Wulan adalah gadis yang cerdas, di usianya yang baru 21 tahun, Wulan sudah lulus kuliah dari universitas di Amerika. Wulan memang sekarang tidak tinggal di Amerika setelah dia lulus dari universitas itu. Kini pas lagi Wulan yang menerima s**u kiriman dari Candra. “Selamat pagi non, ini kiriman s**u dari peternakan sapi milik ayah non,” ucap Candra sopan. “Hai, panggil saja aku Wulan, namaku Wulan, dan sepertinya aku juga lebih muda darimu bukan?” Ucap Wulan berbasa basi. “Baik non, eh Wulan, duh saya tidak enak kalau harus memanggil nama non Wulan,” ucap Candra malu. “tidak apa, Dimata Tuhan derajat kita sama,” ucap Wulan. “baiklah, baiklah, Wulan, saya permisi dulu ya, karena pekerjaan saya masih banyak. Saya harus mengantar s**u di kampung ini, dan saya harus berjualan s**u segar ini ke kampung-kampung lainnya,” ucap Candra menjelaskan. “baiklah, maaf karena sudah mengulur waktumu,” ucap Wulan.
Candra pun meninggalkan rumah Wulan, setiap pagi Wulan hanya sendiri dirumah, bersama para pembantu, tetapi pada pembantunya sibuk bekerja, Jadi Wulan merasa kesepian. Wulan berjalan keluar rumah lagi menuju ke danau itu, “rutinitasku setiap pagi adalah ke danau itu, rasanya sangat segar berada disana,”ucap Wulan yang tidak sabar untuk segera ke danau.
Sampailah Wulan ditepi danau itu, seperti biasanya, Wulan melihat rutinitas warga desa Yang sedang mengambil air, ada yang sedang mandi juga disana. Banyak anak-anak juga yang menambah danau itu semakin ramai. Terkadang Wulan juga tertawa melihat tingkah polah para anak-anak itu. Saat Wulan memperhatikan anak-anak itu, ada salah satu anak yang berenang sampai ketengah danau dan anak itu seperti tenggelam, tidak ada yang berani menolongnya, para warga sangat panik melihat kejadian itu, tidak tunggu lama, Wulan langsung menceburkan diri kedalam danau itu dan menolongnya. Pak Cokro baru saja sampai di danau itu, pak Cokro melihat putrinya yang sedang berenang menolong anak kecil itu. “bukankah dia putriku,” ucap pak Cokro lagi. Wulan berusaha sekuat tenaga menolong anak kecil itu, anak kecil itu pingsan, Wulan memompa d**a anak kecil itu, anak kecil itu memuntahkan beberapa air dari mulutnya. Setelah siuman, anak kecil itu langsung ketakutan dan memeluk Wulan, “terima kasih kak,” ucap anak kecil itu. “adek, lain kali hati-hati ya, jangan sampai ketengah, semakin ketengah akan semakin dalam,” ucap Wulan memperingatkan anak kecil itu.
Tampak kekesalan diwajah pak Cokro ketika putrinya sendiri yang menolong calon tumbalnya. “sial, malah dia yang menolong,” ucap pak Cokro dalam hati. “wulan ayo pulang!” ucap pak Cokro. “tapi ayah, anak kecil ini masih sangat ketakutan, biarkan aku disini dulu menemaninya,” ucap Wulan. “ayo pulang sekarang juga!” ucap pak Cokro. Wulan tidak ingin mendebat ayahnya, dia pun pulang meninggalkan anak kecil itu yang sedang dalam ketakutan. “Kakak pulang dulu ya dek,” ucap Wulan. Anak kecil itu hanya mengangguk, tubuhnya masih lemas. Sedangkan pak Cokro sudah sampai dirumahnya dengan perasaan menahan amarahnya. Baru saja Wulan membuka pintu rumahnya, pak Cokro langsung memarahi Wulan dengan nada kasar, “ayah peringatkan kepadamu, ayah melarang kau bermain, atau apapun itu alasanmu didanau itu!” ucap pak Cokro. “tapi ayah.....” belum selesai Wulan melanjutkan ucapannya, pak Cokro sudah membentaknya lagi. “jangan membantah, ayah menyekolahkan kamu sampai ke Amerika bukan belajar untuk membantah!” ucap pak Cokro yang langsung meninggalkan Wulan. Ketika dimarahi oleh pak Cokro, Wulan tidak menangis, bahkan Wulan malah semakin penasaran, mengapa ayahnya melarangnya ke danau itu. Tetepi Wulan tetap harus mematuhi larangan yang ayahnya berikan.
Setelah kejadian Wulan dimarahi pak Cokro, Wulan hanya diam saja, dia pun makan juga diam, tidak bersuara sedikit pun. Malam itu setelah Wulan dan keluarga selesai makan malam, Wulan melihat ayahnya keluar dari rumahnya. “ayah mau kemana ya?” tanya Wulan dalam hati. Lalu Wulan berencana membuntuti ayahnya. Ayah Wulan berhenti didepi danau, Wulan mengawasi dari kejauhan. “Ayah, aku tidak boleh ke danau, dia malah ke danau itu malam-malam begini.” Ucap Wulan sambil memperhatikan ayahnya. Danau itu sangat tenang, tetapi ketika ayah Wulan sedang menyatukan lututnya dengan tanah, sambil membaca sesuatu yang tidak Wulan mengerti, air danau itu menjadi bergemuruh, air itu semakin tak tenang, dan muncul sesosok tikar yang terbuat dari daun pandan, itulah yang Wulan lihat, awalnya Wulan tidak merasa takut, tetapi tikar itu berubah menjadi mahluk yang mengerikan, mahluk itu tidak bisa dinalar, wajahnya sangat menakutkan.
Wulan yang kala itu berada di semak-semak, langsung lari ketakutan, Wulan lari sampai dirumahnya, dia menutup rapat-rapat pintu rumahnya sambil menarik nafas panjang. “hei, Wulan, apa yang kau lakukan disini? Kau tampak ketakutan dan berkeringat dingin,” ucap Bu sekar, ibu Wulan. Tanpa menjawab apapun, mata Wulan serasa gelap dan Wulan pun pingsan. Bu sekar sangat panik melihat Wulan yang tiba-tiba pingsan. Bersama pembantu, Bu sekar mengangkat tubuh Wulan kekamar, hidung Wulan diberi minyak kayu putih, supaya Wulan bisa langsung siuman. “Haduh, bagaimana ini mbak! Malam-malam begini, ayah Wulan juga sedang berada di luar. Badan Wulan juga panas mbak, mbak tolong ambilkan kompres, agar suhu tubuhnya kembali normal. Tak lama setelah itu, pak Cokro pun pulang kerumahnya. “pak, pak!” ucap Minah pembantunya kepada pak Cokro. “Ada apa mbak?” tanya pak Cokro. “non... non Wulan pak, non Wulan pingsan,” ucap Minah sambil terbata-bata. Pak Cokro pun langsung ke kamar Wulan, dan melihat keadaannya. “bu, Wulan kenapa?” tanya pak Cokro. “ibu tidak tahu pak, dia tiba-tiba pingsan semenjak dia datang, entah darimana dia datang, ibu juga tidak tahu, dia tidak menjawab apapun, Wulan langsung pingsan,” ucap Bu sekar. “Baiklah, bapak akan memanggil dokter keluarga kita,” ucap pak Cokro yang langsung mengambil telepon genggamnya. Setelah berhasil menelepon dokter, pak Cokro menenangkan istrinya, “tenang Bu, Wulan pasti baik-baik saja Bu,” ucap pak Cokro. “Baik-baik bagaimana pak? Kau lihat dia sedang tidak baik-baik saja,” ucap Bu sekar mulai menangis. “Sudah Bu, bersabarlah, bapak sudah memanggil dokter,” ucap pak Cokro.
Jarak rumah dokter itu kerumah pak Cokro membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai kerumah pak Cokro. Dokter itu memang langganan keluarga pak Cokro yang sering dipanggil untuk mengobati jika keluarga pak Cokro sedang sakit.
Bu sekar masih berusaha menggosok tangan Wulan, siapa tahu Wulan bisa segera siuman. Tetapi nihil, Wulan tetap pingsan dan sama sekali tidak membuka matanya. “Wulan, bangun nak, ini ibu!” pinta Bu sekar sambil menangisi Wulan. Bagaimana tidak panik, Wulan adalah satu-satunya putri mereka.