tentu saja kau harus memberikan imbalan kepadaku!” ucap hantu itu. “kembalikan jiwa putriku, aku akan menggantinya dengan yang lain, dengan darah yang lebih segar tentunya,” ucap pak Cokro. “Baiklah, aku pegang janjimu, Cokro. Berikan tumbal itu, maka aku akan mengembalikan jiwa putrimu itu!” ucap hantu itu lalu menghilang. Air danau yang bergemuruh, seketika menjadi tenang. Keesokan paginya, pak Cokro menyuruh orang kepercayaannya untuk membagikan uang kepada para anak kecil dikampungnya, “pak, bagikan yang ini kepada seluruh anak dikampung ini, suruh mereka mendoakan kesembuhan putriku!” perintah pak Cokro. “Setelah aku membagikan uang itu, tentu saja itu sebagai syarat bahwa mereka telah memakan hartaku, jadi mereka bisa menjadi tumbalku,” batin pak Cokro. Seperti biasa setiap pagi dan sore danau itu selalu dipenuhi orang yang mengambil air, atau anak-anak yang ingin bermain saja. Pak Cokro melihat danau itu dari kejauhan, tampak anak-anak sedang asik bermain disana. Tak lama setelah itu, ada anak yang tenggelam ditengah danau itu, semua orang yang sedang berada di danau itu langsung naik menjauhi danau itu, mereka tidak berani sampai ketengah. Seketika danau itu berubah menjadi hening setelah hilangnya anak itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD